
Bulu mata lentik itu mulai bergerak, tubuhnya mencari kenyamanan dengan mengganti
posisi menjadi memeluk guling. Myria merasakan ranjangnya begitu empuk dan
lembut. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kenyamanan tidur seperti ini.
Namun begitu menyadari sesuatu tubuhnya memaksanya terbangun, matanya membuka
dengan cepat.
“dimana ini?” guman Myria yang menyaksikan semua hal di kamarnya sudah berubah. Dia
berpindah di sebuah kamar dengan interior mewah.
Wanita itu meranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Dia keluar dengan langkah
pelan dan berhati-hati.
“selamat pagi nona” ucap pelayan dari arah belakangnya. Membuat Myria terlonjak kaget.
“ini dimana?” tanya Myria begitu membalikkan badan, kalimat itu jelas saja membuat
pelayan itu kebingungan menjawabnya.
“ ini mansion tuan Gael” ucap pelayan itu sedikit ragu-ragu.
Manik Myria langsung membola, bagaimana bisa dia sampai disini. Dia tidak mungkin seketika
berpindah tempat bukan. Semalam dia memang meminum obat demam, setidaknya bisa
membuat tidurnya lebih nyenyak, tapi apa mungkin lelaki itu memindahkannya
tanpa sebab. Atau jangan-jangan Ansel yang menyuruhnya.
Myria segera membalik badan dan masuk ke dalam kamar. Dia mengalami semacam serangan
panic. Myria takut jika lelaki itu akan meneruskan aksi pembalasan dendamnya.
“ aku harus melakukan sesuatu” ucap Myria setelah menutup pintu kamar.
Di kamar lain Gael sudah siap dengan setelan jasnya. Seperti biasa agenda setiap
harinya adalah pergi ke 2 perusahaan secara bergiliran. Namun sebelum itu Gael
akan melakukan sesuatu. Dia berjalan menuju kamar Myria.
“selamat pagi tuan” ucap pelayan di persimpangan jalan.
“dia sudah bangun?” tanya Gael. Pelayan jelas tau siapa yang dimaksud. Tidak ada
oang lain lagi di Mansion ini.
“sudah tuan” jawab pelayan halus. Semua pelayan disini benar-benar disiplin
dengan peraturan.
Gael meneruskan langkahnya. tanpa perlu mengetok pintu lelaki itu langsung membuka
pintu, ditangannya sudah ada sebuah berkas yang akan dia berikan kepada Myria.
“kau sedang apa?” tanya Gael begitu melihat Myria sedang menarik semua gorden
jendela dan mengikatkanya.
Sedangkan Myria yang ketahuan aksi melarikan dirinya malah diam mendadak tidak tau harus
melakukan apa.
“tuan, saya mohon lepaskan saja saya. Saya tidak sanggup lagi” Myria hanya bisa
__ADS_1
mengiba, mengambil rasa simpati Gael dengan ekpresi sedihnya. Tak lupa dia juga
bersujud untuk membuat Gael yakin akan kesedihannya.
“kau mau melarikan diri?” tanya Gael, lelaki itu baru sadar jika dia menangkap
basah Myria.
“sa,saya tidak mau diperlakukan seperti binatang tuan, saya mohon bunuh saya
saja” Myria masih meneruskan aksi sandiwaranya dalam merebut simpati Gael. Dia
tidak benar-benar ingin mati, masih banyak hal yang ingin dia capai.
“baiklah, mau pakai apa?” tanya Gael ringan. Dia sudah bisa menebak jika saat
ini Myria hanya bersandiwara. Lelaki itu sudah terbiasa menemui orang-orang bermuka
dua seperti ini.
Tangis Myria langsung terhenti dengan respon Gael yang malah menantangnya. Selama ini
dia berfikir jika Gael masih memiliki hati karena sudah menolongnya. namun
semua prasangka itu kini terasa lenyap.
“tuan ampuni kesalahan saya, saya masih ingin hidup tuan” kini kalimat itu
terasa sedikit nyata, dan memang Myria benar-benar sudah frustrasi.
“saya bersedia melakukan apa saja agar bisa terhindar dari tuan Ansel. Saya
mohon selamatkan saya” Myria mengatakan isi hatinya, Gael sudah pernah
menolongnya sekali mungkin saja lelaki itu bersedia menolongnya lagi.
