Jaminan 1 Milyar

Jaminan 1 Milyar
68. Emosi Gael


__ADS_3

" sudah lebih baik?" tanya Gael mengelus pelan punggung Myria. Wanita itu mengangguk lemah.


" hati-hati" ucap Gael.


Myria tidak menyangka Gael akan mengatakan nama itu. Apa mungkin lelaki ini sudah mengetahui hal ini.


" kita lanjutkan makannya" Gael menyuapi namun Myria menolak.


" aku sudah kenyang" ucap Myria, dia sudah tidak memiliki selera makan.


Gael menangkap semua perubahan sikap Myria, lelaki itu semakin curiga. Apalagi dia mengetahui Myria mengambil hp nya tadi.


" baiklah, kau istirahat dulu" Gael membawa makanan keluar kamar. Kali ini dia membawa serta hpnya.


Myria jelas tidak bisa tidur, dia terus merasa khawatir. Pikirannya sibuk kenapa bisa Gael menyebutkan nama lelaki brengsek itu.


Di sisi lain Gael mengecek hp nya, dia bisa tau jika panggilan terakhir adalah kepada Ansel. Hp nya memiliki program khusus agar apapun yang di hapus masih bisa di lihat.


" ini membuktikan semuanya" guman Gael.


" bos, tuan Ansel sudah kembali" ucap bawahannya membuyarkan lamunan Gael.


" ah ya" balas Gael dan pergi ke kamar Ansel.


" bagaimana keadaanmu?" tanya Gael kepada Sonia yang sudah terbaring di ranjang.


" sudah lebih baik. Aku hanya kekurangan oksigen, sistemnya mati bukan?" jawab Sonia, dia masih menutupi kebenarannya.


" ah begitu" jawab Gael, kini menatap Ansel yang sibuk menata makanan.


" kau masih sibuk?" tanya Gael.


" tidak" jawab Ansel, Sonia masih butuh istirahat jadi meninggalkannya sebentar juga tak masalah.


" kita perlu bicara" ucap Gael, dia juga langsung pergi keluar. Ansel tau dimana biasanya Gael mengajaknya berbicara.


Mereka sudah duduk dalam satu meja di ruang rapat. Gael terlihat menyiapkan sesuatu dalam laptopnya.


" apa masalah PIN semakin serius?"tanya Ansel penasaran.


" seperti yang kau lihat" Gael terlihat acuh.


" apa ada hal yang kau sembunyikan dariku?" tanya Gael, dia memberikan kesempatan untuk Ansel mengatakan semuanya.


" hal apa?" tanya Ansel yang masih belum mengerti arah pembicaraan.


" mungkin mengenai Sergio atau Myria yang menghilang beberapa bulan terakhir" Gael menatap dalam kedua manik Ansel. Kini manik itu membola, ternyata Gael sudah merasa curiga akan hal ini.


" si.. siapa?Sergio? Tidak ada" Ansel tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


" ceritakan sekarang atau saat aku mengetahuinya sendiri aku tidak akan memaafkanmu" ancam Gael. sejak awal kedekatan Ansel dan Myria memang sangatlah janggal. Gael ingat betul bagaimana di awal Ansel begitu membenci wanita itu, tapi sekarang seolah mereka menyembunyikan satu rahasia bersama.

__ADS_1


" baiklah jika kau memilih opsi kedua" Gael terlihat tidak memaksa, namun sebenarnya ini adalah taktik agar Ansel membuka mulutnya.


" aku tidak bisa mengatakan semuanya. Yang jelas aku dan Myria selama ini memang saling bekerja sama" Ansel menjawab dengan singkat.


Gael menghembuskan nafas kasar. Jadi benar dugaannya, Myria pergi karena pilihannya sendiri. Dan yang lebih sakit adalah wanita itu memilih Ansel.


" jadi apa yang Sergio katakan adalah benar?" Gael langsung meminta kejelasan.


" memang Seperti itu, " ucap Ansel melemah. Dia hanya menampilkan sikap bersedih agar Gael tidak memarahinya lagi.


" apakah Myria juga ikut terlibat?" Gael semakin emosi.


