
" itu akan membuatmu lebih baik" Gael terus menenangkan Myria.
Di ruangan medis Ansel dan Sonia sudah terbangun, mereka juga tidak mau berlama-lama di ruangan publik seperti ini.
" aku akan mengecek keadaan Myria" ucap Sonia sambil membawa obat, dia takut terjadi infeksi akibat luka yang terbuka.
" tidak usah, biarkan kekasihnya yang mengurus" cegah Ansel.
" dia sudah datang? aku akan mengajaknya berbicara" Sonia belum melupakan tekatnya, dia harus memberikan pengertian pada lelaki itu agar tidak menyentuh Myria sebelum lukanya kering.
" kau yakin?" Ansel tidak akan mengatakan siapa sebenarnya kekasih Myria, dia juga ingin lihat apa Sonia berani berhadapan dengan Gael.
" iya, yakin sekali" ucap Sonia, mereka berjalan keluar dari ruang medis.
Saat melewati lorong Ansel melihat Gael berada di ruangan istirahat, mungkin dia mengambil makanan untuk Myria.
" sini kita akan menemui kekasih Myria" ajak Ansel.
" di mana?" tanya Sonia dengan wajah polos.
Ansel menggandeng tangan Sonia berjalan memasuki ruangan istirahat.
" Gael" ucap Ansel lalu duduk meninggalkan Sonia yang masih berdiri membelakangi Gael.
" kenapa?" tanya Gael namun masih fokus menata makanan.
Sonia mendekati Ansel dengan wajah bingung.
" di mana kekasih Myria?" tanya Sonia masih belum mengerti keadaan untung saja Gael tidak terlalu mendengarnya.
" itu" Ansel menunjuk kearah Gael.
Sonia menoleh kearah yang di tunjukkan. Dengan sedikit tidak percaya Sonia memalingkan wajahnya kembali menatap Ansel.
" Tuan Gael?" tanya Sonia setengah berbisik. Ansel mengangguk
" kenapa memanggilku?" tanya Gael yang sudah selesai menata makanan di atas nampan.
Sonia di landa kecemasan dia tidak tau harus memulai darimana.
" ah ya, terimakasih Sonia. Kau sudah mau merawat Myria semalam" ucap Gael datar.
Ansel menyentuh punggung Sonia memberinya instruksi untuk mengatakan niat awalnya.
" iya sama-sama. em tapi sebaiknya tuan jangan melakukannya dulu sampai lukanya mengering. kasihan Myria dia sangat kesakitan semalam" ucap Sonia meski dengan nada lemah.
" aku juga menyesal melakukannya, jika semalam Ansel tidak membawaku ke kamar mungkin kejadian ini bisa di hindari, kemarin aku mabuk berat" ucap Gael yang secara tersirat menyalahkan Ansel.
" lah kenapa jadi aku?" Ansel tidak terima.
" jadi tuan Ansel yang menyebabkan semua ini?" tanya Sonia langsung mengganti sasaran emosinya.
" bukan aku, aku memang yang membawa Gael ke kamar tapi aku tidak tau jika kejadiannya akan seperti ini" kilah Ansel tak mau di salahkan.
__ADS_1
" tetap saja, Myria masih sakit dan kau meninggalkanku bersamanya dalam keadaan mabuk. itu jelas salah" Gael ikut menimpali.
" tuan Gael benar, seharusnya tuan Ansel membawanya ke kamar lain" giliran Sonia yang juga ikut menyalahkan.
" baiklah-baiklah. semua salahku. puas" ucap Ansel kesal. kenapa malah dirinya yang di salahkan.
" sudahlah aku akan membawakan makanan Myria" Gael tanpa berlama-lama berjalan pergi dengan tenang.
" wah, tuan Gael memang memiliki aura yang sangat kuat" ucap Sonia dan langsung duduk di samping Ansel.
" kenapa tadi kau malah ikut menyalahkan ku?" kini giliran Ansel yang memojokkan Sonia.
" apa tuan tidak mengerti situasinya? tuan Gael sangat menakutkan tadi. Aku tidak memiliki pilihan lain" jawab Sonia mencoba menarik simpati dengan nada bicaranya yang lemah lembut.
