JANJI JIWO

JANJI JIWO
Janji Jiwo


__ADS_3

Jiwo langsung tersenyum saat dilihatnya Wildan melambaikan tangannya sambil bergegas menjemput langkahnya.


Sambil tangan kananya menjabat tangannya, Wildan meraih tas kecil di tangan Jiwo dengan tangan kirinya.


"Katanya Pamungkas yang mau jemput. Kok kamu yang jemput?". tanya Jiwo sambil sedikit menoleh ke arah Wildan.


Anak itu sudah melebihi tingginya sekarang.


"Bocahe di gugah ra tangi- tangi kok. Nganti Mas Ranu kesel.( anaknya di bangunan nggak bangun- bangun kok. Sampai Mas Ranu capek). Untung aku lagi di rumah." kata Wildan dengan wajah kesal.


"Kamu di rumah mau berapa lama?" tanya Jiwo di tengah perjalanan mereka.


Wildan baru saja jadi mahasiswa baru di salah satu universitas negeri di Jakarta. Dia sedang mudik karena libur panjang.


"Ya selama liburan lah,Mas. Balik ke sana besok kalau masuk kuliah kurang dua hari." jawab Wildan santai.


"Disini nyari makan gratis ya?" ledek Jiwo yang disambut kekehan Wildan.


"Semoga liburan depan aku nggak mudik, Mas. Mau ikut- ikutan nyari kerja part time kalau bisa." kata Wildan kemudian.


"Bagus kalau gitu. Kerja apa saja yang penting halal dan nggak boleh mengalahkan waktu kuliahmu. Tujuan utamamu sekarang ke Jakarta kan kuliah dulu." nasehat Jiwo yang disambut acungan jempol kiri Wildan tanda setuju.


"Nanti mampir nasi Padang ya,Mas.Laper aku, dari pagi belum makan." pinta Wildan begitu mereka sudah menyeberang menuju ke arah rumah mereka.


Jiwo hanya menabok pelan bahu Wildan.


"Kamu kalau aku pulang memang sengaja nggak sarapan biar bisa minta jajan nasi Padang ya?" ledek Jiwo sambil bergegas duduk di boncengan Wildan yang meringis malu karena akal bulusnya ketahuan.


"Anggap saja upah ngojek,Mas." kelit Wildan untuk menutup malu.


"Mahal jatuhnya ongkos ojekmu." sahut Jiwo sambil ikut menoleh ke kiri karena motor akan masuk ke jalan raya.


Melintasi Jalan Solo selalu membuat hati Jiwo menghangat.


Apalagi tiap melewati SD nya dulu.Tempat untuk pertama kalinya dia bertemu dan merasakan jatuh cinta pada Witri kecil.


Hhhhhh...dia selalu langsung di sergap rindu lalu kemudian hatinya meringis pilu.


Tak lebih dari sepuluh menit motor yang dikemudikan Wildan sudah memasuki samping teras rumah.


Rencana jajan nasi Padang gagal karena warung yang dituju ternyata tutup hingga besok.


"Jadi beli bakso nggak,Mas?" tanya Wildan begitu Jiwo turun dari boncengan.


Jiwo mendelik menatap adiknya itu.


"Sekalian belum turun dari motor..." kata Wildan sambil terkekeh dan memajukan telapak tangannya yang sudah menengadah.


Jiwo merogoh dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang bakal beli bakso dengan di tabokkan keras ke telapak tangan Wildan.


"Tuku piro,Mas? ( Beli berapa,Mas?)" tanya Wildan sambil menatap uang di tangannya yang jumlahnya cukup banyak.


Bisa dipastikan sisa dari pembayaran pembelian bakso adalah jadi miliknya.


"Itung kepala yang di rumah berapa orang. Ngono w isih takon. Kakean basa- basi uripmu, Dan.( Gitu aja masih nanya.Kebanyakan basa- basi hidupmu, Dan)" jawab Jiwo sambil beranjak masuk sambil menenteng tas kecil yang berisi beberapa lembar pakaiannya.


Di depan pintu ruang tamu dia melihat Ibunya sudah berjalan cepat ke arahnya dari arah dalam.


"Alhamdulillah sudah sampai.Lancar perjalanannya tadi,Wo?" tanya Ibunya sambil menerima salim Jiwo.


"Alhamdulillah lancar, Bu. Sehat to, Bu?" tanya Jiwo sambil merengkuh bahu ibunya agar ikut masuk ke kamar yang ada di bagian depan. Kamar umum yang biasa Jiwo atau Wildan atau Pamungkas tempati kalau sedang mudik ke rumah ibunya.


