
Mbak Rini memeluk bahu Jiwo yang nampak terguncang.
Adik lelaki kesayangannya ini tengah sungguh- sungguh menangisi patah hatinya.
Dia memilih tak berbicara sedikitpun. Membiarkan dulu Jiwo melepaskan kesedihannya dengan tangisan yang belum pernah dia lihat sejak adiknya itu beranjak besar.
Pilu.
Mbak Rini mengelus- elus punggung Jiwo cukup lama.
"Harusnya dulu aku nyari dia lebih keras lagi ya,Mbak." kata Jiwo setelh cukup lama dia terdiam dari tangisnya.
Suaranya terdengar penuh sesal dan sangat sedih.
"Kamu udah nggak kurang- kurang usaha buat nyari dia, Wo. Mungkin ini kenyataan yang harus kamu terima. Ikhlaskan, Wo. Setidaknya kamu tahu dia akan menikah dengan orang yang mapan. Doakan saja dia agar selalu bahagia. InsyaAllah doamu akan kembali berbalik padamu. Kamupun akan segera menemukan kebahagiaanmu." kata Mbak Rini lembut mencoba kembali menguatkan.
Jiwo tak mengiyakan ucapan kakaknya itu.
Mana bisa ikhlas secepat ini?
Dia mencintai Witri sejak kecil dulu.
Bahkan sampai sekarang dia nggak pernah menjalin hubungan dengan cewek lain karena dalamnya cintanya untuk Witri.
Bukannya selama ini Jiwo diam tanpa usaha untuk mendekat ke arah Witri.
Flashback on
______________
Di libur cuti tahun pertama dia bekerja dulu dia mencari Witri ke alamat lamanya dan ternyata sudah pindah.
Berdasarkan cerita tetangga sebelah rumah lama Witri, ibu Witri terpaksa menjual rumahnya karena untuk membayar hutang untuk biaya bapaknya Witri yang lama di rumah sakit yang akhirnya meninggal dengan meninggalkan hutang banyak tanpa sepengetahuan ibunya Witri.
Bingung harus mendapatkan uang darimana untuk menutup semuanya, akhirnya menjual rumah jadi solusi yang dipilih.
Sesudahnya, atas keinginan paklik ( paman)nya yang hidup di Jakarta, Witri sekeluarga memilih pulang ke kampung halaman ibunya di Gunungkidul sekalian menjaga mbok tua ( nenek) Witri yang hidup sendirian.
Dua hari Jiwo harus nanya bekas tetangga di kanan kiri bekas rumah Witri untuk tahu alamat pasti dimana alamat jelasnya keluarga Witri.
Setelah mendapatkan apa yang dia harapkan, bermodal sebuah alamat desa di kecamatan Playen, Gunungkidul, Jiwo memantapkan langkah mencari alamat asal ibunya Witri itu.
Perjalanan kesana ternyata sangat tidak mudah.
Sesampainya bis yang ditumpanginya di terminal Wonosari, dia harus mencari bis selanjutnya yang jurusan ke kecamatan Playen. Kemudian dia harus menunggu lagi bis tuyul ( angkot kecil) menuju ke daerah desa yang dituju yang jaraknya masih sekitar 25 kiloan lagi.
Butuh kesabaran tinggi menunggu datangnya bis tuyul itu, karena sehari hanya ada dua kali trayek yang pulang pergi.
Jiwo harus menunggu hampir dua jam untuk bisa menaiki bis tuyul itu.
Sesampai di pinggir jalan desa, berdasarkan informasi seorang petani yang dia temui di pinggir jalan tadi, dia ternyata masih harus berjalan sekitar empat puluh lima menit untuk sampai di alamat yang dituju.
Beruntung di sepanjang langkah kakinya,, Jiwo selalu mendapat teman berjalan, yaitu petani yang memiliki sawah di sekitar situ.
Berganti tiga orang teman berjalan dialami oleh Jiwo di siang yang sangat terik itu.
__ADS_1
Dalam hati Jiwo bertanya apakah Wiri akan betah hidup di lingkungan seperti ini.
Lingkungan yang jauh dari kemudahan sekalipun hanya soal angkutan umum.
Sedih rasanya hati Jiwo. Membuatnya semakin mantap untuk membawa Witri hidup bersamanya sesegera mungkin.
Dalam hati dia berdoa semoga Allah melancarkan rejekinya agar cepat bisa memenuhi janji baktinya pada orangtuanya lebih dulu kemudian sesegera mungkin menikahi Witri.
Berdasarkan petunjuk dari orang yang ditemuinya di ujung jalan tadi, setelah belokan di depan dia akan segera sampai di rumah milik nenek Witri.
Jantung Jiwo berdebar tak karuan membayangkan akan bagaimana kagetnya Witri melihat kedatangannya nanti.
Dengan debaran yang semakin bertalu- talu, Jiwo semakin cepat melangkahkan kakinya agar bisa cepat sampai di rumah yang dituju.
Matanya menelisik ke sekeliling rumah yang kini telah berdiri di depannya.
Bangunan rumah yang sepanjang sisi depannya berupa gebyok
Gebyok adalah penyekat atau dinding kayu pada rumah adat Jawa yang mempunyai ornamen ukiran beragam.
Tak ada orang yang nampak berada di luar rumah.
Beruntung saat sudah menapaki satu undakan menuju pintu rumah, seseorang muncul dari dalam rumah.
