
"Selamat datang di istana kita, Jeng. Semoga akan jadi surga untuk keluarga kita nanti." Hari membuka pintu rumah jatah mereka di asrama, mendahului Witri masuk.
Witri mengikuti langkah Hari memasuki rumah yang mungil bila dibanding rumah mbok tuwo di kampung.
Masih kosong melompong.
Tak ada apapun di dalamnya.
"Maaf ya masih kosong melompong." kata Hari dengan wajah malu.
"Sebentar lagi aku masukin ranjang dan meja kursinya." kata Hari sambil meletakkan tas besar yang di gendongnya.
Dua koper sudah terparkir manis di sudut ruangan.
Witri sendiri langsung melangkahkan kaki memasuki rumah berkamar satu itu.
"Kamarnya satu doang, Jeng. Tapi kalau nanti kita sudah ada anak, kita bisa bikin satu kamar lagi. Masih ada lahan cukup luas di depan dan samping rumah." kata Hari mengikuti langkah Witri yang memasuki kamar yang berukuran 3X3 meter itu.
Anak...kapan itu akan terwujud?
"Aku suka rumah kecil begini." kata Witri santai sambil mengedarkan pandangannya.
Hari tersenyum lega.
Sebenarnya sejak berangkat dari Jawa dia sudah khawatir Witri akan kecewa mendapati jatah rumah mereka di asrama ini.
Jelas jauh lebih kecil dari rumah mereka di kampung.
Dia berpikir Witri pasti akan kaget dan kecewa kalau melihat rumah mungil yang akan mereka tinggali nantinya.
Hari gelisah memikirkan reaksi yang mungkin akan Witri lakukan.
Namun ternyata semua kekuatirannya tak terjadi.
Witri nampak santai dan tak menunjukkan raut kecewa sama sekali
"Assalamu'alaikum...."
Keduanya kompak menoleh ke arah pintu yang masih terbuka.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Witri dan Hari bersamaan.
Di depan pintu nampak dua orang perempuan berjilbab berumur sekitar tiga puluhan dan empat puluhan tersenyum manis pada keduanya.
"Mas Hari dan Mbak Witri ya?" tanya satu perempuan yang lebih tua ramah.
"Betul Bu. Saya Hari dan ini istri saya Witri. Salam kenal." kata Hari sambil menangkupkan tangan di depan dadanya untuk memberi salam, sedangkan Witri dengan senyum ramah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Saya Aisyah. Tinggal di rumah sebelah kiri kalian." kata perempuan yang berumur sekitar empat puluhan.
Witri dan Hari melayangkan pandangan mereka ke rumah di sebelah kiri rumah mereka kemudian mengangguk.
"Saya Lilis, penghuni rumah itu." kata perempuan berumur tiga puluhan sambil mengarahkan ibu jarinya ke belakang tubuhnya.
Witri dan Hari tertawa tertahan sambil mengangguk.
__ADS_1
"Mari silakan masuk, Bu...Kak..."
"Panggil aku teteh aja. Umur kamu lebih muda dari aku." potong Lilis dengan riang.
"Baiklah, Teh Lilis." kata Witri sambil tersenyum.
"Kami mau bicara sebentar sama kalian berdua..." kata Bu Aisyah dengan senyum ramahnya.
"Oh ya...silakan...Kita masuk dulu..."
"Disini saja. Santai saja...lagian kalau kami masuk juga kalian pasti bingung kan mau nyuruh kami duduk dimana?" potong Lilis sambil mengerling tertawa meledek.
"Iya juga sih..." sahut Hari sambil meringis malu.
"Itu pesenan perabot kalian ada di samping rumah. Belum lama datangnya. Nanti biar di bantu si Bapak masukinnya." kata Bu Aisyah sambil menunjuk ke samping rumah yang memang ada tanah kosongnya.
"Oh ya, makasih Bu Aisyah. Mohon maaf belum apa- apa sudah merepotkan." kata Hari tulus.
"Nggak ada merepotkan. Kita jadi saudara disini. Sama- sama jauh dari rumah. Yang dekatlah yang jadi saudara sekarang. Kalian jangan sungkan kalau ada perlu apa- apa. Ketuk pintu manapun di blok ini, pasti akan terbuka untuk membantu." kata Bu Aisyah sambil tersenyum.
Witri langsung suka dengan kelembutan dan kehalusan sikap Bu Aisyah ini.
"Kalau keburu lapar tapi nasi belum mateng, boleh bawa piring kosong ke rumahku. Asal nggak sering- sering, bisalah aku kasih makan." sambung Teh Lilis dengan tertawa.
"Waaaah...siap...siap, Teh. Makasih sebelumnya." sahut Hari gembira.
"Nanti sehabis isya' kita akan adakan syukuran kecil- kecilan di rumah kalian sebagai ucapan selamat datang dan perkenalan kita semua..." kata Bu Aisyah mengagetkan Witri dan Hari.
*Kok kayak yang nembak gini...
