Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
87. Peledakan


__ADS_3

Malam harinya Gael mendapatkan laporan adanya video mencurigakan dari tempat parkiran mobil.


" kau tau masalah ini?" tanya Ansel saat melihat wajah Gael yang tenang.


" beberapa minggu yang lalu seseorang telah memasang pelacak di mobilmu, aku sudah mengamankan dan sepertinya seseorang telah memulai rencananya" jelas Gael.


" jadi ini alasan mu menyuruh ku kemari?" tanya Ansel yang Mukai menyadari rencana Gael.


" benar, Aku sudah mempersiapkan beberapa hal yang mungkin akan terjadi" jawab Gael enteng.


" kau selalu bisa memikirkan semuanya" jawab Ansel puas.


Tak lama para wanita datang dan menata makanan hasil masakan di meja makan.


" aku sarankan jangan kau makan Gael" saut Ansel yang masakan Myria yang setengah gosong.


" dasar kau! coba dulu" paksa Myria.


" sudah kelihatan jelas, lihat punya Sonia. Ini baru makanan layak" imbuh Ansel sambil pamer memakan masakan Sonia.


" sudah, sini aku coba" Gael langsung menengahi.


" huh" ejek Myria kepada Ansel.


" bagaimana?" tanya Myria penasaran.


" em, ada baiknya kau terus berlatih senjata saja" Jawab Gael halus.


" hahahaha, sudah aku peringatkan" Ansel tertawa puas, bahkan Sonia juga terlihat menahan tawanya.


" yasudah kita makan masakan Sonia saja" Wanita itu langsung mengambil masakan Sonia dengan porsi banyak.


" heyy.. itu punya ku" cegah Ansel.


" sama saja, semua makanan diatas meja tidak ada kepemilikan" jawab Myria ketus.


Makan malam berlangsung meriah, seperti keluarga pada umumnya. Jauh dari kata mafia atau sejenisnya. inilah yang Gael inginkan. Mereka bisa hidup tenang dan aman seperti ini.


Di tempat lain Lucas sedang bersenandung bahagia, saat ini dia tinggal menunggu hasilnya. Kali ini dia tidak ingin gagal. Mau bagaimanapun caranya PIN harus bisa dia dapatkan.


" tuan semuanya sudah siap" bawahan melapor lewat panggilan.


" baik, aku ingin besok tidak ada kesalahan sedikitpun. semua sesuai dengan rencana awal. Buat semeriyah mungkin" jelas Lucas dengan hati senang.


" siap tuan, semuanya beres, anda tinggal menunggu hasilnya" jawab bawahan itu yakin.


Pagi yang cerah, Lucas berjalan menuju markas GM. Dia berniat menemui Angel, wanita yang setengah mati di benci. Dia akan ujuk kesombongan agar wanita ini tidak memandangnya sebelah mata.


" tuan Lucas" beberapa anggota memberikan salam penghormatan. Lucas membalas dengan anggukan kecil.


tok tok


" nona, tuan Lucas ingin bertemu" lapor Asisten Angel. Wanita itu sempat kaget sejenak.


" persilahkan masuk" jawab Angel penasaran apa yang membuat lelaki tua itu menemuinya.


" selamat pagi nona besar" sapa Lucas basa basi.


" ada perlu apa kemari?" Tanya Angel ketus. Dia tidak ingin menyambut lelaki ini.

__ADS_1


" tidak aku hanya ingin memastikan kau cukup baik untuk mendengar kabar membahagiakan dariku" jawab Lucas yang sama sekali tidak tersinggung dengan nada bicara Angel.


" kabar bahagia? kau ingin keluar dari GM?" tanya Angel sedikit menyinggung Lucas.


" ini jauh lebih membahagiakan" saut Lucas senang. Dia sama sekali tidak terpancing omongan Angel.


" baiklah aku pamit, jangan lupa kerjakan semuanya dengan baik," Lucas pergi tanpa menunggu balasan Angel.


Hal ini sukses membuat Angel penasaran, tidak biasanya Lucas berkunjung dengan wajah berbinar bahagia.


