Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
76. Menghilang


__ADS_3

" kau kenapa disini?" tanya Myria, dia bersiap melakukan pertahanan diri. Mendadak datang sekelompok lelaki di belakang Sergio.


" coba tebak?" Sergio semakin mendekati Myria. Wanita itu berjalan mundur dan mulai mengamati sekeliling.


" kau yang mengirim surat itu?" tanya Sonia menyelidik.


" tepat sekali, kau sangat pintar Grace atau ...Myria" balas Sergio dengan memelankan kata terkahir. Dia baru mengetahui jika wanita di depannya ini adalah Myria. Kekasih Gael yang berkuasa itu. Sergio jelas merasa tertipu dan berniat mengambil kembali wanitanya. Ternyata penjagaan Grace sangat sulit di tembus.


Myria semakin terancam, dia sendirian disini. 1 lawan 7 orang. bagi Myria jumlah seperti ini cukup sulit.


" tangkap dia!" teriak Sergio.


Semua anak buahnya langsung maju dan menyerang Myria. Myria langsung mengeluarkan senjatanya. Semua tampak kaget sesaat, tidak menyangka lawannya sudah memiliki persiapan.


" tangkap dia hidup-hidup" pesan Sergio saat anak buahnya ikut mengeluarkan senjata. Dia tidak mau kehilangan Grace. Wanita yang dia pikir telah mati kini berdiri tegak di hadapannya.


Semua mengambil acang- ancang mengelilingi Myria.


Door satu tembakan dari Myria lolos mengenai satu anak buah Sergio. Namun bukannya jatuh, lelaki itu malah tertawa tidak merasakan sakit.


Myria menyadari jika lawannya sudah siap memakai rompi anti peluru.


" sial" guman Myria, posisinya semakin terancam.


Mereka menyerang, Myria terpaksa meladeni mereka menggunakan tangan kosong. Semua berjalan cukup baik, Myria berhasil menumbangkan 2 orang. Sisanya Myria menembak bagian tangan dan kaki. 2 orang lagi sudah terkapar. Kini tinggal 3 orang. Pistol Myria gunakan sudah kehabisan peluru. Myria harus melawan dengan tangan kosong.


Myria berkelahi, tenaganya mulai terkuras, Myria sedikit kewalahan. Mereka maju bertiga, Myria melawan sekuat tenaga. Sayangnya dia sedikit lengah, membuat tubuhnya terkunci.


" tahan dia" ucap Sergio, dia mengeluarkan sebuah sapu tangan. Myria semakin memberontak, dia yakin jika sapu tangan itu tercampur obat tidur.


" lepas!" teriak Myria.


" tenang, sebentar lagi akan Selesai" ucap Sergio. Lelaki itu mau dan dengan mudah membekap hidung Myria. Kesadaran Myria semakin menipis, pandangannya mulai berbayang.


" emmm" sekuat tenaga berteriak namun Myria tidak bisa mengeluarkan kata-katanya. Sergio membekapnya terlalu keras.


" sstt. tenanglah" ucap Sergio sesaat sebelum Myria pingsan.


pukul 5 sore Sonia sudah sampai di PIN, wanita itu menyerahkan semua bahan kepada staf dapur. Wanita itu memasuki kamar dengan membawa makanan yang dia beli tadi. Dia akan menemui Ansel terlebih dahulu.


" sudah pulang?" tanya Ansel, Lelaki itu sibuk di ruang kerjanya, dia memeriksa berkas-berkas milik PIN.

__ADS_1


" baru saja, sini aku membawa makanan. Mari makan bersama" ucap Sonia dan menata meja untuk tempat makan.


" nanti saja" tolak Ansel halus, dia terlanjur fokus membaca berkas.


" yasudah aku mandi dulu kalau begitu" Sonia meninggalkan Ansel dan masuk ke kamar mandi.


" sudah, baru saja" ucap Ansel di telepon saat Sonia sudah selesai mandi lalu masuk ke ruangan kerja Ansel.


" tadi jam 5 mungkin" Ansel masih fokus membaca berkas sambil menjawab panggilan.


" iya" Ansel menutup telponnya. Sonia membuka makanan, dia merasa lapar setelah membersihkan diri.


" siapa?" tanya Sonia penasaran.


" siapa lagi, Gael" jawab Ansel singkat.


" kenapa acara kencannya gagal?" tanya Sonia sekali lagi.


" kencan? dengan siapa?" Ansel balik bertanya. Setahunya hanya Myria kekasih Gael saat ini.


" Myria lah, siapa lagi" Sonia menjawab sambil mengunyah makanan.


" bukannya tuan Gael mengajak Myria makan bersama di kedai?" Sonia ikut bingung juga.


" kenapa dia menanyakan keberadaan Myria kalau begitu?" Ansel merasa ada yang tidak beres. Dia menghubungi Gael.


" kenapa?" tanya Gael dari sebrang.


