
Kini tinggal Myria sendirian, dia dengan susah payah membawa Ansel bersembunyi. Namun tubuhnya yang lemah tidak bisa membawanya dengan mudah. Cepat atau lambat dia pasti ketahuan.
" Ansel maafkan aku, jika aku selamat aku akan datang menyelamatkan mu, jika tidak. Kita sama-sama pergi dalam damai" ucap Myria sebelum akhirnya meninggalkan Ansel setelah mengamankan lelaki itu di sebuah tempat tersembunyi.
Myria keluar ruangan, dia terus masuk kedalam lorong. Jauh di sana dia melihat ada daerah yang terang, Myria fikir mungkin itu jalan keluar.
Di sisi lain Dokter itu berjalan menyusuri lorong yang dia lewati tadi. Dia membawa informasi penting, dengan ini mungkin nyawanya bisa selamat.
tap tap
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya dokter tadi mendengar suara langkah kaki.
" kau, dimana wanita itu!" teriak Lucas saat melihat dokter sewaan keluar dari lorong redup.
" aam ampun tuan, kasihanilah saya. Saya tau dimana wanita pergi" ucap dokter itu ambil menangkupkan kedua tangannya di dada sambil meminta ampunan. saat ini Lucas membawa pistol milik penjaga yang di lumpuhkan Myria, jelas saja dokter itu semakin ketakutan.
" dimana? bawa aku kesana" ucap Lucas lalu menyeret dokter itu agar berjalan di depannya.
" baik tuan, mohon lepaskan saya setelah ini" ucap dokter tadi, dia hanya ingin selamat dari tragedi ini semua.
" cepat, tunjukkan jalannya!" kesal Lucas. Dia menendang tubuh dokter tadi agar bisa berjalan lebih cepat. Dia juga menodongkan pistol tersebut agar dokter itu tidak banyak tingkah.
" iya tuan" dokter itu bangkit dan segera berjalan memberikan arah.
" ssttt" Myria memegangi bahunya yang terasa sakit. Darah mulai menetes tanpa sepengatahuan Myria membuat jejak darah sepanjang yang dia lewati.
wanita itu sudah tidak bisa berbuat banyak, satu satunya harapannya adalah daerah terang di depan sana.
" disini tuan, tadi wanita itu berada disini" ucap Dokter itu kebingungan, pasalnya dia baru meninggalkan Myria tapi wanita itu sudah tidak ada. menghilang begitu saja.
" dimana??" teriak Lucas yang tidak melihat apapun di sana.
" tadi saya meninggalkan wanita itu disini" ucap dokter itu gemetar ketakutan.
" dasar tidak berguna!"
dor akkk
dor. Lucas menembaki dokter itu sebanyak 2 kali. Dia sudah terbawa emosi dan dokter itu tidak memberikan apa yang dia inginkan.
suara tembakan itu menjadi keberuntungan bagi Gael, dia yang mencari keberadaan Lucas, kini dengan mudah bisa menemukannya.
Setelah menembak dokter itu, Lucas menyusuri lorong, dan karena lantai lab yang berwarna terang membuat Lucas dengan mudah menemukan jejak tetesan darah.
" tertangkap kau" guman Lucas senang. Dia tinggal berjalan pelan mengikuti tetesan darah itu.
Gael berjalan menuju lorong yang redup. saat itu anggota GM sudah melumpuhkan penjaga luar, Angel masuk dan melihat siluet Gael yang menuju lorong.
Myria berjalan sempoyongan, kepalanya rasanya sangat berat. Tenaganya yang lemah kini terkuras habis.
__ADS_1
door Lucas melepas tembakan peringatan. Dari posisinya dia bisa melihat Myria yang berjalan tertatih di depannya.
Myria menoleh akibat suara itu.
" gawat" guman Myria dan dia mencoba berlari namun apalah daya.
" mau pergi kemana kau" teriak Lucas dan berlari menangkap Myria.
" tidak" Myria berjalan cepat dia berusaha melarikan diri. tapi
" akk" Lucas menarik tangannya yang terluka.
" mau kemana kau? " ucap Lucas senang.
" lepaskan aku!" teriak Myria. Dia. melakukan perlawan dengan tenaga seadanya.
Gael yang sedari tadi mengikuti dapat dengan jelas mendengar semuanya. Dia berjalan tanpa menimbulkan suara.
" sialan!" teriak Lucas saat Myria mengigit tangannya dan berhasil lolos. sedikit lagi dia akan mencapai sebuah ruangan yang sangat terang itu.
" brengsek" Lucas menendang tubuh Myria, wanita itu tersungkur.
" kau tidak akan bisa keluar" Lucas menjambak rambut wanita itu.
