
" tuan ini semua riwayat tempat pelacak yang anda minta" pengawal Lucas memberikan laporan.
" bagus" Lucas tersenyum senang.
" hanya ini?" tanya Lucas karena di sana hanya tertera 5 tempat yang berbeda.
" iya tuan, apa perlu kami periksa kembali?" tanya pengawalnya.
" tidak perlu" usir Lucas. Lelaki itu menilai, alat pelacak itu tidak pernah singgah di tempat yang sama. Semuanya berbeda. Dia sedikit bingung memilih yang mana kemungkinan lokasi PIN.
" kalian survei lokasinya dan segera kirimkan gambarannya padaku" ucap Lucas lewat panggilan.
" baik tuan" jawab anak buahnya.
Di sisi lain, Gael sedang memeriksa email. Dia dan Ansel selalu berkomunikasi dalam melakukan pekerjaan.
Baru saja Gael menerima laporan transaksi dan beberapa data keamanan. Lelaki itu fokus memeriksa.
Ddrrtt ddrrtt hp nya berbunyi. nomor milik Angel.
" kau di mana?" tanya wanita itu
" ada perlu apa?" Gael balik bertanya. Dia sedang bersembunyi jelas saja tidak akan mengatakan keberadaanya.
" kau ada waktu luang? Sepertinya Lucas mulai bertindak" ucap Angel.
" ku kira kerjasama kita sudah selesai. Persoalan Lucas sekarang bukan menjadi urusanku" jawab Gael datar. Lelaki sengaja menjaga jarak darI GM.
" kau fikir dia akan menyerah begitu saja?" ucap Angel.
" memangnya apa yang dia lakukan?" Gael tidak langsung terpancing. Dia tidak akan ikut campur jika bukan persiapan PIN atau Myria. Lelaki itu terdengar seperti orang bosan.
" aku tebak kau belum terbang bukan? mari kita bertemu setidaknya sebagai salam perpisahan" Angel terus mencoba membuat Gael keluar dan menemuinya. Wanita ini ingin meminta sesuatu pada lelaki itu.
" maaf soal itu, aku tidak bisa. Kau berita tau saja apa yang kau inginkan" Gael tetap kekeh.
" aku akan memikirkan nya" jawab Angel ketus kemudian menutup panggilan. Gael tidak ambil pusing, tidak ada untungnya melanjutkan kerja sama dengan wanita labil seperti Angel.
" ada masalah?" tanya Myria, dia baru selesai mandi. Dan melihat Gael menatap hp nya lama.
" tidak ada" jawab Gael singkat dan menarik Myria agar duduk di pangkuannya.
" kita serius berlama disini?" tanya Myria sekali lagi. Dia mencemaskan Sonia akhir-akhir ini.
" kenapa? anggap saja sebagai liburan" jawab Gael santai.
" liburan di tengah masalah seperti ini?. Apa Lucas tidak membuat ulah?" Myria tidak yakin jika lelaki itu menyerah.
" dia jelas tidak akan melepaskan sampai PIN berada di tangannya" jelas Gael yang semakin membuat Myria bingung.
" lalu apa yang kau tunggu?" tanya Myria tidak habis pikir.
" tidak ada," jawab Gael singkat.
" kenapa tidak ada?" tanya Myria kesal. Gael. Menarik sudut bibirnya, istrinya lumayan cerdik saat bertanya.
__ADS_1
" karena aku sudah tau apa yang akan dia lakukan" bisik Gael sambil mencium leher Myria.
" kau terlalu percaya diri" ungkap Myria meragukan Gael.
" kita lihat saja" tantang Gael.
" ada apa ini? kenapa ada koper disini?" tanya Sonia menatap heran saat melihat ada 3 koper di dalam kamar.
" kita ada perjalanan bisnis" jawab Ansel singkat.
" perjalanan kemana?" tanya Sonia mendekati Ansel yang sedang mengeluarkan baju.
" kau tidak perlu tau" jawab Ansel ketus. Dia masih kesal dengan kebohongan Sonia.
" ah ya ini obat baru, minumlah sehat 3x" Ansel mengambil sebuah botol berisi banyak pil.
" obat apa ini?" tanya Sonia khawatir.
" pencegah kehamilan, ini lebih efektif dari yang kemari" Ansel dengan nada tinggi.
" jangan sampai lupa meminum nya, ingat!" Ansel menegaskan. Sonia menerima nya dengan tangan sedikit bergetar. Dia memutuskan untuk merahasiakan soal kehamilannya, sejak awal Ansel tidak ingin dia hamil. Jika lelaki itu mengetahuinya, takutnya bayinya tidak akan selamat.
" iya" cicit Sonia lemah.
" lebih baik minum sekarang" saut Ansel mendadak. Dia bahkan mengambilkan minum untuk Sonia.
" sekarang?" tanya Sonia ketakutan.
" iya, semalam kan kita melakukannya" jawab Ansel enteng.
" tak apa, minum lagi saja" Ansel terlihat memaksa, Sonia tidak memiliki pilihan lain. Dia mengeluarkan pil nya dan mengambil air minum. Ansel melihat dengan seksama, memastikan Sonia minum obat pemberiannya. Dengan harapan agar obat itu bisa cepat bereaksi.