" iya" jawab Ansel jelas dan padat.


Gael berdiri dari kursinya, dia tidak bisa berlama-lama lagi di dekat Ansel atau dia akan terbawa emosi dan melakukan hal yang buruk padanya.


Gael tidak tau harus kemana. Dia berjalan saja, sampai akhirnya berhenti di depan kamarnya sendiri.


" tak ku sangka, dari semua tempat ini adalah tujuanku" guman Gael sambil tertawa ringan.


Gael masuk ke kamarnya, berdiri di ruangan kerja yang letaknya di samping ruang kamar tidur. Dari tempatnya berdiri, dia melihat Myria yang masih terbaring. Wajah tenang itu malah membuat hatinya kacau. Gael tidak bisa, dia berjalan mundur dan memilih pergi dari PIN.


Ansel menatap kepergian Gael dalam diam. Dia memang berniat menemui Myria namun saat ada sosok Gael di dalam Ansel langsung menyembunyikan dirinya.


" apa yang terjadi padamu?" tanya Ansel setelah Myria terbangun karena ulahnya.


" Sergio membunuh semua orang, dia mengetahui jika aku berada di Mansion Gael" Jawab Myria pelan. tubuhnya masih sangat sakit.


" aku yakin Gael akan mengerti jika dia tau dari mulutmu, bukan orang lain" Ansel terus membujuk Myria untuk menjelaskan masalah Sergio secepatnya. Dia tidak mau Gael berfikir buruk padanya. Kepercayaan Gael tidak boleh berkurang padanya.


" aku akan mengatakannya" jawab Myria pelan, dia juga memang berencana untuk tidak menyembunyikan hal ini terus-menerus. Gael pasti tau cepat atau lambat.


" aku senang mendengarnya, setidaknya masalahnya bisa lebih berkurang" ucap Ansel sambil menatap Myria sambil berdiri di samping pintu.


" saat ini musuh PIN sangatlah berat, ku harap kalian memanfaatkan waktu sebaik mungkin" Ansel bisa mengatakan hal ini juga karena kejadian yang Sonia alami, wanita itu hampir saja tewas.


Myria mendengarnya dengan jelas, wajahnya seakan tidak percaya, membalas tatapan sendu dari Ansel. Myria bisa menilai jika lelaki ini tidak main-main.


Gael akhirnya pergi ke Mansion sambil mengurusi beberapa berkas kepolisian. Ya dia memilih untuk menyerahkan kasus ini pada pihak yang berwajib karena memang banyaknya korban serta bukti adanya tindak kriminal.


" tuan, kami sudah mengurus semua. Tinggal pencarian pelaku" ucap kuasa hukumnya.


" kalian pastikan untuk memasukkan lelaki tersebut" pesan Gael, meskipun tidak banyak bukti yang mengarah ke Sergio, tapi Gael ingin lelaki itu juga ikut dalam daftar tersangka.


" baik tuan" jawab kuasa hukumnya.


Setelah lelah dengan banyaknya kasus Gael memilih menyalurkan semuanya dengan pergi ke Bar. Sudah sangat lama sekali dia tidak mengunjungi tempat penghilang penat ini.


" Bos Gael, kapan anda datang?" ucap salah satu wanita penghibur di sana. Dia langsung duduk dan menuangkan wine.


" bagaimana kabar anda bos?" tanya wanita itu penuh manja. Gael kali ini tidak mengusir namun juga tidak merespon.

__ADS_1


" kau, siapa?" tanya Gael meminum wine nya.


" saya Barbara, apa Bos lupa?" wanita itu sedikit marah namun dengan gaya yang menggoda.


" temani aku Barbara" Gael menarik sudut bibirnya. Tidak pernah sekalipun Gael mengatakan serupa kepada wanita penghibur yang ada disina. Ini adalah pertama kalinya.


" dengan senang hati bos" jawab Barbara dengan wajah puas. Wanita itu tersenyum lebar dan selalu mengambil kesempatan untuk mendekatkan dua bola dadanya pada tubuh Gael. Barbara menggoda lelaki incarannya, mungkin kali ini dia akan mendapatkannya.


