
“hey” lelaki itu menarik lengannya kasar.
“diam atau mau kubunuh kau disini, dasar ingusan” Gael menghempaskan tangan itu.
Dan berjalan pergi begitu saja.
Tak seperti biasanya dimana lawannya langsung menyerah, tepat di parkiran mobil
Gael dan kawananya di hadang.
“kalian bawa tuan Ansel masuk ke mobil”
Gael menyerahkan Ansel kepada salah satu anak buahnya.
Perkelahianpun di imulai, dan memang sedari awal sudah terlihat siapa pemenangnya. Gael masih membersihkan tangannya dari darah lawannya saat mereka dengan cepat pergi ketakutan.
“kalian sama sekali tidak becus” amuk Gael pada anak buahnya. Hal sepele seperti ini saja harus membuatnya turun tangan, apalagi harus meninggalkan wanitanya.
Setelah mengantar Ansel ke kamar suitenya, Gael kembali.
Didalam Myria sudah tidur diatas sofa. Tak ingin mengganggunya sekarang Gael masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya sebagian terkena noda darah akibat perkelahian harus dibersihkan.
“emmgh” Myria berguman, dia tengah di gendong Gael untuk dipindahkan ke ranjang. Selanjutnya lelski itu tergoda untuk mencicipi bibir lembut wanita itu. Cukup dalam sehingga membuat sang empunya terganggu.
“a.apa yang kau lakukan?” wanita itu kaget, suara Myria sedikit serak khas orang bangun tidur. Wanita itu juga membuat pertahanan tubuh, Gael berada di atasnya tanpa mengenakan pakaian. Jelas saja itu bukan pemandangan biasa.
“kebetulan kau terbangun, kita bisa melanjutkannya” Gael awalnya hanya ingin mencium saja, namun Karena Myria terlanjur bangun, instingnya ikut terbangun.
Dia membungkam Myria kembali, karena belum benar-benar sadar wanita itu tidak memiliki banyak persiapan. Hanya rontaan tangannya yang menjadi tanda atas ketidakmauannya.
“Gael,,hentikan” ucap Myria dengan nafas tersengal. Dia tau kemana tujuan Gael. Dan dia tidak mau melakukannya. Meskipun dia tau mereka barusaja menikah secara paksa.
“tentu tidak” Gael menarik sudut bibirnya. Lelaki itu tentu tidak akan menghentikan aksinya. Dia sudah menahanya sejak lama.
“tunaikan tugasmu” bisik Gael sambil menciumi leher Myria. Kini kedua tangan wanita itu sudah menjadi Sandra. Gael menahannya di samping tubuhnya.
Merasakan hal baru, bukannya terus menolak, kini Myria seakan hanyut dalam rayuan. Alam bawah sadarnya yang seakan mengakui pernikahan itu dan membuat tubuhnya tidak bisa berfikir jernih. Ucapan dan tubuhnya saling bertentangan.
Gael terus menguasai tubuhnya, baju tidurnya sudah terbuka. Dan dia sedikit merasa malu. Dia juga melihat tubuh lelaki yang ada di atasnya.
“menikmatinya huh?” Gael melihat manic Myria yang membola. Ternyata wanitanya juga menikmati ulahnya. Gael membuat tubuhnya meremang.
Kini tubuh mereka sudah tidak ada penghalang. Nafas mereka semakin menderu cepat.
“kita mulai” ucap Gael dengan wajah liciknya. Myria masih saja terdiam, dia juga
terhipnotis denga tubuh Gael yang begitu rupawan. Selama ini memang seperti ini
impiannya. Menikah dengan lelaki dengan tubuh sempurna dan kaya raya.
Gael
semakin bangga dengan tatapan menginginkan dari Myria, lelaki itu memulai
__ADS_1
kembali cumbuannya pada seluruh tubuh Myria.
“t..tunggu.. aa,pa yang.. ini pertama kalinya buatku” Myria langsung tergugup
begitu ada benda asing yang menyentuh intinya.
“sst tenang, aku tau” Gael menghibur Myria. Dia mencoba sehalus mungkin.