"Kalian tenang saja soal konsumsinya. Itu sudah disediakan rame- rame ibu- ibu satu blok. Kalian tinggal nyiapin tempat aja di rumah. Nanti tikar bisa ambil di rumahku sama rumah Bu Deni yang rumahnya sebelah kanan kalian itu. Sudah biasa begini disini,Mbak Witri. Inget, kita satu keluarga disini." kata Bu Aisyah sambil menatap Witri yang tadi nampak kaget,gelisah,dan kini sudah nampak tenang kembali.
"Iya,Bu Aisyah. Terimakasih banyak. Mohon bimbingannya nanti dan seterusnya." kata Witri sambil tersenyum.
"Beres itu mah...Kita saling ajak kalau mau ngapa- ngapain." sahut Teh Lilis dengan riangnya.
"Alhamdulillah kalau begitu." sahut Witri senang.
"Ya udah. Kami permisi dulu. Kalian istirahat dulu. Nanti Bapak pulang setelah jam empat, Mas Hari." kata Bu Aisyah sambil menatap Hari.
"Siap, Bu. Untuk perabotannya nanti sebentar lagi yang bisa- bisa aja saya masukin sendiri dulu." kata Hari sambil tersenyum sopan.
"Ya silakan gimana enaknya aja. Ya sudah, kami permisi dulu ya.Yang betah disini ya,Mbak Witri." kata Bu Aisyah sambil tersenyum hangat.
"InsyaaAllah harus betah, Bu." kata Witri sambil tertawa pelan.
Witri dan Hari kembali memasuki rumah setelah dua orang tamu pertama mereka balik kanan jalan.
"Aku mandi dulu ya...gerah." pamit Hari kemudian bergegas mengambil kaos oblong dan celana pendek dan dalaman yang ada di ranselnya.
Sengaja dia menaruh di ransel bersama handuk dan perlengkapan mandi agar tak perlu membongkar koper dulu.
Begitupun baju ganti Witri yang akan segera dipakai setelah mandi pertama mereka tempat tinggal pertama mereka.
"Sepatu mau di taruh mana, Jeng?" tanya Hari sambil melepas kaos kakinya.
__ADS_1
Witri sejenak berpikir.
"Taruh dekat pintu belakang aja dulu,Mas. Besok aku bikin rak sepatu." jawab Witri sambil ikut menaruh sepatunya yang tadi dia parkir di samping pintu depan.
Witri kembali mengamati rumah mungilnya itu.
Tembok yang saat ini berwarna kuning jelas harus ganti warna. Dia nggak suka warna kuning.
Daun pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu dan mulai kalah oleh air dan terlihat lapuk, lebih baik besok ditambal dengan seng saja setengah ke bawah.
Itu dulu yang pertama harus dilakukan.
Nanti pelan- pelan rumah mungil ini akan dia percantik sesuai keinginannya.
Pakaian kotormu mana, Mas?" tanya Witri karena Hari keluar kamar mandi tak membawa baju kotornya.
"Sorry,aku tinggal di ember di dalam kamar mandi. Sebentar aku ambil dulu." kata Hari cepat kembali melesat ke dalam kamar mandi dan membawa keluar ember berisi pakaian yang tadi dipakainya.
"Lumayan, dapat peninggalan ember di kamar mandi." kata Hari sambil tersenyum.
"Kamu mau mandi?" tanya Hari saat melihat Witri sudah berdiri hendak masuk ke kamar mandi.
"Iya. Aku juga gerah." jawab Witri sambil masuk kedalam kamar mandi.
Bau sabun yang tadi dipakai mandi oleh Hari masih tertinggal di dalam kamar mandi mungil itu. Mungkin ukurannya hanya 1X1,5 meter saja.
Namun kamar mandi itupun dirasa nyaman oleh Witri.
Ada dua kran di dalam kamar mandi itu.
Satu di dekat pintu, satunya di atas ember dekat dengan WC jongkok yang terlihat bersih.
Hmmm, Alhamdulillah mereka dapat rumah yang penghuni sebelumnya nampaknya pencinta kebersihan juga.
"Jeng, aku ke depan dulu nyari minum ya..." pamit Hari dari depan pintu kamar mandi.
"Iya,Mas. Mau jalan kaki?" tanya Witri sedikit ragu.
"Iya. Dekat kok.Lagian kita juga belum ada kendaraan." kata Hari setengah tertawa malu pada daun pintu di depan mukanya.
"Pintu jangan lupa di tutup ya, Mas." pinta Witri mengingatkan
"Iya,Sayang." jawab Hari dengan suara yang terdengar sudah menjauh dari depan pintu kamar mandi.
"Sayang lagi manggilnya..." gumam Witri.
Dan Hari hanya akan tersenyum simpul kalau Witri protes dengan panggilan itu.
"Aku kan sayang kamu, Jeng." atau ucapan itu yang nantinya akan keluar dari mulut manis Hari.
Aku bahkan masih kesulitan untuk mengakui rasa sayangku buatmu, Mas.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
Authornya angin- anginannya kebangetan beneeer.....🙈
__ADS_1