
Menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran, Nadi ngomel sendiri dalam hati melihat kehangatan di kamar rawat Aksa tadi.
Makasih udah jagain Aksa dan mamanya...Ucapan Jiwo tadi kembali terngiang di telinganya.
Emang aku jagain mereka, tapi bukan buat bantuin kamu,Wo. Tapi karena ini amanah sahabatku Hari. Selama kamu dan Witri belum ketemu dan bersatu, Aksa dan mamanya memang jadi tanggung jawabku. Nadi mendengus kesal.
Lagian ngapain sih VC pagi- pagi bener? Kayak nggak ada waktu lain aja. Kan bisa kalau malem, saat Aksa udah tidur.
Dan Papa? Jiwo jadi papanya Aksa? Aksa tambah lagi bapaknya? Bukan cuma aku aja sekarang? Punya papa juga?
"Harusnya cukup aku aja bapaknya. Kenapa harus punya Papa juga?" gumam Nadi kesal.
"Bang?!" Nadi berjengit saat lengannya ditepuk pelan.
Dokter Farida menatapnya dengan pandangan keheranan karena dilihatnya dari jauh tadi mulut Nadi komat- kamit dengan wajah kesal.
"Eh, Da...." kata Nadi tak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Pagi- pagi udah ngomel sendiri sambil jalan. Ati- ati lho, ntar ketahuan suster kamu bisa digandeng ke dokter jiwa," ledek dr. Farida yang mendapat dengusan pelan Nadi.
"Kamu piket pagi atau baru mau pulang?" tanya Nadi sambil menatap penampilan dokter manis di depannya ini.
Sepenglihatan Nadi selama ini, dr.Farida tetap selalu kelihatan fresh dan wangi setiap saat. Jadi dia nggak bisa menduga dokter itu sudah selesai bertugas atau sedang akan bertugas.
"Mau pulang. Abang mau pulang juga?" tanya dr. Farida balik.
"Iya."
"Aksa kayaknya hari ini sudah boleh pulang kan? Mau pulang kapan? Siang apa sore?" tanya dr. Farida lagi.
"Belum tahu. Nanti aku tanya mamanya." jawab Nadi sedikit gusar.
Farida saja sudah tahu kalau besok Aksa boleh pulang, kok dia nggak dikasih tahu sama Witri tentang itu?
Entah mengapa tiba- tiba Nadi merasa seperti tersisih.
Mungkin karena Jiwo tadi, jadi Witri lupa membicarakan soal Aksa padanya.
"Ecieeee...luwes amat nyebut 'mama' nya." ledek dr. Farida sambil terkikik meledek. Nadi hanya melirik kesal sambil mendengus pelan.
"Aku pulang dulu." pamit Nadi bergegas mempercepat langkahnya, semata hanya untuk menghindari ledekan dokter yang sudah cukup lama di kenalnya itu.
Mereka berdua sudah kenal sejak beberapa belas tahun yang lalu, saat sama- sama jadi sukarelawan saat tragedi tsunami. Pernah cukup dekat kala itu. Bahkan Nadi nyaris menembak Farida muda kala itu untuk menjadi kekasihnya namun gagal terlaksana karena di hari H rencana penembakan, Nadi tahu lebih dulu kalau Farida telah menerima cinta kakak tingkatnya di fakultas kedokteran sehari sebelumnya.
Dan takdir mempertemukan mereka kembali seiring keberadaan Witri yang tengah membutuhkan dokter kandungan kala itu.
"Aku nggak diajak bareng, Bang?" tanya dr.Farida sengaja meledek
"Nggak! Bisa di suntik mati sama suamimu aku nanti kalau ketahuan." jawab Nadi ketus yang membuat Farida terpingkal- pingkal di belakangnya.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jiwo menatap Kyu setengah tak percaya. Tatapan mata berbinar- binar dari mata agak sipit lelaki di depannya itu malah membuatnya sedikit gelisah.
