Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
4. Berkas Rahasia


__ADS_3

Bulu mata lentik itu mulai bergerak, tubuhnya mencari kenyamanan dengan mengganti


posisi menjadi memeluk guling. Myria merasakan ranjangnya begitu empuk dan


lembut. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kenyamanan tidur seperti ini.


Namun begitu menyadari sesuatu tubuhnya memaksanya terbangun, matanya membuka


dengan cepat.


“dimana ini?” guman Myria yang menyaksikan semua hal di kamarnya sudah berubah. Dia


berpindah di sebuah kamar dengan interior mewah.


Wanita itu meranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Dia keluar dengan langkah


pelan dan berhati-hati.


“selamat pagi nona” ucap pelayan dari arah belakangnya. Membuat Myria terlonjak kaget.


“ini dimana?” tanya Myria begitu membalikkan badan, kalimat itu jelas saja membuat


pelayan itu kebingungan menjawabnya.


“ ini mansion tuan Gael” ucap pelayan itu sedikit ragu-ragu.


Manik Myria langsung membola, bagaimana bisa dia sampai disini. Dia tidak mungkin seketika


berpindah tempat bukan. Semalam dia memang meminum obat demam, setidaknya bisa


membuat tidurnya lebih nyenyak, tapi apa mungkin lelaki itu memindahkannya


tanpa sebab. Atau jangan-jangan Ansel yang menyuruhnya.


Myria segera membalik badan dan masuk ke dalam kamar. Dia mengalami semacam serangan


panic. Myria takut jika lelaki itu akan meneruskan aksi pembalasan dendamnya.


“ aku harus melakukan sesuatu” ucap Myria setelah menutup pintu kamar.


Di kamar lain Gael sudah siap dengan setelan jasnya. Seperti biasa agenda setiap


harinya adalah pergi ke 2 perusahaan secara bergiliran. Namun sebelum itu Gael


akan melakukan sesuatu. Dia berjalan menuju kamar Myria.


“selamat pagi tuan” ucap pelayan di persimpangan jalan.


“dia sudah bangun?” tanya Gael. Pelayan jelas tau siapa yang dimaksud. Tidak ada


oang lain lagi di Mansion ini.


“sudah tuan” jawab pelayan halus. Semua pelayan disini benar-benar disiplin


dengan peraturan.


Gael meneruskan langkahnya. tanpa perlu mengetok pintu lelaki itu langsung membuka


pintu, ditangannya sudah ada sebuah berkas yang akan dia berikan kepada Myria.


“kau sedang apa?” tanya Gael begitu melihat Myria sedang menarik semua gorden


jendela dan mengikatkanya.


Sedangkan Myria yang ketahuan aksi melarikan dirinya malah diam mendadak tidak tau harus


melakukan apa.


“tuan, saya mohon lepaskan saja saya. Saya tidak sanggup lagi” Myria hanya bisa

__ADS_1


mengiba, mengambil rasa simpati Gael dengan ekpresi sedihnya. Tak lupa dia juga


bersujud untuk membuat Gael yakin akan kesedihannya.


“kau mau melarikan diri?” tanya Gael, lelaki itu baru sadar jika dia menangkap


basah Myria.


“sa,saya tidak mau diperlakukan seperti binatang tuan, saya mohon bunuh saya


saja” Myria masih meneruskan aksi sandiwaranya dalam merebut simpati Gael. Dia


tidak benar-benar ingin mati, masih banyak hal yang ingin dia capai.


“baiklah, mau pakai apa?” tanya Gael ringan. Dia sudah bisa menebak jika saat


ini Myria hanya bersandiwara. Lelaki itu sudah terbiasa menemui orang-orang bermuka


dua seperti ini.


Tangis Myria langsung terhenti dengan respon Gael yang malah menantangnya. Selama ini


dia berfikir jika Gael masih memiliki hati karena sudah menolongnya. namun


semua prasangka itu kini terasa lenyap.


“tuan ampuni kesalahan saya, saya masih ingin hidup tuan” kini kalimat itu


terasa sedikit nyata, dan memang Myria benar-benar sudah frustrasi.


“saya bersedia melakukan apa saja agar bisa terhindar dari tuan Ansel. Saya


mohon selamatkan saya” Myria mengatakan isi hatinya, Gael sudah pernah


menolongnya sekali mungkin saja lelaki itu bersedia menolongnya lagi.


