
Myria semakin mundur, dan membuatnya dengan mudah didorong oleh lelaki yang ada di belakangnya Dia tidak bisa mengelak sedangkan pelatih tersebut menarik tangannya. Myria menolak dan memberontak terus. wanita itu menatap ke sekeliling namun orang-orang lainnya hanya terdiam Acuh bahkan tidak peduli dengan apa yang Myria alami.
Myria tidak bisa menolak dan berakhir terseret oleh mereka, ternyata kedua lelaki itu membawanya ke sebuah tempat kosong seperti jalan buntu. Maria dilemparkannya dan menabrak dinding.
" kau anak baru di sini. jangan pernah menolak perintah yang lain, mengerti!" ucap pelatih itu tegas.
" dan satu lagi, jangan banyak bertanya" lanjut pelatih itu dengan memberikan kode kepada lelaki satunya untuk menjaga jalan.
" sekarang Buka bajumu" ucap pelatih enteng. Pelatih semakin merendahkan dan melecehkannya. Myria semakin takut langsung berubah ke posisi siaga.
" apa yang ingin kau lakukan?" tanya Myria sambil berjalan menjauh.
" sudah aku bilang jangan banyak bertanya!" ucap pelatih itu dengan marah.
" cepat buka!" sentak pelatih.
" aku tidak mau!" Myria mencoba tegas, meski tubuhnya ketakutan. dia seakan mengingat saat Ansel penyiksanya dulu.
Pelatih tersebut semakin mendekati Myria. wanita itu berusaha menjauh meski hanya berjalan menyusuri dinding, sampai akhirnya dia di pojok bangunan.
" baiklah aku akan membukanya sendiri" lelaki itu berjalan cepat ke arah Myria.
Sedangkan Myria menatap sekeliling mencari sesuatu yang bisa menjadi senjata. Entah apapun itu. Namun sayang tindakannya kalah cepat, lelaki tersebut sudah dihimpit dan memaksanya membuka Jaketnya.
" tidak! tolong, tolong aku, tolong! tidak" Myria berteriak.
" kau tidak usah sok suci, aku tahu tujuanmu datang kemari hanya untuk ini kan. Bersenang-senang dengan tubuh lelaki" ucap Pelatih itu mengejek penolakan Myria.
" sudah banyak wanita yang kemari hanya untuk bersenang-senang. kau tidak usah menutupi lagi. aku dengan senang hati akan mengabulkan keinginanmu. Kita akan bersenang-senang" ucap pelatih itu yang semakin melecehkan Myria.
Myria terus saja meminta pertolongan namun seperti tidak ada orang yang mendengarnya, tidak ada orang yang mau menolongnya. tubuhnya tertahan tidak bisa menghentikan aksi pelatih tersebut, Myria hanya bisa mengeluarkan tangisannya.
dor..dor
Suara tembakan membuat pelatih tersentak menjauhi Myria. wanita itu sudah tak karuan lagi. jaketnya sudah tergeletak di bawah. untung saja dia masih mengenakan kaos singlet. meskipun salah satu lengannya sobek.
__ADS_1
" berani sekali kau?" ucap seseorang dari lantai 2 Gedung. Myria tidak terlalu memperhatikan dia memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil jaketnya dan memakainya lagi.
pelatih itu mendongak ke atas, disana ternyata ada Beni sambil membawa pistol.
" jangan mengganggunya, dia berasal dari Zero" ucap Beni, kini Myria baru tau jika itu adalah lelaki dengan tampang lusuh yang semalam meninggalkan.
" kau bercanda?" tanya pelatih dengan nada marah.
"Aku sudah mengatakannya, sekali lagi kau mendekatinya aku lepas tangan" jawab Beni lalu meninggalkan dua orang lelaki brengsek itu.
"kau dari kamar Zero?" tanya pelatih kepada Myria memastikan.
Myria sudah tidak sudi menjawab pertanyaan lelaki itu. Wanita itu sudah muak bertemu dengan semua orang yang ada di sana. Dia langsung pergi meninggalkan Pelatih itu. hari ini dia tidak akan memperoleh latihannya.
Myria berjalan menujunya dan langsung mengunci pintu. Dia tidak mau bertemu dengan siapapun. kejadian hari ini sangat membuat dirinya tertekan. Wanita itu seakan baru menyadari bagaimana kerasnya hidup. Sekarang tidak ada seorangpun yang berada di sampingnya. Tidak seperti dulu, dimana dia selalu bergantung kepada ayahnya. Kini Ayahnya sudah tiada, meskipun dia ingin balas dendam, namun semangat hidupnya nyatanya masih terlalu kecil. Wanita ini bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja.
tok tok tok
Suara pintu diketuk. Myria menoleh sesaat ke arah pintu, dia tidak memiliki keinginan untuk membukanya.
" Noah kau di dalam?" Myria bisa mengenali suara itu adalah milik Soni. Namun dia tetap tidak ingin membukanya,dia ingin sendiri.
"cepat buka pintunya atau akan ku dobrak" ancam Sonia, Myria tidak ingin memberikan perdebatan di pertemuan awal mereka, wanita itu akhirnya turun dan membuka pintu.
"kau kenapa?" tanya Sonia menyelidiki. wanita itu bisa melihat jika Noah sedang menangis. Sonia segera menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Kenapa kamu menangis" tanya Sonia sekali lagi dengan serius.
"kau kemari hanya untuk menangis?" tanya Sonia seakan mengejek Myria. namun Myria tetap diam tidak mau membuka mulutnya. Dia malah pergi ke ranjang nya.
