
Witri sedikit mengernyitkan dahinya saat di dengarnya lirih suara seseorang mengucapkannya salam dan ketukan di pintu depan. Sapu yang tadi bergerak di genggamannya sengaja dia hentikan untuk meyakinkan pendengarannya.
Sekali lagi dia mendengar salam dan ketukan. Matanya cepat menatap jam dinding, melihat dengan seksama jarum jamnya jalan atau nggak.
Ini masih terlalu pagi untuk bertamu. Dia baru saja selesai sholat subuh dan bisa dipastikan diluar juga masih gelap. Lalu siapa subuh- subuh gini bertamu?
"Siapa?" tanya Mamak sambil menyentuh lengannya dan sukses membuatnya berjengit kaget.
Gelengan Witri berbarengan dengan salam yang sedikit lebih kencang dari luar.
"Itu..." Mamak saling lempar pandang dengan Witri dengan tatapan tak percaya.
"Wa' alaikumsalam..." jawab Mamak sambil bergegas menuju pintu. Witri yang masih nge lag akhirnya ikut maju juga.
"Astagfirullahaladzim....kamu ngapain subuh- subuh kesini?!" tanya Witri kaget saat dilihatnya Jiwo sudah setor muka di depan pintu rumahnya.
Tepukan pelan Mamak di lengannya tak dia hiraukan.
"Maaf kalau nggak sopan. Soalnya sebelum jam enam aku sudah harus berangkat ke bandara. Kalau nggak pamit kayaknya juga nggak enak di hati. Maaf ya..." kata Jiwo sambil meringis malu.
"Nggak papa...Ayo duduk dulu. Mamak bikinkan minum sebentar." sahut Mamak sebelum Witri membuka mulut .
"Nggak usah, Bulik. Maturnuwun...Tapi nggak usah. Saya bener- bener cuma mau pamit aja sama Bulik dan Witri." cegah Jiwo mengurungkan langkah Mamak ke dapur.
"Ya sudah kalau nggak mau minum. Maaf juga nggak bisa menyambut kamu dengan bener. Kamu malah udah pamit pulang aja. Harusnya disini lebih lama biar bisa menjamu kamu." kata Mamak dengan nada penuh sesal.
"Maunya gitu, Bulik. Tapi ternyata ada panggilan mendadak hari ini harus ketemu boss. Kacau semuanya." kata Jiwo sambil nyengir setengah kesal.
"Namanya kerja ikut orang. Ya resikonya kayak gini. Ya nggak papa..." sahut Mamak memaklumi.
Mamak sengaja masuk ke dalam dengan dalih untuk mengangkat rebusan air yang sudah mendidih, sengaja untuk memberi waktu buat Jiwo dan Witri untuk berbincang singkat.
"Walaupun hanya sangat singkat, aku senang akhirnya bisa ketemu kamu lagi. Aku senang sekali." kata Jiwo setelah keduanya sama- sama menunduk untuk beberapa saat karena bingung mau ngomong apa.
Witri hanya menampilkan senyum kecilnya.
"Aku harap setelah aku dari sini, besok- besok kita bisa berkomunikasi lebih intens lagi " kata Jiwo sambil menatap Witri penuh harap walau ada sedikit rasa khawatir juga di tatapannya. Khawatir Witri menolaknya.
Dan tatapan kaget juga pandangan setengah protes tak percaya dari mata Witri padanya, membuat Jiwo salah tingkah kemudian.
"Bukan maksudku kurang ajar apalagi nggak menghargai mas Hari dan masa berkabung mu...bukan seperti itu." jelas Jiwo cepat. Terlihat Witri kemudian menunduk pasrah.
"Aku hanya ingin kamu tahu, aku masih punya rasa dan harapan yang sama seperti dulu." Jiwo berucap sambil menatap lembut ke arah Witri yang masih tertunduk.
