Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
53. Baru


__ADS_3

Saat ini baik Myria dan Ansel sudah menjauh dari lokasi kejadian. Myria kembali ke apartemen yang lama untuk menyembunyikan diri sejenak. Sedangkan Ansel kembali ke PIN. Dia tidak mau terlalu lama meninggalkan PIN.


Diluar sana sedang heboh dengan berita ditemukannya mayat lelaki dengan surat penyesalan beserta pembukuan tentang sebuah transaksi barang terlarang dan yang tak kalah heboh ditemukan mobil yang jatuh di atas jurang dengan identitas penumpang Grace dan Harry.


" Biarkan aku melihatnya!" ucap Sergio dalam keputusasaan. bagaimana bisa wanitanya dalam kondisi mengenaskan. Mobil itu terbakar sehingga tubuh mereka nyaris tidak bisa di kenali. Selain alat pengenal mobil dan baju yang dia kenakan.


" bagaimana bisa? Grace " Sergio menangis saat korban di evakuasi. Lelaki itu mendapati pesan singkat dari Dom yang berisi ancaman pembunuhan Grace, Dia mengira jika itu hanya gurauan saja. Nyatanya wanitanya terkonfirmasi meninggal akibat jatuh di jurang.


Kedua mayat itu segera dia bawa dan Sergio membuatkan pemakaman yang layak untuk keduanya.


Sesuai keinginannya, pagi yang cerah untuk memulai pemakaman. Sergio dengan setelan jas hitam dan karangan bunga berdiri di sebuah makam baru.


Grace, nama yang tertera di batu nisa. Sergio tidak menyantumkan nama Anastasya karena dia tidak ingin wanitanya di nilai sebagai mayat kriminal.


" aku telah gagal menjagamu, maafkan aku Grace. Semua ini karena aku, aku sudah membuatmu seperti ini. hiks hiks" Lelaki itu menangis, meratapi kepergian wanita yang dia cintai.


di belakangnya sudah banyak anak buahnya yang juga menemani Sergio. Ditengah kesedihan mereka mendengar sebuah sirine polisi datang dan membuyarkan ratapan Sergio.


Dia berfikir jika polisi pasti sudah mengetahui identitas Grace yang asli dan ingin mengatakannya pada Sergio. Namun sepertinya dia salah.


" tuan Sergio, bisa anda ikut dengan kami" ucap salah satu polisi. Sergio menatap anak buahnya sejenak. Lelaki itu merasakan adanya hal buruk.


" ada urusan apa?" tanya Sergio sambil menjauh dari area makam.


" kami menemukan mayat dengan identitas Dominic, sepertinya dia terlibat dalam kasus kriminal. Disana terdapat nama anda, jadi anda bisa ikut dengan kami dan memberikan keterangan" jelas polisi itu. Sergio tidak menyangka jika dalam kematiannya Dom masih menyeretnya kedalam neraka bersamanya.


" ah begitu, baiklah. Aku akan menghubungi pengacaraku terlebih dahulu" ucap Sergio mengulur waktu.


" anda bisa menghubunginya saat di kantor. Mari tuan" para polisi terlihat lengkap dengan persenjataan. Menurut Sergio ini bukan lagi undangan pemeriksaan, namun lebih pada penangkapan.


" beri saya waktu sebentar" ucap Sergio. Dia tidak mau datang ke kantor polisi, semuanya jelas. Polisi ini hanya menggunakan alibi meminta keterangan.


"baiklah, saya akan ke kantor" Sergio berjalan menuju mobilnya. Para polisi membuntuti lelaki itu tepat di belakang mobilnya. Awalnya semua berjalan normal namun berselang lama Sergio menyuruh anak buahnya untuk melakukan pelarian diri.


Mobil Sergio melaju kencang, kepolisian langsung sigap dan mengejar. sayangnya anak buahnya membantu dengan menghalangi jalan. Suasana lalu lintas menjadi kacau.