Orang-orang yang ada di PIN sudah mendapatkan pesan agar pergi untuk beberapa hari. Bahkan tempat parkiran mobil juga agak lenggang karena memang beberapa sudah di pakai.


".kalian cek sebelum pergi" pesan Ansel saat menyuruh mereka off sejenak.


" siap tuan" jawab mereka. Disana hanya tinggal beberapa petugas keamanan saja.


duaaarrr duaae duaar


sekitar pukul 10 pagi, masyarakat kota di kaget kan dengan ledakan yang terjadi di gudang kosong. Meski tak ada korban jiwa tapi kerusakannya cukup parah. Semua berita meliputnya.


" tuan anda ingin untuk satu lagi kita eksekusi pukul berapa? " tanya pengawal Lucas.


"malam ini" jawab Lucas yakin. Setelah orang-orang membahas gudang itu mereka akan di kaget kan lagi dengan ledakan yang lebih besar.


Di dalam Villa Gael Dan Ansel pun tak ketinggalan dengan kejadian di tanah kelahiran mereka.


" aku sudah menghubungi mereka beberapa kali" ucap Ansel, kini mereka menyuruh anak buahnya agar bisa mengamankan jalan masuk PIN.


" kau tenang saja, mereka takkan bisa masuk ke PIN" jawab Gael enteng.


" tetap saja jika mereka memanggil polisi semua akan repot" jawab Ansel kesal.


" percayakan pada mereka, aku yakin semua penjelasan kita pasti di mengerti dengan baik" tenang Gael. lelaki ini sudah mengabarkan yang lain, akan adanya kejadian seperti ini.


dduaar duaar


Sesuai dengan keinginan Lucas gedung kedua yang dia yakini sebagai tempat PIN berhasil di ledakan.


ddrrtt drrtt hp Gael berbunyi


" Lucas meledakkan beberapa tempat di negaramu, apa kau tau?" tanya Angel dengan gamblang, dia merasa jika kabar bahagia yang Lucas maksud adalah dia menghancurkan rekan nya.


" Lucas? aku sudah menebaknya" jawab Gael tidak terkejut memang sedari awal dia sudah mencurigainya.


" apa itu tempatmu?" tanya Angel curiga.


" em,, sebagian kecil iya" jawab Gael datar. Sedangkan di sebrang sama Angel merasa janggal dengan ketenangan yang Gael miliki.


" kau sudah mengetahuinya?" tebak Angel. Gael dian saja.


" dasar kau!" teriak Angel kesal, dia terlalu menghawatirkan lelaki ini.


Panggilan terputus, Angel sangat malu. Kenapa dia terlalu perhatian pada lelaki ini.


" pantas saja dia tidak kembali ke negaranya" guman Angel.


" siapa?" tanya Myria, dia sayup-sayup mendengar suara wanita dalam panggilan Gael.


" Angel, wanita yang kita temui" jawab Gael terus terang.

__ADS_1


" kenapa dia menelponmu?" tanya Myria yang masih belum tau apa yang sudah terjadi.


" lihatlah" Gael memberikan i padnya.


" Ya ampun? lalu bagaimana keadaanya sekarang? kapan kita kembali?" Myria langsung memberondong pertanyaan. tampak jelas raut panik Myria.


" kenapa kau masih disini, PIN meledak!" teriak Myria kesal.


" tenang dulu, semuanya sudah aman. Disana hanya ada barang tak berguna" jelas Gael.


" maksud mu?" Myria masih belum mengerti.


" aku sudah melakukan persiapan, jangan khawatir" balas Gael santai.


Sedangkan di Kamar Ansel melihat video meledaknya bagian samping PIN yang berfungsi sebagai parkiran luar. Dia mengamati dan berfikir dengan seksama. Gael tidak pernah merundingkan dengannya perihal masalah ini. Dia cenderung membiarkan meski sudah melakukan pengamanan.


" kau masih sibuk?" tanya Sonia bersiap tidur. Wanita ini tidak tau menahu masalah yang terjadi.