Dan
setelahnya Myria seakan merasakan sakit yang sangat di bagian bawah. Dia mencengkaram
seprei. Saat itu juga dia dilanda rasa penyesalan, kenapa bisa tergoda dengan
rayuan Gael.
Namun
setelah beberapa saat, Myria mulai mendapatkan kenikmatan. Belum pernah dalam
hidupnya merasakan kesenangan ini, dia seakan terbang tinggi. Nafasnya langsung
menderu seperti selesai lari marathon. Sebuah pengalaman yang belum pernah dia
dapatkan.
“kita belum selesai” kelopak mata wanita itu sudah hampir tertutup. Seluruh energinya
seakan terkuras habis. Namun saat dia melihat Gael, lelaki itu masih saja
tidak memberikan ampun, lelaki itu hanya lembut pada awalnya. Karena sekarang
Gael benar-benar memuntut Myria untuk bisa memuaskannya malam ini. Meski Myria
sudah terliaht begitu lelah, Gael tidak ingin menyudahi aktifitas panas mereka.
stamina lelaki itu benar-benar terjaga.
Pagi menjelas, kedua manusia itu masih nyenyak dalam tidurnya. Matahari sudah sangat
tinggi dan mereka tidak terganggu sedikitpun. Aktifitas semalam benar-benar
membuat mereka kelelahan, terlebih Myria. Jika bukan karena dia pingsan tidak
mungkin Gael melepaskannya.
Ddrrtt
ddrtt, hp lelaki itu berbunyi sedari tadi,
“eemm” Gael menerima panggilan itu dengan mata masih tertutup.
“kenapa kamarmu terkunci? Pagi ini kita terbang. Cepatlah berberes” ucap Ansel
__ADS_1
di sebrang dengan perasaan dongkol. Sedari tadi tidak bisa dihubungi, dia sudah
menunggu terlalu lama didalam pesawat. Ansel mengira jika Gael sudah ada siap,
nyatanya begitu sampai di lokasi hanya ada dirinya seorang.
“emm” Gael berdehem dan menutup panggilan. Tanpa dia ketahui disebrang sana
Ansel mengumpat sejadi-jadinya. Dia menyesal mengizinkan Gael membawa wanita
murahan itu. Gael yang biasa disiplin malah malas dan tidak tepat waktu.
Dengan
masih polosan Gael masuk kedalam kamar mandi, air hangat membuat kesadarannya
mulau kembali. Setelah rapi, lelaki itu mengambil sebuah jaket panjang se
betis. Dan dengan cepat membungkus butuh Myria. Wanita itu masih belum sadar sejak
semalam.
“lain kali jangan pernah membawanya lagi” Ansel langsung berceramah saat Gael
masuk dengan Myria masih dalam gendongannya. Lelaki itu menuju kamar dan
meletakkan wanita itu di sana.
“dia memiliki pengaruh buruh untukmu, kenapa kau memilihnya dari semua wanita
berkelas yang aku pilihkan” Ansel masih belum selesai dengan acara marahnya.
“berhenti merajuk seperti wanita” Gael duduk di sebrang meja.
“siapa yang merajuk?” pertengkaran mereka tidak akan selesai.
Gael akhirnya diam dan meminta pramugari untuk menyiapkan sarapan untuknya.
“kapan kau akan membuangnya?” Ansel masih saja mempersoalkan kedekatannya dengan
Myria.
“kau ini kenapa? Aku belum ingin membuangnya” Gael sedang menikmati makananya
terus saja di ganggu.
“aku masih ingin balas dendam padanya” rasa bencinya pada Myria sudah sampai di
ubun-ubun, dan semua terhalang karena Gael.
“sudahlah lupakan saja hal itu” Gael akhir menyelesaikan sarapannya.
“kau mau kemana?” begitu Gael beranjak berdiri.
__ADS_1
“tidur, aku masih mengantuk” jawab Gael cuek dan sekali lagi meninggalkan Ansel
yang terus mengumpat di belakangnya. Hari ini Gael sangat menyebalkan baginya.