" di sini tak ada jalan keluar, kau lihat di depanmu adalah ruangan terlarang. Sekali kau melangkah tubuhmu akan terkena laser pembunuh" ucap Lucas, dia sangat tau apa yang ada di labolatorium ini.
melihat hal itu Lucas berbalik badan sambil menarik rambut Myria lebih kencang. Wanita itu terpaksa berdiri di depan Lucas. Lelaki itu membuatnya menjadi tameng agar Gael tidak menembak.
" kau ingin dia selamat?" tanya Lucas yang sudah kehilangan akal. menodongkan pistol ke pelipis Myria.
" jangan macam-macam" Gael menodongkan pistolnya ke arah Lucas.
" Gael" rintih Myria, dia tidak percaya jika Gael berdiri di depannya.
" berikan alat itu! atau aku tembak wanita ini" teriak Lucas. Dia menginginkan PIN. sejak awal hanya itu yang dia inginkan.
Gael tidak bisa melakukan apapun, dia mengeluarkan Hp nya.
Dibelakangnya Angel dan anggotanya menyusul ke arah Gael, termasuk tuan besar.
" dimana Lucas dan Gael?" tanya tuan besar.
" sepertinya menuju kemari" jawab Angel yakin.
" kita kejar" ucap tuan besar.
Gael meletakkan hp nya di atas lantai dan menendangnya ke arah Lucas.
" itukan yang kau inginkan? sekarang lepaskan Myria" ucap Gael masih khawatir.
__ADS_1
" hahahaha, kenapa tidak sejak awal kau berikan ini padaku, kenapa menunggu wanita cantik ini menerima segala luka luka ini" jelas Lucas dia tidak mengambil hp Gael sebagaimana yang Gael fikirkan.
tap tap tap suara langkah kaki membuat Lucas ketakutan.
" Lucas! lepaskan dia!" Angel dan semua anggotanya menodongkan pistol kearahnya.
" kau! jadi kau sudah berkolusi dengannya? lihat saja tuan besar akan melakukan apa padamu" balas Lucas yang masih belum mengerti situasinya.
" apa Lucas?" tanya Tuan besar saat mendengar dirinya dia panggil.
" tu tuan, anda disini?" tanya Lucas kebingungan.
" lepaskan gadis itu" saut tuan besar.
Lucas melihat keadaan, dia sudah terkepung. Mau dia melepaskan Myria atau tidak, dia tidak akan selamat.
" tuan saya membawakan hadiah, ini PIN. ruangan serba aman milik Gael. Semua ini saya lakukan untuk bisa menjadi orang kepercayaan anda " jelas Lucas dengan wajah senang.
" aku tidak menyuruhmu membunuh wanita Lucas!" desis Tuan besar.
" tuan, sejak saya mengikuti anda. tak pernah sekalipun anda melihat saya. Selalu saja orang lain. Apa kurangnya saya?" Lucas melupakan isi hatinya.
" sejak awal tuan! sejak awal. tak pernah sekalipun. lalu datang Angel. dan dengan mudahnya dia menjadi tangan kananmu. apa artinya kesetiaanku ini?!" lanjut Lucas dengan penuh emosi.
" lepaskan gadis itu!" balas tuan besar, dia sama sekali tidak peduli dengan ocehan Lucas.
" hahaaha. kau ingat ruangan ini tuan. Kau membuat ruang rahasia didalam ruangan itu. Kau juga menaruh DNA dan sampel darah milik mu dan Gery. Tak ada siapapun yang berani menerobos. Karena apa? Kau memasang laser pembunuh di depan pintu. Selain kau dan Gery pintu itu tidak akan terbuka. Apa kau ingat tuan?" Luca semakin menggila. tak ada yang mengerti kenapa Lucas bercerita tentang itu.
" apa maksud ucapanmu itu. segera lepaskan dia Lucas atau.."
" atau apa? mau aku lepaskan atau tidak, aku akan tetap mati. Jadi lebih baik wanita ini juga merasakan kematian, bukan begitu Gael. hahahhaha" Lucas tertawa lepas.
Dan sedetik kemudian dia melemparkan Myria di depan pintu ruangan. Semua menatap dalam diam. Wanita itu pasti akan mati, anggapan semua orang.
Melihat hal itu Gael langsung reflek menggapai tubuh Myria. Hal yang sama juga tuan besar lakukan. sayangnya posisinya jauh di belakang Gael.
' identification' suara sistem keamanan ruangan.
Gael dan tuan besar berhenti sekejap.
' no identification' suara lagi. Mesin laser keluar bersamaan dengan Gael yang sudah memeluk Myria erat.
Di belakangnya, tuan besar berniat menyusul dan menyelamatkan kedua orang itu namun suara sistem selanjutnya membuat tuan besar terdiam mematung.
' identification succes' Laser itu masuk kembali.
Rasanya Sam tidak percaya, begitupun dengan Gael yang tersadar jika laser itu telah hilang. Dia menatap sekeliling.
Sam menatap Gael, kecurigaanya selama ini ternyata benar. Gael adalah Gery yang hilang.
__ADS_1