Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
50. Penanganan


__ADS_3

Harry membawa mobil nya mengikuti ambulance, sedangkan tuan Sergio ikut masuk kedalam ambulan menemani Myria.


Didalam mobil lelaki itu sempat mengirim pesan kepada Ansel bahwa dia dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai, dan benar saja Myria segera di masukkan kedalam ruang operasi. Wanita itu langsung mendapatkan penanganan secara profesional.


" Grace sudah masuk?" tanya Harry yang baru saja sampai di depan ruang operasi.


" mereka langsung membawanya" jawab Sergio tanpa merasa aneh sedikit pun.


waktu terus berlalu, sudah beberapa jam Myria berada di dalam sana. Entah apa yang mereka lalukan pada tubuh wanita itu.


" ketua, jika anda memiliki urusan lain. Anda bisa meninggalkan Grace. saya akan mengirimkan semua perkembangan nya. Jangan sampai kelompok terbengkalai karena masalah ini" ucap Harry pelan, bukannya dia ingin mengusir namun dia juga tidak mau lelaki ini berada disini terus. Seakan pergerakannya terbatas. Dia juga mendesak secara halus agar Sergio mengurus Dom.


" tidak, aku akan menunggu sampai operasi ini selesai" tolak Sergio. Lelaki ini benar- benar mengkhawatirkan Myria. Harry sedikit kecewa dengan jawaban Sergio.


" baiklah kalau begitu" ucap Harry tidak ingin memaksa.


Kini hari sudah malam dan ruang operasi masih belum padam. Para medis masih di dalam melakukan penanganan. sampai akhirnya mendekati fajar operasi selesai di lakukan.


Harry segera mendekati dokter dan menanyakan kondisi Myria, sedang Sergio ketiduran saat menunggu.


" kondisi nona sangat lemah, banyak sekali luka di tubuhnya yang menyebabakan dia kehilangan banyak darah. belum lagi keretakan tulangnya yang semakin parah, semakin membuat kondisinya kritis. Untuk saat ini semuanya sudah stabil, kami akan terus melakukan pemantauan" ucap Dokter dengan wajah lelah.


" baiklah dok, terimakasih" ucap Harry dan membiarkan dokter pergi, Dia bisa melihat wajah dokter yang sangat capek.


Harry membangunkan Sergio saat. Myria sudah akan di pindahkan ke ruang inap.


" sudah selesai? bagaimana kondisinya?" Sergio langsung memberondong Harry dengan pertanyaan.


" saya akan menjelaskan nanti, kita menuju ruang inap dulu" ucap Harry yang juga menahan kantuk.


Mereka mengikuti instruksi perawat dan masuk kedalam sebuah ruang inap VIP. Mereka bisa melihat sendiri seorang wanita terbaring lemah di sana.


kedua lelaki itu mendekati ranjang dan melihat keadaan Myria dengan seksama. Wajah wanita sangat pucat dan memiliki luka lebam. Membuat siapapun yang melihat nya sangat prihatin.


" ketua, apa anda berfikir jika tuan Dom lah yang sudah melakukan ini semua?" tanya Harry sambil tetap menatap ke arah Myria.


" aku masih sedikit meragukannya, pasalnya Myria sudah memilih keluar dari kelompok sesuai dengan keinginan Dom. Jika benar ini ulah Dom untuk apa lagi dia mencelakai Grace" Sergio masih mencoba mempercayai asistennya yang sudah belasan tahun menemaninya.


" anda harus menyelidiki siapapun yang terlibat dalam kejadian ini" ucap Harry bersungguh-sungguh.


" kau tenang saja" jawab Sergio, dia sedikit cemburu dengan perhatian Harry pada Myria.

__ADS_1


Harry menunggu di luar setelah menjelaskan keadaan Grace kepada Sergio. Lelaki itu segera memberikan kondisi terbaru mengenai Myria kepada tuan Ansel.


Sekaligus dia menghindar dari Sergio, lelaki sedikit merasa kesal pada ketua Batu Hitam itu. Dia sangat lamban dalam mengambil keputusan.


Pagi harinya Grace sudah tersadar, Sergio dengan cepat langsung memanggil dokter untuk memeriksanya.


" bagaimana dok?" tanya Sergio.


" nona sudah melewati masa kritisnya, setelah ini kami akan memberikan terapi khusus dan memantau kondisinya terus" ucap dokter membuat Harry dan Sergio sedikit merasa tenang.


" ada yang sakit?" tanya Sergio mendekati Grace. Harry mengantar dokter sampai di depan pintu.


" tidak" jawab Myria pelan. suaranya bahkan masih serak.


" siapa yang melakukan semua ini padamu?" lanjut Sergio, di sana juga ada Harry yang sudah kembali.


Grace terdiam, dia menatap Harry dan Sergio bergantian. Seakan sedang ragu dan takut untuk mengatakan kebenarannya.


" jangan takut, katakan saja semuanya" Sergio merayu agar Grace mau mengatakan nya.


" Dom, dia ingin membunuhku" jawab Myria pelan, namun membuat Sergio berkecamuk. Jawaban Grace sangat membuatnya seakan tidak percaya, jadi asistennya masih menganggap ucapannya sebagai angin lalu saja.


Myria menangis, dia terlihat sangat tertekan dan ketakutan.


