Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
69. Terkuak


__ADS_3

Myria masih dalam keadaan sadar saat Gael menarik tubuhnya menjadi berbaring di sampingnya. Lelaki itu dengan pulas langsung tertidur nyenyak. Pengaruh alkohol yang cukup kuat membuat hilang kesadaran. Myria mengatur nafasnya sejenak, dia bisa merasakan cairan lengket yang mengalir hangat di lukanya. Perlahan Myria menggerakkan tubuhnya.


" akk, ssshh" Myria menahan rasa sakit, tidak hanya pada lukanya namun sekujur tubuhnya juga terasa sakit.


Myria sedikit tertatih saat menggapai baju Gael yang berada tepi ranjang. Dia berniat keluar dan meminta perawatan medis.


Myria menelusuri lorong sampai bertemu dengan seorang anggota kelompok.


" nona?..apa yang ter.."


" panggilan petugas medis" Potong Myria cepat.


" petugas medis tidak dalam posisi stand by mereka sudah pergi" jawab anggota itu sambil menatap kasihan pada Myria.


" kalau begitu di mana kamar Ansel," Myria akan meminta pertanggungjawaban karena Ansel telah meninggalkan Gael dalam kondisi setengah sadar.


" ikuti saya nona" jawab anggota kelompok yang berjaga malam.


tok tok.. Myria menggedor pintu itu sedikit keras.


tok tok Ansel belum juga keluar.


tok tok..


" beraninya.."


" bantu aku rawat luka ini" Myria bersandar untuk menopang tubuhnya.


" apa yang terjadi?" tanya Ansel panik saat melihat wajah Myria yang sangat pucat serta tangan kirinya yabg menopang lengan kanan.


" ada apa ?" tanya Sonia yang juga terbangun karena terganggu segera menyusul Ansel menuju pintu masuk.


" Noah, apa yang terjadi?" tanya Sonia kaget dan cemas saat mengetahui temannya dalam keadaan yang menyedihkan.


" Sonia kau disini?" Myria juga kaget dengan kehadiran Sonia di kamar Ansel.


" kemari masuklah dulu" ucap Sonia tanpa menjawab pertanyaan Myria.


Sonia membantu Myria berjalan masuk, dan duduk di sofa ruang kerja Ansel.


" lukaku sepertinya terbuka" jawab Myria lemah sambil memberikan isyarat lewat matanya kearah bahu. Sonia membuka baju dan benar saja perban Myria sudah tidak berbentuk serta memiliki warna merah.


" astaga, sini aku bantu" Sonia tidak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi pada Myria. Ansel tidak berani masuk, dia mendengar semuanya dan pergi mengambil peralatan medis.


" ini" ucap Ansel saat berpas -pasan dengan sonia di depan pintu.


" Kau rawatlah dia" pesan Ansel lalu pergi ke ruangan istirahat.


Sonia langsung membawa masuk peralatan medis.


" apa yang terjadi?" tanya Sonia sekali lagi. wanita itu dengan telaten membuka perban Myria.


" sangat panjang cer.. ssshhh.. pelan-pelan" efek obat penghilang nyerinya sudah selesai. Kini Myria merasakan sakit yang berkali lipat.


" tahan" ucap Sonia, dia akan menyuntikkan anestesi. Myria menggigit bibirnya sejenak untuk menahan rasa sakit.


" sejak kapan kau berada di sini?" tanya Myria, saat rasa sakitnya memudar. Kondisinya mulai stabil.

__ADS_1


" tidak lama setelah kau pergi" jawab Sonia yang juga berkonsentrasi merawat luka.


" ini luka tembak bukan?" tanya Sonia memastikan.


" iya, aku baru selesai tindakan kemarin" jawab Myria sambil melihat dengan seksama bagaimana Sonia saat merawat lukanya. Dia mungkin perlu tau agar lain kali bisa menangani sendiri.


" dan sekarang lukanya terbuka lagi, memangnya apa yang terjadi? ini lagi banyak luka lebam, kau habis jatuh?" tanya Sonia panjang lebar. Dia tidak habis pikir Myria sangat ceroboh saat tubuhnya memiliki banyak luka. Sonia juga salah mengartikan luka kebiruan dan keunguan yang tersebar di sepanjang tubuh Myria.


