JANJI JIWO

JANJI JIWO
Akan Indah


__ADS_3

Hari menegang. Pelukan lengan Witri di lehernya membuat tubuh keduanya rapat tak berjarak.


Degup jantungnya semakin tak beraturan saat bibirnya tiba- tiba dihampiri bibir Witri. Bibir mereka tengah bersilaturahmi di depan pintu dengan kaku, sekaku kanebo kering.


Tak bergerak sama sekali. Hanya saling menyentuh.


Kamu mimpi apa sih,Jeng?


Hari menjauhkan wajahnya dengan memegangi kedua sisi kepala Witri.


Kedua mata istrinya itu masih terpejam dengan nafas yang masih teratur.


Hari tersenyum kecut. Dugaannya ternyata salah.


Dia sempat mengira Witri menggodanya tadi.


Namun melihat nafas Witri yang masih teratur dan halus, dia mengira Witri hanya tengah bermimpi saja.


Hari kembali tersenyum saat wajah Witri kembali bergerak dan kini mengusik lehernya.


Tubuhnya meremang seketika saat hidung dan bibir lembut Witri menyentuh lehernya dengan gerakan acak. Kadang menekan, kadang halus menyentuh seperti hanya melintasi kulit lehernya. Membuatnya meremang dan perasaan menggelitik menyerangnya.


Apa kayak gini ya rasanya kalau mesra- mesraan sama istri?


Hari terpejam menikmati gerakan mengejutkan Witri itu.


Dia ingin membalasnya saat dirasanya Witri sudah tak bergerak.


Minimal melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Witri barusan.


Menyapa bibir dan leher Witri dengan sedikit lebih akrab tak apa kali ya?


Tapi kalau nanti Witri marah dan merasa dilecehkan gimana?


Nggak gentle banget aku...


Atau aku bangunin aja? Minta ijin...


Tapi kalau nanti dia nolak gimana?


Hari gelisah sendiri sambil menatap wajah Witri yang kini merapat di dadanya.


Tangan Witri memeluk tubuhnya dengan erat.


Begini saja sudah menyenangkan. Apalagi kalau kita bisa melakukan hal yang lebih dari ini.


Melakukan hal yang biasanya dilakukan pasangan suami istri pada umumnya kalau malem- malem.


Hari nyengir malu sendiri dengan pikirannya barusan.


"Jeng...aku boleh cium ini?" bisik Hari malu- malu sambil mengelus pipi Witri dengan buku jari telunjuknya. Kemudian menyentuh bibir Witri dengan ibu jarinya.


Hatinya deg- degan menunggu jawaban Witri padahal dia tahu pasti kalau Witri tengah terlelap nyenyak.


Mana mungkin orang tidur akan menanggapi pertanyaannya kan?


Hari menghela nafas gelisah.


Dia sendiri juga bingung akan bagaimana kalau Witri tiba- tiba menyahut.


Pengecut banget sih kamu, Har...dia kan istri kamu. Hakmu sepenuhnya mau ngapa- ngapain dia. Kenapa juga harus nunggu dia ngijinin? Dia itu sudah jadi milikmu.


Hari kembali menghela nafasnya mendengar satu sisi hatinya.


Ya Allah...akan sampai kapan seperti ini rumah tanggaku? Aku ingin seperti pasangan lainnya. Saling memberi dan menerima satu sama lain dengan sepenuh hati. Hanya itu saja impianku saat ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Witri kecewa bukan main saat aksi 'memancing'nya gagal total.


Hari tak terpancing sama sekali.

__ADS_1


Jangankan beraksi lebih berani, membalas umpannya saja enggak!


Ya Allah malunyaaaaa.....


Baru sekali berperan sebagai penggoda, hasilnya sangat mengecewakan begini.


Dan apa yang dia dengar barusan? Hari minta ijin untuk mencium pipi dan juga bibirnya?


Sopan sekali laki- laki ini, dengus Witri dengan hati sedikit mendongkol.


Segitu ngemongnya Hari padanya membuat Witri jadi gemas sendiri.


Kenapa dia nggak berusaha sedikit merayu atau bahkan sedikit nekad untuk menyentuhnya?


Bagaimanapun dia perempuan, akan senang rasanya kalau dibujuk bahkan sedikit dipaksa karena akan merasa dibutuhkan dan merasa diperjuangkan.


Masak gitu aja nggak ngerti sih?!


Namun tiba- tiba Witri kembali teringat sebuah obrolan saat dia dan beberapa ibu- ibu bloknya berjalan kaki sepulang arisan di rumah Bu Iksan. Pembicaraan ambigu yang ujung- ujungnya ngomongin soal gaya di dalam kamar tidur.


"Kalau saudaraku cerita, suaminya itu terlalu sopan sama dia kalo di ranjang. Mau ngapa- ngapain minta ijin dulu sama istrinya. Saudaraku sampai kadang anjlog moodnya gegara itu. Jadilah selama ini saudaraku yang selalu mimpin permainan." Witri ingat ada yang bercerita seperti itu.


Apa Mas Hari model kayak gitu juga?


Witri meringis dalam hati.


Masak aku sih yang harus memulai dulu? Gimana mulainya?


Tadi aja udah dipancing nggak gerak gitu dia...


Isshhhh...susah amat sih mau begitu aja!!!


Witri tanpa sadar meremas sekuat tenaga kaos di dada Hari.


Dia lupa kalau masih berada dalam pelukan Hari.


"Adudududuh...!" rintih Hari sambil mengenggam tangannya agar berhenti meremas.


"Eh! Ma...maaf,Mas..." kata Witri kaget dan reflek mengangkat wajahnya.


Seketika seluruh tubuhnya meremang karena bulu- bulu halus di dagu Hari mengenai bibirnya.


