JANJI JIWO

JANJI JIWO
Hati Jiwo


__ADS_3

Hei apa kabarmu jauh disana


tiba- tiba teringat kenangan yang pernah kita upayakan


Kupikir aku berhasil melupakanmu


Berani- beraninya kenangan itu datang tersenyum....


Jiwo langsung tersenyum kecil saat mendengar lirik lagu itu.


Apa kabarmu, Wit?


........


Meskipun jalan kita tak bertemu


Tapi tetap indah bagiku


Semoga juga bagimu....


Kau tahu aku merelakanmu


Aku cuma rindu, aku cuma rindu


Tak kan mencoba tuk merebutmu


Aku cuma rindu


Itu saja...


Ya, aku masih sering rindu kamu, Wit...Tapi tak apa. Aku masih bisa mengatasi ini, seperti sebelum- sebelumnya.


.......


Gagal, kali ini gagal bersembunyi


dibalik kata- kata bijak


Yang selalu mampu membuat aku terlihat tangguh


Padahal hancur lebur harapan


yang selalu kupercaya....


..........


( Gagal Bersembunyi - The Rain)


Jiwo menyuap mi godog pesanannya sambil dengan tekun mendengarkan lagu yang terdengar dengan volume pas di telinga - tak terlalu kencang, tak juga terlalu lirih- dari speaker aktif yang bertengger di tembok, tepat di atas meja tempatnya menikmati mi godog seorang diri.


Tak ada pengunjung lain saat ini karena sepasang suami istri yang tadi duduk di belakangnya sudah pergi beberapa waktu lalu.


Malam memang sudah lumayan larut. Hampir jam sebelas malam saat dia keluar dari rumah ibunya tadi.

__ADS_1


Perutnya lapar, namun hanya tinggal sayur yang tersisa di meja makan.


Maka sampailah dia di warung bakmi Jawa ini seorang diri dengan memakai motor adiknya.


"Mudik kapan Mas Jiwo?" tanya Pak Harto, penjual mi godog sambil duduk di bangku dekat gerobagnya, berjarak dua kursi dari tempat duduk Jiwo.


"Kemarin, Pak." jawab Jiwo sambil tersenyum pada penjual yang memang sudah mengenalnya dari perbincangan- perbincangan mereka sebelumnya.


Dari sanalah Pak Harto tahu nama Jiwo, tinggal dimana, dan kerja dimana.


Apalagi tiap mudik Jiwo selalu makan di tempat ini walaupun sekali.


"Besok kalau mudik lagi mungkin Mas Jiwo sudah nggak bakalan ketemu gerobag ini lagi disini." kata Pak Harto sambil tersenyum.


"Mau pindah ke mana, Pak? Besok tetap aku cari." kata Jiwo sambil melebarkan senyumnya.


"Dua minggu lagi mau pindah ke barat pasar,Mas. Bikin warung semi permanen biar bisa dari pagi jualannya." kata Pak Harto sambil tersenyum.


"Bagus itu. Alhamdulillah kalau sudah bisa berkembang." sahut Jiwo dengan suara senang.


Selama ini Pak Harto memang berjualan di depan toko besi. Begitu toko besi tutup di jam lima, Pak Harto baru bisa menggelar dagangannya dengan tiga meja yang tiap mejanya diisi empat kursi.


Hampir sepuluh tahun dia berjualan di lokasi ini.


"Iya, Mas. Alhamdulillah dikasih modal anak. Disewakan lahan kosong di barat pasar sana selama lima belas tahun. Dibuatkan warung semi permanen sekalian. Katanya biar ibunya bisa jualan soto dan lotek tiap pagi sampai sore disana. Nanti dari sore sampai malam giliran bapaknya yang nyari uang." cerita Pak Harto dengan raut bangga dan bahagia yang tak bisa disembunyikan.


""Istrinya jualan juga?" tanya Jiwo dengan tatapan kagum.


Dulu Pak Harto pernah cerita kalau dia kerja di proyek bangunan setiap harinya. Lalu sorenya sepulang dari bekerja dia jualan mie Jawa sampai tengah malam.


"Anaknya kerja dimana, Pak?" tanya Jiwo untuk memperpanjang obrolan.


Mi di atas piringnya sudah tandas.


Mau pulang juga bingung mau ngapain karena semua penghuni rumah sudah tidur sedang dia sendiri belum mengantuk. Nggak ada salahnya ngobrol dengan Pak Harto yang kebetulan nggak sibuk sementara dagangannya juga belum habis.


"Di Bekasi,Mas. Dari lulus sekolah dulu di ajak kakak sepupunya kerja disana. Sudah hampir enam tahun nggak pernah pindah pabrik. Alhamdulillah sekarang sudah punya kedudukan walau cuma supervisor." cerita Pak Harto sambil kembali tersenyum bangga.


"Supervisor juga sudah lumayan banyak gajinya,Pak." kata Jiwo sambil tersenyum.


