
Beberapa hari kemudian Ansel sudah diperbolehkan pulang. Lelaki itu dengan di bantu Gael mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"uka-luka ini begitu menyakiti hatiku" ucap Ansel dia menyindir Gael, seseorang yang sudah membuat luka-luka di tubuhnya dan alasannya begitu menyakitkan.
" itu karena sikap semena-menamu" jawab Gael cuek sambil merapikan beberapa bantal.
"oh ya aku dengar PIN dapatkan serangan baru-baru ini?" tanya Ansel. Lelaki itu memang belum bertemu dengan Gael dalam beberapa hari. Dan baru bisa menemuinya saat keluar dari rumah sakit.
"ini juga warna kecerobohanmu" jawab Gael kesal.
"kecerobohan apa? kau tahu sendiri beberapa hari ini aku berada di rumah sakit Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tanganku" Ansel tidak terima jika dirinya disalahkan. Dia benar-benar tidak melakukan apapun selain kepada Myria.
" kau meninggalkan PC dalam keadaan menyala, kau bahkan masih masuk sistem" Gael menjelaskan alasan kenapa serangan-serangan itu mudah sekali masuk.
" aku tidak menyentuhnya PC belakangan ini. aku sibuk dengan rencana untuk wanita murahan itu" jawab Ansel yang membuat kerutan di dahi Gael. Dia seakan menyadari sesuatu.
" kau yakin dengan itu?" Gael kembali memastikan.
" aku yakin sekali" jawab Ansel tegas.
Gael seketika langsung mendekati PC, dia memeriksa historis mengaktifkan dan izin masuk sistem. Semuanya tidak ada yang salah.
" sepertinya PIN sudah disusupi" ucap Gael, Ansel yang mendengarnya langsung membola. Ini pertama kalinya dalam sejarah.
"lalu bagaimana kita menangkapnya?" tanya Ansel cepat.
" kita perlu melihat CCTV. Apa kau masih mengaktifkan CCTV privasi?" tanya Gael. Mereka memang memasang beberapa CCTV tak terdetek sistem. Hanya mereka berdua yang mengetahuinya.
" masih" dengan cepat Gael membuka program CCTV dan dalam waktu cepat mereka bisa tahu siapa mata-mata itu.
"tertangkap" ucap Gael senang.
" ini akan menjadi pelajaran yang bagus bagi yang lainnya" lanjut Gael sambil menyeringai.
Keesokan harinya Lelaki itu sudah menyiapkan sesuatu sebagai hadiah kepada penipu.Lelaki itu sengaja mengajak semua anak buahnya menuju lokasi latihan tembak. Semua anak buahnya sudah berbaris lengkap dengan atribut dan sebuah pistol berisi peluru lengkap.
"hari ini kita akan berburu" ucap Gael bersemangat. Anak buah lainnya tampak kebingungan karena mereka hanya ada di arena latihan bukan di alam bebas.
" PIN sudah disusupi" Gael mulai mematik rasa takut seseorang.
dorr.
__ADS_1
Gael melepaskan tembakan.
Beberapa diantaranya terlonjak kaget dengan berita maupun suara tembakan dari bos. mereka saling pandang seakan tidak percaya jika PIN yang selama ini mana, kini memiliki celah.
" baiklah kita lanjutkan berburunya. Siapapun yang meleset akan berhadapan dengan ku" ucap Gael tegas.
Semua yang mendengarnya mulai khawatir. Mereka mempersiapkan peralatan tembak dan Gael dengan santai duduk mengawasi hasilnya. Orang pertama maju dan lolos. Begitupun berikutnya sampai giliran si penipu itu. Gael menatapnya dengan tajam, dia mencoba mengintimidasi agar penipu itu ketakutan. Sesuai dengan prediksi, hasilnya meleset. Gael menarik sudah bibirnya. Akhirnya putaran itu berakhir, ada sekitar lima orang yang tembakannya Melesat.
" baiklah kalian segera berdiri di samping papan" Gael semakin membuat mereka cemas. Mereka berlima saling berpandangan. Karena jelas yang dimaksud adalah papan sasaran tembakan.
" Cepat!!" ucap Gael kencang. mereka berlima langsung berlari dan berdiri di masing-masing papan.
"piston ini akan membunuh siapapun yang menjadi penghianat" ucap Gael di awal lalu dia berdiri mengarahkan tangannya ke salah satu papan yang sudah ada seseorang di sana.
Semua melihat dengan tatapan serius. Tidak ada yang berani bersuara bahkan mereka begitu hati-hati mengeluarkan nafas. keadaan di sana benar-benar sunyi dan mencegah.
Dor.
tebakan pertama lolos. tembakan tidak mengenai sasaran. Gael tersenyum remeh, sedangkan seseorang di sana terduduk lemas. Dia takut sekali, jika terjadi sedikit saja kesalahan maka nyawanya akan melayang.
"orang kedua" ucap Gael dia kembali mempersiapkan pistolnya.
