
Mendengar penuturan Gael, lelaki tua itu tidak merespon sama sekali. Jelas ucapannya tadi tidak di hiraukan oleh Gael.
" kau mungkin belum mengenal siapa aku, jadi bisa dengan mudah berbicara seperti itu" lelaki tua itu masih belum menampilkan ekspresi apapun. Gael sendiri tetap tidak mau menghiraukan pilihan yang lawan bicaranya berikan.
" aku tidak perlu mengenal siapa anda tuan. PIN mau sampai kapanpun tidak akan pernah berpindah tangan" jelas Gale penuh penekanan. Dia masih dengan tatapan wajah yang tajam mengarah langsung ke manik lelaki tua.
Tanpa menunggu balasan apapun, Gael beranjak dia berniat pergi. Namun baru satu langkah membalikkan badan, kaki Gael langsung terhenti. Dia melihat bagaimana Ansel tertawan dengan pistol yang bertengger tepat di pelipisnya. Gael melihat sekeliling, hal yang sama juga di alami para bodyguardnya. Tepat di belakang kepala mereka di todongkan pistol.
" anda ingin bermain kotor?" Desis Gael, lelaki itu tidak terima sama sekali dengan perlakuan lelaki tua itu.
" aku kira kau sudah mengerti, aku sangat suka mengontrol orang lain. Apapun akan aku lakukan agar mereka mau menuruti keinginanku, tuan Gael. Sekarang kau tinggal pilih kawanmu atau PIN?" lelaki tua itu sudah menunjukkan taringnya. Gael tidak percaya jika dia bisa senekat ini.
Gael mendekati lelaki tua itu, dia mengeluarkan pistolnya dan langsung mengarahkan ke depan tepat di kepala lelaki tua itu.
" kita bisa akhiri semuanya disini" ucap Gael. Bersamaan dengan itu anak buah lelaki tua yang entah berapa banyak jumlahnya langsung turun dan mengarahkan senjata ke arah Gael.
" hahahahaha" lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memberikan arahan agar tenang kepada anak buahnya yang siap menembak Gael.
" kau tidak takut mati rupanya" ucap lelaki tua itu seolah kagum dengan keberanian Gael. Dia tidak pernah berhadapan dengan orang seperti Gael, Lelaki yang cerdas dan setia kawan. Dan yang lebih langka Gael tidak takut apapun, bahkan saat nyawanya terancam dia lebih memilih ambil resiko untuk tetap membantu lainnya.
" cukup berani" lelaki tua itu menyuruh semua anak buahnya untuk menurunkan senjata, termasuk yang digunakan untuk menyandra kawanan Gael.
" aku tidak suka di perintah, mau siapapun juga. kau lebih baik mencari orang lain. Mau mengancam ku? maka akan aku pastikan selamanya kau tidak akan pernah memiliki PIN" Gael tidak mau tinggal diam, dia harus memberikan peringatan. Baru setelahnya dia pergi dari Gazebo itu. Lelaki tua itu menatap kepergian Gael dengan tatapan datar penuh arti tersembunyi. Jelas sekali Gael udah lancang mengancamnya, namun dia tidak merasa marah. Malah semakin tertarik dengan kepribadian Gael yang seolah mengingatkannya pada seseorang.
" menarik sekali," guman lelaki tua itu.
" brengsek!!!" teriak Gael saat tiba di tempat peristirahatan. Dia merasa sangat marah atas perlakuan yang baru saja terjadi.
__ADS_1
" Gael kita harus melakukan serangan balasan. aku tidak terima dengan ucapan lelaki tua itu" Ansel ikut meradang, dia tidak bisa membayangkan jika dialah yang ada di posisi Gael. Mungkin dia sudah takut duluan dan malah membahayakan semua orang.
" kau tenang saja, ini masih awal. Kita jangan terpancing, aku yakin dia bukan orang sembarangan" Gael mencoba merendam emosinya. Dari gelagatnya lelaki tua itu jelas memiliki posisi yang kuat. Menghadapi arahan pistolnya saja dia tidak goyah.
" tapi Gael, dari ucapannya saja dia berniat meneruskan aksinya. kita harus.."
" sudahlah, kita bahas nanti. lebih baik kita pergi dari sini" usul Gael dan langsung menyadarkan Ansel. Mereka harus mengamankan diri dulu baru menyusun strategi.
" kita kembali sekarang" ucap Gael kepada para bawahannya.
Tanpa menunggu lama rombongan mereka segera meninggalkan Villa, mereka akan langsung terbang sore itu juga.
