Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
92. Bertemu


__ADS_3

Bip hp Gael bergetar. Pemberitahuan ada email masuk. Gael segera membukanya. Sesuai dugaan Lucas membalas pesannya. Dengan cepat lelaki melacak sinyal, namun baru sedetik langsung gagal.


" Berengsek! sial!" teriak Gael tidak terima jika Lucas dengan mudahnya terhindar dari pelacakan.


" Gael" Angel menemui lelaki itu setelah mendapatkan kabar dari asisten tuan besar.


" kita menemukan tempat yang mungkin dijadikan tempat persembunyian Lucas" ucap Angel dengan nafas memburu akibat berlari.


" kau yakin? dia tidak bisa dilacak" tanya Gael memastikan.


" tuan besar yang memberitahuku, kemungkinannya besar. Tidak ada salahnya kita kesana" jawab Angel.


" baik lah" saut Gael. Dia juga tidak memiliki opsi lain.


" kalian jaga Sonia, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam" ucap Angel saat melewati pintu keluar.


" baik nona besar" jawab mereka.


Gael dan Angel berasa dalam satu mobil yang sama. Gael melajukan dengan kecepatan sedang.


Di sisi lain, Dokter sewaan Lucas nyatanya bisa menangani dengan baik. Setelah pemberian cairan darah serta infus, Myria mulai tersadar. wanita itu sengaja menutup matanya, karena mendengar suara Lucas di sampingnya.


" kenapa belum juga sadar?" tanya Lucas dengan nada tinggi.


" maafkan saya, saya sudah melakukan yang terbaik" ucap dokter itu mengiba.


" jangan berbohong!" sentak lucas. Dia harus membuat kedua orang itu sadar besok, atau jika tidak dia tidak bisa mendapatkan PIN.


" sa saya tidak berani, saya benar-benar sudah berusaha. seharusnya besok mereka juga sadar" jelas Dokter itu ketakutan.


" jika sampai mereka tak kunjung sadar kau juga ku buat menjadi tak sadar, mengerti!" sentak Lucas.


" aam pun tuan" dokter itu menyesal kenapa bersedih datang kemari. Lucas tidak mau mendengar alasan apapun, lelaki itu langsung pergi meninggalkan dokter yang terus meminta ampunan.


Myria mulai memberanikan diri untuk membuat matanya. Dia menatap sekeliling, hanya ruangan kosong dengan dinding besi. Myria mengalihkan pandangnya, dia melihat Ansel terbaring tak jauh dari sana.


" kau,.. tu"


" sssttt" Myria meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.


" jika kau memanggilnya kau akan mati" ucap Myria. Dokter tadi meski ketakutan dia menuruti permintaan Myria.


" aku bisa mengeluarkan mu dari sini, asal kau mau membantuku" lanjut Myria. seseorang yang ketakutan akan melakukan apapun agar selamat. Itu yang Myria pegang.


" ka.kau tidak berbohong?" tanya dokter itu.


" eehhmmm. iya" Myria merasakan sakit di bahunya kala mencoba bangkit.


" bagaimana kondisi lelaki itu?" tanya Myria yang sudah bersandar di tembok.


" dia mendapatkan luka di kepala dan sekitar lengan. lukanya cukup dalam, aku tidak yakin dengan kondisinya" jawab dokter itu.


" apakah parah keadaanya saat ini?"


" aku sudah memberinya cairan darah dan infus, seharusnya tidak apa-apa, kecuali jika terjadi pendarahan di dalam" ungkap dokter itu. Disini tidak ada peralatan, sangat sulit memberikan diagnosa.


" lalu bagaimana dengan lukaku?" tanya Myria.


" bahumu sudah aku jahit, luka kepala juga tidak terlalu dalam, selebihnya hanya lebam saja" jawab dokter itu mengingat semuanya.


" Lucas, lelaki tua itu apa yang dia mau?" Myria terus bertanya, dia harus mengetahui situasi agar bisa menilai kapan dia bisa melarikan diri.


" dia ingin kalian sadar saat besok, sepertinya dia mempersiapkan untuk sesuatu" ungkap Dokter itu. Dia cukup bersahabat dengan menuruti keinginan Myria.


" baiklah, pukul berapa sekarang?"

