Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
71. Sergio Lagi?


__ADS_3

" kalian disini?" Myria keluar kamar karena mendengar suara dari ruang kerja Gael.


" bagaimana lukamu?" tanya Ansel berbasa-basi.


" terus membaik berkat Sonia" jawab Myria tenang kemudian duduk di sofa.


" ah ya kalian sedang membahas lelaki tua itu?" lanjut Myria, membuat Ansel menatap Gael meminta jawaban darimana Myria mengetahui hal ini.


" Myria yang memberikan informasi mengenai lelaki tua itu" Saut Gael memberikan jawaban. Ansel mengangguk pelan.


" kau tau masalah yang dihadapi PIN sekarang?, bagaimana jika kau.."


" tidak Ansel" potong Gael langsung. Lelaki itu mati-mati tidak memberikan jawaban mengenai masalah ini malah Ansel seolah memberikan dukungan.


" iya, aku bersedia membantu, Gael saja yang tidak membolehkan" adu Myria, dia ingin menggaet agar Ansel berada di pihaknya.


" Gael kau kan tau kit..."


" tidak, sekali tidak tetap tidak" ucap Gael final.


Myria dan Ansel saling berpandangan. Mereka sama-sama ingin mengubah pendapat Gael.


" jika aku tau kau memberikan informasi apapun terkait masalah ini pada Myria, aku tidak akan tinggal diam" ancam Gael. Ansel bergidik ngeri pasalnya dia baru memikirkan hal itu dan Gael langsung bisa menebaknya.


" Gael, aku tetap ingin terlibat" Myria merengek.


" sudah ya, kau istirahat saja. Masih banyak hal yang harus aku selesaikan" ucap Gael membuat Myria kembali merajuk.


Setelah berdiskusi, kedua lelaki itu kembali masuk ke ruangan rapat. Mereka dengan wajah datar duduk dan membuat bawahannya merasa sedikit terintimidasi.


" baiklah, apa kalian sudah menetapkan pilihan?" ucap Gael, ruangan menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara.


" kalian tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun jikapun kalian semua pergi. karena yang kita hadapi ini tidak bisa di anggap remeh" Gael melanjutkan ucapannya. Dia menatap dengan serius.


" mungkin kita perlu memberi mereka waktu tambahan" Ansel menyela. Dia melihat semua bawahannya belum siap mengambil keputusan.


" silahkan kalian tulis nama bagi yang keluar dan akan diberikan bayaran bulan ini. Besok paling lambat" Ansel menengahi dia mengajak Gael pergi dari sana. Bawahannya belum siap mengambil keputusan besar dalam hidup mereka.


Gael menyetujuinya, dia pergi sesuai dengan keinginan Ansel.


drrtt drrt

__ADS_1


" kenapa?" tanya Gael


" kami sudah menangkap pelakunya tuan" jawab kuasa hukum mengenai pembunuhan di Mansionnya.


" aku akan segera ke sana" saut Gael dan menutup panggilan.


Gael pergi menuju kantor polisi. Dia sudah memberi pesan kepada Myria terlebih dahulu. Gael juga mengunci kamarnya agar Ansel tak bisa masuk untuk berbincang dengan Myria. takutnya Ansel berniat mempengruhi Myria atau membahas sesuatu yang berkaitan dengan masalah PIN.


" tuan" ucap kedua kuasa hukum Gael.


" dimana?" tanya Gael langsung.


" di sana" mereka berjalan menuju ruang interograsi.


Gael masuk di ruangan pemantauan, dari balik kaca dia bisa melihat beberapa lelaki yang duduk di ruangan.


" itu?" tanya Gael memastikan. Para lelaki yang di sana bukanlah Sergio, pelaku yang sesuai dengan apa yang Myria katakan.


" kenapa bisa mereka?" tanya Gael dengan nada ketus.


" semua jejak sidik jari yang di temukan hanya ada dari 5 orang itu. Kami tidak bisa menemukan satu bukti pun yang mengarah kepada seseorang yang anda maksud" jawab salah satu kuasa hukum sedikit ketakutan.


" apa kepolisian sudah menetapkan mereka atau akan ada proses lagi?" Gael tidak habis pikir, kemungkinan Sergio juga di bantu oleh lelaki tua itu. Jika benar begitu, Sergio tidak bisa dengan mudah di tangkap.


" kali ini jangan sampai lolos, kalau perlu para saksi harus ikut berdalih. aku yakin pasti ada celah" pesan Gael. Lelaki itu ingin Sergio tertangkap, jika tidak lelaki itu pasti akan mencari cara untuk mencelakai Myria.


" baik tuan, kami akan berusaha" ucap kedua lelaki itu. Gael menatap kembali barisan para pelaku dari balik kaca. Semuanya hanyalah anak buah Sergio saja. Kemungkinan mereka akan melindungi tuannya. Membuat Gael berfikir untuk memilih cara lain untuk menghentikan Sergio.


