Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
13. Cemburu


__ADS_3

Gael diam saja, dengan perasaan campur aduk menuju nakas di samping tempat tidur rekannya itu. Lelaki itu mengambil set makan siang Ansel.


"jadi kau lapar?" tanya Gael dengan datar.


"iya suapi aku" ucap Ansel dengan suara yang tidak terlalu jelas, karena bibirnya masih terluka dan dia tidak bisa membuka terlalu lebar.


Gael mengambil satu suapan dan dengan kasar langsung menyuapkan makanan itu kepada Ansel dengan kasar. Sedangkan Ansel tidak berdaya menahan sakit. dia tidak bisa berbuat apa-apa. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


"emmmama maama" ucap Ansel tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan. Sedangkan Gael seakan tidak tahu rasa sakitnya tetap melanjutkan aksi kasarnya.


"Kau menerima uang 10 milyar?" Gael menghentikan aksinya. Lelaki itu bertanya dengan wajah yang kesal.


"uang apa?" Ansel tidak mau jujur.


" masih berani berbohong padaku?" Gael terus saja melakukan intimidasi.


"di mana uang itu?" lanjut Gael cepat. Ansel hanya terdiam. Dia punya firasat jika uang akan diambil.


" atau kau mau kita naik ring lagi?" tanya Gael menantang.


" baiklah baiklah, iya aku menerimanya" Ansel tidak bisa berkutik.


"di mana uang itu sekarang" tanya Gael.


"ada, ada di kantorku" Ansel menjawab dengan malas.


"di mananya?" Gael ingin kejelasan. Masalahnya kantor Ansel begitu luas dan memiliki kamar tidur.


" kau cari saja tas hitam di bawah meja" Ansel mulai kesal.


"kenapa kamu begitu peduli padanya?" lanjut Ansel, dia tak habis pikir dengan Gael yang selalu saja memikirkan wanita murahan itu.


"aku tak tahu" jawab Gael acuh. Lelaki itu meletakkan kembali makan siang Ansel.


"tidak kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku" Gael menaikkan bahunya dan pergi dari ruang rawat ansel.


Lelaki itu langsung menuju ke PIN, dia tidak bisa tenang dengan apa yang baru saja dia lihat. Bagaimana istrinya begitu akrab dengan lelaki asing. Hatinya panas dan dia akan menjauhkan mau bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Begitu sampai di PIN lelaki itu dikejutkan dengan para anak buahnya yang terlihat panik. Mereka berlarian menuju ruang informasi.


"Bos untuk keamanan kita mengalami serangan" ucap salah satu anak buah yang tahu Gael Baru saja datang.


" serangan apa?" tanya Gael cuek. Mereka terbiasa dengan serangan-serangan hiburan.


"ada yang mencoba meretas sistem data pelanggan. sudah berkali-kali terjadi bahkan kami sudah backup keamanan namun tetap saja bisa terbobol" anak buah itu terlihat kebingungan.


"kau sudah mengecek id-nya?" Gael masih bersikap


Tenang. Mungkin saja hancker pemula.


" sudah dan kami menemukan sebuah foto dari perangkat mereka" jawan anak buah itu sambil menunjukkan foto yang ada di handphonenyaa.


Awalnya Gael sama sekali belum mengenali maksud yang ada difoto tersebut. Namun salah satu sudut foto terlihat sebuah lambang, baru lelaki itu sadar jika foto tersebut berasal dari lelaki yang mereka temui di Maldives.


"sial" ucap Gael keras. Lelaki itu merasa kecolongan berani sekali mereka melakukan


serangan.


" kalian sudah sampai mana" Gael berjalan menuju ruang informasi.


"Lebih baik aku yang turun tangan" ucap Geal.


Gael mengambil alih salah satu komputer. para anak buahnya langsung menatap Gael dan menunggu perintah dari sang Bos. Terlihat sekali Gael benar-benar fokus. Dia mendeteksi segala data kelompok yang mungkin bisa mereka susupi.


" kalian Backup keamanan PIN" ucap Gael.


" backup keamanan data anggota" lagi semua melakukan perintah Gael dengan aman dan cepat.


"Hitungan ke-10 kalian matikan semua komputer" ucap Gael. semua mengangguk sebagai jawabannya. kali ini Gael merasa sedikit kewalahan. sepertinya mereka menyewa beberapa Hacker handal untuk mengecoh fokus. Gael masih belum bisa menebak data yang mereka incar.


Kini semua anggota mematikan komputer dan mereka berhasil melindungi baik keamanan PIN maupun keamanan data.