"Iya katanya. Saya sih nggak pernah tanya berapa gajinya. Malu,Mas. Yang penting dia bisa nabung, bisa buat masa depan dia nantinya, kami sudah sangat senang." sahut Pak Harto lagi.


"Anaknya belum nikah, Pak?" tanya Jiwo lagi.


"Belum. Katanya mikir nikahnya nanti, nunggu adik bungsunya lulus sekolah dulu. Mau nyariin kerjaan dulu buat adiknya itu. InsyaaAllah tahun ini bungsu udah lulus. Jadi paling cepat dia nikah ya tahun depan." jawab Pak Harto kemudian.


Obrolan keduanya berakhir karena ada dua orang pembeli yang membuat Pak Harto harus beranjak dari kursinya.


Setelah membayar makanannya Jiwo dengan santai melajukan motornya menyusuri jalanan yang mulai sedikit lengang.


Sengaja mengambil arah menjauh dari arah pulang.


Dia ingin menyusuri jalan masa kecilnya dulu. Jalan yang setiap dia berangkat sekolah selalu dia lalui dengan jalan beriringan bersama teman- temannya.

__ADS_1


Dia tersenyum kecil saat ingat selalu takut bila bertemu petugas Provost yang sering berjaga untuk memeriksa anggota AU yang memang melewati jalan yang sama.


Kadang ada petugas Provost yang sengaja membuat takut dia dan teman- temannya dengan suara mereka yang terkesan tegas dan galak. Sebenarnya hanya untuk bercanda saja sih.


"Cemennnya..." gumam Jiwo sambil terkekeh pelan saat mengingat dia dan temannya sengaja berjalan menunduk sedalam mungkin dan berjalan secepat mungkin bila melewati dua atau tiga Provost yang berdiri di pinggir jalan agar tak ditegur.


Jiwo menghentikan laju motornya di sebelah tugu dengan puncak berhias burung Garuda.


Terlihat sangat cantik sekarang dengan sorotan lampu spot dari beberapa arah.


Jiwo turun dari motornya saat dilihatnya masih ada beberapa orang duduk- duduk di beberapa kursi di taman kecil yang mengitari tugu.


Dia duduk sendiri di hamparan rumput Manila di samping motornya.


Pandangannya menatap jalan di depannya. Jalan dimana dulu dia dan Witri selalu lewati untuk ke sekolah.


Dia akan selalu berusaha jalan di belakang cewek galak itu. Berjalan dengan jarak lima sampai sepuluh meter. Tak pernah berani berjalan dekat apalagi berdampingan.


"Kapan aku bisa move on, Wit? Kamu udah bahagia sekarang. Aku sudah berusaha ikhlas melepaskan kamu. Tapi kok aku tetap belum bisa juga buka hati untuk cewek lain. Keinget kamu terus." gumam Jiwo sedih.


Matanya kini menatap hamparan langit yang nampak terang dengan taburan bintang.


Pikirannya terbang melayang menuju sebuah wajah perempuan yang tak bisa lagi akan dia ajak melewati masa depan.


Jiwo menghela nafas berat.


Sudah dua kali kepulangannya ini, Ibunya mulai terbuka menyinggung soal calon istrinya.


"Belum ada calon,Bu. Doakan saja." hanya itu yang bisa Jiwo katakan pada ibunya.


"Adikmu kemarin bilang tahun depan pacarnya akan melamar. Masak kamu harus dilangkahi,Wo..." kata Ibu gusar.


"Nggak papa,Bu. Lagian Lily kan cewek. Nggak apa kalau dia sudah mau nikah duluan. Aku akan bantu biaya nikahannya." kata Jiwo kemudian.


"Ibu nggak sedang mengajak kamu membahas biaya nikahannya Lily, Wo. Ibu sedang membicarakan siapa calon istrimu." sahut Ibu dengan wajah agak kesal.


"Belum ada, Ibu...Udah,Ibu tenang aja,doakan jodohku segera di dekatkan dan disatukan sama aku." jawab Jiwo sambil tersenyum malu.


"Mumpung Ibu masih sehat,Wo...masih bisa nemenin kamu melamar anak orang. Ibu pengen lihat kamu menikah. Siapapun dia asal dia sholehah dan patuh padamu, Ibu akan restui." kata Ibu lagi.


"Iya, Bu. Terimakasih sudah membebaskan aku memilih. Semoga secepatnya aku bisa kasih ibu menantu ya." kata Jiwo sambil mengenggam tangan ibunya. Hatinya sendiri kembali gaduh karena gelisah dengan 'PR' besar dari ibunya.


Hingga malam melewati puncaknya dan jam di pergelangan tangan Jiwo menunjukkan waktu nyaris setengah dua malam, Jiwo baru beranjak dari taman tugu itu.


Beranjak pulang melewati jalan Solo yang kian lengang sambil menatap sepotong bulan di atas sana.


Aku sudah merelakanmu bahagia dengan jodohmu, Wit. Aku sedang berusaha mengikhlaskan semuanya.


Tetaplah bahagia disana.


Sampai jumpa dengan skenario yang lain dari Allah buat kita.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...

__ADS_1


__ADS_2