__ADS_1


" pukul 7 lewat 15 malam" Myria secepat harus bisa pergi dari sini.


" kita pergi dari sini saat tengah malam. oh ya apa kau melihat CCTV di sekitaran sini?" Myria tidak mau aksinya dengan mudah di ketahui.


" sepertinya tidak ada, ini hanya bangunan tua dari luar" ungkap dokter itu.


" baiklah, jika kau ingin selamat kau bisa ikut aku pergi" ajak Myria. dia juga membutuhkan tenaga untuk membopong Ansel.


" aku ikut " jawab dokter itu yakin. Myria kembali terbaring, setelah meminta dokter itu memberinya obat pereda nyeri. Dia harus mengumpulkan energi.


Gael dan Angel sampai di markas GM. Mereka berkumpul bersama-sama dengan anggota lain untuk merencanakan penyergapan.


Gael masuk di ruangan yang sudah ada beberapa orang, dia tidak tau jika yang dia masuki adalah markas besar GM. Dia hanya tau jika ini bangunan perkantoran.


" kemari lah" ucap tuan besar saat Gael sampai di ambang pintu.


Di meja sudah terlampir denah bangunan yang menjadi tujuan mereka.


" kau lihat baik-baik dan ungkapkan bagaimana rencanamu" ucap tuan besar. Angel diam menatap Gael, lelaki itu melihat denah dengan seksama.


Sama Seperti anggota lainnya yang melihat Gael dengan seksama juga. Baru kali ini mereka melihat taun besar berkata penuh kelembutan kepada seseorang. Mereka sama sekali tidak pernah melihat Gael bahkan mengenal saja tidak. Tapi perlakuan tuan besar mereka sangatlah tidak biasa.


" kalian bisa membagi menjadi 3 tim, satu menuju pintu belakang. Satu mengintai dari samping dan sisanya menunggu di jalan utama. Aku akan mengecoh dengan masuk dari depan. Lucas dan aku mempunyai kepentingan sendiri. Begitu dia sibuk denganku kalian masuk dan selamatkan sandera" jelas Gael seperti saat dia memimpin 2M.


Semua mendengarkan dengan seksama, tidak yang berani membantah. Mereka sudah melihat sendiri bagaimana tuan besar memperlakukan lelaki ini. Mereka menganggap jika Gael adalah orang Kepercayaan tuan besar.


" bagus, kita lakukan sesuai rencanamu" imbuh tuan besar.


Setelah mereka bersiap melengkapi persenjataan dan berbagai alat lainnya.


" Gael kau tidak membawa senjata?" tanya Angel yang melihat Gael menyendiri di dekat kaca.


" aku cukup dengan satu pistol" jawab Gael yakin. Dia harus membuat Lucas percaya jika dia datang hanya untuk menjemput Myria dan Ansel.


" kau yakin, bagaimana jika dia menyerangmu?" tanya Angel khawatir.


Waktu terus berjalan, hari semakin malam. Lucas tidak lagi melakukan pengecekan. Lelaki itu beristirahat setelah kenyang menyantap makan malam.


" sstt" Myria mulai bangkit. Dia beranjak dan berjalan menuju Ansel. Dia menggoyangkan tubuh lelaki itu, berharap bisa sadar.


" Ansel, Ansel" Myria menepuk pipi lelaki itu.


Namun tidak ada respon. Myria beralih mendekati dokter, dia menepuk pelan bahu lelaki itu.


" bangun!" ucap Myria penuh penekanan. Dokter itu mengusap matanya, dia melihat Myria mencari kain untuk membalut tubuh Ansel.


" cepat bantu aku, carikan kain apapun" ucap Myria. dokter itupun bangun dan ikut mencari.


Akhirnya mereka menemukan sebuah seprai dan selimut yang sudah tak terpakai.


" bantu aku melilitnya menggunakan ini" ucap Myria.


kini dokter dan Myria saling bekerja sama. Setelah selesai, dokter diminta melihat situasi luar. Dia berpura-pura meminta mencari air minum, keluar membawa botol.


Dokter itu menatap sekeliling dan beberapa tempat sesuai dengan petunjuk Myria. Dokter itu mencari pintu lain atau celah apapun yang bisa di gunakan untuk melarikan diri. Sekitar 20 menit Dokter itu kembali, dia mengatakan semua yang dia tau dari keluar ruangan.