" em, lumayan. Kau sudah makan?" tanya Ansel menatap Sonia, keadaanya terlihat membaik.


" sudah barusan" jawab Sonia.


" ambilkan obatnya" ucap Ansel dan seketika membuat Sonia cemas. Meski begitu wanita itu tetap pergi mengambilnya.


" ini minumlah" Ansel memberikan pil serta air minum. Dan seperti biasa memastikan sampai Sonia menelan pil itu.


" sudah" jawab Sonia. Wanita itu tidak bisa berkutik, pernah sekali dia tidak menelannya, dan Ansel bisa tau dengan cepat.


" pergilah tidur" ucap Ansel mengambil lagi gelasnya. Kemudian pergi keluar, dia akan menemui Gael.


Tak perlu waktu lama mencari Gael, lelaki itu terlihat duduk di bangku taman.


" Gael" panggil Ansel. kemudian duduk di depan Gael.


" kau bekerja sama dengan GM?" tanya Ansel terkait dengan hal yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


" waktu menyelamatkan Myria, iya. Saat ini sudah tidak" jawab Gael jujur. Dia merasa jika Ansel sedikit curiga padanya.


" apa niatmu waktu itu memang sudah bulat?" tanya Ansel random. Gael menarik sudut bibirnya, Ansel jelas bukan orang bodoh.


" kau tidak mungkin membiarkan peledakan itu tanpa suatu alasan bukan? kau menyembunyikan hal ini dariku pasti ada sebabnya" Ansel mulai menemukan titik temu.


" aku memang sengaja menyembunyikan nya dan membiarkannya terjadi. Seperti yang aku bilang, saat ini aku merencanakan menarik diri. Aku yakin kita bisa hidup normal Ansel. Bukan lagi di dunia hitam itu kita hidup, kita bisa memilih Ansel" jelas Gael. Semua yang Gael katakan memang sudah ada dalam fikiran Ansel, sahabatnya telah memilih.


" aku memang ingin hidup normal, aman dan di kelilingi orang yang aku cintai, tapi aku tidak bisa begitu saja pergi dari 2M, dia lebih dari segalanya, dialah identitasku, Sandaran ku selama ini" jawab Ansel, Dia tidak bisa secepat ini mengambil keputusan.


" aku tau, maka dari itu kita lakukan ini perlahan" ajak Gael dengan memberi pengertian.


" tidak semudah itu, apa kabar dengan musuh-musuh 2M, PIN dan segala aktifitas kita selama ini?" tanya Ansel.


" kita bisa membuat mereka berfikir jika kita benar-benar tiada. Selama ini tidak ada siapapun yang tau pemimpin 2M dan pemilik PIN. aku yakin ini tidak semudah yang di fikirkan" Gael terus menjelaskan niatannya. Dia tidak mau pergi sendirian. Masih ada Ansel yang harus dia lindungi.


Ansel menarik nafas panjang, Gael terlalu mendadak membicarakan hal ini. Dia bahkan belum pernah sedikitpun memikirkan keluar dari dunia hitam.


" Ansel dengarkan aku, semakin lama kita di sana, kita tidak akan mendapat apapun. Apa kau tidak mau memberikan kehidupan normal pada Sonia atau anak yang dilahirkannya nanti?"bujuk Gael. Dia yakin Ansel masih memiliki belas masih untuk mau keluar dari dunia mafia.


" aku hanya ingin mereka bahagia dan aman" ucap Ansel lemah, dia fikir menjadi mafia akan semakin mudah melindungi orang-orang terkasihnya.


" kau ingat kejadian Myria, jika kita berada di dunia mafia, selamanya baik Sonia atau Myria mereka akan menjadi target mereka. Percaya padaku" Gael semakin menggebu-gebu, dia harus bisa membujuk Ansel agar mau keluar dari mafia.

__ADS_1


" bagaimana jika terjadi sebaliknya? kita keluar dan malah tidak bisa melindungi mereka" tanya Ansel balik.


" kita persiapan dengan baik, kita buat 2M sudah mati" jawab Gael mengatakan rencananya.


__ADS_2