“jika begitu, tanda tangani ini” Gael memperlihatkan sebuah berkas. Myria mendongak dan dengan ragu dia mulai berdiri.
“segera tanda tangani atau aku akan membawamu kepada Ansel” Gael membuat konsentrasi
Myria membuyar. Wanita itu segera menerima pena ditangan Gael dan tanpa perlu
membaca lebih lanjut langsung menandatangani berkas itu.
“baiklah” Gael langsung menarik berkas itu.
“kau bisa tinggal disini sementara waktu” Gael menutup pintu tanpa menunggu
sautan dari Myria. Didalam Myria merasa sedikit aneh, apa mungkin dia melakukan
kesalahan dengan menandatangani berkas itu.
“urus berkas ini diam-diam” ucap Gael kepada pengawalnya sebelum masuk kedalam
mobil.
Sedangkan pengawal itu membuka berkas dengan tatapan tak percaya. Namun karena harus diam-
diam dia tidak bisa bertanya ataupun meminta saran dari orang lain. Langsung saja
begitu tuannya pergi lelaki itu dengan segera membereskan permintaan tuannya.
Beberapahari berlalu, saat ini Gael sedang berada di PIN. Mereka memiliki pesanan baru.
Kali ini yang diminta hanya barang lama. Mereka tidak perlu menguji ulang
karena memang sudah siap jual.
“sepertinya minggu depan kita perlu terbang, kelompok luar menawarkan kerja sama”
__ADS_1
ucap Ansel begitu mereka duduk mengamati anak buah yang sedang menyiapkan barang.
“seberapa menjanjikan” Gael tipe orang yang terbiasa waspada.
“jaminan keamanan dagang” jawab Ansel.
“selama ini kita tak memiliki kendala disana” Gael merasa jika ide yang Ansel
berikan tidak cukup berguna.
“secara yuridis” Ansel mengutarakan kelebihan dari pertemuan itu.
“siapa saja anggotanya?” Gael menoleh menatp Ansel
“hanya 5 terbesar” ini merujuk pada tingkat keberhasilan kelompok. Dari sini
Gael bisa menyimpulkan bahwa yang mengudang mereka jelas memliki koneksi kuat
dengan organisasi intenasional. Setidaknya mereka tidak perlu memperhitungkan
kerugian jika suatu saat aksi mereka ketahuan.
“cukup menarik” Gael mulai tergugah.
“kita akan lihat siapa saja yang menjadi lawan kita” Ansel malah berfikir hal
lain. Dia nyatanya memiliki ambisi besar untuk membesarakan kelompoknya.
Seminggu berlalu, mereka sudah siap dengan kopernya sedang berjalan menuju pesawat
pribadi. Gael yang beberapa hari tidak kembali ke Mansioan akhirnya mengajak
Myria untuk ikut dengannya. Entah kenapa wanita itu memiliki daya tarik yang
membuat Gael ingin sekali berada di dekatnya.
“baiklah kita langsung berangkat saja,,,” ucap Ansel saat Gael sudah masuk ke
dalam pesawat. Dia mengarahkan pramugari untuk menutup pintu.
“tunggu” Gael menghentikan aksi pramugari, dia juga membuat Ansel
bertanya-tanya.
“kenapa?” Ansel bersuara, semua orang sudah masuk kenapa pintu tidak boleh di
tutup. Bersamaan dengan itu sebuah mobil
berhenti tak jauh dari sana. Tak lama sang penumpang turun, seketika Ansel tak
percaya. Sosok yang dia lihat adalah Myria, wanita yang setengah mati dia
benci.
“kau membawanya?” tanya Ansel kesal. Rasanya ingin sekali menguliti wajah wanita
itu begtiu melihatnya.
“aku butuh hiburan” jawab Gael cuek. Lelaki itu tidak menanggapi rasa keberatan
Ansel dengan kehadiran Myria dalam perjalanan mereka.
Sedangkan wanita yang menjadi bahan perbicangan mereka kini sudah menaiki tangga. Dengan langkah
ragu dia memasuki pesawat. Reaksinya tidak jauh beda dengan Ansel. Myria
langsung terkaget dan takut dalam waktu bersamaan.
“jangan ganggu dia” ucap Gael memecahkan ketegangan antara Ansel dan Myria. Dia memberikan
__ADS_1
kode kepada Myria untuk segera mendekat dan duduk.
“kita berangkat” lanjutnya.