Malam datang Gael baru selesai dari kantor ,beberapa hari ini fokusnya terkuras pada PIN dia sampai menghiraukan masalah kantor. Untung saja para asistennya bisa di andalkan. Meski tidak dalam menjalin kerjasama baru, mereka cukup handal menjalankan rutinitas harian dan bisnis lama. Gael tidak perlu kesusahan melaksanakan tugas harian. membuat tugasnya lebih santai dan dia bisa mengalihkan fokusnya ke PIN dengan tenang.


" anda sudah datang tuan?" tanya Sonia. wanita itu sedang berada di depan kamar Gael.


" tumben kau ada disini?" tanya Gael yang merasa aneh.


" saya tadi berniat mengganti perban Myria, tapi ternyata kamarnya terkunci" jawab Sonia sedikit ketakutan. wanita itu meremas ujung wadah tempat peralatan medis.


" biar aku saja. terimakasih" ucap Gael mengambil peralatan itu.


" ah ya" saut Sonia sambil memberikan wadah nya.


" oh ya Ansel keluar?" tanya Gael lagi, melihat Sonia masih di luar seperti ini bukanlah kebiasaan Ansel.

__ADS_1


" tuan Ansel keluar sejak sore tadi, katanya dia akan memantau transaksi" jawab Sonia sesuai dengan yang dia tau.


" ah begitu, baiklah" balas Gael lalu masuk ke kamar. Dia lupa jika malam ini ada transaksi terakhir. Setelahnya mereka hanya akan fokus dengan misi.


" kau dari mana saja? aku lapar seharian belum makan. Tidak ada yang membantu mandi ataupun mengambil minum" tanya Myria dengan wajah kesal. Dia terkunci hampir seharian, hanya ada makanan instan di dalam lemari es. Wanita itu cukup kelaparan.


" aku juga tidak mengira akan selama ini, maafkan aku. ini aku bawakan makanan untukmu" bala Gael sambil menyiapkan makanan bawaannya.


" bantu aku "


" kau di sana saja, aku yang akan menyuapi mu" Gael memang berniat menebus kelalaiannya.


" bagaimana laporan kepolisian?" tanya Myria di sela aktifitas makannya.


" masih belum selesai, kita tunggu saja" jawab Gael.


Setelah selesai, Gael membawa Myria ke kamar mandi. Dia akan membantu Myria mandi, sejak terkena tembakan Gael seperti memiliki bayi besar. Dia merawat Myria dengan penuh kehati-hatian. Meskipun dia juga sempat kehilangan kontrol saat mabuk kemarin.


" hubungan mu dengan Sonia terlihat cukup dekat. apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Gael sambil membasuh mengelap tubuh Myria menggunakan kain. Myria sedikit salah tingkah, meskipun dia sudah jujur. Tapi mengenai detailnya dia juga tidak mau menjelaskan kepada Gael.


" mungkin Sonia tipe orang yang mudah dekat dan hangat. Sehingga kami terlihat seperti kawan lama" jawab Myria berbohong.


" mungkin saja" balas Gael. Setelahnya dia menggendong Myria dan meletakkannya di atas ranjang.


" aku akan mengganti perbannya" Gael meletakkan pelataran medis di sampingnya. Myria diam saja, dia ingin tau apakah Gael memang bisa merawat luka.


" Tunggu, saat malam itu Sonia menggantikan perban mu di kamar Ansel bukan?" Gael menemukan hal yang tidak wajar. Setelah dia membuka semua perbannya, tubuh bagian atas Myria ternyata terekspos cukup banyak.


" iya tentu saja, Sonia membawaku masuk ke ruang kerja Ansel" jawab Myria datar, dia belum menyadari kecemburuan Gael.


" apa Ansel juga ikut membantumu? membuka perban seperti ini?" Gael terlihat panik, Myria menjadi memikirkan hal lain.


" jawab, apa dia juga ikut menyaksikan tubuhmu seperti ini?" Gael mendesak. Myria dengan tetap diam. Dia tidak bisa menutupi rasa puasnya saat Gael terlihat khawatir seperti ini.


" em. aku lupa" wajah Myria sengaja memancing kepanikan Gael agar lebih besar.


" baiklah aku akan membuat perhitungan pada Ansel" ucap Gael dengan nada serius.


" hahahah, tenang Gael. Saat itu Ansel tidak masuk sama sekali. entahlah kemana dia pergi" jawab Myria sambil menahan ketawa. Gael seperti kebakaran jenggot saat berfikir ada orang lain yang sudah menyaksikan tubuhnya.


" kau tida bohong?" tanya Gael menyelidik.

__ADS_1


" tentu saja, kau bisa menanyakan kepada Ansel" jawab Myria tenang, dia benar-benar tidak berbohong.


__ADS_2