
Ruangan menjadi mulai sedikit kondusif, pernyataan menyerang juga lebih sedikit terdengar. hanya tinggal pihak Gael dan Senator saja.
" kami baru saja mendapatkan informasi jika lelaki imigran itu berkaitan dengan kelompok anda, seharusnya kalian tidak merasa tinggi, hal ini tentu akan sangat merugikan kelompok kalian. Jika mau kami bisa mengatasi ini dengan mudah. orang-orang kami tersebar luas dalam jejaring kepolisian" Senator menjelaskan dengan panjang lebar, mereka mulai memainkan perannya dengan baik.
Gael tidak kaget dengan hal ini, mereka bisa melakukan apapun jika ingin. Sebagai senator mereka dengan mudahnya menghilangkan kelompok mafia manapun dengan jejaring kepolisian itu.
" Begini saja, kita sederhanakan semua masalah ini. Apa yang sebenarnya kalian inginkan?. kami bukanlah orang bodoh. Kasus ini terasa sangat janggal, apalagi langsung di lemparkan ke arah kami. Sejak awal berdiri kami tidak pernah menemui hal remeh seperti ini. Jadi jangan buat aku semakin muak dengan keberadaan kalian" Gael akhirnya berterus terang. Mau sampai kapan mereka main kucing-kucingan. Semakin lama senator pasti akan mencari cara lainnya.
Terlihat sekali jika ucapan Gael tidak sepenuhnya keliru, Senator saling pandang dan mereka tidak menyangka akan di hadang dengan pertanyaan gamblang seperti ini. Mereka seolah salah tingkah dan kebingungan.
" atau kalian bisa panggilkan seseorang yang sudah menyuruh kalian selama ini" lanjut Gael yang membuat ketiganya membisu. Ansel melihat bagaimana raut cemas yang para senator tampilkan. Dia merasa apa yang sudah Gael prediksikan memang benar adanya.
" maaf Bos Gael, kami tidak mengerti apa maksud ucapan anda. Apa ini mengartikan jika memang kelompok anda berniat menggulingkan senator?" ucap senator tidak mau mengakui bahkan menanggapi ucapan Gael barusan.
" kurasa kalian memang kumpulan orang bodoh" ucap Gael gamblang. Ansel menyentuh tangan Gael untuk mengingatkan Gael agar tidak terlalu berlebihan. Posisi mereka juga tidak terlalu aman di sini.
" Gael tahan emosimu" bisik Ansel.
" kami rasa kalian tidak mau bekerja sama dengan baik. kami tidak bisa membiarkan tingkah kelompok kalian" Senator mengatakan sesuatu yang semakin tidak di mengerti oleh Gael dan Ansel.
" aku sudah tau jika kalian hanyalah boneka dari salah satu kelompok mafia. Kau pikir aku hanya membual. Ini jelas ada buktinya" Gael mengeluarkan amplop yang sudah dia siapkan sebelum keberangkatan mereka ke Jepang.
Kali ini Senator tampak panik. Di depan ya sudah ada foto mereka sedang dalam pertemuan dengan salah satu kelompok mafia.
" sudah cukup, atau kalian masih mau mengelak?" tanya Gael lagi. ketiganya tidak bisa berkata apapun . Mereka sudah kerangka basah.
Tak berselang lama bunyi handphone seseorang memecah ketegangan di dalam ruangan. Salah satu senator mengangkat panggilan. Gael menatapnya dengan tajam. Seseorang di balik panggilan itu sepertinya adalah tuan mereka. Wajah senator tersebut sangatlah serius atau lebih pada ketakutan. Dia hanya menjawab ya dan tidak, tak ada seorangpun yang tau dan berniat mengganggu percakapan via telpon itu, termasuk Gael dan Ansel.
Setelah cukup singkat panggilan itu akhirnya selesai. Para senator memulai diskusi kecil. Ansel cukup penasaran dengan apa yang akan terjadi, dia tidak menyangka 'pegangan' yang Gael maksudkan akan sangat berdampak pada senator.
" jadi bagaimana? kami tidak memiliki banyak waktu" celoteh Gael mendesak mereka.
" baiklah kalian tunggu saja ,besok kita mulai pertemuan baru dengan seseorang yang Bos Gael maksudkan" jawab Senator. Hampir saja Ansel di buat tidak percaya. Bagaimana bisa Gael menggertak mereka dan langsung berhasil. Dia semakin percaya bahwa Gael sangat bisa di andalkan.
__ADS_1
" jika memang begitu, baiklah. Tapi kami juga tidak bisa menunggu terlalu lama" Gael masih saja bersikap sok. Meski dengan jelas senator mengalah namun tidak juga menarik simpati lelaki itu.
Pertemuan akhirnya di tunda sampai besok hari. Dimana seseorang yang selama ini menggerakkan senator bersedia keluar dari balik layar. ketiga orang senator pergi dari ruangan tersebut.
" semakin hari aku semakin bangga padamu Gael" ucap Ansel sumringah. Dia bahkan memeluk Gael dengan sangat erat.
" belum, masih sangat dini jika kita puas sekarang" saut Gael, ini masalah di awal rencana. Dia sendiri tidak tau orang seperti apa yang akan mereka temui besok.
" setidaknya para Senator itu akhirnya angkat tangan dengan kita" Ansel tidak mau tau, dia sudah puas dengan hanya melihat senator yang menyerah pada mereka.
