
Hari POV
Aku terpaksa membatalkan niat sholat magrib berjamaah ke langgar.
Di tengah jalan perutku tiba- tiba mules tak tertahan.
Aku bergegas balik kanan dengan setengah berlari dan langsung menuju kamar mandi yang kebetulan berada di luar rumah.
Dengan melintasi samping rumah tanpa sepengetahuan mertua dan istriku,aku bisa langsung menuju ke kamar kecil dan menunaikan hajat besarku dengan tenang.
Keluar dari kamar mandi aku segera mengambil wudhu dengan maksud untuk sholat magrib di rumah saja karena saat aku di dalam kamar kecil tadi aku dengar lewat speaker langgar sudah mengumandangkan iqomah. Tetap nggak keburu juga ikut jamaah sholat sekalipun aku berlari.
Aku masuk lewat pintu samping rumah yang belum menutup sempurna.
Bisa jadi mamak dan Witri lupa menutup atau memang pintu biasa sengaja dibiarkan begitu sampai nanti malam baru mereka tutup dengan benar. Entahlah. Aku belum mengenal kebiasaan di dalam rumah ini.
Niat awalku yang ingin bergegas masuk ke dalam kamar nampaknya harus ku urungkan sebentar karena aku mendengar Witri dan mamak sedang berbicara serius.
Dengan sedikit menajamkan telinga, aku bisa mendengar jelas percakapan mereka.
"Mamak melihat itu sebagai tanda dari Allah kalau kamu dan Jiwo tidak berjodoh walaupun saling cinta...."
"Mak..."
"Mamak juga kurang setuju kalau kamu sama Jiwo..."
"Kenapa?' potong Witri cepat. Dari nada suaranya aku mengira dia sedang menahan tangisnya.
"Mamak tahu Jiwo anak yang baik. Mamak lihat juga dia serius mencintai kamu. Tapi kamu jangan lupa Wit dengan kondisi keluarganya." kata Mamak pelan.
"Keluarganya memangnya kenapa? Karena keluarganya kekurangan?" tanya Witri dengan nada yang seperti menahan kesal.
"Kita harus realistis, Wit. Mana mungkin mamak tega melepaskan kamu hidup sama Jiwo padahal dia masih harus menanggung kehidupan ibu dan empat adiknya. Berat itu,Wit. Kasihan dia. Kamu juga bisa hidup susah kalau sama dia." kata Mamak menjelaskan alasannya.
Witri kemudian nampak menelungkupkan wajahnya ke atas dua lengannya yang bertumpu di meja.
"Dia gajinya besar, Mak. Aku nggak akan mungkin sampai kelaparan kalau sama dia sekalipun dia harus menghidupi keluarganya." kata Witri. Sepertinya dia sudah mulai menangis.
Mamak nampak bergerak salah tingkah. Mungkin merasa bersalah.
"Kamu layak dapat yang lebih baik dari Jiwo. Dan kamu sekarang sudah mendapatkannya." kata mamak kemudian, sepertinya berusaha menenangkan Witri.
Dan orang yang dimaksud Mamak pastilah aku. Suami Witri.
"Aku masih cinta sama Jiwo, Mak." kata Witri sambil menatap manik mata mamaknya untuk meyakinkan perempuan yang telah membuatnya berada di dunia ini.
"Aku masih nggak tahu harus bagaimana aku menjalani kehidupanku nanti sama Mas Hari. Aku belum bisa menerima dia sepenuhnya." kata Witri sambil terisak.
Hatiku yang sejak tadi mulai cenat- cenut, sekarang terasa mulai perih.
Ternyata aku belum mengisi hatinya sepenuhnya.
Atau bahkan mungkin aku hanya mengisi sesudut saja hatinya.
"Maafkan mamak ya, Wit. Mamak nggak ada niat buruk melakukan semua ini. Mamak hanya ingin kamu hidup tenang dan layak." kata mamak sambil merangkum tangan Witri lembut.