" cepat Pergi!" ucap Sergio kepada supirnya. Lelaki itu akan melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Dia akan bersembunyi di tempat yang jauh.


Aksi kekar-kejaran tidak terhindarkan. Jalanan menjadi pusat pertunjukan. Sergio memimpin jauh di depan. Anak buahnya beberapa sudah di bekuk. Tinggal beberapa orang saja.


" sial!" ucap Sergio saat melihat kemacetan yang ada di depannya. Dia harus bisa melarikan diri.


" ketua anda sebaiknya pergi" ucap sang sopir. Dia menyuruh ketuanya pergi sedang dirinya yang akan mengalihkan polisi.


" baiklah" ucap Sergio cepat. Lelaki itu keluar dari mobil. Dia berlari menuju jalanan kecil. Beberapa lama setelah kepergiannya mobil miliknya berhasil di lumpuhkan.

__ADS_1


Sergio melihatnya sambil terus berlari. Dia menuju sebuah rumah makan, dan akan bersembunyi disana.


" keluar!" ucap polisi saat berhasil menghentikan mobil. Mereka baru sadar jika yang di dalam hanya ada sopir saja.


" dimana Sergio?" tanya polisi cepat sambil memborgol tangan sopir. Polisi akhirnya menghubungi kantor dan meminta bantuan untuk mencari Sergio.


" ampun pak" ucap sang sopir yang diacungi senjata, Dia tidak mau menjawab pertanyaan itu.


" cepat katakan atau kamu akan langsung kami eksekusi!" ancam polisi. Sopir itu tidak bisa berbuat apa-apa.


" ketua tadi pergi, ss saya tidak tau kemana" jawab sopir itu berbohong.


Kini polisi menyebar di arena terdekat. Sergio masih bersembunyi. Akses jalanan sudah buntu, dia harus mencari alternatif lain.


Polisi terus berjalan memeriksa setiap sudut, mereka di untungkan dengan jalanan yang macet, jadi pelarian Sergio tidak akan jauh.


" cari di setiap tempat" perintah polisi. Mereka masuk ke toko- toko bahkan rumah warga.


Mereka baru mendapatkan kabar jika Sergio adalah ketua dari transaksi yang tertera di buku. Kini status Sergio bukan lagi saksi, namun naik menjadi tersangka kasus narkotika.


" pak, kami menemukan CCTV dan melihat nya masuk ke rumah makan" ucap salah satu anggota polisi.


" selamatkan pengunjung dan segera kepung " Merek akhirnya menemukan titik temu


" baik pak" jawab polisi itu cepat.


" orang itu masuk dan langsung pergi ke lantai 2" ucap sang pemilik restoran.


Polisi semakin mendapat bantuan, Semuanya bersiap pada posisinya.


" masuk!" ucap ketua polisi dan mereka masuk ke restoran. Memeriksa di setiap sudut bangunan.


Sergio terjepit. Saat ini dia bersembunyi di kamar mandi lantai atas. Dia berusaha naik ke atas genteng lewat saluran udara.


Polisi selesai mengamankan lantai 1 kini naik ke lantai 2. Keadaan semakin tegang. Lantai 2 berisikan ruangan VIP. ada juga sebuah aula pertemuan. Banyak sekali tempat yang bisa di jadikan persembunyian.


Sergio sedang berusaha membuka ventilasi. tinggal sedikit lagi dia bisa masuk ke dalam.


" cari di sana" suara polisi sudah terdengar sayup-sayup di telinga Sergio. Jarak mereka semakin dekat.


Akhirnya Sergio selesai membuka, Lelaki itu masuk bersamaan dengan polisi yang membuka pintu kamar mandi.


" tangkap dia" ucap polisi saat mengetahui Sergio menaiki ventilasi.


dor. polisi mengeluarkan tembakan peringatan.

__ADS_1


dor. satu tembakan telepas dan mengenai kaki Sergio.


" akk" teriak Sergio dan lelaki itu terjatuh. Polisi segera menangkap lelaki tersebut.