" kau tidak mengenali kenapa bisa ada luka lebam seperti ini?" Myria malah balik bertanya dengan tatapan menguji.


" tunggu, kau baru.." Sonia akhirnya sadar, luka lebam yang dia maksud adalah warna keunguan bekas aktivitas panas.


" hahahaha.. akk..ssshh" Myria tertawa mengejek sambil menahan perih.


" bisa-bisanya kau nekat melakukan itu saat memiliki 2 luka tembak yang masih basah" Sonia menaikkan nada suaranya. Dia jadi meneliti penampilan Myria dan baru sadar jika kemeja yang Myria pakai adalah kemeja dengan aroma maskulin.


" ceritanya panjang, apa sudah selesai?" tanya Myria yang mulai mengantuk.


" tinggal satu lagi" jawab Sonia. Dia dengan sabar merawat luka Myria.


Sedangkan Myria yang sedikit lelah dan lengannya yang seakan mati rasa. Membuat wanita itu mulai menutup matanya. Sonia diam saja, dia memang mengerti kondisi Myria yang masih lemah dan butuh banyak istirahat.


Setelah selesai Sonia mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Myria yang tertidur di sofa. kemudian pergi untuk mengembalikan peralatan medis.


" bagaimana lukanya?" tanya Ansel yang menyusul ke ruangan medis.


" sedikit terbuka, namun tidak begitu parah. ah ya apa Noah memiliki kekasih disini?" jawab Sonia.


" jika disini kau panggil dia Myria" jawab Ansel mengoreksi.


" tentu saja, kenapa memang nya"jawab Ansel yakin.


" kau berani menegurnya?"tanya Ansel dengan nada menguji. Dia ingin tau apakah Sonia berani jika benar-benar berhadapan dengan kekasih Myria.


" tentu saja, Myria adalah sahabatku. Meskipun dia kekasihnya tapi jika membahayakan nyawa sahabatku tidak akan aku biarkan" jawab Sonia yakin. Dia perlu memberikan peringatan pada kekasih Myria.


" baiklah nanti jika aku bertemu dengannya aku akan menyuruhnya menemui mu" jawab Ansel tanpa pikir panjang.


" kita tidur disini saja" ajak Ansel. Dan Sonia juga Berfikiran yang sama. Apalagi hari sudah mulai pagi.


Di kamar lainnya, Gael mulai kembali sadar. Dia measa kepalanya yang sangat pening.


" ah, " Gael memegang kepalanya. Dia masih belum membuka kedua matanya. Perlahan mengubah posisinya menjadi setengah duduk. Tapi saat membuka selimut, lelaki itu tersentak saat mengetahui tubuh polosnya.


" bagaimana? apa yang.." ucapan Gael terhenti saat melihat bekas darah mengering di ranjang dengan tanpa kehadiran Myria.


" tunggu" Gael mulai mengingat, dia khawatir apa mungkin semalam mimpinya itu adalah kenyataan.


" sial!" celetuk Gael dan langsung memakai pakaian dengan cepat pergi keluar.


" kau lihat Myria?" tanya Gael ada salah satu anak buahnya sepanjang yang dia temui.


" saya tidak lihat bos" jawab bawahan itu. Gael semakin panik, dia langsung pergi ke ruangan medis. Karena yang ada di fikirannya saat ini adalah Myria terluka.


Gael membuka pintu dan melihat sepasang kekasih tertidur di sana. Alis Gael langsung bertemu.


" apa yang kalian lakukan di sini?" Ucap Gael dengan sedikit keras dan langsung membangunkan kedua Ansel.

__ADS_1


" kau cari Myria? dia di kamarku" jawab Ansel malas. tidak Myria ataupun Gael kedua orang itu selalu saja mengganggu tidurnya.


Tanpa berfikir panjang, Gael langsung pergi ke kamar Ansel. Dengan cepat Gael bisa menemukan Myria. Wanita itu tertidur di sofa.


" hey" Gael mengelus pipi Myria lembut. Membuat Myria mulai terganggu.


Gael menyibak selimut, Myria tidak menggunakan kemeja itu dengan benar karena saat itu dia lebih dulu tertidur.


Gaek merasa bersalah melihat perban itu sudah di ganti yang mengartikan jika sebelumnya telah rusak.