" begitu? harus ada ganti rugi. nanti malam harus kau tebus" balas Ansel tidak mau kalah.
" selalu saja!" ucap Sonia kesal.
" kata Ansel PIN sedang ada masalah serius?" tanya Myria setelah menyelesaikan sarapan.
" kami terlibat perselisihan dengan senator" jawab Gael jujur. Mereka sudah berjanji untuk saling terbuka dan tidak menyembunyikan sesuatu satu sama lain.
" senator? siapa mereka?" tanya Myria polos.
" mereka seperti pengatur mafia. Tapi hanya kedok semata ada mafia lain yang menggerakkannya. Kau tidak perlu khawatir" jawab Gael sambil tetap fokus di layar monitor. Mereka sedang bersantai di ruang kerja Gael.
" jadi yang bermusuhan dengan PIN itu pemilik senator begitu?" Myria mulai mengerti inti persoalan.
" ya bisa di bilang begitu" jawab Gael singkat.
" tentu tidak, PIN memiliki sistem keamanan privat, hanya aku yang bisa mengoperasikannya " jawab Gael percaya diri. Dia tidak mungkin membiarkan PIN dengan mudah di ambil orang lain.
" kau cukup percaya diri" saut Myria. Dia ingin tau sejauh apa kemampuan Gael. Myria berjalan ke meja kerja di mana fokus Gael berada di sana sedari tadi.
" tunggu? kau tau siapa orang ini?" tanya Myria saat melihat sekilas foto yang ada di monitor.
" aku sedang mencari profilnya, dialah yang membuat PIN kacau beberapa hari yang lalu" jawab Gael agak kesal.
" sepertinya aku memiliki sedikit informasi mengenai lelaki ini" ucap Myria sedikit ragu-ragu. Dia memang pernah melihat wajah lelaki ini.
" apa itu? kau pernah bertemu dengannya?" Gael langsung memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Myria.
" kalau tidak salah lelaki ini terlibat dalam Kelompok GM. Aku tidak sengaja melihat fotonya di berbagai hal yang berbau dengan GM" jawab Myria sambil mengingat kembali riwayat pencarian. Wanita itu mengambil alih PC dan melakukan pencarian yang sama mengenai GM.
" kau lihat, dia tersebar dimana mana" Myria benar. Semua hal yang berkaitan dengan GM akan ada foto lelaki tua itu.
" kau benar, lelaki tua ini tidak bisa di anggap remeh" Gael menatap layar dengan ekspresi serius. Dia akan mencari tau lebih dalam lagi mengenai GM.
" aku akan mendalami nya" lanjut Gael. Myria di landa kekhawatiran akan keselamatan Gael.
" izinkan aku ikut dalam masalah ini ya" ucap Myria meminta, dia bisa sedikit memberikan bantuan dengan kemampuannya yang sekarang.
" tidak Myria, ini berbahaya" tolak Gael mentah-mentah.
__ADS_1
" daripada aku melakukan secara sembunyi-sembunyi, bukankah kita sudah berjanji untuk saling menjaga, kali ini saja biarkan aku terlibat, setidaknya aku bisa sedikit membantu" Myria merengek agar Gael mau mengizinkannya terlibat dalam masalah ini.
Gael menarik nafas panjang, dia tidak bisa membiarkan Myria masuk dalam bahaya. Namun wanita ini juga takutnya malah nekad dan semakin membahayakan nyawa nya. Gael dilema, dia diam saja tidak bisa menjawab.
" Gael? " Myria menuntut jawaban.
" aku akan memikirkannya" jawab Gael, dia seakan menggantung Myria. Alhasil wanita itu cemberut dan pergi ke kamar.
Gael tentu tidak mempermasalahkan kekesalan Myria, lebih baik seperti itu daripada terus merengek meminta izin.
Malam harinya Gael, Ansel dan lainnya mengadakan pertemuan setelah merampungkan keamanan PIN. Mereka akan melaporkan perkembangan PIN setelah mengalami serangan.
" laporkan perkembangan sistem sejauh ini?" Gael memberikan pertanyaan pembuka.
