Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
27. Monster


__ADS_3

Suasana PIN terlihat sedikit lenggang, Tuan mereka sedang pergi ke sebuah tempat. Gael baru saja menyelesaikan tugas kantornya, lelaki itu menyempatkan mengunjungi PIN. Dia selalu mampir untuk mengecek keamanan dan beberapa pesanan transaksi.


" kemana tuan kalian?" tanya Gael kepada bawahannya. Akhir-akhir ini rasanya Ansel sering pergi tanpa berpamitan padanya. Semakin lama PIN semakin terbiasa dengan ketidakhadiran Ansel, banyak tanggungjawab mulai tidak terganggu jika lelaki itu tak ada. kini semua urusan PIN berpangku pada Gael.


"Tuan Ansel sedang mengunjungi nona Sonia" jawab anak buah itu.


" wanita itu bertahan lama cukup sejauh Ini" guman Gael sendiri.


" kapan dia kembali?" tanya Gael lagi.


" kami tidak tau bos" jawab bawahannya sambil menggaruk kepala. lelaki itu merasa malu tidak bisa menjawabnya.


Lelaki itu kemudian pergi ke ruang formasi, dia akan mengecek jadwal transaksi dan beberapa hal lainnya.


Hari Mulai malam Griya masih setia memandangi kedua lelaki yang saat ini sedang sekarang sekarat akibat ulahnya. Ansel membuat wanita itu memotong jari-jari mereka serta memberikan goresan di seluruh tubuhnya. Entah kenapa, lelaki itu bisa memprovokasi niat jahat dalam dirinya. Wanita itu kini duduk di lantai sambil bersender, matanya terus memperhatikan korbannya.

__ADS_1


Kedua lelaki itu tiada hentinya berteriak dan merintih kesakitan. Dimana saat ini Ansel sedang memberikan sentuhan akhir dari permainan nya. Lelaki itu dengan baik hati memberikan contoh cara membunuh di bagian vital agar musuh langsung mati.


"jika ingin membunuhnya dalam waktu cepat aku bisa memberikan mu contoh" ucap Ansel sambil mengambil pisau baru yang lebih panjang dan tajam.


Myria terdiam, hatinya rasanya tidak sanggup namun Myria harus menyaksikannya dengan teliti l. dia harus bisa melewati ini semua, demi memberikan ketenangan untuk kematian ayahnya. dia harus kuat dan bertahan.


" Kau lihat ini baik-baik, jika kau ingin seranganmu langsung melumpuhkan musuh. pertama ambil dibagian ulu hati, jika kau memukulnya atau masuknya. Ya kemungkinan kematian akan terjadi. Kedua bagian ini sedikit kebawa terus. Sesuatu yang diincar oleh kedua lelaki ini darimu. Dan yang ketiga adalah bagian mata, ini jelas sangat penting. Jika lawan mu kehilangan matanya, maka satu serangan saja mudah melumpuhkannya. aku akan memberikan sebuah contoh, karena kita hanya ada dua relawan. kita hanya bisa memilih dua lokasi saja" jelas Ansel panjang lebar. Lelaki itu bersiap diatas tubuh salah satu lelaki.


" aku akan menyerangnya di bagian ulu hati, perhatikan" ucap Ansel sambil menggerakkan pisau miliknya ke bagian ulu hati lelaki tersebut.


korban itu berusaha memberontak, namun mulutnya sudah ter lakban begitu Myria memulai aksinya tadi. Membuat hal itu menjadi sia-sia. Di sisa -sisa kesadarannya lelaki itu hanya bisa meminta pengampunan lewat matanya. Namun sepertinya mereka sudah sial karena harus merasakan hal ini.


Satu tusukan langsung mengenai ulu hati lelaki tersebut, sang pelatih yang melihatnya ketakutan dengan melotot. Dia melihat bagaimana temannya ini merenggang nyawa di tangan tuan Ansel.


" setidaknya perlu sekitar 5 detik untuk menuju kematian" ucap Ansel sambil berjalan menjauhi korbannya.

__ADS_1


" Kini tinggal satu relawan. kemari lah Myria" ajak Ansel yang melihat tatapan syok milik Myria. Lelaki itu belum berniat menyelesaikan pelajarannya.


" tinggal satu orang, kau lumpuhkan di bagian bawah sana" ucap Ansel berbisik memberikan sebuah pisau baru yang sangat tajam.


Pelatih yang melihatnya terus langsung melotot ketakutan. Lelaki itu merancu namun sama sekali tidak bisa terdengar apa yang dia ucapkan. Lelaki itu terus menggelengkan kepala sambil menangis. sedang Myria semakin mendekat dan tubuh pelatih semakin menggigil ketakutan. Dia tidak pernah menyangka jika kematiannya akan seperti ini.


Myria berhenti tepat di depan lelaki itu, dengan tangan yang gemetar namun kali ini dia sedikit lebih berani. Dia mulai mengingat-ingat bagaimana seseorang di depannya ini telah melecehkannya, merendahkannya, memperlakukannya sesuka hatinya.


"kau pasti bisa Myria, bunuh lelaki itu. Dia Lelaki yang sudah melecehkan mu, dia memang pantas mendapatkannya" ucap Ansel semakin memprovokasi Myria. Lelaki itu telah berhasil menciptakan satu monster di dalam tubuh Myria. Dia puas melihat kemajuan dari wanita itu. Myria menatap tajam tepat ke arah kedua mata pelatih tersebut.


" aku datang kemari bukan untuk bersenang-senang, tapi karena kau semua ini jadi menyenangkan" ucap Myria dengan ekspresi dingin. Sebelum akhirnya dia mengayunkan tangannya mengenai sasaran. Mata Pelatih itu melotot dalam kematiannya. Myria benar-benar mempraktekkan 'pelajaran' yang diberikan oleh Ansel dengan baik.


Prok prok prok


Di depan sana Ansel bertepuk tangan atas keberhasilan Myria. Lelaki itu tersenyum lebar, kali ini dia sangat kepada Myria. padahal kedua tangan mereka sudah berlumuran dengan darah. Myria masih diam tanpa ekspresi, dia tidak merasa bersalah. Wanita itu kini benar-benar berubah menjadi dingin dan kejam, sesuai dengan keinginan Ansel.

__ADS_1


Setelah semua aksi penyiksaan dan pembunuhan yang mereka lakukan, Myria membersihkan tangannya, sedangkan kedua mayat tersebut dikeluarkan dan menjadi tontonan di aula tempat itu. orang-orang yang melihatnya di lapangan wanita itu kini tidak lagi memandang nya dengan sebelah mata. Apalagi setelah tau jika Myria adalah orangnya tuan Ansel, kini tidak ada siapapun yang berani mengganggunya. Myria bebas melakukan latihan kapanpun.


" Noah, wanita ini sudah menjadi bagian dari kalian. Kalian bisa mengajarinya dan melatihnya sesuka kalian. Nanti setelah jadwal pelatihan selesai akan ada pemilihan. Siapa dari kalian yang bisa bertahan paling akhir, dialah pemenangnya dan berhak masuk kedalam PIN" ucap Ansel mengumumkan dengan jelas bahwa wanita yang disampingnya ini harus mendapatkan pelatihan yang baik dan di akhir dari jadwal pelatihan itu mereka semua akan dia dan hanya akan tersisa satu orang yang menjadi pemenangnya.


__ADS_2