" em, Gael" ucap Myria terbangun dan langsung menutupi lukanya dengan selimut.


" maafkan aku" ucap Gael menyesal.


" aku pasti sangat menyakitimu" lanjut Gael dengan tatapan sedih.


" tidak masalah, bantu aku. Lebih baik kita kembali ke kamar" ucap Myria dan Gael memasang kan selimut sebelum akhirnya menggendong Myria pergi dari sana.


" pelan-pelan" ucap Gael saat Myria menggerakkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman di ranjang.


" kenapa kau bisa berakhir di kamar Ansel?" Gael jelas penasaran.


" Sonia membantuku merawat lukaku" jawab Myria singkat.


" apa semalam aku begitu kasar? aku tidak tau jika semua mimpi itu adalah nyata. kau pasti sangat kesulitan menghadapiku" Gael duduk di sebelah Myria. Dia mengatakan semua rasa bersalahnya.


" aku mengerti, bukanlah alasan semua kemarahan mu adalah aku?" Myria menatap kedua manik Gael dalam. Lelaki itu diam saat tebakan Myria itu sesuai.


" semua yang kau fikirkan tentang aku adalah benar. Aku mengenal Sergio. Aku yang sudah membuat kelompok mereka hancur. selama ini aku pergi adalah untuk membalas dendam atas kematian ayahku, dan aku tidak mau membuatmu terancam dengan keberadaanku. Maafkan aku jika aku baru bisa mengatakan semuanya. Aku yang meminta Ansel merahasiakan semuanya darimu, memintanya membantuku agar mampu membalaskan dendam ku" ucap Myria panjang lebar. Dia memegang tangan Gael lembut. Dia harus menghentikan kesalahpahaman diantara mereka.


Gael diam saja sambil membalas tatapan Myria dengan sama dalamnya.


" apa kau sudah lega sekarang?" tanya Gael memecah kesunyian mereka.


" aku?" Myria tidak bisa membawa pertanyaan itu.


" setelah semua dendammu terbalaskan apa aku sudah tenang sekarang?" tanya Gael lagi. Myria dalam sekejab di landa kebingungan.


" jika belum aku bisa membalaskan dendam mu" Gael hanya ingin memastikan apa mungkin Myria masih berencana mendekati Sergio dan membalaskan dendamnya lagi.


" Gael, aku tidak mau kau ikut dalam masalah ini. aku tau dengan adanya diriku semua mafia akan menargetkanku untuk melumpuhkanmu. aku tidak mau sampai kau di manfaatkan oleh mereka" ucap Myria mencegah Gael.


" lalu kau fikir aku tidak khawatir dengan keselamatan mu? Myria jika kau tau dijadikan target lebih baik kau diam saja disini" Gael terpancing emosi.


" tidak bisa, aku ingin mereka semua mendapatkan balasan dari apa yang sudah mereka perbuat pada ayahku" Myria juga tidak mau mengalah.


" sampai kapan? pembalasan dendam mu tidak akan selesai. Malah akan membuat masalah baru. aku mohon berhentilah, hanya kau seorang yang benar-benar tidak bisa aku relakan Myria" Gael seakan mengiba, dia menarik kedua tangan Myria dan memegang nya erat.


" aku, aku. tidak bisa. Ayahku meninggal dengan cara yang kejam" Myria belum bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa dirinya dan ayahnya.


" apa kau fikir jika saat ini ayahmu tau dia akan bangga melihat putri berubah menjadi seorang pembunuh juga?" Gael menampar Myria lewat pertanyaannya.


" dia hanya ingin kau meneruskan hidup dan bahagia" lanjut Gael saat merasa ucapannya menyentuh hati Myria.


" hanya itu Myria. Setiap ayah ingin putrinya bahagia" ucap Gael sekali lagi.


Myria tidak bisa menahan tangisnya, air mata itu luruh membasahi pipinya. Gael membawa tubuh kecil itu dalam dekapannya. Dia juga dulu seperti ini, ingin membalaskan dendam kepada seseorang yang sudah menjualnya. Namun kemudian Gael sadar dan menjadi sekarang ini.

__ADS_1


" menangislah" Gael mengusap kepala Myria pelan.


__ADS_2