
Malam semakin larut, Angel terlihat sudah tidur di ruang pengunjung pasien. Myria terbangun dan tidak mendapati Gael di sampingnya. Padahal lelaki itu bilang akan menjenguknya malam ini.
Myria mengambil air minum di nakas. Perutnya terasa lapar.
" kau juga lapar sayang?" tanya Myria sambil mengelus perutnya yang rata.
Semenjak mengetahui jika ada janin di dalam rahimnya, Myria menjadi sangat hati-hati ketika ingin bergerak. Dia sangat menyayangi bayi pertamanya.
" kau ingin makan apa?" tanya Myria lagi. Wanita itu menatap sekeliling, tidak ada apapun hanya buah apel dan pisang. Myria ingin sesuatu yang lain.
" kita tunggu ayahmu ya, mungkin sebentar lagi kemari" ucap Myria kemudian kembali berbaring menunggu Gael.
Sedangkan Gael yang di tunggu sedang tidur pulas. Dia sangat capek fisik dan mental, karena Ansel yang terus menggenggam tangannya membuat Gael tidak bisa melakukan apapun, alhasil rasa ngantuk menyerang.
Hingga fajar menjelang Gael baru terbangun. Dia melepas perlahan tangannya. lalu pergi ke ruangan Myria.
Ruangan sepi, Myria tertidur karena lelah menunggu. Gael mengelus perut Myria pelan. Anaknya pasti sangat menderita karena tidak ada yang menyadari kehadirannya.
" kuat ya" bisik Gael lalu mencium perut Myria yang tertutup baju.
" em, kau baru datang?" tanya Myria kesal.
" ehem.." jawab Gael dengan deheman.
"aku lapar" ucap Myria langsung.
" kau ingin makan apa? buah?" tanya Gael mengambil piring buah.
" tidak, aku ingin pasta atau apapun yang gurih" jawab Myria bersemangat.
" masih sangat pagi Myria. belum ada restoran yang buka, lagi pula aku juga tidak tau restoran yang jual pasta" Ucap Gael lembut. Namun Myria maunya sekarang. Wanita itu terlihat kesal dengan jawaban Gael.
" atau kita tanya Angel saja. Mungkin dia tau ada jasa antar makanan" Saran Gael.
" Ya sudah nanti saja" jawab Myria mengalah.
" aku kupaskan buah dulu ya" ucap Gael. Myria mengangguk pelan.
" oh ya bagaimana dengan Ansel?" tanya Myria yang belum tau kabar terbaru lelaki itu.
" dia mengalami hilang ingatan Parsial. waktu di kepalanya mundur 10 tahun yang lalu, saat ayahnya meninggal. Saat itu hanya aku yang dia percaya jadi saat ini dia terlalu bergantung denganku. kuharap kau mengerti ya?" jelas Gael pelan.
" Lalau bagaimana dengan Sonia?" tanah Myria kasihan pada sahabatnya.
" aku akan mengatakan hal ini pelan-pelan. Dia juga sedang hamil sepertimu. takutnya janin nya dalam bahaya di terlalu kaget dengan berita ini."
" Sonia juga hamil? senang sekali" jawab Myria riang. Dia dan Sonia memang satu nasib.
" iya kalian nanti bisa saling berbagi cerita" jawab Gael ikut senang.
" Gael!" suara teriakan Ansel.
" aku keluar dulu" ucap Gael panik. Myria menatap Kepergian Gael dengan sedikit sedih.
" ada apa?" ucap Gael saat mendapati Ansel sudah ada di luar kamar. Bahkan infusnya tercabut paksa membuat darah mengalir deras.
" suster!" teriak Gael.
__ADS_1
" Dokter!" panggil Gael lagi. Seketika ada 2 perawat yang berlari mendekat.
" ayo kita masu" ajak Gael pada Ansel.
" mereka ingin membunuhku" cicit Ansel.
" sst tidak, ayo kita obati tanganmu" Ajak Gael sekali lagi. Beruntungnya Ansel tidak menolak. kedua perawat itu langsung menangani tangan Ansel. Perlahan Ansel mulai tenang.
" kau dari mana saja?" tanya Ansel marah.
" aku baru selesai melihat anggota yang berjaga" jawab Gael berbohong, dia tidak mungkin mengatakan mengenai Myria. Kondisi Ansel masih belum memungkinkan.
" apa ayah sudah ketemu?" tanya Ansel menatap Gael penuh harap.
" kita bahas ini nanti setelah kau keluar dari rumah sakit ya" ucap Gael agar situasi Ansel sedikit tenang.
" bagaimana jika dia tidak baik-baik saja. Kau suruh orang untuk mencari Gael" balas Ansel yang khawatir dengan keadaan ayahnya.
" baiklah aku akan menyuruh seseorang " Gael berpamitan keluar dari kamar.
" ada apa?" tanya Angel di depan kamar Myria. Dia terbangun karena teriak Ansel dan Gael.
" dia terbangun saat aku tak ada, jadi histeris. oh iya apa disini ada jasa antar makanan?" tanya Gael, dia ingat jika Myria belum makan.