" kami sudah melakukan semua arahan Bos Gael dan sejauh ini tidak ada kendala. Semua berjalan lebih baik dan sistem terbaru memiliki auto perlindungan diri secara optimal" jawab bawahan itu.
Ansel mengangguk singkat, dia begitu percaya bahwa Gael bisa diandalkan.
" apa ada serangan lagi?" Ansel bertanya.
" setelah serangan yang membuat sistem off, ada sekitar 30 serangan susulan namun semua bisa di tangkis dengan mudah" mendengar jawaban itu Ansel menarik nafas panjang, hal seperti ini tidak akan berhenti atau akan lebih banyak sebelum PIN bisa mereka dapatkan.
" kita berhadapan dengan GM kali ini" singkat Gael membuat semua bawahannya dan juga Ansel menatap ke arahnya dengan pandangan kaget.
" GM?" ulang Ansel yang masih tidak percaya.
" ya benar GM, Golden Moon. Seseorang yang kita temui saat pertemuan di Jepang memiliki keterkaitan dengan GM dan aku yakin dia bukan orang sembarangan di kelompok itu" jelas Gael dengan nada tenang. Semua informasi ini tidak lepas dari bantuan Myria waktu itu. Jika wanita itu tidak mengatakan mengenai GM kemungkinan Gael juga tidak bisa melacak indentitas lelaki tua itu.
" kau yakin?" Ansel semakin merasa takut dan khawatir.
" yakin sekali" jawab Gael serius.
" lalu bagaimana kita menghadapinya?" salah satu bawahannya keceplosan, semua yang ada disini jelas tau siapa dan bagaimana kelompok GM ini. meskipun area kekuasaannya ada di luar, namun untuk kekejaman, kekuasaan dan pengaruhnya mereka sudah mendengarnya.
" maka dari itu, jika kalian merasa ragu atau bahkan takut kita di hancurkan, kalian bisa angkat kaki dari sini. Aku bahkan akan menghapus data kalian sebagai anggota 2M. Jadi tentukan pilihan kalian sebelum kita bahas misi penting ini" ucap Gael. Lelaki itu memang tidak bisa membohongi dampak yang akan mereka dapatkan jika sampai kalah, tentu bukan hanya nyawanya saja tapi seluruh anggota dan nama 2M akan musnah dari dunia hitam.
Semua orang yang berada di sana belum selesai terkejutnya kini mendengar ucapan Gael sama menyeramkan nya dengan informasi mengenai GM. Mereka saling berpandangan tidak percaya dengan keputusan yang Bos Gael ambil. Hal yang sama juga Ansel rasakan, Gael tidak mendiskusikan hal ini kepadanya sebelumnya.
" sebelum kita bahas lebih jauh, aku beri waktu kalian berfikir. Karena sekali masuk apapun resikonya kalian harus menerimanya" Gael menatap bawahannya satu persatu. Dia juga menatap Ansel dan memberikan kode untuk keluar bersamanya.
Ansel menangkap kode itu dan berjalan keluar bersama dengan Gael.
" apa yang kau rencanakan?" tanya Ansel saat keduanya berada di ruang kerja Gael.
" aku hanya tidak mau memakan banyak korban" jawab Gael enteng. Dia menunjukkan kepada Ansel hasil penelusurannya mengenai lelaki tua itu.
" jadi kau ingin lelaki itu tidak banyak pilihan untuk mengancam?" Ansel mulai mengerti arah pemikiran Gael.
" lelaki itu sangat licik, aku takut dia menyandra dan mengancam anggota kita. Jika mereka tidak teguh bisa-bisa malah menjadi bumerang bagi kita" jelas Gael. Dia sudah sekali di ancam dan kali ini dia tidak mau hanya karena bawahannya rencana mereka akan gagal.
" kau ada benarnya" ucap Ansel menyetujui ucapan Gael.
" tapi bagaimana jika banyak dari mereka yang pergi, kita juga tidak memiliki banyak sumber daya" Ansel tidak menemukan solusi untuk masalah ini.
__ADS_1
" kalaupun sedikit, setidaknya mereka bisa di percaya" jawab Gael sambil menerawang jauh. 2M harus berani ambil resiko, lawan mereka kali ini tidak main- main.