Aku kenapa rasanya kayak kesetrum ( tersengat listrik) gini? batin Witri bingung dan blingsatan.


Dengan gerakan yang tak terduga, Hari menurunkan sedikit wajahnya hingga bibirnya sudah kembali menyapa bibir Witri.


Witri membeku. Namun gerakan tangan Hari di tengkuknya tak dilawannya hingga bibirnya semakin ketat bertemu dengan bibir Hari.


Witri mengerjapkan matanya dan melihat tatapan memohon di pandangan Hari yang begitu dekat dengannya.


Dan sikap diam Witri sudah dianggap Hari sebagai ijin untuk meneruskan aksi perdananya itu.


Hawa panas seakan begitu saja menyergap sekitarnya saat Witri merasa bibirnya telah dirangkum oleh bibir Hari dengan lebih dalam dan ketat.


Untuk sesaat dia tak membalas, tak juga menolak.


Membiarkan Hari menguasai bibirnya sesuka hati.


Witri sedang menata hati dan mencari kenyamanannya.


Dia juga ingin menikmati ciuman pertamanya ini.


Dan panggilan lirih Hari di depan bibirnya seperti begitu saja menyeretnya untuk masuk ke dalam keindahan sebuah ciuman pertama.


Saat Hari kembali menguasai bibirnya,Witri mencoba menghayati dan menikmatinya rasanya.


Indah dan melegakan. Namun membuat merasa selalu ingin lagi dan lagi. Itu yang tengah Witri rasakan saat ini.


Dia tak ingin melepaskan tautan bibir mereka cepat- cepat.


Saat dirasanya Hari akan melepaskan bibirnya, Witri ganti menahan bibir suaminya.

__ADS_1


Jangan lepaskan dulu.


Sebentar lagi.


Lagi.


Tunggu, aku masih ingin.


Aku masih mau.


Hingga saat udara di rongga dada terasa tak ada lagi, barulah ciuman panjang itu terurai dengan menyisakan helaan nafas panjang dan tersengal keduanya.


Dahi keduanya kini saling bertemu namun Witri malu mengangkat pandangannya.


Dia merasa mata Hari tengah menatapnya dengan sangat intens.


"Suka?" tanya Hari berbisik sambil mengelus bibir Witri dengan ibu jarinya dengan lembut dan berulang kali.


Witri baru merasakan bibirnya terasa kebas dan lebih tebal kini. Seperti habis digigit semut.


Witri mengangguk samar dengan wajah yang terasa menghangat.


Untung saja lampu kamar mati dan mereka hanya dapat cahaya lampu di luar yang masuk di kisi- kisi jendela, jadi wajah malu Witri tak terlalu terlihat.


Hari tersenyum senang merasakan anggukan pelan kepala Witri yang masih dalam kekuasaan kedua telapak tangannya.


"Mau lagi?" tanya Hari seperti sebuah penawaran.


"Ha?" belum lagi Witri mengangkat pandangannya, bibir Hari sudah kembali menyentuh bibirnya.


Kali ini terasa lebih lembut, lebih terarah, namun terasa lebih menuntut dan kian dalam.


Witri semakin hanyut dalam buaian ciuman dan elusan lembut telapak tangan Hari di tengkuk dan kadang turun ke punggungnya.


Jemari Witri yang sedari tadi hanya me re mas- re mas kaos Hari di bagian dada, kini merayap pelan menuju punggung Hari kemudian meremas pelan, berangsur kemudian menekan punggung yang terasa liat itu dengan ujung- ujung jarinya.


Dan saat ciuman semakin terasa dalam dan menuntut, tekanan jemari Witri bergerak resah menjelajahi punggung Hari.


De sa han pertama lolos dari sela bibir Witri saat ciuman Hari terlepas dari bibirnya dan turun ke arah dagunya.


Hari menciumi dagunya dengan diselingi melakukan gigitan- gigitan kecil dengan bibirnya yang semakin membuat gelenyar- gelenyar aneh kian menerjang Witri yang kian bergerak gelisah.


Telapak kakinya berulang kaki melakukan gerakan naik turun sambil menjejak kasur untuk menyalurkan kegelisahan dan hasratnya.


De sa han panjang menyambut gerakan bibir Hari yang baru saja sampai di leher Witri.


Ini nikmat sekali, batin keduanya dengan perasaan takjub.


Hari bahagia dan merasa bangga saat mendengar de sa han Witri yang kian sering terdengar.


Hasratnya semakin terpacu untuk melakukan dan merasakan lebih dan lebih lagi.


Sekarangkah saatnya? Malam inikah yang akan menjadi malam pertama kami? tanya batin Hari disela debaran hati dan kobaran hasratnya.


Hari menikmati remasan jemari Witri di tengkuknya. Kadang sedikit naik dan meremas rambutnya.


Remasan jemari itu seakan memantik hasratnya menjadi semakin menyala dan berkobar.


Hari bertekad akan terus bergerak selama Witri belum menghentikan cum bu annya.


Witri kian merasa melambung saat dirasanya tangan Hari menelusup masuk kaosnya kemudian bergerak lambat mengelus perutnya berulang kali.


Matanya yang sedari tadi tak kuasa terbuka langsung terbeliak saat dirasanya tangan Hari mendorong ke atas penutup dadanya dan langsung meremas lembut isinya.


"Mas..." bisik Witri spontan dan menghentikan gerakan tangan Hari di dadanya.


"Boleh nggak?" tanya Hari sambil mendongak menatapnya dengan suara yang belum pernah Witri dengar sebelumnya. Begitu parau dan penuh harap.


Witri mengangguk kecil dengan nafas yang tersengal.


Hari tersenyum senang dan kembali meneruskan aksinya.

__ADS_1


Malam ini akan indah, Sayang...


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


__ADS_2