"Aku sedang mati- matian melupakan perasaanku pada Jiwo.Aku sedang meyakinkan diriku sendiri kalau aku hanya bertepuk sebelah tangan mencintainya. Tapi barusan mamak malah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Ternyata benar selama ini kami saling mencintai. Ternyata dia juga menungguku selama ini. Harusnya aku bisa bahagia dengan Jiwo, Mak. Bukannya harus berjuang untuk mencintai laki- laki lain sebagai suamiku." kata Witri dengan terisak- isak.
Mamak nampak menunduk dan ikut terisak.
Hatiku jadi semakin nyeri melihatnya.
Dan aku laki- laki lain itu.
__ADS_1
"Harusnya mamak nggak usah mengatakan soal Jiwo. Harusnya itu biar jadi rahasia saja sampai kapanpun biar aku nggak nambah beban pikiran. Kalau sudah begini aku harus bagaimana, Mak? Aku harus gimana dengan cintaku? Dengan penantian Jiwo? Dengan perasaan mas Hari?" tanya Witri kemudian sesenggukan di atas meja.
Ah hatiku, bagaimana nasibmu kini?
"Lupakan Jiwo ya, Nduk. Kalian nggak berjodoh. Doakan dia mendapatkan jodoh yang baik juga. Kamu teruslah melanjutkan hidup barumu bersama Hari. Cinta akan datang karena terbiasa. Biasakan hatimu hanya mengarah padanya. Bukan ke siapapun lagi. Hanya ke suamimu saja." kata Mamak lembut sambil mengelus- elus lengan Witri.
"Apa bisa, Mak?" tanya Witri dengan suara yang terdengar gamang.
"Bisa! Pasti bisa. Niatkan ibadah, Nduk. Jalani dengan ikhlas. Setiap hal baik yang kamu lakukan untuk suamimu akan menjadi ladang pahala untukmu. Lakukan dengan niat baik dan ikhlas. Mamak akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian." kata mamak sambil tersenyum.
Witri nampak terpaku dan kemudian menunduk.
"Percaya sama suamimu. Dia pasti bisa membuatmu jatuh cinta padanya. Buka selebar- lebarnya hatimu untuk suamimu. Hanya untuk dia saja." kata Mamak lembut yang membuat Witri semakin dalam menunduk.
Aku tak tahan melihatnya.
Aku memilih balik badan dan kembali keluar.
Aku memilih mengarahkan kakiku menuju langgar.
Biar sudah sangat telat, aku akan sholat magrib disana saja.
Lagian tak mungkin aku mengusik pembicaraan rahasia antara Witri dan mamak dengan kehadiranku.
Mereka nanti pasti malu dan merasa tertangkap basah.
Aku nggak tega melakukan itu walaupun ternyata mereka tega bermain rahasia di belakangku.
Berjalan menuju langgar aku mencoba menenangkan gelegak amarah dan sakit hati juga kekecewaan yang masih memenuhi hatiku.
Aku merasa dibohongi dan dikhianati oleh kenyataan.
Tega sekali kamu Witri...
Hatiku rasanya pengap dan sesak.
Ya Allah...di hari pertama pernikahan kami aku sudah tahu bahwa ada nama lain yang masih tersimpan di hati istriku.
Bahkan mungkin lelaki itulah pemilik hati Witri yang sesungguhnya.
Bagaimana ini?
Bagaimana kalau orang tuaku sampai tahu?
Bisa- bisa aku dipaksa menceraikan istriku di hari kedua pernikahanku.
Tidak! Aku tak ingin itu terjadi.
Aku mencintai Witri. Perempuan yang mati- matian kuperjuangkan di depan orangtuaku agar bisa diterima sebagai istriku.
Biarlah rahasia ini jadi rahasia kami saja.