"Saat aku berkenalan dengan Mas Hari, aku sudah ikhlaskan perasaanku buat kamu karena aku yakin Mas Hari bisa membahagiakan kamu. Namun sekarang Mas Hari sudah berpulang, aku ingin meneruskan tugas Mas Hari menjagamu. Aku ingin berdiri lagi di depanmu dan aku berharap ada tempat untukku lagi nantinya. Bukan untuk menggantikan tempat Mas Hari di hatimu, tapi sebagai sosok lain yang tak kalah ingin membahagiakan kamu juga." kata Jiwo masih dengan tatapan yang sama.
Witri tetap tak berkata sepatah katapun.
Ya, dia harus berkata apa?
Dia tiba- tiba nggak bisa berpikir saat ini.
Dia kaget dengan ucapan Jiwo barusan. Dia nggak nyangka Jiwo sampai disini dengan membawa misi hati. Misi yang kepagian menurutnya.
Dukanya masih utuh dihatinya. Sangat utuh. Cintanya tak berkurang untuk suaminya, bahkan kini ditambahi oleh tumpukan rindu untuk suaminya yang mulai menyiksanya.
Dan ungkapan hati Jiwo barusan ibarat helaian angin yang lewat begitu saja di atas lukanya, tak menimbulkan rasa apapun, tak meninggalkan kesan apapun.
"Wit..." panggil Jiwo dengan nada khawatir karena Witri nggak memberi reaksi apapun padanya.
"Aku nggak bisa ngomong apapun sama kamu saat ini. Apalagi soal..." Witri tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"I know...Aku nggak ada maksud membuatmu nggak nyaman soal itu. Aku sangat tahu kalau aku sangat kepagian dan terlalu dini ngomongin ini. Aku hanya takut terlambat lagi nantinya." kata Jiwo pelan.
__ADS_1
"Nanti, saat hatimu sudah bisa menerima dan merelakan takdirmu dengan Mas Hari, aku hanya ingin kamu tahu, aku menunggumu di jalan berikutnya. Aku menunggumu." kata Jiwo dengan lembut namun penuh dengan nada meyakinkan. Witri hanya bisa kembali tertunduk.
Kalau boleh jujur, Witri merasa tak nyaman dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh Jiwo, walaupun dia juga mengerti akan alasan Jiwo melakukan ini.
Dia hanya merasa... tengah berkhianat pada Hari.
"Aku mohon maafkan aku kalau aku terlalu lancang ngomongin masalah ini, Wit." kata Jiwo penuh sesal karena Witri tak juga bersuara.
"Ya." jawab Witri sambil mengulas senyum tipis.
Dalam benaknya dia bertanya, apakah Jiwo akan tetap mau bersamanya bila dia tahu saat ini ada anak Hari di rahimnya?
Apa lebih baik dia bilang sekalian saja sekarang? Ya sebaiknya seperti itu biar tak membuang- buang waktu Jiwo.
"A...'
"Aku pamit dulu ya..." kalimat yang ingin Witri ucapkan tenggelam bersama ucapan Jiwo.
"Boleh pamit sama mamak nggak?" tanya Jiwo sambil mengerling.
"Ya. Sebentar." jawab Witri kemudian bergegas masuk untuk memanggil Mamak.
Mengikuti langkah Mamak keluar, benak Witri bergejolak resah. Bukan gelisah karena akan berpisah dengan Jiwo lagi, tapi karena ganjalan di hatinya soal keadaannya saat ini yang belum sempat dia beritahukan pada Jiwo yang mungkin seharusnya dia beritahukan ke Jiwo segera sebagai salah satu pertimbangan lelaki itu dalam keinginannya untuk mendekatinya lagi.
Mungkin lain waktu aku bilang sama dia. Saat perutku sudah keliatan agak membuncit. Sekalian sebagai bukti kalau aku nggak bohong, batin Witri akhirnya memutuskan cepat
"Aku akan nunggu kamu sampai selesai seribu harinya Mas Hari. Aku pastikan padamu, sampai hari itu aku akan sendirian nunggu kamu. Aku janji sama kamu soal ini apapun yang terjadi." kata Jiwo dengan pandangan lurus dan serius menatap wajah Witri yang mengantarkan dirinya sampai di samping mobil
"Seribu hari itu hampir tiga tahun. Kamu yakin?" tanya Witri dengan tatapan tak percaya.