" sakit" ucap Sergio saat dirinya di papah keluar. Darah mengalir dari kakinya. Lelaki itu segera di bawa ke rumah sakit kepolisian untuk melakukan operasi pengangkatan peluru.


Semua kejadian itu menjadi tontonan, membuatnya menjadi topik utama pemberitaan. Siaran televisi berlomba-lomba meliput berita secara lengkap.


" malang sekali" ucap Myria di dalam apartemen. Dia tidak menyangka jika lelaki itu mendapatkan tembakan pada kakinya.


" Batu Hitam hancur" ucap Ansel kepada Gael. Dia berpura-pura tidak mengetahui nya.


" iya aku tau. Seseorang pasti menjebak mereka" jawab Gael yang membuat Ansel langsung membisu. Lagi, penilaian Gael tidak pernah meleset.


" membuatku tertarik mencari tau dalangnya" lanjut Gael.


" jangan!" cegah Ansel tanpa berfikir. Dan jelas saja hal ini membuat Gael merasa aneh.


" kenapa?" tanya Gael menatap wajah Ansel, dia bisa menangkap raut panik temannya.


" jangan dulu, aku tidak mau kau terlibat. polisi sedang berfokus pada kasus ini. Takutnya mereka akan mencurigai kita juga" Ansel mencari alasan yang logis.


" em, kau ada benarnya juga" jawab Gael santai. Ansel sedikit rileks. Untung saja, jika sampai Gael memeriksanya keberadaan Myria pasti akan terbongkar.


" kau sudah melakukan apa yang aku sarankan kemarin?" lanjut Gael.


Mereka berada di ruang bersantai di kamar Gael. Lelaki itu memeriksa beberapa berkas kelompok.


" masih proses, kau tau sendiri senator terlalu angkuh menerimanya" jawab Gael. Dia duduk sambil meletakkan kakinya di atas meja.


" jika besok masih juga tidak di proses kita keluar saja dari pengawasan mereka" Gael sudah habis kesabaran. Dia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Beberapa kelompok mafia juga mendukung pergerakan Gael.


" kau tenang saja, malam ini juga mereka akan menerimanya" Ansel terus meredam kemarahan Gael.


Malam hari Ansel dan Myria bertemu, wanita itu ingin mengetahui kelompok GM yang Dom pernah katakan sebelumnya.


" jadi bagaimana?" ucap Myria. Sudah tidak sabar.


" tenang, kau sama Gael sama-sama tidak bisa meredam emosi" Ansel masih sibuk dengan minumannya.


" kau katakan atau aku akan pecahkan semua botol ini" ancam Myria. Dia sudah menunggu hal ini dalam waktu yang lama. Dan tiba-tiba saja semua yang dilakukannya masih belum bisa mendapatkan siapa pembunuh ayahnya.


" berani kau mengancam ku! jangan kira karena kau sudah hebat sekarang berlagak sombong" Ansel sedikit tidak terima, di dunia ini hanya seorang Gael yang berani mengancamnya.


" memangnya kenapa? jika menyangkut kematian ayahku siapapun tidak akan aku lepaskan" tantang Myria dengan wajah dingin. Ansel merasakannya, aura dingin sama seperti milik Gael. Dia sudah melihatnya sendiri bagaimana wanita di depannya ini berubah menjadi berdarah dingin. Lebih baik dia tidak usah membuat masalah. Akhirnya Ansel meredam amarahnya.

__ADS_1


" GM adalah kelompok mafia luar, mereka sudah berdiri sangat lama. Banyak yang mengatakan jika separuh kelompok mafia dikumpulkan untuk melawan mereka tetap tidak bisa mengalahkannya. Kau bisa bayangkan seberapa besar kekuasaan dan pengaruh mereka" Ansel menjawab sambil meminum wine nya.


Myria menarik nafas dalam, dia seakan merasa tertantang dan putus asa dalam waktu bersamaan, bagaimana caranya dia melakukan balas dendam jika separuh mafia saja tidak bisa mengalahkan mereka.


__ADS_2