Didalam pesawat Gael terus memikirkan apa yang baru saja terjadi, semua langkah lelaki tua tadi sangatlah ektrim. Apa mungkin ada sesuatu yang dia miliki.
" Gael aku menemukan nama lelaki tua yang kita hadapi tadi" Ansel menunjukan layarnya kearah Gael. Gael langsung menerimanya.
" Robert Alkondo? semua identitasnya sudah di palsukan. aku yakin dia bukan hanya pemilik ladang apel, Dia jelas pemimpin kelompok mafia tertentu" Gael tak bisa percaya begitu saja, dia mencari data dengan lebih dalam. Lelaki tua itu jelas bukan orang bersih, kepemilikan senjata dengan belasan bodyguard bukanlah hal lumrah bagi pemilik perkebunan apel.
" tunggu, aku akan coba cari" ucap Gael yang fokus dengan layar i pad di tangannya.
Perjalanan mereka selesai, Gael dan Ansel langsung menuju ke PIN. Mereka masih belum juga memiliki titik temu siapa yang berani berhadapan dengan 2M.
Pemandangan PIN saat itu terlihat gelap. Beberapa kali Gael memanggil anggotanya di dalam tidak bisa tersambung. Sistem keamanan PIN juga tidak bisa di jalankan. Tempat ini seperti bangunan terbengkalai.
" sepertinya sudah terjadi sesuatu pada PIN" guman Gael khawatir. Jelas sejak Gael menolak pilihan lelaki tua itu, kehidupan kelompok mereka tidak akan baik-baik saja.
" apa mungkin lelaki tua itu juga" Ansel juga ikut panik. Dia berkali-kali memanggil Sonia lewat handphone nya namun tidak bisa terhubung.
__ADS_1
" jelas sekali" jawab Gael.
Tidak ingin menunggu terlalu lama, Gael dan Ansel pergi lewat pintu khusus yang terhubung di bagian luar kamar Gael. Pintu itu hanya Gael seorang yang tau jalurnya. Memang sengaja di buat seperti itu untuk memudahkan jika terjadi kerusakan seperti ini.
Saat sudah sampai, ternyata di dalam kondisinya juga gelap dan sepi.
" ada orang, Sonia?" teriak Ansel. Dan seketika langkah kaki mendekati mereka.
" tuan Ansel? Bos Gael" semua orang dengan hanya menggunakan lampu hd yang terbatas langsung menuju ke asal suara Ansel.
" apa yang terjadi?" Gael langsung bertanya.
" PIN mengalami masalah, entah tiba-tiba kami mendapatkan serangan dan seketika PIN mati. Kami tidak bisa keluar" jelas salah satu anak buahnya. Gael mengamati sekitar, sepertinya alarm tingkat tingginya sudah terbobol. Sistem akan mati secara otomatis jika serangan sampai pada titik pusat. Meski data kelompok bisa di pastikan aman tersimpan. Namun sistem akan me riset ulang. Ini jauh lebih berbahaya dari serangan manapun.
" sepertinya sistem keamanan langsung memblokade serangan dengan mematikan diri. Kalian jangan khawatir. Apakah ada masalah lain?" jawab Gael dengan nada tenang, dia harus bisa melihat kondisi bawahannya yang terlihat ketakutan dan syok.
" sepertinya nona Sonia terkunci sendirian di dalam kamar. Sejak tadi kita panggil tidak ada sautan" saut salah satu bawahan. Mendengar penuturan bawahannya Ansel segera berjalan menuju kamar nya. Sistem masih rusak jelas tidak akan bisa masuk ataupun keluar. Apalagi kamarnya kedap suara dan berada di ruangan paling tersembunyi, jelas tidak akan ada suara yang bisa di dengar.
" Gael cepat lakukan sesuatu" teriak Ansel yang begitu cemas. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada Sonia.
" kita tidak bisa melakukan apapun, apa kau membawa kunci manual nya?" tanya Gael.
" tunggu, apa bisa menggunakan kunci manual?" Ansel malah balik tanya, ini memberikan pertanda buruk.
" sudahlah kau pasti tidak pernah menggunakannya" Gael berjalan menjauh dari kamar Ansel menuju kamarnya sendiri dan membawa perlengkapan manual PIN.
" kau mau kemana?" Ansel merasa di tinggalkan begitu saja.
__ADS_1
" diamlah" jawab Gael.
" jangan lama-lama" Ansel sangat ketakutan. Dia mencoba menghubungi Sonia namun tetap saja tidak bisa tersambung.