Jiwo mengangguk yakin.
"Aku tahu kamu butuh waktu lama untuk mengendapkan perasaan cintamu untuk almarhum. Aku yakin kamu sudah bisa mencintai Mas Hari. Iya kan?" tanya Jiwo dengan nada tenang. Witri mengangguk pelan tanpa perlu berpikir.
"Karena itu aku harus kembali berjuang agar kamu bisa kembali mencintai aku. Semoga cukup sekali saja aku kehilangan kamu. Takdir kali ini, nggak akan mungkin aku lewatkan lagi." kata Jiwo sambil tersenyum lembut.
Witri hanya mampu tersenyum. Tidak gegabah segera mengangguk untuk mengiyakan harapan Jiwo itu.
"Kita sama- sama berdoa ya...Semoga doa kita dipertemukan di dalam takdir Allah." jawab Witri kemudian.
"Aamiin." sahut Jiwo cepat.
"Aku pamit ya..." kata Jiwo kemudian sambil menatap Witri dalam. Sesungguhnya dia ingin menyentuh Witri bahkan memeluknya. Namun akal sehatnya masih utuh bekerja kalau itu nggak boleh dia lakukan. Ada nama baik Witri yang harus dia jaga.
"Ya. Terimakasih sudah bersusah payah sampai disini." jawab Witri membuyarkan sekilas lamunannya.
Jiwo bergegas masuk ke mobil sebelum akal sehatnya kalah oleh hasratnya.
"Nanti aku kabarin kalau udah sampai bandara." kata Jiwo begitu mobil mulai sedikit bergerak. Witri hanya membalasnya dengan acungan jempol dan lambaian tangan.
Jiwo tahu, Witri sudah tak memiliki cinta untuknya sebesar dulu. Dia mengerti pasti soal itu.
Tak salah sama sekali soal itu karena memang sudah seharusnya cinta seorang istri hanya tercurah untuk suaminya.
Dan wajar bila saat ini cinta Witri masih milik Hari. Apalagi almarhum baru berpulang belum ada sebulan.
Karena itu, mau tidak mau Jiwo harus kembali berjuang menumbuhkan cinta Witri buatnya lagi. Memberi keyakinan pasti pada Witri akan hatinya yang tak berbeda seperti dulu.
Dan Jiwo berjanji sungguh- sungguh dalam hati, kali ini dia harus mendapatkan takdirnya memiliki Witri bagaimanapun keadaannya.
...🍁🍁🍁🍁...
Hari- hari Witri sepulangnya Jiwo kemudian adalah seringnya lelaki itu mengiriminya pesan singkat di jam- jam tertentu. Witri membalas pesan- pesan itu ala kadarnya saja. Toh pesan- pesan itu tidak mengganggu jam- jam sibuknya. Jiwo tahu dengan baik saat- saat yang tepat untuk mengiriminya pesan.
__ADS_1
Hingga di suatu Sabtu malam Jiwo menelpon setelah meminta ijin padanya untuk melakukan VC.
"Aku ditawari kantor untuk penempatan ke Korea Selatan." kata Jiwo tiba- tiba begitu Witri mengangkat VC nya.
Witri sedetik tertegun. Dia kagum dengan pekerjaan Jiwo yang nampak semakin mapan.
"Alhamdulillah dong! Kenapa mukamu sedih gitu?" tanya Witri kemudian.
"Kamu gimana?" tanya Jiwo kemudian dengan sayu.
"Aku? Aku kenapa?" tanya Witri bingung.
"Kita akan semakin jauh berjarak." kata Jiwo sedih. Witri meringis dalam hati.
Jiwo sudah berpikir soal mereka. Sedang Witri masih asik menekuri rasa cinta dan rindunya pada Hari selepas seratus hari kepergian suaminya itu.
"Jangan jadikan aku pemberat langkahmu. Aku bukan siapa- siapamu, Wo." kata Witri akhirnya.
"Kamu nggak mau kuanggap jadi siapa- siapaku?" tanya Jiwo dengan tatapan sedih, juga selarik kecewa. Witri tersenyum salah tingkah dan Jiwo segera menyadari sikapnya.