" ini simpan nomor ini, kau bisa menyuruhnya apapun" ucap sambil menunjukkan sebuah nomor, Gael langsung menyimpan nomor itu.
" terimakasih, bisa tolong temani Myria disini sampai kondisinya baik?" tanya Gael tidak enak.
" tenang saja, tanpa kau minta aku sudah mengerti" jawab Angel mengerti.
" baiklah aku masuk dulu" Gael kembali menemani Ansel.
Beberapa hari setelah, Myria sudah di perbolehkan pulang. Dia akan tinggal di Mansion utama sama seperti Gael.
" aku akan mampir sesekali jika kondisi Ansel membaik" ucap Gael melepas kepergian Myria.
" jaga diri baik-baik" balas Myria.
" kau juga jaga dirimu dan bayi kita" Gael memeluk erat sang istri tak lupa mencium perut Myria.
" kabari aku jika terjadi sesuatu" pesan Angel, lalu masuk mobil bersama Myria. kedua wanita itu pergi meninggalkan Gael sendiri.
Gael masuk ke ruang Ansel, lelaki itu semakin hari semakin tenang. Dia tidak lagi histeris jika tak menemukan Gael. namun ingatannya masih belum kembali.
" dok" ucap Gael saat Ansel sedang melakukan pemeriksaan harian.
" urusanmu sudah selesai?" tanya Ansel.
" sudah" jawab Gael pelan.
Dia menunggu sampai dokter selesai memeriksa.
" bagaimana Dok?" tanya Gael.
" kondisi fisiknya makin membaik," jawab dokter.
" kapan aku boleh pulang?" tanya Ansel dengan wajah kesal.
__ADS_1
" anda perlu melalui serangkaian tes lagi tuan " jawab Dokter hati-hati.
" kita bicara di ruang saya saja" bisik dokter pada Gael.
" aku akan mengantar dokter" ucap Gael.
Kemudian kedua lelaki itu pergi ke sebuah ruangan.
" apa cidera otaknya semakin parah?" tanya Gael cemas.
" Tuan Ansel sepertinya mengalami trauma yang cukup parah. Apa kau tau asal muasalnya, karena jika di lihat kondisi mental taun Ansel sama sekali tidak ada perubahan" jelas dokter.
" dia memang mengalami trauma yang cukup dalam. Dia melihat ayahnya tewas di depan matanya. hampir sebulan depresi. Apa kali ini bisa lebih parah dokter?" Gael semakin was was.
" saya tidak bisa menilai, hanya saja semakin lama dia tidak mengingat maka semakin kecil kemungkinan dia kembali seperti semula. Kita akan memberikan yang terbaik ,tapi jika semakin parah kita harus konsultasi dengan psikolog atau psikiater" saran dokter.
" kau cari saja psikolog atau psikiater yang bagus, kau akan mengikuti" jawab Gael pasrah. Mau bagaimanapun caranya Ansel harus bisa sembuh.
" kenapa lama sekali?" tanya Ansel kesal.
" aku meminta laporan anggota dulu" jawab Gael sekenanya. Dia sebenarnya tidak mau berbohong terus menerus, bagaimanapun Ansel harus bisa tau apa yang sudah terjadi. Gael harus menanyakan kepada dokter apakah bisa Ansel di jelaskan kejadian sekarang meski ingatannya belum kembali.
" kau sudah makan? kulihat sejak kemarin kau tidak menyentuh makanan" tanya Ansel.
" iya nanti saja"
" kau selalu begitu, ayo makan bersama" ajak Ansel, Gael mengangguk.
Semakin hari keadaan Ansel terlihat baik, namun kepalanya masih belum sembuh.
Myria dan Angel baru saja sampai di pelataran Mansion.
" rumah siapa ini?" tanya Myria keheranan.
" ayo masuk jangan sungkan" ucap Angel sambil membantu Myria keluar mobil.
" ayo kita temui Sonia dulu" ajak Angel.
" Sonia disini juga?" tanya Myria antusias.
" iya, dia di lantai 2" Jawab Angel. Mereka melangkah menuju tangga. Myria sangat berhati-hati dengan langkahnya.
" sekalian akan aku tunjukkan kamarmu" Angel terus mengajak mengobrol.
Mereka berjalan melewati lorong dan sampai di depan salah satu kamar.
tok tok Angel membuka pintu.
" Sonia" panggil Myria. Wanita di dalam langsung menoleh ke arah pintu.
" Myria, kau selamat!, bagaimana kabar mu?" hampir saja Sonia berlari, jika tak di cegah oleh suster disana.
" aku baik seperti yang kau lihat" Myria mendekati ranjang.
" nona Sonia harus terus di atas ranjang, tubuhnya masih lemah" ucap suster mengingatkan.
" ah, kau harus fokus sembuh ya" balas Myria kemudian duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
" aku tinggal sebentar ya" Angel dan suster meninggalkan kamar. biar kedua wanita itu melepaskan rindunya.