Gael terus meminum wine yang Barbara berikan. Tubuhnya terasa semakin ringan dengan di barengi kesadarannya yang mulai menipis.


Kini yang ada di depannya berubah menjadi Myria. Wanita yang sejak tadi memenuhi kepalanya.


" kenapa kau berbohong padaku?" tanya Gael pada Myria. Wanita itu menatapnya dalam diam, menyentuh pipinya lembut.


" jangan berbohong padaku" ucap Gael lemah, dia mendekatkan wajahnya pada Myria. Lelaki itu sangat merindukan Myria, dia ingin memeluk dan menghabiskan malam bersama Myria.


" saya tidak berbohong tuan" bisik Barbara saat Gael mencumbu lehernya.


kalimat itu sedikit menyadarkan Gael jika yang ada di depannya bukanlah Myria.


" Gael!" Ansel datang, dia yang sedari tadi mencemaskan Gael akhirnya menemukannya meskipun dalam keadaan sedang bermain dengan perempuan.


" pergi sana" usir Ansel dan lelaki itu mencoba menyadarkan Gael.


" apa kau minum semuanya?" Ansel kaget saat menyadari di meja sudah ada 2 botol wine yang kosong.


" lebih baik kita pergi" Ansel dengan di bantu bodyguardnya membopong Gael ke dalam mobil dan pergi menuju PIN. Sepanjang jalan hanya nama Myria yang Gael guman kan.


" apa yang terjadi?" tanya Myria saat Ansel dan satu lainnya masuk sambil memapah Gael.


" dia minum terlalu banyak" jawab Ansel, Myria bergeser sedikit. Lukanya sudah lebih baik dan tidak terasa nyeri lagi akibat obat.


" aku pergi" ucap Ansel dan Myria mengangguk kecil. Wanita itu menuruni ranjang sedikit demi sedikit. Hanya tangan kirinya yang bisa bergerak. Dia mengambil kain dan membasahi nya. Myria mengelap wajah dan dada Gael menggunakan itu.


" Myria kenapa kau membohongiku?" rancuan Gael kembali. Myria menarik tangannya dan menjauhi tubuh Gael.


" akk" teriak Myria saat Gael memegang tangan itu erat. Myria merasa khawatir karena kesadaran lelaki itu menipis. Kondisinya tidak memungkinkan untuk berhadapan dengan Gael.


" jangan tinggalkan aku" Gael semakin tidak terkendali. Dia menarik tubuh Myria semakin dekat.


" Gael, sadarlah. akk." ucap Myria sambil menahan sakit karena tindakan Gael sedikit menekan lukanya.


" Myria" panggil Gael dengan suara lemah.


" Gael lepaskan" Myria meronta, wanita itu semakin panik saat tangan Gael satunya memeluk pinggangnya. Tubuhnya bisa dengan mudah di tarik.


" Gael, aakk" teriak Myria, seperti dugaannya Gael dengan mudah merobohkan dan membuat tubuh Myria terbanting di ranjang. Semakin Myria menolak Gael semakin keras memperlakukannya.


srekk.. gaun longgar dengan potongan tali spaghetti dengan mudah di singkirkan oleh Gael.


" Gael, pelan-pelan aku mohon" pinta Myria,Gael masih di ambang kesadarannya. Akhirnya Myria tidak menolak perlakuan Gael. dia tidak mau Gael semakin kasar padanya.

__ADS_1


Tubuh Gael yang besar dengan mudahnya mengungkung dan menimpa tubuh Myria yang kecil. Gael memuaskan amarahnya tanpa tau keadaan Myria. Lelaki itu tidak mau penolakan, emosi yang sejak tadi dia pendam kini dengan mudahnya tersalurkan pada tubuh Myria yang sakit. Meski tidak sampai berjam-jam karena Gael baru saja kehilangan kesadaran terakhirnya. Myria tetap tidak baik- baik saja. tubuhnya yang sedikit pulih kini kembali tak berdaya. Perban putih itu terlihat memiliki warna lain akibat lukanya yang kembali terbuka.


__ADS_2