
Selesai memberikan Pengumuman Ansel mengecek hp-nya dia mendapatkan pesan dari Gael
'kau masih mempertahankan tempat sampah itu? jangan berlama-lama di sana' Tulis Gael di pesannya.
Tempat sampah yang Gael maksud adalah tempat latihan yang saat ini Ansel kunjungi. Dia memang bukan pendiri tempat ini, namun sudah beberapa tahun dia berhasil membelinya. Tempat itu benar-benar tidak 'terawat' dan hanya dijadikan sebagai tempat senang-senang saja.
Meskipun beberapa anggota PIN memang berasal dari sana, namun kebanyakan dari mereka hanya dijadikan umpan oleh Ansel. lelaki ini tersenyum singkat membaca pesan dari Gael. laki-laki ini tidak tahu saja jika wanita yang selama ini dia cintai juga berada di siji.
'bukan lagi tambah sampah, tempat ini adalah surga bagiku untuk membuat monster-monster baru' balas Ansel dalam pesannya.
Lelaki berjalan naik dan masuk ke dalam ruangan yang sudah disediakan. Ini adalah tempat yang selalu dia kunjungi setiap setiap mampir kemari.
"kalian panggilkan dia," suruh Ansel kepada salah satu bawahannya setelah menyelesaikan ritual mandinya.
"baik tuan" jawab bawahan itu yang sudah mengetahui siapa yang di maksud.
Tak berselang lama pintu kamar tersebut terbuka, Sonia masuk kedalam kamar. Wanita itu memang sudah menjadi 'pelayan' Ansel selama beberapa bulan yang lalu.
Ini sejatinya bukan lah keinginannya. Sonia menerima pekerjaan ini meski sedikit terpaksa. Menerima perintah Ansel dan melayaninya dengan baik, bagaimanapun imbalan yang diberikan lelaki ini cukup untuk menghidupinya dan keluarganya.
"sudah lama sekali aku tidak datang kemari" ucap Ansel berbasa-basi. Lelaki ini selalu saja pandai membuat Sonia merasa jijik dengan dirinya.
"Apa kau merindukanku?" pertanyaan Ansel sambil menyuruh Sonia mendekat dengan lambaian tangan. Wanita itu menurut saja, Ansel menepuk pahanya, dan wanita itu duduk di pangkuannya. Ansel mulai melucuti pakaian Sonia.
"Saya benar-benar merindukan tuan" jawab Sonia hanya untuk menyenangkan Ansel.
Wanita itu tidak pernah bersedia menyerahkan dirinya begitu saja, dia hanya terpaksa. Di sini dia adalah imigran gelap, tidak banyak pekerjaan yang mau menerimanya dan satu-satunya pekerjaan dengan hasil yang besar tanpa memerlukan banyak waktu yang ini. Jadi Sonia terpaksa menerimanya.
" kita bisa memulainya" ucap Ansel dan setelahnya sesuai dengan pekerjaannya Sonia melayani lelaki itu untuk menuntaskan nafsunya.
__ADS_1
Di sisi lain Myria berada di kamarnya, dia sedang membersihkan dirinya. Di dalam kamar mandi Myria diam mematung di bawah Pancuran air sambil melihat kedua tangannya. Kini tangan itu tidak seperti dulu, tangan yang hanya digunakan untuk hal-hal yang baik. Sekarang tangannya sudah terkotori dengan darah. Dia sudah membunuh seseorang dengan kedua tangannya. Wanita itu menangis di bawah guyuran air meskipun menyesal semuanya tidak akan bisa terulang. Dia hanya bisa terus maju dan menyelesaikan balas dendamnya. lama Myria di dalam kamar mandi, akhirnya wanita itu keluar.
Mendapati kamarnya yang kosong wanita itu segera pergi mencari Sonia. Dia butuh seseorang untuk menenangkan pemikirannya, dia tidak mau kembali menjadi Myria yang lemah. Hanya Sonia dan kata-kata semangat dari wanita itu yang bisa menyadarkan nya. Dia menyusuri seluruh tempat, Namun Myria tidak kunjung menemukan Sonia bahkan di dapur dan area belakang juga tidak terlihat wanita itu.
Akhirnya wanita itu naik ke lantai 2, dia ingin menanyakan kepada Beni. Namun saat dia menyusuri sebuah lorong, dia melihat bawahan ansel yang sedang berjaga di depan sebuah kamar. Saat itu dia tidak memiliki pemikiran yang aneh, dia hanya lewat dia tidak sengaja melihat bayangan dari pintu yang tidak tertutup rapat. Seseorang yang terlihat di dalam sana ada Sonia. Myria melihatnya dengan jelas, namun saat dia ingin mendekat pintu segera ditutup oleh bawahan.
" pergi dari sini" ucap bawahan itu tegas kepada Myria, dengan setengah meragukan penglihatannya akhirnya Myria memilih pergi menuju ke kamarnya.