"Kamu nggak papa kan kalau Esti tidur di apart mu selama disini? Hanya tiga hari saja." tanya Kyu kembali membuat Jiwo mengerjapkan matanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau Kyu nggak sedang bercanda kalau sahabatnya itu akan mendatangkan Esti ke negeri ini agar bisa berkenalan dengan keluarga besarnya sebelum nanti orangtua Kyu akan datang ke Indonesia untuk melamar Esti secara resmi seperti yang biasa orang Jawa lakukan pada umumnya.
"Ya...nggak papa...Tentu saja nggak papa. Dia kan adikku. Mau dimana lagi dia tinggal kalau nggak disini sama aku." kata Jiwo masih dengan wajah kebingungan.
"Bisa aku carikan hotel kalau kamu keberatan." sahut Kyu.
"Janganlah! Aku malah seneng Esti bisa sampai disini. Tapi... beneran Esti mau kesini?" tanya Jiwo masih dengan tatapan ragu. " Kirain kemarin dia ngomong mau kesini tuh becanda aja." gumam Jiwo kemudian.
"Serius dong! Orangtuaku sudah tidak sabar ingin bertemu langsung dengan calon menantunya." jawab Kyu sambil kembali menyunggingkan senyum bahagianya.
Kemarin Esti bilang kalau besok dia akan terbang kesini atas prakarsa Ryu. Pokoknya dia tinggal terbang saja. Dan Ibu juga bilang kemarin di telpon kalau Ryu sudah minta ijin untuk Esti ke Korea untuk menemui keluarga Ryu.
'Besok' versi Jiwo ternyata berbeda dengan versi semua orang. Jiwo mengira kata' besok' adalah bermaksud kapan- kapan, suatu hari nanti, bukan yang besok beneran besok banget.
"Besok kita jemput dia ya?" pinta Kyu sambil menatap Jiwo yang langsung mengangguk namun pikirannya belum mapan.
Jiwo masih nggak menyangka cerita cinta Kyu dan Esti berjalan lancar bahkan semulus ini jalannya. Beda jauh dengan kisah cintanya yang seolah jalan di tempat bahkan terseok- Seok.
Orang tua Kyu bahkan sudah bicara serius dengan ibu soal lamaran lewat telpon, tentu saja bersama Kyu yang jadi penerjemah bahasa mereka dan ibu di dampingi Esti yang sedikit- sedikit mengerti bahasa Korea karena saking senengnya nonton Drakor.
Kyu sangat rajin sekali belajar bahasa Indonesia pada Jiwo sejak PDKT dengan Esti. Bahkan sekarang dia bisa sedikit mengerti bahasa Jawa.
Dan seperti janji Kyu kemarin, kini keduanya sudah ada di antara para penjemput di bandara.
Mereka bahkan sudah ada di bandara setengah jam sebelum pesawat landing. Jiwo masih sedikit kesal karena tadi diburu- buru oleh Kyu, membuat ponselnya ketinggalan.
"Jangan lama- lama ngeliatin adikku!" geram Jiwo sambil menepuk lengan Kyu dan bergegas melangkah menyambut Esti yang sudah berbalas tatap dengannya.
Tak bisa disembunyikan, Jiwo melihat wajah adiknya itu nampak berusaha menyembunyikan rona tersipu saat sudut matanya mencuri pandang pada sosok tinggi tegap dan tentu saja tampan di samping Jiwo.
"MashaaAllah...Dia cantik banget..." gumam Kyu sambil memegangi dadanya yang rasanya mau meledak. Langkahnya patah- patah di samping langkah lincah Jiwo.
"Kumat lebay nya!" sahut Jiwo sambil menepuk punggung Kyu agak keras, membuat calon iparnya itu meringis.
"Assalamualaikum..." suara ceria namun lembut terdengar bagai nyanyian merdu seorang peri di telinga Kyu yang hanya mampu melongo tak juga menjawab.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Jiwo sambil menerima salim dari adiknya itu.