" kita harus tetap waspada" ucap Gael dan beranjak pergi. Hari semakin malam dan mereka menuju ruang peristirahatan sebelumnya.
Malam ini Gael terlihat terjaga, dia tetap siaga tidak mau hal buruk terjadi saat dia terlelap tidur. Apalagi dengan pilihan senator yang langsung menyerah begitu saja. Membuat Gael merasa jika mereka sudah ada rencana sebelumnya.
Pagi menjelang, Gael sudah sibuk dengan aktifitas olah raga. Lelaki itu bahkan sudah mengelilingi kompleks villa sebanyak 2 kali. kini dia berhenti di tepi kolam sambil menikmati sarapan khusus dari pihak villa.
" pagi sekali kau bangun" sindir Gael saat melihat Ansel turun bergabung dengannya.
" kurasa mereka pintar memilih tempat, disini sangatlah nyaman membuatku langsung betah" jawab Ansel dan langsung mengambil sebuah makanan.
" ingin tau saja bagaimana kondisi disini" jawab Gael singkat.
" ada kejanggalan?" tanya Ansel.
" sejauh ini tidak" Gael langsung menceburkan diri ke kolam. Dia sudah berkeringat dan ingin segera menyegarkan tubuhnya.
" Gael!!" teriak Ansel saat minuman yang ada di tangannya terkena siraman air hasil loncatan Gael.
sedangkan Gael yang tertawa puas.
Menjelang siang, Gael dan Ansel sudah berada di tempat sesuatu dengan arahan anak buah Senator. bukan lagi di ruangan tertutup, malah sebuah gazebo tepi pantai.
Mereka berdua melihat ada 2 orang yang sudah menunggu di sana. Seorang pengawal dan satu tuannya. Gael masih belum bisa menebak siapa sebenarnya lelaki tua itu.
__ADS_1
" selamat pagi tuan Gael dan tuan Ansel" sapa lelaki tua itu sambil mengaduk kopinya. Dia bahkan tidak mau repot dengan melihat wajah kedua tamunya.
" kurasa kita tidak memiliki hubungan baik untuk sekedar jabatan tangan" Gael menimpali dengan ucapan pedas. Lelaki tua itu tersenyum mendengar ucapan Gael yang lugas.
" aku cukup menyukai sikap terbuka mu, tuan Gael" lelaki tua itu melirik sebentar kemudian meminum kopinya.
" jadi anda adalah orang di balik para senator itu?" tanya Gael tanpa basa-basi, lelaki itu langsung menebak sasaran.
" hahahahaha, kau cukup menarik dan pintar, sayangnya tidak semua orang suka dengan kepintaran yang berlebihan seperti yang kau miliki itu, tuan Gael. Kebanyakan dari mereka hanya suka menganggu dan sulit sekali di atur. Kami lebih menyukai seseorang yang penurut dan mudah di kendalikan" ucap lelaki tua itu dengan maksud menyindir.
" Dan orang yang suka mengatur adalah orang yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, bukan begitu tuan" lanjut Gael yang malah membalikkan kata tanpa perlu mendebatnya.
" hahahaha, kau sangat pintar berfikir" lelaki itu tertawa bahkan sampai keluar air mata.
" aku sarankan jika kau ingin mengendalikan seseorang lebih baik carilah yang tidak terlalu bodoh. Itu bisa membuat kehadiranmu sangat mudah di ketahui" Gael tidak berhenti menyindir lelaki tua itu. Ansel hanya bisa melihat saja, dia masih ingat posisinya di sini hanya sebagai asisten Gael.
" kau benar, ternyata mereka tidak cukup pintar menyembunyikan ku" bisik lelaki tua. Jika dilihat sekilas mereka tampak sangat akrab, nyatanya yang keluar dari bibir mereka adalah kalimat saling cerca dan menyindir.
" jadi apa yang membuatmu masih mempertahankan mereka?" Gael menatap dalam ke arah lelaki tua.
" ya, entahlah. Aku masih belum ingin melepaskan mereka saja. Dan masih banyak mafia lain yang percaya dengan peran mereka" jawab lelaki tua itu santai.
" kau yakin? mereka hanya berpura-pura tidak tau saja. kau pikir mafia kumpulan orang-orang bodoh?" Gael sama sekali tidak menyaring sedikitpun kata-katanya. Dia mengatakan sesuatu seenaknya sendiri.
" begitu? Aku kecolongan berarti. Ya mungkin dalam waktu dekat aku bisa berhenti bermain-main" lelaki tua itu tampak serius.
" namun sebelum itu ada hal yang aku inginkan" lanjut Lelaki tua itu sambil menampilkan sorot mata tajam.
" tunduk atau berikan PIN padaku" singkat lelaki tua dengan lugas dan penuh penekanan.
Gael diam dan membalas tatapan itu tidak kalah tajam, bahkan Ansel yang mendengarnya langsung mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa lelaki tua ini mengatakan hal seperti itu dengan santai.
" hahahaha, anda memiliki selera humor yang langka" setelah beberapa detik Gael baru bisa merespon kalimat lelaki tua itu.
__ADS_1
" bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Kami sudah sangat independen. Tidak perlu perhatian lagi untuk berkembang. Kami sangat bisa melakukan apapun yang kami inginkan, anda tidak perlu repot-repot berurusan dengan kami" Lanjut Gael dengan wajah tidak suka.