" kau tadi bertanya tentang Myria, bukanya kau bersamanya sekarang?" Ansel langsung menanyakan kejanggalannya.


" aku di kantor Ansel, Tadi Myria berpamitan pergi bersama Sonia. makanya aku bertanya padamu, karena panggilanku dari tadi tidak di angkat Myria" Gael sedikit tersulut karena dia pikir Ansel tidak memahami pertanyaannya tadi.


" tapi kata Sonia, tadi kau mengirim surat pada Myria. Kau meminta Myria menemui mu di kedai" jelas Ansel yang langsung memancing kekhawatiran Gael.


" aku tidak, lalu di mana Myria sekarang?" tanya Gael cepat.


" kami tidak tau, dia di tinggal karena mereka pikir itu kamu" Gael semakin panik. Takutnya ada hal buruk yang menimpa istrinya.


" segera suruh yang lain pergi ke tempat dimana Myria di tinggalkan" ucap Gael panik dan langsung menutup panggilan.


" Gawat! surat itu bukan dari Gael" ucap Ansel kemudian pergi keluar kamar. Sonia masih tidak paham dengan situasinya. Wanita itu menatap pintu keluar dengan kening berkerut.

__ADS_1


" jadi??" guman Sonia masih mengunyah makanan. Wanita itupun ikut keluar menyusul Ansel.


Sergio tampak puas melihat wanita pujaannya tertidur di depannya. Dia berada di sebuah apartemen privat dengan keamanan khusus. Kali ini Sergio yakin, Gael atau siapapun tidak akan bisa menemukan Grace.


" emm " Myria mulai sadar. Wanita itu merasakan kepalanya yang pening.


" emm" guman Myria lagi, dia tidak bisa menggerakkan tangannya. perlahan matanya terbuka. dia terikat dan tertidur di sofa.


" kau sudah bangun, Grace?" tanya Sergio yang langsung membuat Myria tersadar sekaligus mengingat alasan kenapa dia bisa di tempat ini.


" kau, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Myria keras dengan suara yang masih serak.


" sstt tenang dulu. Kita memiliki banyak waktu, bagaimana jika sekarang kita melepas rindu?" Sergio mendekati Myria. Lelaki itu duduk di sebelah Myria dan mendekatkan tubuhnya.


" menyingkir dariku, brengsek!" Myria benar-benar tidak sudi jika sampai Sergio menyentuhnya.


" kenapa kau begitu membenciku dulu kita saling mencintai bukan" Sergio menjauh dia menatap Myria dengan seksama.


" saling mencintai? kau bodoh atau gimana? aku yang sudah menghancurkan kelompok mu" Myria tertawa singkat mendengar penuturan Sergio, bagaimana bisa lelaki ini masih tidak menyadarinya.


" jangan katakan hal itu, aku tau kau pasti di paksakan oleh Gael. Dia lelaki yang kejam, mulai sekarang aku yang akan melindungi mu" ucap Sergio sambil mengelus wajah Myria. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dialah yang sudah di bodohi dan membuat kelompoknya hancur.


" tidak!aku yang menginginkannya. Aku yang membunuh Dom, lelaki itu sangat menyedihkan. Dia berusaha melindungi Batu hitam mati-matian, tapi malah di sia-siakan. Kau ketua paling bodoh. hahahhaha. Kau lah yang menyebabkan kekacauan ini. hahaha" Myria terus mengintimidasi. Wanita itu akan mengulur waktu sampai menemukan cara keluar dari tempat ini.


" tidak!" teriak Sergio, dia terlihat marah bercampur takut.


" kau pikir siapa yang membuat laporan palsu mengenai penggelapan Dom?, siapa yang memberikan laporan kelompok pada polisi?, siapa yang memanipulasi kematian?, kau terlalu bodoh, pecundang, sama sekali tidak bisa di andalkan" jelas Myria dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Sergio tampan tidak percaya, dia terlihat begitu terpukul.


brakk , prang..Lelaki itu melempar semua barang. Dia seperti orang sakit jiwa.


" tidak. tidak tidak. semua ini karena Dom. karena Dom yang sudah mengkhianati kelompok, bukan aku!, kau tidak tau apapun" tolak Sergio. Dia mengambil pecahan kaca, membawanya lalu mendekati Myria.


" kau berbohong padaku, kau hanya diperalat oleh Gael kan?" Sergio mencoba menampik semuanya. Sergio hanya ingin mempercayai apa yang dia fikirkan saja.


" kau tidak mau menerima kenyataanya? kau sudah bodoh, lemah juga. Pecundang!" Myria terus saja memprovokasi Sergio. Wanita itu menebak jika Sergio mengalami tekanan mental sehingga membuat emosinya labil.


" tidak! tidak! tidak" teriak Sergio


bug plak.. Sergio memukul dan menampar wajah Myria. Membuat hidungnya berdarah serta lebam di pipi. Myria langsung pingsan akibat pukulan yang keras itu.

__ADS_1


__ADS_2