Dor,
" orang ketiga" kali ini Gael akan memastikan jika seseorang yang di sana benar-benar akan tamat.
Dia mengangkat tangannya dan bersiap menarik pelatuk.
Dor
dor
bukan dari pistol Gael, melainkan seseorang yang ada di papan. Tiba-tiba saja terjadi adu tembak. Dua orang menyerang Gael, beberapa langsung menyembunyikan tubuhnya. Mereka tidak ingin menjadi sasaran peluru. Gael bersandar di tembok dengan senyum mengembang. mereka semua bisa melihat mata-mata itu dengan mata kepala mereka sendiri. Tanpa menunggu lama Gael langsung menarik pelatuk.
Dua orang tersebut langsung terbaring tidak berdaya. Gael menembaknya tepat di bagian kening. mereka berdua salah memilih lawan. Gael sangat lihai menggunakan pistol. Hal-hal yang berbau beladiri, Bos Gael memang tidak ada tandingannya. Suasana kembali tenang.
Para anak buah segera mendekati kedua mayat tersebut, mereka seakan tidak percaya bahwa rekan mereka ternyata adalah seorang mata-mata. Giliran Gael berjalan mendekati keduanya mayat tersebut.
"segera periksa tubuh serta kamar mereka" perintah Gael pada semua anak buahnya.
"baik bos" ucap mereka serempak. Mereka pun segera membagi tugas untuk melaksanakan perintah tersebut.
__ADS_1
Gael kembali ke kamar Ansel, lelaki itu akan melaporkan hadiah yang sudah dia berikan kepada dua orang mata-mata itu. Waktu menunjukkan sore hari.
Seseorang datang melapor.
"Bos Kami menemukan sesuatu di tubuh keduanya" ucap anak buah. Gael sudah menduganya, lelaki itu beranjak dan pergi bersama bersamanya menuju ruangan investigasi, dari pintu biar bisa melihat kedua mayat itu terbaring di atas sebuah meja besi.
" apa saja yang sudah kalian temukan?" tanya Gael.
" Kami menemukan tandai di kedua tubuh mereka" anak buah itu menunjukkan lengan bagian dalam dari masing-masing mayat tersebut. Di sana terdapat sebuah tatto yang memiliki sebuah simbol aneh.
"Kalian sudah mencari tahu arti dari simbol ini?" tanya Gael lagi.
"kami sudah mencari tahu,namun tidak menemukan" mereka kebingungan.
" apakah mungkin ini lambang kelompok mereka?" Gael terdiam sambil berpikir. Mungkin bisa seperti itu juga. Gael menyentuh tatto tersebut.
"kau masih menyimpan foto yang kemarin itu?" tanya Gael kepada anak buahnya yang sempat menunjukkan sebuah foto hasil peretasan.
" ini bos" dia memberikan hpnya, Gael menatapnya dengan serius. Sepertinya pelaku penetasan dan mata-mata ini memiliki hubungan.
" ini hanya sebuah tanda pengenal saja" Ucap Gael yang akhirnya tahu makna dari tombol tersebut.
"lalu kalian menemukan apa lagi? kalian sudah periksa mungkin ada sesuatu yang menempel di tubuh mereka. Seperti CIP atau dan semacamnya?"
"kami belum menemukan apapun selain simbol dan biodata mereka" jawab mereka.
"Baiklah kita kalian bisa mengirimnya padaku dan teruskan pemeriksaannya" ucap Gael kemudian dia pergi dari ruang tersebut.
Dia menuju ke kamar dari kedua mata-mata itu, di sana terlihat sekali jika tempat itu sangat berantakan. Para anak buahnya melakukan tugasnya dengan cukup baik.
"apa yang sudah kalian temukan?" mereka membawa sebuah kotak plastik dan membukanya.
"kami menemukan banyak sekali alat penyadap, beserta peretas di kamar mereka. Ada juga beberapa kamera dan akses palsu" jelas mereka.
"kalian sudah memeriksanya?"
"Iya, semuanya berisi tentang hal yang ada di dalam PIN termasuk denah serta beberapa ruang keamanan. Kami juga sempat melihat PC mereka Dan beberapa kali mereka mengirimkan email kepada sebuah ID yang sama. Setelah kami telusuri ID tersebut tidak terdaftar." jelas mereka lagi.
"mereka sudah mengetahui jika anggota mereka sudah tertangkap. Mereka sudah tahu dari simbol yang ada di lengan mereka. Itu menjadi tato hitam dan itu akan terjadi jika suhu mereka turun" Gael menimpali mereka, agar mereka fokus ke yang lain.
"kalian kumpulkan informasi lagi" ucap Gael.
__ADS_1
Entah kenapa beberapa hari ini kelompoknya sering mendapat banyak sekali serangan. Setelah menghadiri pertemuan dengan Senator Sepertinya musuh mereka terus bertambah. kemungkinan ada sesuatu yang terlewat dari pengamatannya, dia harus memeriksa Kembali. Apa mungkin semua ini berhubungan dengan Senator.