Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
22. Tekad


__ADS_3

Dua bola mata cantik itu mulai bergerak-gerak sedikit demi sedikit, kelopak mata itu terbuka. Aroma obat begitu menyengat di Indra penciumannya. Wanita itu sudah tersadar dari masa kritisnya. Myria langsung merasa kepalanya yang begitu pening, dengan perlahan diangkatnya salah satu tangannya. Dia baru menyadari jika sebuah tali infus terpasang di sana. mata itu menatap sekeliling, semuanya bernuansa putih. Dia menangkap sosok laki-laki yang tertidur di kursi tak jauh dari sana.


Myria mulai mengingat-ingat kejadian sebelum Dia berakhir di sini. jantungnya berdegup kencang dan nafasnya menderu cepat saat mengingat jika terakhir kali. bagaimana dia di kejar dan ayahnya yang tertabrak mobol. Myria bergegas menuruni ranjang, dia ingin segera menemui ayahnya memastikan bagaimana keadaannya. suara berisik akibat ulah Myria mulai mengganggu tidur Gael. Saat membuka matanya, dia melihat istrinya sudah akan menuruni tempat tidur.


" hei kamu mau ke mana?" Gael segera mendekati ranjang dan menghalangi tubuh Myria.


" dimana ayahku? bagaimana keadaannya?" Myria langsung memberondong Gael dengan sejumlah pertanyaan, terlihat sekali jika wanita itu benar-benar cemas.


"tenanglah dulu aku akan menjelaskannya sekarang" jawab Gael lembut. Namun sayangnya Myria tidak mendengarkannya.


Gael menyentuh kedua bahu wanita itu, membuat Myria menatap suaminya.


"Tenanglah dulu aku akan menjelaskan semuanya" ucap Gael sekali lagi dengan tatapan yang begitu tenang. Myria akhirnya menyetujui dia kembali menarik kakinya dan duduk di atas panjang.


"Ayahmu baik-baik saja. Dia sedang mendapatkan perawatan. Kemungkinan besok dia sudah boleh pulang, kau tenang saja ya" ucap Gael dengan lembut, sambil mengusap rambut istrinya pelan.


" lebih baik kau minumlah dulu" rayu Gael dan memberikan segelas air putih. Myria seakan terhipnotis dengan sikap Gael yang lemah lembut itu. Myria dengan tenang menuruti semua perkataan Gael dan meminum.


"tunggu di sini aku akan panggilkan dokter, mengerti?" tanya Gael memberikan pengertian. Myria mengangguk kecil sebagai jawaban.


Gael akhirnya pergi setelah menyelimuti istrinya agar Myria tetap hangat. Myria dengan mudah mempercayai semua perkataan Gael. Lelaki itu menjelaskannya dengan raut wajah yang begitu meyakinkannya. Tak lama Gael datang dengan seorang dokter. Dokter itu memeriksa semua keadaan Myria dari nadi, luka-lukanya semua diperiksa.


" keadaannya nyonya Myria baik-baik saja tidak menunjukkan cidera yang fatal. Saya akan memberikan resep dan anda bisa membawanya ke bagian farmasi" ucap dokter setelah selesai memeriksa.


"Baik terima kasih, anda bisa memberikan resepnya pada anak buah saya di depan kamar" jawab Gael.


" jika ada keluhan silahkan panggil saya. saya pamit dulu" ucap dokter sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka. Gael kembali duduk di samping ranjang. Lelaki itu mengambil salah satu tangan Myria dan menciumnya. Myria tidak terbiasa dengan perlakuan Gael. Wanita itu menatap Gael dengan seksama.


" kau kenapa?" tanya Myria yang merasa sedikit aneh.


" aku tidak apa-apa. Hanya bersyukur aku tidak kehilanganmu" jawab Gael yang menambah keanehan dirinya.

__ADS_1


Mengetahui Myria yang masih menatapnya dengan pandangan bingung, Gael mengelus pipi wanita itu pelan. Gael bisa melibat dengan jelas disana terdapat luka- luka goresan akibat pecahan kaca mobil. Hatinya begitu sakit melihat pemandangan ini. Bagaimana bisa Myria mengalami hal yang begitu berbahaya. Wanita ini terlepas dari pengawasannya begitu saja.


Gael akan berjanji setelah ini akan selalu mengawasi Myria kapanpun dan di manapun. Lelaki itu harus melindungi wanita yang dicintainya. Dirinya seharusnya sadar bahwa dunia hitam yang dia geluti selama ini pasti akan mengancam kehidupan orang-orang yang dia sayang. Selama ini ada seseorang itu tidak ada, dia bisa dengan bebas melakukan apapun. Dia terlalu bisa untuk melindungi dirinya sendiri. Kini situasinya sudah berubah hidupnya sudah tidak untuk dirinya sendiri, sudah ada seseorang itu, sudah ada Myria yang harus bisa dia lindungi. Myria akan menjadi sasaran target musuh-musuhnya. Mau bagaimanapun caranya Gael harus bisa membuat wanita itu aman.


Anak buahnya sudah kembali membawa obat serta makan malam. Myria seharian ini tidak sadarkan diri. malam ini wanita itu akhirnya membuka matanya, dan Gael sangat bersyukur.


Gael menerima makanan dan obat itu dan membawanya menuju meja nakas.


" kau makan dulu ya!" ucap Gael sambil memberikan suapan.


"sebenarnya aku ingin bertemu dengan ayahku dulu apakah boleh?" cicit Myria dengan perasaan ragu-ragu. wanita itu seakan merasa janggal. dia mengingat dengan jelas kondisi ayahnya yang begitu parah. Kenapa Gael mengatakan jika besok ayahnya sudah boleh kembali ke rumah. Wanita itu ingin memastikan sendiri keadaan ayahnya.