"Mingkem!" sentak Jiwo sambil menepuk lengan Kyu gemas.
Terlihat secantik apa sih Esti di mata Kyu sampai sahabatnya itu bertingkah konyol seperti ini?
"Ha....hai...Esti..." ucap Kyu begitu mampu bersuara walau tergagap.
"Hai Oppa...Apa kabar?" tanya Esti ceria, tanpa canggung sedikitpun walau masih menunjukkan rona tersipu.
"Ketemu pertama bukannya assalamualaikum, malah hai...hai..." omel Jiwo sambil melirik Kyu galak, membuat Kyu semakin salah tingkah.
Salah tingkah oleh omelan Jiwo, dan ditambah oleh panggilan merdu Esti padanya barusan.
__ADS_1
Ah, kenapa indah sekali di telinganya panggilan Oppa dari suara Esti?
"Ma...maaf..." kata Kyu masih grogi. Dia dapat melihat tajamnya lirikan Jiwo padanya.
Bikin keder aja.
"Assalamualaikum, Esti." kata Kyu akhirnya memperbaiki sapaannya.
"Wa'alaikumussalam, Oppa Kyu..." jawab Esti sambil tertawa kecil karena geli dengan tingkah kakak dan kekasihnya itu. Bukannya Esti tak melihat tatapan tajam kakaknya yang sedang memarahi sikap ramahnya pada Kyu, tapi Esti tak terlalu takut dengan tatapan kakaknya itu. Udah biasa kalau Jiwo protektif pada semua saudara perempuannya.
"Ayo kita segera pergi dari sini. Biar kamu bisa istirahat." ajak Kyu kemudian yang langsung di ikuti oleh Jiwo dan Esti.
Setelah mampir makan di sebuah resto, Kyu mengantarkan Jiwo dan Esti sampai ke depan pintu apartemen Jiwo.
"Aku pulang dulu. Nanti malam aku jemput kalian buat acara makan malam di rumahku." kata Kyu kembali mengulang jadwal yang sudah dia bicarakan sebelumnya pada JIwo dan Esti.
"Oke." jawab Jiwo singkat.
"Baik. Hati- hati di jalan, Oppa." jawab Esti sambil tersenyum, membuat hati Kyu berubah jadi taman bunga seketika.
"Ah,rasanya aku nggak mau pulang." kata Kyu sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu keluar.
"Nggak usah lebay!" sungut Jiwo dengan wajah ketus.
"Lebay apa artinya, Sayang?" tanya Kyu sambil menatap Esti dan membuat Jiwo mendelik.
Berani- beraninya mesra- mearaan gitu di depanku. Dasar alay!
"Sayang...sayang..." sungut Jiwo dengan wajah iri dengki yang membuat Kyu terkikik terdengar menghina.
"Berlebihan..." jawab Esti sambil melirik kakaknya.
"Udah pulang sana!Syuh...syuhhh..." usir Jiwo sambil mwngibas- ngibaskan tangannya seperti mengusir ayam dari teras rumah.
"Teganya...." rungut Kyu memasang wajah
kesal.
"Bodo amat!" tukas Jiwo kini malah mendorong Kyu yang tertawa geli keluar dari apartemennya.
"Kamu iri hati sama aku karena aku sedang bahagia karena bisa ketemu kekasihku?" ledek Kyu sambil menahan dorongan lengan Jiwo di lengan atasnya.
"Iya! Puas?!" jawab Jiwo yang membuat Kyu semakin terbahak.
"Makanya...kamu boleh tiru caraku juga. Ka
lau kamu nggak bisa pulang ke Indonesia, kekasihmu yang kamu minta kesini biar kalian bisa ketemu." kata Kyu membuat Jiwo terpaku seketika.
Kenapa nggak kepikiran begitu ya? Tapi....
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1