Gael terdiam, dia menatap layar dengan pandangan kosong. Sebenarnya dia belum menceritakan mengenai lelaki di Maldives itu kepada Ansel. Karena awalnya dia mengira kalau lelaki itu hanya ingusan yang sombong. Meskipun dia tahu jika lelaki itu memimpin sebuah kelompok, Gael tidak mengira kelompok mereka bisa melakukan hal sejauh ini.


" jangan ada yang menyalakan komputer. sampai ada perintah dariku" ucap Gael.

__ADS_1


"baik bos" ucap mereka serentak.


Setelahnya dia pergi meninggalkan ruang informasi. Lelaki itu berjalan menuju kamar Ansel. Lelaki itu kini sedang menuju meja kantor Ansel. Dia bisa melihat sebuah meja tas hitam yang dimaksud. Saat dia ingin segera pergi dari sana, matanya menangkap jika layar yang ada di atas meja menyala berkedip.


" sial" rutuk Gael.


Kini dia mengetahui kenapa bisa mereka mendapat serangan dengan mudah. Lelaki itu segera duduk di depan layar dan dia membuka satu persatu alarm detek yang ada di PC. Bisa dibilang PC yang ada di kamar Ansel adalah inti dari semuanya. Jika ada sedikit saja serangan data, Ansel bisa dengan mudah mendapatkan sinyal dan mengakses Id mereka. Memang dasar Ansel ceroboh, lelaki itu selalu saja membuat masalah.


Setelah mematikan PC, Gael pergi membawa uang tersebut. Dia tidak akan membiarkan istri dan pria asing itu bertemu. Gael akan memberikan uang itu sebelum malam tiba.


Gael dengan mudah menemukan di mana Myria berada, alat pelacak masih aktif dan aman di anting milik wanita itu. Saat ini Myria sedang berada di depan sebuah toko, wanita itu baru saja mendaftarkan diri untuk lowongan pekerjaan. Sayangnya lowongan itu sudah penuh, wanita itu hanya bisa duduk di teras toko sambil mengecek handphonenya.


Ddrrttt drrt


HP wanita itu berbunyi dari nomor yang tidak dikenal.


"hallo, siapa?" ucap Myria.


"masuk ke mobil" ucap Gael dari sebrang.


Myria mencari sebuah mobil di sekitarnya, dari kejauhan bisa melihat lelaki itu menurunkan kaca mobil. Myria seketika mengingat janjinya dengan Ansel. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun wanita itu pergi menjauh dari mobil tersebut.


Gael segera menyusul, untung saja mereka berada di pinggiran jalan raya, jadi Gael tetap bisa mengikuti dengan masih menggunakan mobil. Lelaki itu menelpon lagi namun kali ini teleponnya tidak diangkat.


Myria terus berjalan menjauh dan masuk ke sebuah gang. Gael tidak mengerti apa yang membuat wanita itu menjauhinya. Akhirnya dia terpaksa turun dan mengejar wanita itu dengan berjalan kaki.


" Myria, Maria hey" teriak Gael, lelaki itu mencoba menyamai mengejar wanita itu.


"kau kenapa?" ucapnya lagi. Setaunya mereka tidak ada masalah apapun.


Wanita itu terus mempercepat langkahnya jangan sampai Gael menangkapnya. Saat itu suasana gang begitu sepi. Dan saking takutnya wanita itu bahkan tidak tahu jika dia mengambil arah yang salah. Myria sampai di jalan buntu dan dia tidak bisa kembali di belakangnya sudah ada Gael.


"kau kenapa?" tanya Gael berulang kali.


"jangan pernah temui aku" ucap Myria membelakangi lelaki itu. Dia mencoba menahan tangisnya.


"apa karena Ansel?" tanya Gael menyelidik. Myria terdiam. Gael semakin yakin jika Ansel pasti sudah mengancam wanitanya.

__ADS_1


"baiklah jika kau tak ingin menemuiku, Kukira selama ini kita baik-baik saja. Hanya karena Ansel, kau sudah berubah. Jadi hanya seperti ini perasaanmu padaku". Ucap Gael tenang. Lelaki itu pergi membawa rasa kecewa.


Mobil melaju meninggalkan Myria dan Gael meletakkan tas berisi uang 10 miliar pintu kontrakan wanita itu. Sebelum pergi Gael mengetuk pintu, dari mobil dia bisa melihat seorang lelaki keluar dan membawa masuk tas hitam itu. Setelahnya Gael tak terlihat lagi.


__ADS_2