Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
24. Tempat Baru


__ADS_3

Siang harinya setelah Myria menyelesaikan proses pemakaman ayahnya, Gael masih memantau dari dalam dari mobilnya bagaimana situasi kontrakan di kontrakan Myria. Dia masih belum berani untuk mendekati wanita itu sampai situasinya benar-benar tenang. apalagi berani meninggalkan Myria diluar pengawasannya, itu tidak mungkin.


Saat di pertengahan menunggunya dia mendapatkan telepon dari Ansel. Ansel memintanya untuk kembali ke PIN. mereka mengabarkan bahwa PIN mendapatkan serangan lagi. Lelaki itu segera memberikan tugas kepada anak buahnya untuk tetap mengawasi dan memantau keadaan kontrakan.


Saat mobilnya pergi dari sana sebuah mobil malah masuk ke halaman kontrakan Myria. Mobil itu adalah milik Ansel, Ansel memang sengaja memancing Gael agar lelaki itu pergi dari sana. Dia memiliki kepentingan khusus untuk bertemu dengan Myria.


Ansel Segera memasuki kontrakan, lelaki itu tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu tersebut. Dia bisa melihat bagaimana wanita yang dia benci itu sedang terduduk.


" kau begitu kasihan " ucap Ansel menyindir penampilan Myria yang menyedihkan. Luka wajahnya yang masih belum pulih harus terkena lelehan air mata.


Myria menatap Ansel dengan pandangan kosong. Wanita itu tidak dalam kondisi yang baik untuk menyahuti sindiran Ansel.


" Jadi kau benar- benar bertekad ingin membalas dendam?" Ansel mengambil kursi di sebelah Myria. dan dengan lancang mengambil segelas air dari sana.


" aku sudah melaksanakan janjiku, aku akan menjauh dari Gael. kau harus melaksanakan janjimu juga" ucap Myria dingin. wanita itu seakan mati rasa.


" tenang saja, aku memang sudah melihat kegigihanmu. maka dari itu, hari ini juga aku akan melaksanakan janjiku. Namun sebelum itu aku ingin mau kau melakukan sesuatu" ucap Ansel dengan memberikan kode kepada anak buahnya untuk membawakan sebuah koper hitam.


" letakkan semua hal yang menempel di tubuhmu kedalam koper ini" Ansel membuka kotak tersebut. Myria menatap dengan kebingungan.

__ADS_1


" kau jangan berfikir negatif, tentu saja tidak termasuk baju yang kau pakai" Ansel memang memiliki aura yang sedikit mesum. membuat Myria merasa curiga.


" untuk apa?" tanya Myria menyelidik. dia masih tidak bisa mempercayai lelaki itu 100%.


" kau tidak perlu tau" Ansel sedang malas menjelaskan alasannya. dia juga tidak mau Myria mengetahui rahasia Gael.


Myria melepaskan barang-barang yang menempel di dalam tubuhnya, mulai dari perhiasan rambutnya, kalung, jam tangan bahkan anti peninggalan ibunya yang sudah disusupi juga dengan alat pelacak oleh Gael. Ansel memang sudah memprediksikan mengenai hal ini, Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan Gael selalu memberikan alat pelacak pada hal-hal penting.


" baiklah, aku memberimu waktu 15 menit untuk berganti baju dan berkemas. kau juga boleh membawa beberapa peralatan dalam satu koper saja. aku akan mengantarmu ke sebuah tempat" ucap Ansel tenang.


" apa kau sedang menjebak ku ?" tanya Myria menyelidik.


" tentu tidak, karena kita berada dalam satu misi kau tenang saja, aku tidak akan mengingkari janjiku" ucap Ansel dengan serius.


Setelah beberapa lama, wanita itu turun dengan membawa satu koper. Dia menatap lama ke arah Ansel dengan wajah yang dingin seakan memberikan tanda bahwa dia sudah selesai.


" Baiklah kita berangkat" ucap lelaki itu sambil membawa koper milik Myria.


Sebelum pergi Myria meletakkan sebuah surat di atas meja.

__ADS_1


"untuk apa itu?" tanya Ansel saat melihat Myria meninggalkan sebuah surat.


" bila Gael datang kesini surat ini akan menjelaskan semuanya dan membuatn lebih itu melupakan niatnya untuk membalas dendam. moment ini adalah terkahir kalinya Myria berada di sini. Dia menatap satu persatu ruangan yang ada disana. Dia merekam semuanya.


Ansel hanya mengangguk kecil sebagai tanda dia menyetujui tindakan Myria. tak berselang lama wanita itu keluar, di perkarangannya sudah ada dua mobil. Ansel dan Myria menaiki mobil yang berbeda. Demi menghindari kecurigaan. Ansel sendiri sudah memberikan pesan kepada bawahannya mengenai urusan Myria.


Gael yang sudah berada di PIN sedari tadi mencari keberadaan Ansel. Lelaki itu dalam panggilannya mengatakan Jika dia juga dalam perjalanan menuju PIN karena baru saja selesai dari Bar.


Sontak saja handphone milik Ansel berbunyi saat dia masih dalam perjalanan. Kini semua rencana menjadi aman terkendali. rahasia antara dirinya dan Myria berjalan sesuai dengan rencana.


Perjalanan Myria terasa begitu jauh, wanita itu sampai disana saat tengah malam. Dari luar wanita itu hanya melihat sebuah bangunan kosong, namun karena mobil yang ditumpanginya berhenti disini artinya memang benar tempat ini adalah tujuannya.


Myria turun dan menyeret kopernya tepat di depan pintu masuk. Wanita itu masih sedikit ragu. Untung saja sopir mobil ikut turun dan mengantarnya ke dalam bangunan. lelaki ini memimpin langkah Myria masuk menuju ke sebuah ruangan.


Tok tok


Sopir itu mengetuk pintu.


Setelahnya dia pergi meninggalkan Myria tanpa menunggu seseorang keluar dari sana. Myria hanya diam saja. Dia yakin jika Ansel sudah mengatur semuanya. Tak lama pintu terbuka, seorang laki-laki dengan tampang lusuh menyambut kedatangan wanita itu. Di tangannya, dia membawa sebuah berkas dan mencocokkan foto yang ada di dalam berkas itu dengan seseorang di depannya.

__ADS_1


"kau masuklah" Ucap lelaki itu dengan suara yang keras. Lelaki itu yakin jika Myria adalah orang yang mereka tunggu.


Tanpa banyak berfikir Myria masuk ke dalam bangunan. kesan pertama yang dia lihat adalah tempat ini begitu menakutkan baginya. Banyak sekali rantai-rantai dan beberapa arena tinju disana. wanita itu terus melangkah sampai ke sebuah ruangan yang penuh dengan samsat. Sepertinya Ansel sedang ingin Myria melatih fisiknya terlebih dahulu, itulah yang wanita itu tangkap saat melihat kondisi tempat ini.


__ADS_2