
Waktu terus bergulir, kini sudah melewati dari 2 jam yang disarankan oleh dokter. Gael tak kunjung sadar. Ansel semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Lelaki itu memanggil dan menyuruh para dokter untuk melakukan suatu tindakan untuk membuat Gael tersadar.
" pokoknya aku tidak mau tahu, tuan Gael harus sadar. kalau perlu aku akan membayar berapapun yang kau inginkan. Jika sampai kau gagal maka kalian harus menanggung akibatnya. Dan rumah sakit ini harus menanggung akibatnya" Ucap Ansel tajam. lelaki itu penuh dengan amarah.
"tapi tuan, kami sudah melakukan yang terbaik" dokter menjelaskan keadaannya.
"aku tidak mau tahu kalian harus bisa menyelamatkannya. aku tidak terima apapun selain kabar baik" ucap Ansel, sebelum akhirnya dia segera meninggalkan ruang inap.
Lelaki ini bahkan sudah mengancam jika sampai dia kembali dan Gael belum juga sadar, dokter maupun rumah sakit ada dia tuntut. tentu saja hal ini membuat para dokter di sana khawatir. Pasalnya Gael dan Tuan Ansel adalah dua orang berpengaruh.
lelaki itu segera meninggalkan rumah sakit, dia akan pelajaran kepada Myria. Bahkan tangannya terus mengepal kuat sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. dia tidak peduli dengan pengemudi lain yang terus mengeluarkan klakson. Dia sudah menerobos lampu merah beberapa kali.
Ansel sudah Kehilangan kewarasannya.
Satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya Myria merasa menyesal telah mengenal dirinya.
Tak lama mobil itu sampai, tanpa perlu menunggu lagi Ansel masuk ke dalam PIN. Berjalan cepat dan segera mengambil kunci ruangan khusus. begitu terbuka lelaki itu lansung menendang dinding besi. membuat wanita yang ada di dalam sana terlonjak kaget.
Begitu tau jika yang masuk adalah Ansel, Myria langsung takut gemetar. Myria menyeret tubuhnya di pojok ruangan. Ansel menatapnya dengan nyalang.
"bangun kau wanita murahan, bangun!. Gara-gara kau semuanya semua hal buruk ini terjadi. Setelah semua masalah ini aku tidak akan melepaskanmu begitu saja" Ucap Ansel kesal.
"Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu malam ini. sepertinya sudah lama sekali aku tidak menggunakan peralatan ini" lanjut lelaki itu sambil membuka sebuah kotak hitam yang berisi berbagai macam senjata tajam.
Myria tidak bisa berkata apa-apa. wanita itu hanya bisa menangis. Seakan tahu jika hidupnya tidak akan lama lagi.
"Bagaimana kalau kita mencoba peralatan baru ,aku sedikit bosan dengan kematian yang terlalu cepat" Ansel terlihat semakin Kejam dan menakutkan. Lelaki itu sama sekali tidak merasa iba atau kasihan kepada Myria yang sudah meringkuk ketakutan dengan tubuh menangis gemetar.
"baiklah kita mulai dengan pemanasan dulu dengan hal-hal yang ringan" Ansel tampak seperti anak kecil yang sedang menata dan memilah mainannya.
__ADS_1
"kalian ikat wanita ini di sana" ucap Ansel menyuruh dua orang anak buahnya sambil menunjuk sebuah gantungan rantai yang ada di tengah ruangan.
"tidak aku mohon. Jangan lakukan ini padaku. aku mohon ampuni aku" namun kedua lelaki tersebut sama sekali tidak menghiraukannya. keduanya terus menarik kedua tangan wanita itu. Mereka seakan tuli dengan tangisan dan jeritan Myria yang pilu. kini wanita itu sudah tergantung dengan kedua tangannya diikat.
" sayang sekali ini baru bisa sekarang aku melakukannya" ucap Ansel sambil terus memilah senjata.
" kerja bagus" puji Ansel saat melihat tangan Myria yang memerah akibat rantai yang tajam.
Setelah lama memilih , Ansel kemudian mengambil sebuah tali dari bahan kulit. itu adalah sebuah cambuk. Ansel membolak balik memeriksa kekuatan cambuk itu. Setelah yakin
Splashhh.