“jika begitu, tanda tangani ini” Gael memperlihatkan sebuah berkas. Myria  mendongak dan dengan ragu dia mulai berdiri.


“segera tanda tangani atau aku akan membawamu kepada Ansel” Gael membuat konsentrasi


Myria membuyar. Wanita itu segera menerima pena ditangan Gael dan tanpa perlu


membaca lebih lanjut langsung menandatangani berkas itu.


“baiklah” Gael langsung menarik berkas itu.


“kau bisa tinggal disini sementara waktu” Gael menutup pintu tanpa menunggu


sautan dari Myria. Didalam Myria merasa sedikit aneh, apa mungkin dia melakukan


kesalahan dengan menandatangani berkas itu.


“urus berkas ini diam-diam” ucap Gael kepada pengawalnya sebelum masuk kedalam


mobil.


Sedangkan pengawal itu membuka berkas dengan tatapan tak percaya. Namun karena harus diam-


diam dia tidak bisa bertanya ataupun meminta saran dari orang lain. Langsung saja


begitu tuannya pergi lelaki itu dengan segera membereskan permintaan tuannya.


Beberapahari berlalu, saat ini Gael sedang berada di PIN. Mereka memiliki pesanan baru.


Kali ini yang diminta hanya barang lama. Mereka tidak perlu menguji ulang


karena memang sudah siap jual.


“sepertinya minggu depan kita perlu terbang, kelompok luar menawarkan kerja sama”

__ADS_1


ucap Ansel begitu mereka duduk mengamati anak buah yang sedang menyiapkan barang.


“seberapa menjanjikan” Gael tipe orang yang terbiasa waspada.


“jaminan keamanan dagang” jawab Ansel.


“selama ini kita tak memiliki kendala disana” Gael merasa jika ide yang Ansel


berikan tidak cukup berguna.


“secara yuridis” Ansel mengutarakan kelebihan dari pertemuan itu.


“siapa saja anggotanya?” Gael menoleh menatp Ansel


“hanya 5 terbesar” ini merujuk pada tingkat keberhasilan kelompok. Dari sini


Gael bisa menyimpulkan bahwa yang mengudang mereka jelas memliki koneksi kuat


dengan organisasi intenasional. Setidaknya mereka tidak perlu memperhitungkan


kerugian jika suatu saat aksi mereka ketahuan.


“cukup menarik” Gael mulai tergugah.


“kita akan lihat siapa saja yang menjadi lawan kita” Ansel malah berfikir hal


lain. Dia nyatanya memiliki ambisi besar untuk membesarakan kelompoknya.


Seminggu berlalu, mereka sudah siap dengan kopernya sedang berjalan menuju pesawat


pribadi. Gael yang beberapa hari tidak kembali ke Mansioan akhirnya mengajak


Myria untuk ikut dengannya. Entah kenapa wanita itu memiliki daya tarik yang


membuat Gael ingin sekali berada di dekatnya.


“baiklah kita langsung berangkat saja,,,” ucap Ansel saat Gael sudah masuk ke


dalam pesawat. Dia mengarahkan pramugari untuk menutup pintu.


“tunggu” Gael menghentikan aksi pramugari, dia juga membuat Ansel


bertanya-tanya.


“kenapa?” Ansel bersuara, semua orang sudah masuk kenapa pintu tidak boleh di


tutup. Bersamaan dengan itu sebuah  mobil


berhenti tak jauh dari sana. Tak lama sang penumpang turun, seketika Ansel tak


percaya. Sosok yang dia lihat adalah Myria, wanita yang setengah mati dia


benci.


“kau membawanya?” tanya Ansel kesal. Rasanya ingin sekali menguliti wajah wanita


itu begtiu melihatnya.


“aku butuh hiburan” jawab Gael cuek. Lelaki itu tidak menanggapi rasa keberatan


Ansel dengan kehadiran Myria dalam perjalanan mereka.


Sedangkan wanita yang menjadi bahan perbicangan mereka kini sudah menaiki tangga. Dengan langkah


ragu dia memasuki pesawat. Reaksinya tidak jauh beda dengan Ansel. Myria


langsung terkaget dan takut dalam waktu bersamaan.


“jangan ganggu dia” ucap Gael memecahkan ketegangan antara Ansel dan Myria. Dia memberikan

__ADS_1


kode kepada Myria untuk segera mendekat dan duduk.


“kita berangkat” lanjutnya.


__ADS_2