"Wildan Ki jan...Tegesan ra dibuang ( Wildan nih, puntung rokok nggak dibuang)." gerutu Jiwo saat melihat beberapa puntung rokok bertengger di atas asbak.

__ADS_1


Jiwo yang bukan perokok selalu kesal tiap melihat itu.


Ibunya bergegas meraih asbak di atas meja kecil itu kemudian membuang puntung rokok lewat jendela yang terbuka.


"Ibu belum mateng masaknya. Sebentar lagi ya kalau mau makan." kata Ibunya sambil menatap Jiwo yang sibuk mengeluarkan isi tasnya ke atas kasur.


"Wildan lagi beli bakso. Nanti kita makan bakso dulu. Masakan ibu kita makan buat makan malam aja ya?" kata Jiwo yang disambut anggukan senang ibunya.


Bakso adalah makanan kegemaran ibu. Tapi beliau tak pernah mau jajan bakso kalau tak bersama Jiwo.


Beliau akan makan bakso kalau itu dibeli dari uang Jiwo.


Itu semacam sumpah dari dendam masa lalunya pada kepahitan hidup mereka dulu.


Flashback on


**************


Waktu itu Jiwo masih TK B. Pulang main di suatu sore merengek minta dibelikan bakso seperti teman mainnya tadi.


Bagi kehidupan keluarga mereka kala itu, biarpun banyak yang jual, tapi bakso adalah makanan mewah.


Dengan berat hati dan hati nyeri Ibu menggeleng menolak permintaan Jiwo kecil.


Uang di dompetnya benar- benar hanya cukup untuk membeli beras dan tempe untuk tiga hari ke depan. Sampai bapak Jiwo menerima gaji lagi.


Padahal anak itu tak pernah meminta apapun selama ini. Bahkan uang jajan sekalipun.


Bahkan hingga mau lulus TK saja seragam sekolah untuk Jiwo pun tak sanggup Ibu belikan dan anak itu tak merengek. Tetap mau berangkat sekolah walau tak pernah bisa memakai seragam seperti teman- temannya yang lain.


Dan bila sampai merengek seperti ini, kemungkinan Jiwo sudah amat sangat ingin dan mungkin sudah menahannya selama berbulan- bulan.


"Ibu nggak punya uang ya?" tanya Jiwo dengan wajah pasrah dan sedih. Matanya sudah berkaca- kaca menatap ibunya.


Ibu mengangguk kemudian membawa tubuh Jiwo ke pelukannya.


Dengan memeluk Jiwo, Ibu memberi ruang bagi Jiwo untuk menitikkan airmatanya tanpa terlihat olehnya.


"Bakso mahal ya, Bu?" tanya Jiwo lirih. Jelas terdengar disela isakan tertahannya.


"Nggak mahal. Tapi Ibu saja yang belum punya uang buat beli.Maafkan Ibu ya,Le." jawab Ibu lembut sambil membelai rambut Jiwo.


Jiwo mengangguk kecil di bahu ibunya.


"Besok kalau aku sudah gede dan sudah kerja aku mau beli bakso yang banyak. Ibu mau bakso juga? Besok aku beliin juga." tanya Jiwo masih di belakang kepala ibunya setelah dia mengusap airmatanya.


"Mau...Ibu mau kalau kamu yang beliin, Le. Ibu doakan kelak kamu punya uang banyak biar bisa jajan bakso yang banyak. Biar bisa jajanin Ibu bakso juga.." kata Ibu sambil tersenyum walau sebutir airmata turut luruh bersama ucapannya.


Dan sore itu, masih dalam pelukan Ibunya Jiwo berjanji,kelak bila dia sudah bisa bekerja dan mendapatkan gaji,Ibu adalah orang pertama yang akan dia ajak makan bakso dengan uang gajinya.


Dan janji itu akhirnya bisa terlaksana beberapa belas tahun kemudian.


Waktu itu Jiwo sudah pulang dari PKL nya yang sudah mendapat gaji dan bersama ibunya dia jajan bakso di warung seberang jalan di suatu sore.


Benar- benar sengaja hanya berdua dengan ibunya untuk menunaikan janjinya.


Sedang adik- adiknya dia beri uang jajan agar berangkat jajan sendiri.


Dan baru di sore itu dia bisa melihat ibunya makan sangat tenang namun terlihat lahap menikmati tanpa terlihat menanggung beban pikiran.


Dan saat melihat itu Jiwo kembali berjanji. Ibu adalah orang pertama yang akan dia beri hadiah dari hasil keringatnya.


Dan Jiwo telah mampu memberi Ibunya hadiah sebuah rumah kini.

__ADS_1


Flashback off


**************


"Bu, aku daftarin umroh mau ya?" tawar Jiwo sambil menatap ibunya penuh harap.