Semoga ada pencerahan untuk apa yang harus aku lakukan nanti demi perjalanan pernikahanku yang bahkan baru saja akan aku mulai jalani. Terlalu dini sekali kalau aku harus mundur apalagi menyerah
"Mas Hari telat juga?" suara Pakde Bejo mengagetkan lamunanku.
Astaga. Aku sudah sampai di samping langgar sambil melamun.
"Inggih Pakde. Telat banget." jawabku malu.
"Ayo bareng. Aku juga telat." kata Pakde Bejo sambil bergegas masuk dan ku ikuti langkahnya memasuki langgar yang mulai agak sepi karena sholat jamaah sudah usai dari tadi.
Alhamdulillah aku masih bisa berjamaah walau hanya berdua dengan Pakde Bejo.
__ADS_1
Aku memutuskan tinggal di langgar saja sambil menunggu adzan isya'.
Kalaupun harus sendiri tak apa.
Aku butuh ruang untuk berfikir jernih. Aku tak mau terbawa emosi dan nantinya akan berakibat fatal.
Tidak.
Aku ingin berpikir dengan tenang dan dewasa.
Menarik ulur hal yang tadi ku dengar, dan mencoba bijaksana menyikapi.
Bagaimana kalau aku ada di posisi Witri.
Apa yang bisa aku lakukan. Apa yang harus aku lakukan.
Aku juga harus interopeksi diri.
Apa yang telah aku lakukan sampai akhirnya Witri 'terpaksa' menikah denganku.
Mungkin aku punya andil besar hingga keadaan tak nyaman ini tercipta.
Aku sudah merasa dari awal aku mendekati Witri kalau dia ingin menghindar dariku.
Bukan hanya dariku saja. Tapi juga dari semua cowok yang berusaha mendekatinya.
Teman- teman ' seperjuangan' ku mendapatkan hati Witri semuanya memilih mundur dengan sikap dingin Witri.
Tapi aku semakin tertantang karenanya.
Aku butuh sosok istri yang cuek dan dingin pada lawan jenisnya seperti itu. Agar aku tenang saat harus meninggalkan dia bertugas dalam waktu lama.
Dia sangat bisa memagari dirinya sendiri agar tak semua laki- laki berani mendekat.
Bila sampai akhirnya Witri mau menerima lamaranku, aku yakin - baru saja aku yakin- pasti ada banyak campur tangan mamak dalam keputusan itu.
Dan Witri mau menerima lamaranku mungkin hanya sekedar untuk menyenangkan hati mamak karena aku tahu dia sangat patuh dan sayang pada mamak.
Kasihan Witri. Dia harus mengorbankan perasaannya sendiri.
"Manten anyar kok malah selonjoran neng kene to, Mas?( pengantin baru kok malah selonjoran disini sih, Mas?)" tanya Pakde Bejo yang menyusul duduk di sampingku.
"Nanggung Pakde kalau mau pulang. Sekalian aja nunggu isya'." jawabku sambil tersenyum.
"Aku temani boleh?" tanya Pakde Bejo.
"Monggo Pakde. Saya malah seneng." jawabku dengan gembira.
Setidaknya sejenak ngobrol ngalor ngidul dengan Pakde Bejo kuharap bisa mengembalikan lagi good mood ku yang berantakan barusan.
Aku nggak mau malam pertamaku sebagai seorang suami diliputi perasaan nggak enak apalagi kesal pada istriku.
Hingga setelah dzikir setelah sholat jama'ah isya' aku memiliki pemikiran baru.
Aku harus percaya Witri sedang berusaha mencintai dan menerima aku dengan sepenuh hatinya.
Dan aku harus membantunya agar dia bisa segera mencintai aku seutuhnya.
Aku tak harus memikirkan cinta masa lalunya.
Biarlah itu jadi rahasia hatinya.
Selama dia mau tetap berada di sampingku,berlaku baik sebagai seorang istri di depan dan di belakangku, aku akan terus mencintai dan menerimanya.
__ADS_1
Aku akan membantunya untuk bisa mencintaiku.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...