Myria terus terjaga, meski sedikit mengantuk wanita itu tetap menunggu kedatangan Sonia. Dia harus memastikan apa yang ada di dalam pikirannya adalah salah.
Sekitar pukul 02.00 pagi Myria yang tertidur di samping ranjangnya, terbangun karena suara pintu yang terbuka. Di sana Sonia yang sudah saja masuk, wanita itu baru datang di saat hari menjelang pagi.
"Kau dari mana" tanya Myria langsung kepada Sonia. Wanita itu diam tak menjawab malah meninggalkan Myria masuk ke dalam kamar mandi.
Myria masih menunggu dengan setia, wanita itu akan meminta penjelasan dari Sonia.
" kau bersama dengan Ansel?" tanya Myria dengan tatapan menyelidiki.
" aku tanya padamu, Apakah kau baru saja melayani Ansel?" Myria menarik bahu Sonia membuat wanita itu berbalik badan menghadap padanya.
"kalau iya, kenapa?" jawab Sonia dengan nada marah.
" aku memang simpanan tuan Ansel" jawab Sonia gamblang. Myria terdiam mengetahui fakta ini.
" Kenapa? Kau baru tahu?" tanya Sonia dengan sorot mata terluka.
" aku memang bertugas melayani lelaki itu jika dia datang, kau jijik padaku?" lanjut Sonia menggebu-nggebu. Myria terdiam tidak bisa apa-apa.
"sudah aku bilang padamu, kita ini bukan orang kaya ataupun penguasa yang dimanjakan uang. Kita hanya orang biasa yang tidak memiliki banyak pilihan hidup. Kau pikir orang-orang di sini adalah orang-orang baik? mereka sama, hanya sekumpulan pecundang akibat kehidupan yang sulit. kau ingin menjauhiku setelah apa yang kau tahu?" tanya Sonia dengan hati yang terluka.
__ADS_1
Myria tidak menyangka jika wanita yang memberikan semangat hidup padanya, bahkan juga sedang menyemangati dirinya sendiri. Myria segera memeluk Sonia, dia memberikan kekuatan.
Sedangkan Sonia menangis dalam dekapan Myria. dia sendiri juga malu dengan dirinya sendiri tapi dia tidak memiliki pilihan. Ansel selalu saja mengancamnya dengan status imigran gelap yang dia miliki. Mau tidak mau wanita itu harus menurut untuk melayani dan memuaskan Ansel setiap datang. Untung saja Tuhan masih berbaik hati pada Sonia. Dia hanya melayani Ansel saja, dia tidak membayangkan jika harus menjadi wanita murahan untuk tempat ini.
" Aku tidak menyangka kau jika hidupmu juga sesulit ini. Maafkan aku dengan pertanyaan ku tadi, aku tidak bermaksud menyakitimu" ucap Myria di tengah-tengah pelukannya.
"aku tidak punya pilihan lain. Ini adalah Satu-satunya cara untuk menghidupi keluargaku. Setidaknya sampai mereka bisa hidup dengan layak. Aku sudah tidak peduli lagi bagaimana kehidupanku ke depan, yang kupikirkan hanyalah orang-orang itu bahagia" ucap Sonia sambil sesenggukan.
Kedua wanita itu saling menguatkan. Kehidupan mereka terasa pahit tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan. Semua yang mereka lakukan hanya demi keluarga. Itulah kekuatan yang mereka miliki.
Selesai dengan aktivitas panasnya, akhirnya Ansel meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak ingin berlama-lama di sana apalagi menimbulkan kecurigaan pada Gael. lelaki akan menyembunyikan Myria di sana sampai wanita itu benar-benar siap.
"Kenapa kau masih menahan wanita itu?" tanya Gael begitu mendapati Ansel yang sudah duduk manis di ruang makan.
"wanita siapa?" tanya Ansel yang sedikit menyelidiki. takutnya wanita yang dimaksud adalah Myria.
"wanita itu, Sonia. Kenapa kau masih menahannya di sana?" lanjut Gael yang membuat Ansel sedikit lega.
" dia cukup memuaskan bagiku" jawab Ansel sesukanya.
"kau harus membawanya kemari jika kau kau menginginkannya" sambil mengambil salah satu makanan di sana.
" tidak perlu dibahas" jawab Ansel ketus.
" kenapa? kau tak ingin dia bernasib sama dengan Myria?" Ansel langsung terbatuk begitu mendengar nama Myria. Dia seakan salah tingkah dan ketakutan sendiri jika mendengar Gael mengucapkan nama itu.
" tidak, uhuk uhuk" jawab Ansel cepat.
"aku tahu kau sedang berbohong, kau pikir aku tidak tahu jika wanita perawan satu-satunya yang pernah kau tiduri adalah dia" Ansel membola, dia baru tau jika rahasianya diketahui oleh Gael.
__ADS_1
" berhenti membahas dia" ucap Ansel tidak mau memperpanjang pembahasan.