Ibunya terpaku menatap Jiwo tak percaya.


"Umroh?" tanya Ibu dengan suara ragu.


Menginjakkan kaki di tanah suci Mekkah memang sudah seharusnya menjadi cita- cita setiap muslim. Namun bagi Ibu Jiwo selama ini hal itu adalah cita- cita yang hanya akan menggantung di awang- awang saja. Tak akan tercapai.


Namun apa yang baru saja Jiwo tawarkan seakan menampar pikiran tentang ketidakmungkinan itu.


"Aku sengaja nabung buat Ibu umrah. Sekarang uangnya sudah cukup untuk ibu berangkat umrah. Mau ya, Bu?" tawar Jiwo lagi.


Ibu hanya mampu terpaku menatap Jiwo. Airmatanya sudah berderai membanjiri pipinya yang sudah mulai dihiasi keriput.


"Kenapa selalu IIbu yang kamu pikirkan sih,Le? Kamu kapan mikir dirimu sendiri?" tanya Ibu sambil melangkah mendekat kemudian menubruk dada Jiwo.


"Ibu sudah cukup kamu bahagiakan.Pikirkan juga diri kamu sendiri. Kamu sudah cukup membantu saudara- saudara kamu. Kamu harus nabung buat diri kamu sendiri.Buat istri dan anak- anakmu nantinya." kata Ibu sambil mengelus lembut lengan anak tercintanya itu.


"Aku juga nabung buat aku sendiri kok,Bu.Tenang saja. Yang penting Ibu selalu doakan aku, doakan anak- anak Ibu lainnya juga supaya kami bisa hidup lebih baik dan bisa selalu nyenengin Ibu." kata Jiwo sambil tersenyum.


"Ibu selalu mendoakan kalian semua. Semoga kalian hidup jauh lebih baik dari sebelumnya." sahut Ibu sambil mengusap airmatanya.


"Jadi mau ya aku daftarin umroh? Mumpung ada temennya kesana." bujuk Jiwo lagi.


"Siapa?" tanya Ibunya penasaran.


"Pakde dan Bude Jiman. Mereka nunggu jawaban Ibu biar bareng daftarnya." kata Jiwo dengan tatapan membujuk.


"Kamu aja, Wo yang berangkat. Ibu nggak tega nyusahin kamu terus. Memakai uang hasil keringatmu terus- terusan. Dulu rumah ini kamu yang beli buat Ibu. Sekarang umroh juga buat Ibu. Uangmu banyak kepakai buat kesenengan Ibu." kata Ibu Jiwo masih berusaha menolak.


"Karena sesungguhnya rejekiku milik ibu juga sampai kapanpun. Tolong terima ini,Bu.Mumpung aku masih sendirian dan masih bisa nyenengin Ibu.Nanti kalau aku sudah punya istri, belum tentu aku bisa begini lagi. Pasti besok Ibu nolak dengan alasan nggak tega sama istriku, sama anakku." desak Jiwo penuh harap.


Ibu Jiwo menunduk bingung.


Pergi umroh tentu saja beliau mau dan tentu saja bahagia bila bisa melaksanakannya. Tapi bila kembali beliau mengingat banyaknya uang yang harus Jiwo keluarkan untuk kebahagiaanya itu, Ibu menggeleng tak tega.


Selama Jiwo menjadi anaknya rasanya tak pernah sekalipun Jiwo beliau bahagiakan.


Anak itu selalu kekurangan dan prihatin.


Namun anaknya itu kini selalu berusaha menghujaninya dengan kebahagiaan.


Ibu malu.


Sebagai orangtua Ibu malu pada anaknya itu.


"Ibu harus berangkat umroh. Nanti disana ibu bisa doakan kami semua agar bisa kesana. Disana ibu bisa mendoakan kami lebih kusyu' agar cepat terkabul. Doa seorang Ibu kan selalu dikabulkan. Doakan kami semua disana. Ya,Bu?" bujuk Jiwo kembali.


Ibu mengangkat pandangannya.


Jiwo tersenyum. Sepertinya bujukannya kali ini akan berhasil.


"Ya. Ibu mau. Ibu ingin mendoakan semua anak- anak ibu di Baitullah." jawab Ibu akhirnya.


"Alhamdulillah..." sahut Jiwo dengan mata berbinar- binar.


"Makasih,Le...Makasih." kata Ibu Jiwo kembali menangis haru.


"Sama- sama, Bu." jawab Jiwo sambil mengelus- elus punggung Ibunya.

__ADS_1


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


Ada yang sampai nangis nggak bacanya? 😅


__ADS_2