" sudah" ucap Sonia setelah terpaksa minum obat.
" bagus" Ansel mengelus rambut Sonia pelan.
" siang ini kita berangkat" lanjut Ansel kemudian melanjutkan aksi berberesnya. Sonia berlalu dengan cemas, dia takut efek yang di timbulkan pil tadi akan membahayakan janinnya.
" kalian sudah mendapatkannya?" tanya Lucas dalam panggilan kepada anak buahnya.
" kami akan mengirimkan hasilnya tuan" ucap mereka. Lucas benar-benar tidak sabar menunggu hasilnya.
" kalian siapkan bahan peledaknya" ucap Lucas mengingatkan. Kali ini lelaki itu tidak akan bermain halus, sekali serangan Gael harus selesai. Dia yakin untuk masalah PIN lelaki itu pasti akan memberikannya secara sukarela ataupun terpaksa.
" baik tuan" panggilan terputus.
" kalian jangan lupakan sinyalnya,mengerti?" pesan Ansel sebelum keberangkatannya. Dia benar-benar tidak mau sampai terjadi kesalahan.
" siap tuan, kami akan melakukan yang terbaik" jawab bawahannya yakin.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, baik pesan ataupun kebutuhan PIN, Ansel pergi sesuai dengan saran dari Gael.
"kau kenapa?" tanya Ansel pada Sonia saat berada di privat jet. Wanita itu terlihat pucat dan memegangi perutnya.
" tidak apa-apa, sepertinya aku salah makan. Perutku sakit sekali" jawab Sonia yang mulai berkeringat.
__ADS_1
" kemari" ajak Ansel agar Sonia duduk di sebelahnya.
" tidurlah, aku akan memberikan obat usap" Ansel mengambil sebuah botol berisi cairan dan mengoleskannya di perut Sonia.
" jangan tegang" saut Ansel yang merasakan otot perut Sonia mengencang.
Ansel mengelus pelan perut Sonia, wanita itu akhirnya tertidur di pangkuan Ansel. Rasa bersalah terkadang menyusupi hati Ansel saat mengingat apa yang ada di dalam perut Sonia.
Di sebuah ruangan redup, Lucas tengah duduk menunggu sesuatu.
ting. Hp Lucas berbunyi, sebuah pesan masuk.
" bagus" ucap Lucas senang, di sana sudah tampil lokasi tempat alat pelacak itu. Lucas tinggal menilai yang kemungkinan menjadi lokasi PIN.
" kalian pasang peledak itu di 2 lokasi yang aku kirimkan" ucap Lucas.
" siap tuan" jawab anak buahnya.
Di tempat lain Angel tengah berada di ruang kerja dengan Asistennya. Dia membahas pergerakan Lucas.
" tuan Lucas memiliki banyak sekali riwayat panggilan luar negri" jawab Asisten Angel, lelaki ini memiliki cukup banyak mata- mata. Memudahkan nona nya untuk mencari informasi.
" sasarannya tetap sama, lalu apa ada pergerakan lain?" tanya Angel lagi.
" tidak ada, tuan Lucas berada di tempatnya terus. bahkan tidak ke bar atau yang lainnya" jawab Asisten, hal ini di rasa sedikit aneh, lelaki itu tidak mungkin absen mengunjungi bar.
" tetap awasi, aku memiliki firasat buruk padanya" tutup Angel. Wanita itu sibuk dia markas dan mengurusi hampir setengah dari pekerjaan GM. membuatnya tampak sibuk namun sangat disegani.
" baik nona" jawa Asisten itu kemudian pergi.
Angel menatap kosong ke arah tumpukan laporan. Kali ini berurusan dengan Lucas terasa begitu menarik, apalagi dengan adanya Gael. Angel merasa begitu akrab dengan lelaki itu. Padahal mereka kenal tidak kurang dari beberapa minggu yang lalu.
Privat jet baru saja berhenti, Ansel membangunkan Sonia. Lelaki itu tidak memiliki keinginan untuk menggendong wanitanya.
" kita sudah sampai" ucap Ansel
" em." Sonia masih menyiapkan kesadaran tak kala Ansel sudah keluar terlebih dahulu. Sonia mengelus perutnya pelan, sudah beberapa hari dia tidak tidur nyenyak. membuatnya pulas selama penerbangan.
" kau kuat ya" bisik Sonia pada janinnya.
Sonia berjalan turun, di samping pesawat sudah ada mobil yang menunggu.
" lama sekali" gerutu Ansel.
" maaf" cicit Sonia. kemudian duduk di samping lelaki itu.
" kau sudah minum obat nya?" tanya Ansel menyelidik.
" emm sudah" jawab Sonia berbohong.
" mana?" Ansel mengulurkan tangan.
" apa?" Sonia balik bertanya.
" mulai sekarang aku yang bawa, jika waktunya minum aku bisa melihatnya sendiri" Ansel tidak mau Sonia asal berbohong. Sonia tampak ragu, dia tidak memiliki celah sama sekali.
__ADS_1
" baiklah" mau tidak mau Sonia tetap memberikan botol obat itu.