" Yang benar saja? Lebih baik kau pergi saja dari sini besok" ucap Sonia sambil berlalu masuk ke kamar mandi. Myria masih bingung harus berkata apa tingkahnya benar-benar memalukan. Namun dia tidak bisa menahannya lagi.
" apa para lelaki itu mengganggumu?" tanya Sonia begitu dia keluar dari kamar mandi. Wanita itu begitu gemas dengan tingkah Myria yang kekanak-kanakan.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ingin berada di sini?" tanya Sonia berdiri di depan Myria dengan bersedekap. Myria mendongak sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
" bukan ingin main-main kan di sini?" tanya Sonia lagi. Wanita itu terus memberondong dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan karena sama tadi Myria hanya terdiam dan sesekali sesenggukan.
"jawab pertanyaanku, apa yang membuatmu kemari? kau pikir disini kau akan bersenang-senang. Kalau iya kau silakan pergi" ucap Sonia dengan nada tinggi, wanita itu bukannya ingin memarahi tapi dia ingin menyadarkan Myria Bagaimana keras nya hidup.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayah" ucap Myria berterus terang.
"Aku hanya mengikuti perintah Ansel" lanjut Myria dengan diiringi tangis. Dia seakan terkena mental saat pelecehan yang baru dia alami.
"jika memang kau ingin membalas dendam, sebaiknya harus bertekad dengan sungguh-sungguh. jika tidak kau bisa melupakan niatmu itu" ucap Sonia menggebu-gebu.
"Baru diganggu oleh sekawanan brengsek saja membuatmu menangis seperti ini. Lalu bagaimana caramu ingin membalas dendam. Dengan menangis? Kau hanya membuang-buang waktu" kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Sonia seakan menguji kesungguhan tekad Myria.
" Aku tidak harus bagaimana, rasanya aku ingin mati saja" ucap Myria putus asa.
" mati saja sana. kau dengarnya kita bukan orang kaya atau penguasa yang dimanja dengan harta. Kalau kau memang ingin balas dendam karena kematian ayahmu maka lakukan hal itu dengan benar. Ingatlah perbuatan kejam yang mereka lakukan terhadap hidupmu, ingat semua hal-hal menyakitkan yang membuatmu sampai di sini. itu sebagai kekuatanmu bertahan" Sonia berteriak terus membangkitkan semangat Myria.
"kau tidak boleh menyerah seperti ini hanya karena mereka merendahkanmu. kau harus bangkit kau harus buktikan kepada ayahmu kalau kau bisa melakukan hal ini. buktikan pada ayahmu kematiannya sudah kau balaskan. Berikan dia ketenangan di sana" ucap Sonia panjang lebar. Wanita itu sejak awal berpikir jika Noah bukan wanita sembarangan. Dia memiliki tekad namun tak tahu harus memulai bagaimana harus memulainya.
Beberapa hari setelahnya Myria hanya menghabiskan harinya di dalam kamar. Wanita itu belum bisa memulai latihannya, entah sampai kapan.
brak brak brak
Ditengah lamunannya suara gedoran keras mengagetkannya. Myria segera bangun dan membuka pintu. di sana sudah ada Beni.
" kau keluarlah dan ikut aku" ucap lelaki itu singkat. Myria masih ingat jika lelaki ini telah menolongnya waktu itu. jadi dia berani mengikutinya sampai di sebuah ruangan. Dibuka nya pintu dan di dalam terlihat gelap gulita. Wanita itu didorong masuk oleh Beni, seketika lampu di dalam langsung menyala. Myria melihat di tengah ruangan terdapat dua lelaki yang sudah melecehkannya kemarin. Mereka berdua terikat di atas kursi. Myria melangkah maju ingin memastikan kebenarannya.
" Bagaimana kau suka?" ucap seseorang yang ada di belakangnya. Myria langsung menoleh. Ternyata suara itu adalah milik Ansel yang berjalan ke arahnya.
" kudengar mereka melakukan sesuatu padamu" tanya Ansel sambil berjalan melewati Myria.
"kau mengatakan padaku jika kau ingin membalas dendam atas kematian ayahmu, namun selama berhari-hari ini kau hanya diam di kamar karena perlakuan mereka? lucu sekali" lelaki itu duduk di atas meja. Ansel tersenyum meremehkan.
" baiklah, untuk menguji niatmu Aku ingin kamu lakukan sesuatu. Jika kau berhasil, aku akan meneruskan hal ini. Namun jika tidak lebih baik aku membunuhmu sekarang juga, kau sudah tidak berguna" ucap Ansel sambil mengeluarkan sebuah pisau. Myria terdiam dia menerka-nerka apa yang akan Ansel perintahkan padanya.
" balas apa yang sudah mereka lakukan padamu" ucap Ansel cepat sambil memberikan pisau itu. Myria tidak menerimanya, wanita itu malah menatap kedua lelaki tersebut. keduanya terus mencoba meminta maaf, mereka sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Myria dilema tidak tau harus melakukan apa.
__ADS_1
" atau kau ingin menggantikan mereka duduk disana?" ucap Ansel sambil memberikan kode pada Beni. Beni menarik pun menyeret tubuh Myria mendekati kedua lelaki itu, seketika Myria langsung memberontak.
"Aku akan melakukan!" saut Myria dengan cepat. wanita itu mengambil pisau yang ada di tangan Ansel dengan tangan bergetar.