Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
74. Serangan Nyata


__ADS_3

Setelah beberapa hari setelah serangan bumerang terjadi, ruang informasi tampak sedikit lenggang. Mereka tidak lagi menerima serangan sampai detik ini. Membuat mereka memiliki waktu untuk mengupdate sistem keamanan yang lebih rumit.


" Gael, kau masih di perusahaan?" tanya Myria dalam panggilan hpnya. Gael sudah tidak pulang sejak kemarin.


" iya, ada banyak sekali tugas. maafkan aku ya" jawab Gael.


" kau sedang rapat?" tanya Myria saat mendengar sayup-sayup suara seseorang presentasi.


" iya, ada proyek baru" jawab Gael yang masih menatap layar presentasi.


" ya sudah" tutup Myria. Wanita itu merasa jika dia hanya mengganggu saja. Apalagi Gael juga hanya menjawab singkat semua pertanyaannya.


Myria menghembuskan nafas kasar, dia bosan tidak ada aktifitas seru di PIN. Wanita itu akhirnya berjalan-jalan mengelilingi PIN. Sejak dia datang, Myria tidak tau apa saja yang ada di bangunan ini.


" kalian mau kemana?" tanya Myria saat berpas pasan dengan anggota yang berseragam lengkap dan membawa senjata.


" kami ada tugas lapangan" jawab mereka. Myria sontak merasa tertarik, berminggu-minggu berada di dalam PIN membuat wanita itu ingin menghirup udara segar.


" aku akan ikut menemani" ucap Myria. Semua anggota saling berpandangan. Mereka tidak berani menolak tapi juga tidak mau ada hal buruk menimpa Myria.


" em bagaimana dengan Bos Gael?" tanya salah satu anggota dengan ragu.


" kalian jangan khawatir, selagi dia tak ada semuanya akan baik- baik saja" balas Myria dengan percaya diri. Karena Myria berfikir jika Gael pasti sibuk dengan urusan kantor. Dia tidak akan mengetahui hal ini.


" apakah bisa seperti itu?" anggota lain juga ikut ragu-ragu.


" sudahlah tak apa. Bos Gael sedang sibuk urusan kantor" ucap Myria kemudian pergi ke ruang ganti setelah berpesan agar mereka menunggunya.


Beberapa saat setelahnya Myria menuju area pintu masuk.


" kau mau kemana?" tanya Ansel yang baru saja masuk.


" aku akan ikut tugas lapangan" jawab Myria enteng. Di sana beberapa tim lapangan sedang menunggu kedatangan Myria.


" kalian akan kemana?" tanya Ansel kepada tim lapangan.


" kami mengecek lokasi dan mencoba beberapa senjata, tuan" jawab mereka.


" kau sudah dapat izin Gael?" tanya Ansel kepada Myria. Lelaki itu seperti inspeksi keamanan. Ansel menanyakan semuanya dengan jelas.


" dia sibuk dengan kantor. Lagipula aku bosan di dalam, ingin lihat dunia luar. Setidaknya saat dia pulang aku sudah kembali" jawab Myria panjang lebar dia juga terlihat memasang raut kasihan.


" butuh berapa jam?" kembali lagi Ansel menanyakan kepada tim lapangan.


" kemungkinan 3 sampai 4 jam" jawab mereka dengan yakin. Selama ini memang durasi tugas lapangan lebih singkat dan memiliki banyak anggota.


" aku akan ikut, sekalian memantau sejauh mana perkembangannya" Ansel berjalan keluar lagi.


Mereka bersiap mengunakan 2 mobil. Myria senjata satu mobil dengan Ansel karena mobil lainnya penuh dengan tim yang semua laki-laki.


Mereka tiba di lokasi pembelian senjata. Sesuai dengan instruksi Gael, mereka hanya akan memperbaharui pistol, revolver dan shut gun. Myria sudah tidak asing dengan hal seperti ini, tentu saja langsung ikut mengecek.


" kita diikuti" bisik Ansel, kepada Myria. Mendadak situasi semakin tegang.


" kita pergi sekarang" Ansel menarik lengan Myria. Mereka mendekati mobil.


" bagaimana dengan yang lain?" Myria mencemaskan anggota lain yang terlihat masih mengecek.

__ADS_1


" mereka sudah tau, sepertinya ada yang membocorkan transaksi" Ansel berjalan semakin cepat. membuka pintu mobil untuk Myria dan tak lama menyusul.


" akan ada adu tembak" ucap Ansel, setelahnya menginjak gas cepat.


door


door


door


Myria mendengar jelas suara tembakan mengiringi kepergiannya.


" mau tidak mau, mereka harus di bunuh" saut Ansel.


" siapa?" Myria masih belum mengerti.


" jelas si penjual itu yang membocorkan agendanya" ucap Ansel dengan nada tinggi.


" gawat, mereka mengikuti kita" ucap Myria saat melihat spion tengah.


" sial!," ucap Ansel sambil mempercepat laju mobil.


Aksi kejar-kejaran pun tidak bisa di hindarkan. Ansel mencari jalan tercepat dan teraman. Tapi pihak musuh masih saja bisa menyusul.


