JANJI JIWO

JANJI JIWO
Akhirnya...


__ADS_3

Rintihan menahan sakit yang keluar dari sela bibir Witri tersamar oleh kerasnya suara gemuruh langit yang sepertinya tak hendak berhenti mengiringi percintaan mereka siang itu.


Witri tak membiarkan Hari menatap wajahnya kali ini karena dia tak ingin Hari jatuh iba kembali melihat wajah menahan rasa sakitnya.


Hari bernafas lega saat dirasanya akhirnya bisa berada di dalam tubuh istrinya.


"Udah masuk, Jeng?" tanya Hari dalam bisikan setengah tak percaya dari atas tubuh Witri yang kini menatapnya dengan tatapan bingung dan seperti berpikir.


Saat ini dia merasa seperti sedang berada di dunia yang baru. Berada dalam rasa yang baru dia temui pertama kali di sepanjang hidupnya.


"Iya. Udah masuk." jawab Witri setelah menggerakkan sedikit pinggulnya dan merasa sesuatu ada di dalam tubuh bawahnya.


"Alhamdulillah....akhirnya bisa." kata Hari sambil tersenyum penuh haru dan takjub.


Ternyata begini rasanya berada dalam tubuh seorang perempuan. Nikmat sekali.


"Hmmm..." jawab Witri kembali memejamkan mata dan mulai menggerakkan tubuh bawahnya untuk memberi kode pada Hari agar tak lupa posisi mereka.


"Udah aja atau lanjut?" tanya Hari bimbang namun tatapannya tak bisa berbohong kalau dia sangat ingin meneruskan aksi pembobolannya itu. Ingin merasakan rasa nikmat lain yang mungkin bisa tercipta.


"Lanjut aja. Pelan- pelan tapinya." jawab Witri dengan wajah tersipu malu.


"Siap, Sayang." jawab Hari sambil tersenyum kemudian dengan gerakan selembut mungkin memulai lagi pergerakannya.


Dia tak mampu membuka matanya saat merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya seumur hidupnya.


Ini indah sekali. Bahkan mungkin lebih dari indah sekali. Dan semua ini dia dapatkan dari seorang perempuan yang jadi istrinya.


Kalau rasanya seperti ini mana akan ada rasa bosan nantinya?


Ini hadiah paling indah yang pernah dia terima.


Penyatuan itu sangat syahdu dan diluar rencana mereka.


Melakukan penyatuan di siang hari yang dingin dan sangat basah rasanya tak kalah syahdu dengan keindahan di heningnya malam.


Keduanya saling berlomba menyenangkan satu sama lain tanpa perasaan terburu- buru atau terpaksa.


Semua terlewati dengan sangat nyaman dan menyenangkan.


Witri mengerjapkan matanya berulangkali agar berada dalam kesadaran penuhnya saat menerima curahan perasaan terdalam pertama dari suaminya.


Ini harus diingat sedalam- dalamnya.


Nafas memburu yang sedari tadi terdengar saling bersahutan perlahan mereda seiring pencapaian mereka.


Witri meloloskan suara erotisnya sebelum disusul oleh suara berat Hari.


Keduanya masih berusaha mengatur laju nafas yang masih berantakan dengan posisi mereka yang belum berubah.


"Berat,Mas..." cicit Witri saat dirasanya Hari semakin menimpanya.


Hari berguling sambil tersenyum menyembunyikan wajahnya di samping leher Witri.


"Maaf Sayang..." bisik Hari masih memeluk erat tubuh Witri.


"Ternyata enak banget ya rasanya, Jeng..." bisik Hari lagi kemudian menggigit lembut cuping Witri . Spontan Witri mengedikkan bahunya karena sensasi rasa geli di cuping telinganya.


"Mas suka?" tanya Witri sambil mengelus rambut Hari yang masih memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Witri.


"Suka pake banget." jawab Hari kemudian Witri merasakan bibir Hari menempel erat di lehernya kemudian menghisap lehernya sesaat.


"Jangan disitu ngisepnya, Mas." tolak Witri sambil mengedipkan bahunya agar kepala Hari beranjak dari ceruk lehernya.


Malu rasanya kalau bekas cu pang terlihat orang lain.


Witri suka bergidik geli sendiri karena sering melihat stempel cinta di sekeliling leher Mbak Asti, tetangganya yang rumahnya di paling ujung dalam barisan rumahnya ini.

__ADS_1


Entah kenapa otak ngeresnya otomatis membayangkan saat Mas Ridho, suami Mbak Asti membuat stempel itu. Kan ngeres tuh...


Makanya dia nggak mau ada stempel cinta yang terlihat di lehernya. Nggak mau orang lain membayangkan Hari membuat stempel itu. Malu!


"Nggak ada bekasnya kok." kata Hari sedikit bangkit untuk melihat bekas hisapannya barusan sambil mengelus pelan tempat yang dihisapnya tadi.


"Malu kalau keliatan." kata Witri sambil beringsut duduk walau Hari kembali


berbaring.


Witri membiarkan muka Hari nemplok di pahanya yang berlapis selimut.


Matanya sekilas melirik jam dinding di atas pintu kamar. Jam satu kurang lima menit.


"Astagfirullahaladzim!" seru Witri membuat Hari kaget.


"Kenapa?" tanya Hari sambil beranjak duduk.


"Jam satu! Kita harus mandi dulu. Sholat dhuhur lewat, Mas." kata Witri sambil bergerak ke kiri dan kanan tak beraturan mencari semua baju yang tadi dipakainya yang entah berdomisili dimana sekarang.


Hari beringsut sambil tolah- toleh mencari bajunya juga.