Dada Jiwo berdesir menatap wajah wanita paruh baya yang nampak kaget dengan kehadiran seorang pemuda di depan pintu rumahnya.
"Kulonuwun, Bulik." sapa Jiwo hangat memberi salam dengan senyum yang terpasang di wajahnya.
"Monggo.... MasyaaAllah...Ini beneran temennya Witri?" tanya mamaknya Witri masih dengan wajah keheranan dan setelah nampak sejenak berpikir tadi.
Dia masih ingat wajah Jiwo karena tak berubah banyak dari raut muka saat kecil dulu.
Dia mengikuti mamak Witri yang mengajaknya masuk.
"Alhamdulillah sehat. Kamu sekarang kerja dimana? Dulu Witri cerita katanya suratnya nggak pernah kamu balas. Dia jadi mutung ( nyerah, putus asa) nggak mau ngirim surat lagi. Malu katanya." cerita mamak Witri dengan riang.
Oh, rupanya mamaknya pun tahu hubungan mereka.
Jiwo menunduk penuh sesal.
"Memang saya yang salah,Bulik. Waktu itu benar- benar nggak bisa ngirim surat karena saya kerja di hutan. Pernah saya ngirim surat setelah saya bisa, tapi nggak dibalas sama Witri. Saya kira Witri sudah nggak mau komunikasi sama saya lagi." kata Jiwo menjelaskan.
"Mana mungkin dia nggak mau. Dia tiap hari ngomongin kamu dari kecil dulu. Sudah punya pacar pun tetap lebih semangat ngomongin kamu daripada ngomongin pacarnya." sergah mamak Witri membuat hati Jiwo mengembang bak balon udara.
Oh manisnya Jawiku....
"Mungkin suratmu alamatnya masih di rumah lama dan kami sudah pindah kesini ya, Wo." kata mamak Witri kemudian.
Jiwo mengangguk.
Berdasarkan waktu kepindahan keluarga Witri, kemungkinan besar memang surat tidak ada yang menwrim karsn rumah Witri sudah kosong.
Sedang alamat pengirim surat tak pernah Jiwo tulis, makanya surat tak bisa kembali ke alamatnya dan dibiarkan jadi sampah di kantor pos.
Padahal surat itu andai sampai di tangan dua insan itu akan jadi jembatan manis untuk hubungan mereka.
__ADS_1
Sayang, takdir menuliskan lain cerita untuk kisah mereka.
"Lalu Witri nya sekarang dimana, Bulik?" tanya Jiwo tak lagi sabar ke inti niatnya sampai di tempat ini.
"Witri lagi ke Jakarta. Baru berangkat empat hari lalu. Dia di ajak pakliknya. Katanya mau di Carikan kerja disana. Sebelumnya dia kerja di Jogja terus keluar dan memilih pulang. Baru seminggu di rumah pakliknya datang dan dia mau saat di ajak ke Jakarta." terang mamak Witri.
Hati Jiwo langsung mengempis.
Rusak sudah semua khayalannya bertemu Witri.
"Kamu sekarang kerja dimana?" tanya mamak Witri setelah tadi sejenak pamit padanya untuk ke belakang membuat minum.
Kini di depannya ada segelas tinggi teh hangat dan satu teko kecil berisi air putih.
Ada juga ubi jalar goreng dan tahu bacem.
"Seadanya ya, Le. Di pelosok nggak ada jajanan aneh- aneh." kata mamak Witri sambil mempersilahkan Jiwo menikmati suguhannya.
"Maturnuwun, Bulik. Niki mawon sampun cekap sanget. ( Terimakasih, Tante. Ini saja sudah sangat cukup.)." kata Jiwo dengan tersenyum senang kemudian mengambil seiris ubi jalar goreng. Makanan kegemarannya dari dulu.
"Suguhannya pas, Bulik. Ini makanan kegemaran saya." kata Jiwo sambil tersenyum senang sambil mengunyah ubi goreng yang legit itu.
"Alhamdulillah... Rejekimu, Wo. Biasanya cuma dikukus, tapi tadi kok pengen digoreng. Ternyata bakal ada tamu jauh datang." kata mamak Witri sambil tersenyum senang.
Jiwo pamit pulang setelah selesai makan. Dia diminta makan dulu dengan sayur tumis kangkung berlauk tempe mendoan.
Memang seadanya, namun Jiwo sangat senang menikmatinya karena merasa seperti mewakili Witri menikmati masakan mamaknya yang enak itu karena yang dia makan adalah menu kegemarannya Witri.
Ah, semesta seolah mengayunnya dalam kesenangan sesaat.
Sebelum pulang dia tak lupa meninggalkan alamat yang bisa di hubungi Witri kalau suatu hari nanti gadis itu pulang dan ingin berkirim kabar padanya.
Jiwo sangat menanti akan ada surat dari Witri.
Flashback off
______________
Namun tak pernah ada satupun surat datang dari Witri.
Karena itu Jiwo kemudian berpikir apa mungkin Witri sudah tak ingin berkomunikasi dengannya.
Dan Jiwo patah hati saat itu.
Memutuskan berusaha mulai melupakan harapannya pada Witri. Namun tak bisa.
Sungguh tak bisa.
Hingga saat ini.
Dan entah sampai kapan.
Bahkan berita rencana pernikahan Witri pun terasa hanya mimpi baginya.
Jadi mana mungkin dia akan mudah untuk mengikhlaskan kenyataan yang baginya masih seperti mimpi?
__ADS_1
Sebuah mimpi buruk yang menyakitkannya.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...