" bagaimana?" tanya Ansel lewat alat komunikasi yang menghubungkan dengan mobil satunya.


" kami sudah menghabisi mereka, kini datang kelompok lain. Sejauh ini mereka terus mengikuti kita" balas mereka. Situasi mereka juga tidak jauh berbeda dengannya.


" segera kirim sinyal untuk yang lain" ucap Ansel.


" baik tuan" ucap mereka.


" aku akan coba menghentikan mereka" ucap Myria, dia mengeluarkan pistol nya, membuka kaca mobil dan menembaki mobil musuh yang berada di belakang mereka.


door


door


Myria bersembunyi sejenak, pihak musuh mengeluarkan senjata juga.


door


door door


mobil mereka di hujani tembakan.


brak area belakang mobil di tabrak dengan keras.


Ansel semakin mempercepat laju mobil dengan kecepatan maksimal.


Door


door Myria memberikan tembakan balasan, beruntung kali ini dia mengenai ban mobil. Seketika mobil di belakang mereka langsung oleng dan menabrak pembatas jalan.


" baguss" ucap Ansel dan terus melaju meninggalkan musuh.


" laporkan situasi" ucap Ansel pada alat komunikasi yang terpasang pada mobil.

__ADS_1


" situasi aman, kami menuju PIN" lapor mereka. Ansel bernafas lega, mereka ternyata bisa lolos.


Setelah beberapa jam, Ansel sampai di PIN. lelaki itu masuk ke area parkir.


" gawat!" ucap Myria saat melihat ada Gael yang sudah berdiri di samping mobil lain yang juga baru saja sampai.


" jangan bawa aku" saut Ansel, dia tidak mau mendapat amukan Gael lagi.


Ansel memikirkan mobil tepat di samping Gael.


" kau sengaja?" teriak Myria cepat, pasalnya Ansel malah mendekatkannya pada posisi Gael. Ansel tersenyum jahat sebagai balasan, lelaki itu langsung keluar mendekati Gael. Sepertinya tim lapangan sudah lebih dulu melaporkan kejadian. Karena Ansel hanya berbicara singkat sebelum akhirnya masuk. Semua itu Myria saksikan dengan masih di dalam mobil. Dia tidak berani keluar.


tok tok Gael mengetuk kaca mobil. Terlihat jelas raut emosi milik Gael.


Ceklek


Myria membuka pintu mobil dan turun dengan wajah menunduk.


" ehem, hai" sapa Myria, wanita itu berjalan perlahan melewati Gael.


" kenapa tidak mengabari ku?" tanya Gael menghentikan langkah Myria.


" su..sudah, waktu menelpon mu bukan?" Myria mencoba mengelak dengan mencari-cari alasan.


" tidak ada" jawab Gael tegas.


" ah.. mungkin aku lupa hehehe" balas Myria dengan tertawa canggung.


" kau!" Gael berniat menyeret Myria masuk tapi wanita itu lebih dulu berlari masuk ke PIN. Dia langsung menyelamatkan diri, tidak mau menerima amukan Gael. Myria melewati lorong dengan cepat.


" cepatlah Gael mengejar mu" ucap Myria kepada Ansel yang sudah dia lewati karena berlari. Myria hanya berniat menggoda tapi ternyata.


" kau serius?" tanya Ansel dan dia juga ikut berlari bahkan langkahnya lebih cepat dari Myria. Wanita itu tertawa puas melihat kepanikan Ansel.


" hahahahah" Myria tidak sadar jika dia berhenti dan membuat Gael bisa dengan cepat menyusul.


" puas sekali" ucap Gael tepat di belakangnya.


" akk" teriak Myria kaget. Kini gantian Ansel yang tertawa saat mendengar teriakan Myria.


" Gael, aku. aku minta maaf ya" Myria tak punya pilihan lain selain meminta maaf untuk meredakan kemarahan Gael.


" aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Myria yakin. Dia mengangguk pelan agar Gael mau mempercayainya. Gael terdiam menatap Myria dengan seksama.


" aku terluka?" tanya Gael dengan datar, Myria bahkan tidak menyangka Gael akan sangat menghawatirkan nya.


" tidak" jawab Myria pelan dan setelahnya dia memeluk Gael.


" kau jangan khawatir" lanjut Myria. Gael menghembuskan nafas panjang, Myria bisa merasakan kelegaan yang Gael rasakan.


" aku berniat melihat situasi luar, tidak mengira akan terjadi seperti ini" ucap Myria sambil mendongak menatap Gael dengan wajah menyesal.


" kau tak tau bagaimana paniknya aku saat mendengar kau terlihat di sana" Gael membalas pelukan Myria, lelaki itu mengusap punggung Myria pelan.


" ya, maafkan aku" Myria terus saja meminta maaf, dia sudah membuat Gael panik ketakutan. Gael mengeratkan pelukannya. Dia sangat bersyukur Myria bisa kembali dengan selamat.


Tanpa 2M sadari, ternyata serangan tadi hanya kedok untuk menempelkan alat pelacak pada mobil mereka.

__ADS_1


" dengan begini aku bisa tau lokasi PIN sekarang" ucap lelaki tua itu dengan nada puas.


__ADS_2