Satu cambukan terdengar, Myria langsung menjerit kesakitan. Dirasa kurang cocok Ansel mencoba lagi sebuah pemukul besi. lelaki itu mengayunkan dengan keras di bagian kaki, punggung dan perut Myria. Wanita itu jelas terus berteriak dan menangis tiada henti. menangis meminta maaf dan meminta pengampunan.
wanita itu sangat ringkih dan begitu kasihan. Ansel mencoba lagi mencari senjata baru, dia mengambil sebuah senjata pemukul yang Memiliki Duri tumpul. setelah Mengambilnya, lelaki itu langsung melampiaskan kepada tubuh Myria.
"kurasa yang ini lebih cocok untukmu" ucap Ansel yang kembali mengambil cambuk.
Splash
satu cambukan dilepaskan. Myria merintih kesakitan dan Ansel terus mengulangi cambukan itu terus menerus. beban hatinya menjadi kekuatan untuk Mengayunkan tangannya dengan kuat. Sobekan demi sobekan terus menghiasi tubuh wanita itu. darah mulai mengalir sedikit demi sedikit mengotori lantai.
Sampai seorang anak buah masuk dan mengabarkan bahwa Bis Gael sudah sadar. mendengar hal itu seketika Ansel menghentikan cambukan.
Lelaki itu bergegas pergi menuju rumah sakit. Myria di tinggalkan begitu saja dalam kondisi menggantung. Ansel bergegas berlari menuju kamar Gael. dia tidak ingin cepat memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika Gael baik-baik saja.
didalam kamar dokter masih memeriksa kondisi organ vital lelaki itu. sebelum mereka di kaget kan dengan Ansel yang membuka pintu dengan keras.
brakk..
__ADS_1
" bagaimana kondisinya?" ucap Ansel cepat. dia segera berdiri di samping ranjang pasien.
akhirnya dia bisa melihat Gael yang menatapnya sambil tersenyum tipis.
" kau kenapa?" ucap Gael dengan suara yang sangat lemah.
" aku mengkhawatirkanmu bodoh" jawab Ansel kesal namun penuh bahagia. tapi kemudian hal yang dia benci terdengar.
" dimana Myria?" tanya Gael panik. dia baru mengingatnya.
" kenapa kau tidak amnesia sajaa, sialan!" Ansel tidak mau lagi membicarakan wanita murahan itu.
Ansel mengepalkan tangannya dan memukulnya di atas ranjang. Gael melihatnya, dia melihat tangan Ansel yang sedikit terdapat noda darah. Telapak tangan itu juga terlihat sedikit kemerahan
dan Gael tahu persis apa penyebabnya.
"Kenapa dengan tanganmu, kau baru bersenang-senang?" ucap Gael, Ansel mengetahui jika Gael menyadari kebiasaannya. secara reflek Ansel menyembunyikan kedua tangannya. Gael tidak melanjutkan ucapannya. dia terus menatap Ansel dengan tajam, Sedangkan Ansel entah kenapa merasa salah tingkah. Rahasianya terbongkar. Gael yang tau berusaha untuk duduk.
" andan jangan banyak bergerak terlebih dahulu, ini bisa beresiko pada luka anda" larang dokter.
Gael sama sekali tidak menghiraukan siapapun. lelaki itu dengan cepat melepas tali infus.
"Gael Apa yang kau lakukan?" teriak Ansel ketakutan. " kau baru saja sadar" lanjut Ansel mencoba menghalangi Gael.
"kau tau benar ke mana tujuanku" desis Gael mendorong tubuh Ansel. lelaki itu tahu jika telapak tangan Ansel seperti ini maka dia baru saja menyiksa seseorang dan dari tingkahnya Gael tentu bisa menebak siapa seseorang itu.
" tuan Gael tubuh anda masih lemah, anda lebih baik istirahat disini" Gael tidak menuruti ucapan dokter, lelaki itu segera menuruni ranjang dengan tertatih-tatih.
"kau ikut denganku" ucap Gael kepada salah satu dokter di sana. Ansel hanya diam melihatnya. Dia tai siapa yang akan Gael temui. Dia pasti akan menyelamatkan wanita itu lagi.
__ADS_1