" kau gambarkan bagaimana bentuk bangunan ini" ucap Myria. Beruntung dokter itu membawa tas yang memiliki alat tulis. Dengan mudah dokter itu menggambar denah bangunan sepengetahuan nya.


" bagus, setidaknya aku sudah ada gambaran" ungkap Myria.


" ada berapa jumlah penjaga dalam ?" tanya Myria.


" tidak banyak, lebih banyak di bagian luar" jawab dokter itu.


" baiklah kita akan mulai, jadi pertama kita harus melewati lorong ini lalu turun ke lantai dasar dan menuju Ini" ucap Myria menjelaskan. Dokter itu mengerti dengan cepat. Dia mengangguk sebagai tanda.

__ADS_1


" ayo" ucap Myria.


wanita itu tidak tau jika di luar, anggota Gael sudah sampai. Mereka sedang melakukan pemantauan terakhir.


" aku kan masuk ke dalam" ucap Gael, mereka mengangguk.


" jangan sampai lengah, saat kami sudah membawa Sandera kau bisa melakukan apapun pada Lucas" bisik Angel, dia juga ingin jika Lucas benar-benar tewas.


" akan aku ingat" jawab Gael cuek.


" baiklah kita masuk rencana" Gael berpisah dengan yang lain. Dia mengendarai mobil sendirian menuju gerbang masuk.


berrmmm beremmmm


" kau siapa?" tanya pengawal Lucas saat melihat mobil Gael berhenti di depan gerbang.


" Gael, tuanmu pasti sedang menungguku" jawab Gael sambil berteriak.


" tunggu di sini" salah satu pengawal itu masuk, Gael yakin Lucas tidak mungkin menolaknya.


Di dalam ruangan Luca masih tertidur nyenyak.


" tuan, tuan" ucap Pengawal, dia membangunkan Lucas dengan sangat pelan.


" tuan!" kali ini sedikit keras, pengawal itu bahkan menepuk pipi tuannya.


" emm ada apa?!" tanya Lucas kesal.


" Tuan orang yang kita tunggu kemari. Gael ada di luar" jawab pengawal itu dengan wajah senang.


" Gael? "


" iya tuan, sepertinya dia tidak sabar menunggu temanya bebas" jawab pengawal itu malah membuat penilaian awal Lucas menjadi kabur.


" begitu?" jawab Lucas yang masih belum bisa berfikir dengan baik.


" biarkan dia masuk, jangan lupa geledah semua yang dia bawa" ucap Lucas.


" baik tuan" jawab pengawal itu lalu pergi.


Lucas menata penampilannya, kemudian ikut turun menyambut tamu yang dia tunggu.


" biarkan dia masuk!" ucap Pengawal itu. Gerbang segera di buka. Mobil Gael masuk tanpa hambatan, selesai parkir dia langsung keluar dari mobil.


" periksa dan geledah semuanya" lanjut pengawal itu.


" baik" ucap yang lain.


Gael mengangkat tangan dan melepas jaketnya. Pengawal itu meneliti semuanya, bahkan mobil yang Gael tumpangi juga tidak luput dari pemeriksaan.


" aman!" teriak penjaga yang menggeledah mobil.


" letakkan disini" ucap penjaga lain yang menemukan pistol di tubuh Gael.


Dengan tenang Gael melakukan perintah, pengawal Lucas merasa senang mendapatkan senjata milik Gael.


" sudah bos" ucap penjaga lain.


" ikuti aku" ucap pengawal itu memimpin jalan. Gael menatap sekeliling lewat sudut matanya. Bangunan ini terlihat lama namun terawat di bagian dalam. Tak ada CCTV ataupun alat modern lainnya.


" tuan sudah menunggu, masuklah" ucap pengawal itu membuka pintu.


Gael masuk ke sebuah ruangan di depannya, seperti ruang tamu. di sana sudah ada lelaki tua yang selama ini ingin dia bunuh.


" Gael, ada keperluan apa menemuiku tengah malam seperti ini?" tanya Lucas berbasa basi.

__ADS_1


" kau lah yang mengundangku secara tidak langsung" jawab Gael menyindir


" ah ya, aku lupa" Lucas sangat senang saat Gael tidak berdaya seperti ini.


__ADS_2