" dia menakutkan" ucap Grace sambil tersedu- sedu.


" aku akan mengurusnya, kau tenang saja lelaki itu tidak akan berani mendekati mu setelah ini. aku janji akan memberinya pelajaran" ucap Sergio dengan sedikit memeluk tubuh Grace hati-hati. Sergio mempercayai semua ucapan Myria.


Saat hari mulai terang, Sergio segera menyuruh sopirnya untuk menjemputnya. Tak lupa dengan perintah kepada anak buah lainnya untuk menangkap Dom yang memasukkannya di penjara pribadi Batu Hitam.


keadaan Batu Hitam sudah sedikit kacau, beberapa orang masih melindungi Dom yang sebagain besar lainnya tetap patuh pada Sergio. Terjadi perpecahan internal pada kelompok tersebut.


" kau jaga Grace, kabari aku semua perkembangan kondisinya" Sergio beranjak pergi dari sana. Dia akan mengurus Dom sesuai dengan janjinya kepada Grace.


" baik ketua. anda benar- benar lelaki yang patut di contoh" ucap Harry membual dengan maksud agar Sergio benar- benar menindak tegas Dom agar rencananya dan ketuanya sukses.


Sergio merasa tersanjung dan mengangguk yakin. Dia begitu merasa di hormati oleh Harry.


Perjalanan menuju markas berasa lumayan lama, mereka berada di lokasi yang lumayan jauh. Hari sudah menjelang siang saat Sergio sampai di markas. para bawahannya yang setia langsung menyambut kedatangan ketuanya.


" ketua" ucap mereka bersamaan. Sergio mengangguk pelan sebagai jawaban.


Sergio segera pergi menuju ruangan khusus, dia mendapatkan informasi jika Dom sudah tertangkap dan dia menolak masuk ke tahanan pribadi. Kini lelaki itu sedang menunggunya di ruangan khusus.

__ADS_1


Di area pintu saja Sergio bisa melihat beberapa anggota yang memihak Dom berbaris melindungi ruangan tersebut.


" kalian sudah mengkhianatiku, Batu hitam tidak ada tempat untuk kalian" ucap Sergio sambil menatap mereka satu persatu.


" kami tidak bermaksud seperti itu ketua, kami hanya percaya jika tuan Dom tidak bersalah" salah satu dari mereka mencoba membela diri.


" lalu kalian tidak mempercayai ku? bagus sekali!" balas Sergio dan mereka tidak bisa menjawabnya.


" minggir!" lanjut Sergio dengan nada tinggi.


Mereka saling berpandangan bingung tidak bisa mengambil tindakan.


" biarkan ketua masuk" ucap Dom dari dalam. Seketika barisan itu terbelah dan memberikan jalan pada Sergio. Dan itu malah membuat Sergio sakit hati, mereka lebih mendengarkan ucapan Dom daripada dirinya yang sebagai ketua Batu Hitam.


Sergio berjalan masuk dengan tatapan garang, tidak lupa dengan 2 orang bawahan nya ikut mengawal.


" selamat datang tuan Sergio yang terhormat" ucap Dom yang terdengar seperti makian.


Sergio tidak menjawab dan langsung duduk berhadapan dengan Dom.


" kau menangkap ku mendadak seperti ini ada urusan apa?" lanjut Dom dengan nada santai. Lelaki itu sudah melupakan sopan santun nya di depan Sergio.


" kau sangat berani sekarang" Sergio memulai ungkapan nya.


" karena wanita itu lagi? kau sangat mudah di bodohi olehnya" Dom terus mengoceh tanpa menghiraukan tatapan marah dari Sergio.


" aku sudah memperingati mu agar tidak mendekatinya lagi, tapi kau malah berusaha membunuhnya lagi. Kau tidak menganggap serius ucapan ku?" Sergio masih menahan emosinya, dia masih menganggap Dom sebagai asistennya.


" mau bagaimana? sejak awal sampai sekarang kau memang payah" cela Dom langsung di depan Sergio.


" untuk apa lagi aku membunuh wanita itu, tidak ada untungnya" jawab Dom yang hanya sebuah alasan di mata Sergio. Dom tidak mau mengakui perbuatannya.


" kau terus saja mengelak, aku sudah tau semuanya. Kau ingin menyingkirkan Grace karena wanita itu mengetahui tindakan mencuri mu kan" tegas Sergio dan langsung membuat siapapun yang mendengarnya seakan tidak percaya. Selama ini Dom di kena sebagai orang yang paling tertib dan disiplin soal aturan. Dia sangat tegas menindak kesalahan sekecil apapun.


" mencuri? apa maksudmu?" Dom terpancing emosinya saat Sergio menuduhnya.


" kau kaget aku bisa mengetahuinya?" Sergio menarik sudut bibirnya. Dia puas melihat raut panik Dom.


" kau baca sendiri" lanjut Sergio sambil melemparkan berkas ke arah Dom.


" apa ini?" tanya Dom, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" ini bukan saja masalah Grace, tapi kau sudah mengkhianati kelompok dengan mengambil keuntungan untuk dirimu sendiri" ucap Sergio tegas.

__ADS_1


" tidak!, aku tidak pernah melakukan ini semua" ucap Dom dengan nada tinggi.


" kau selalu saja menyangkal, kau fikir aku akan percaya?" Sergio terlihat puas sekarang.


__ADS_2