"nanti ya setelah kau makan dan minum obatnya" Ucap Gael dengan penuh penekanan. Mengetahui sikap kalian yang berubah dingin. Myria mau tidak mau akhirnya menurut saja, dia tidak dalam kondisi yang baik untuk membantah.


Setelah menyelesaikan makan dan minum obatnya, Gael merapikan tempat tidurnya, menarik selimutnya dan menyuruh wanita itu untuk tidur.


"aku ingin menemui Ayah malam ini" ucap ulang keinginan Myria. Wanita itu masih belum bisa tenang sebelum melihat sendiri bagaimana keadaan ayahnya.


Myria bisa menangkap itu dengan jelas.


Tidak ingin membuat lelaki itu menyadari kecurigaannya. Myria memilih untuk menuruti terlebih dahulu semua keinginan Gael. Myria menutup matanya seolah-olah dia benar-benar akan tertidur, sedangkan Gael melihat Myria yang menurut akhirnya memilih untuk kembali duduk disebelah ranjang.


Di pertengahan malam Myria terbangun, di sampingnya sudah tidak ada Gael. Wanita itu segera melancarkan aksinya. Dia menuruni ranjang dan menggeret tiang infus. Baru saja sampai di depan pintu tiba-tiba-tiba pintu di depannya terbuka. Bukan Gael melainkan Ansel yang Myria lihat. Seketika Myria berjalan mundur hingga menabrak ranjang rumah sakit.


"kau mau ke mana?" tanya Ansel santai. lelaki itu berlalu begitu saja dan berjalan masuk duduk di kursi. Membiarkan Myria yang tegang melihat kedatangannya.


"Aku ingin menemui ayahku" jawab Myria takut. keadaan seperti ini membuat memorinya seakan membawanya pada keadaan di mana laki-laki di depannya ini menyiksa tubuhnya.


"menemui ayahmu untuk apa?" pertanyaan Ansel yang dirasa janggal di mata Myria.


" memastikan jika dia masih hidup atau mati? aku katakan padamu ayahmu itu sudah tidak bernyawa" ucap Ansel dengan gamblang.

__ADS_1


" itu tidak mungkin!" teriak Myria. Nafas wanita itu tiba-tiba tercekat. Dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan, dia tidak bisa menerima kebenaran yang diucapkan oleh Ansel.


" tidak! Kau pasti berbohong.Gael mengatakan jika ayahku baik-baik saja" bantah Myria.


"Gael tidak mungkin mengatakan kebenarannya dengan kondisimu seperti ini. Kau bodoh atau bagaimana?" tanya Ansel dengan senyum mengejekkau. Lelaki itu sama sekali tidak menyaring sedikitpun ucapannya. Dia mengungkapkan semuanya yang Gael sembunyikan dari wanita ini.


" tidak! kau pasti berbohong. Kau pasti ingin melihatku sedihkan?" Myria tetap menolak semua kebenarannya.


" jika kau tidak percaya. Baiklah aku akan mengantarkan mu menuju ruang mayat" ucap Ansel sambil menarik tangan wanita itu.


"tidak, kau sedang berbohong. Kau pasti ingin membawaku ke tempat penyiksaan itu lagi kan?" Semua ucapan Ansel begitu menyakitkan. wanita itu benar-benar merasa jika dirinya sudah tidak memiliki tujuan hidup.


"hahaha" Ansel tertawa sumbang.


"aku memang memiliki keinginan untuk membawamu ke sana lagi, tapi untuk apa? kau sudah begitu tersiksa sekarang. Ayahmu sudah tidak ada lagi. Hal ini cukup membuatku merasa senang" mendengar ucapan Ansel yang begitu menusuk hati, wanita itu mulai percaya jika sudah Gael sudah membohonginya.


"Apa kau orang yang telah membuatku seperti ini?" tanya dengan datanya Myria dengan nada menyelidik.


"jika itu aku maka kaulah yang saat ini sudah berada di ruang mayat" jawab Ansel terus terang.


"Lalu apa kau tau siapa orang yang telah membuatku seperti ini?" tanya Myria kembali.


"mungkin saja, jika Aku ingin menemukannya aku pasti menemukan" jawab Ansel enteng. Lelaki itu sama sekali tidak memperdulikan perasaan wanita yang ada di depannya.


" apa kau bisa membantuku untuk membalas dendam?" tanya Myria dengan yakin.


" apa membantumu? Kau benar-benar wanita bodoh. Mana mungkin aku mau membantu wanita murahan seperti mu" tolak Ansel mentah- mentah.


" aku mohon. tolong bantu aku agar aku bisa membalaskan dendam ku. Aku rela melakukan apa saja asal aku bisa membalas kematian Ayahku" ucap Myria mengiba.


Myria tidak ingin membuat gel dalam bahaya lagi. Cukup dengan dia kehilangan ayahnya. Myria tidak mau kehilangan lelaki yang dicintainya juga. Dia tidak mau Gael yang terlibat dalam pembalasan dendam ini. Dia ingin dengan tangannya sendiri membunuh seseorang yang sudah membuat ayahnya tiada.

__ADS_1


"kau yakin? tidak mungkin Gael membiarkanmu begitu saja. gara-gara kejadian ini dia pasti akan memberikan pelajaran pada semua musuh-musuhnya. dengan begitu mereka dengan mudah mengetahui kelemahan lelaki itu, dan karena hal ini bisa dengan mudah dihancurkan lewat dirimu. kaulah sasaran target semua lawan Gael. kau membuat lelaki itu semakin banyak menghadapi bahaya" Ansel menjelaskan dengan penuh amarah. dia benar- benar menunjukkan rasa bencinya terhadap kehadiran Myria didalam kehidupan Gael.


__ADS_2