Masih terlalu dini 'menuntut' Witri untuk menganggap keberadaannya. Bukankah dia sendiri yang berjanji akan menunggu kesempatan untuk dirinya seusai seribu hari kematian suami Witri?
"Maaf...aku...terlalu...mikirin...soal kita." kata Jiwo kemudian. Witri hanya mengangguk mengerti, juga nggak enak hati.
"Menurutmu gimana?" tanya Jiwo kemudian, kembali ke pembahasan awal soal tawaran untuknya.
"Kamu yang lebih tahu medannya. Kalau aku sih cuma team hore- hore aja..." jawab Witri sambil terkekeh kecil. Jiwo memicingkan matanya bingung.
"Aku kan juga bakal seneng kalau suatu hari akan dapat oleh- oleh dari koreyah." kata Witri menjelaskan.
"Kamu nggak sedih kalau aku pergi jauh?" tanya Jiwo sedih.
"Kita kan udah jauh, Wo! Selama masih di atas bumi yang sama, itu belum jauh. Jauh itu kalau kita di bumi yang sama tapi beda letak." kata Witri sedikit sendu.
"Maksudnya?" tanya Jiwo bingung.
"Jauh itu kalau satu di atas tanah, yang satu di dalam tanah." kata Witri sambil tersenyum miris. Jiwo langsung tertegun. Witri sedang ingat suaminya.
"Selama masih sama- sama di atas tanah, jarak sudah bukan alasan untuk merasa jauh. Kita hidup di dunia yang sudah sangat mudah untuk berkomunikasi." kata Witri kemudian.
Witri bisa melihat wajah Jiwo sedikit lega.
"Aku akan lama disana." kata Jiwo kemudian dengan berat.
"Berapa lama?" tanya Witri.
"Kalau pakai cuti setahun sekali pulang, aku akan tiga tahun disana. Kalau nggak pakai pulang, akan dua setengah tahun disana." jawab Jiwo.
"Kamu milih yang mana?" tanya Witri kemudian. Jiwo menggeleng.
"Belum milih. Baru nyari dukungan buat nerima atau nggak dulu. Dan kayaknya aku dapat dukungan buat nerima tawaran itu." jawab Jiwo sambil tersenyum. Witri meringis malu.
"Mumpung masih single, babat habis semua kesempatan, Wo. Mumpung belum ada yang memberatkan langkah." kata Witri memberi semangat.
"Aku akan ambil dua setengah tahun sekalian. Biar saat aku pulang, nggak lama kemudian bisa nanya lagi sama seseorang soal perasaannya padaku." kata Jiwo sambil menatap penuh selidik ke mata Witri yang memilih untuk menghindari interogasi lewat mata itu.
"Maaf ya, Wo...Aku kayak jahat banget sama kamu kalau kayak gini. Padahal kamu nggak perlu seperti ini..."
"Aku yang mau. Aku nggak tahu gimana caranya untuk mendapatkan kamu dengan cara yang baik dan sopan agar tidak mencederai perasaan siapapun. Cuma ini yang bisa aku lakukan. Nunggu kamu merapikan perasaan kamu pada almarhum. Aku akan nunggu, Wit." kata Jiwo kembali meyakinkan Witri.
"Kalau sampai waktu itu aku nggak bisa nerima kamu lagi gimana, Wo? Kamu membuang waktumu dengan sia- sia." kata Witri lirih dan sedih.
"Itu resiko yang siap aku tanggung Wit. Setidaknya aku bermain fair sama kenangan almarhum. Kalau. ternyata nanti almarhum yang memenangkan hatimu, aku nggak akan nyesel menunggumu. Setidaknya aku sudah merasa bersaing dengan fair dan tidak mencederai siapapun. Sekalipun itu kenangan akan almarhum." tukas Jiwo dengan sungguh- sungguh.
__ADS_1
Jangan kira mudah mengucapkan kalimat ini. Jiwo menguatkan hati dan tekad untuk berucap barusan. Karena dia tahu hal yang harus dia utamakan adalah kenyamanan Witri atas keberadaannya.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...