Karena kaos tak juga di temukan, Hari menyerah mencari kaosnya dan tak keberatan hanya memakai celana pendek saja.


"Mau mandi bareng?" tawar Hari sambil menatap jahil pada Witri yang baru selesai memakai kaosnya namun tak memakai br*a.


Dua tonjolan bulat kecil di puncak dadanya tercetak di kaosnya.


Hari meringis melihat pemandangan itu.


Miliknya sedikit menggeliat karena mengingat bagaimana rasanya saat menguasai tonjolan itu.


"Gendong." kata Witri sambil mengulurkan kedua tangannya seperti balita yang minta gendong pada bapaknya.


"Kenapa minta gendong?" tanya Hari sambil beranjak mengangkat tubuh Witri dengan tersenyum.


"Yang bener?!" tanya Hari kaget dan wajahnya nampak menyemburatkan penyesalan.


"Turun sini aja " pinta Witri begitu mereka sampai di depan pintu kamar mandi.


Hari menurunkan Witri pelan. Keduanya sebenarnya penasaran dengan rumor rasa sakit buat jalan itu.


Witri melangkah pelan dan meringis merasakan sedikit ngilu di pangkal pahanya.


"Sakit, Jeng?" tanya Hari saat melihat langkah Witri jelek, nggak kayak biasanya.


"Ngilu..." jawab Witri sambil meringis menatap padanya.


"Maaf ya, Jeng..." kata Hari dengan tatapan menyesal.


Witri terkekeh.


Dasar tentara melow...


"Nggak papa. Banyak yang ngerasain kayak gini. Nggak akan lama kok sakitnya. Santai saja." kata Witri sambil tersenyum.


"Ayo mandi bareng." ajak Witri sambil menarik lengan Hari agar ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Ha?!" Hari masih linglung saat dilihatnya Witri sudah menutup pintu kamar mandi dan berjalan tertatih melewatinya.


"Buruan kita bersih- bersih, wudhu, mandi besar. Keburu habis waktu sholatnya." kata Witri dengan tangan yang sudah melepasi semua bajunya dan kembali polos di depannya lalu melakukan ritual yang barusan dia ucapkan.


Hari menelan salivanya kasar melihat pemandangan elok di depan matanya itu.


"Jangan bengong aja, Mas! Buruan. Nggak usah mikir aneh- aneh! " kata Witri sambil menatap tajam pada Hari yang masih membeku di tempatnya berdiri seperti tahu kalau otak Hari sedang berkemas untuk traveling menjelajahi alam erotika.


"Iya." jawab Hari sambil melepas celana pendeknya. Ikut berpolos ria seperti Witri.

__ADS_1


Dalam hati dia nyengir melihat keadaan mereka berdua.


Apakah pasangan lain juga berlaku seperti mereka ini kalau sudah melakukan kerja bakti dengan pasangannya?


Lucu sekali rasanya. Kelakuannya kayak bocah. Nggak ada malunya.


Keduanya bergegas menyelesaikan acara mandi itu walau sebenarnya selama mandi keduanya sesekali saling melirik tubuh polos pasangannya lalu diam- diam menahan senyum malu.


Seusai membereskan peralatan sholat, keduanya saling menatap dengan kikuk.


Witri berulang kali membuang muka saat menemukan Hari tersenyum- senyum nggak jelas padanya.


"Jeng..." panggil Hari setelah keduanya cukup lama hanya saling melempar pandang.


"Apa?" tanya Witri setelah ditunggunya Hari tak juga melanjutkan ucapannya.


"Laparrrr." ucap Hari dengan wajah memelas.


"Kirain apa..." gumam Witri sambil terkekeh.


"Makan yuk!" ajak Witri sambil berjalan pelan keluar kamar.


Hari meringis- ringis seperti menahan sakit saat melihat dari belakang cara berjalan Witri.


"Masih sakit ya buat jalan?" tanya Hari kemudian memegangi bahu Witri.


"Masih." jawab Witri dengan wajah santai.


"Bakal lama sakitnya?" tanya Hari dengan tatapan khawatir.


"Sekitar sebulan." jawab Witri sambil tertawa.


"Hah? Lama amat, Jeng! Nyesel aku bikin kamu kayak gitu." kata Hari resah.


Witri semakin keras tertawa melihat wajah sedih Hari.


"Kenapa barusan dibuat sakit malah ketawa gitu?" sungut Hari kesal.


"Percaya banget dibohongin." kata Witri sambil mengelus dagu Hari.


"Dibohongin apa? Kalau sakitnya sebulan?" tanya Hari setelah sejenak berpikir. Witri mengangguk disela tawanya.


"Kamu tuh. Aku udah merasa bersalah banget barusan." kata Hari sambil merengut.


Tangannya meraih tempe mendoan kemudian mengunyahnya sambil menatap wajah Witri yang nampak semakin cantik hari ini.


Apakah setelah melepas kegadisannya, seorang perempuan memang akan terlihat bertambah cantik?


"Katanya lapar. Dari tadi cuma ngeliatin aku terus. Memangnya bisa bikin kenyang?" ujar Witri sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke depan mulut Hari.


"Haaak!" perintah Witri sambil menggoyangkan sendoknya.


Hari menurut dan membuka mulutnya. Menerima suapan dari istrinya itu dengan perasaan terharu.


Andai sampai saat inipun kamu belum bisa sepenuhnya mencintai aku, aku nggak papa, Jeng. Begini saja aku sudah terima.


Flashback off


**************


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


Dah lunas tentang Witri dan Hari 😅


Besok cerita soal Jiwo lagi 😄


Kalau bingung sama tulisan flashback off karena nggak nemu tulisan flashback on di part ini, memang beneran nggak ada karena flashback on ada di part sebelumnya 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2