
"Jiwo, Mas."
Deg! Jantung Hari langsung berdetak lebih keras dari yang seharusnya.
Jiwo.
Dia tentu saja tak akan lupa nama itu.
Nama cowok yang begitu manis tersimpan di hati Witri, istrinya.
Tapi diakah orangnya?
Hari masih menyempatkan diri untuk kembali menatap Jiwo setelah genggaman tangan mereka terurai.
Sebagian memorynya mencoba mengingat photo seorang cowok yang tak sengaja dia temukan di lapisan dasar lemari baju di kamar Witri dulu.
Mirip sih. Bedanya di photo itu Jiwo tak berkacamata dan terlihat sedikit kurus.
Tapi melihat senyum dan rambutnya, Hari yakin ini Jiwo yang dia sangka.
"Mas juga dari Jogja?" tanya Jiwo ramah pada Hari yang kini duduk tepat di sebelahnya.
Hari menunggu Pak Harsa dan Menteng yang sedang sibuk bertelepon serius dengan ponsel masing- masing.
"Iya. Gunung kidul tepatnya. Njenengan Jogjanya mana?" tanya Hari dengan hati kembali deg- degan. Harap- harap cemas dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Jiwo.
"Sleman, Mas." jawab Jiwo sambil tersenyum.
Srrrttt....Darah Hari rasanya mengalir sangat cepat saat mendengar jawaban itu.
Lebih dekat dengan dugaannya.
"Istriku dulu juga sekolah di Sleman tapi kejuruan. Njenengan sekolah kejuruan atau umum dulu?" pancing Hari dengan degupan jantung yang belum kembali normal.
"Kejuruan, Mas. STM jurusan tambang." jawab Jiwo sambil tersenyum.
"Pegawai pertambangan jadinya nih?" tanya Hari dengan nada berkelakar.
"Begitulah." jawab Jiwo sambil tertawa malu.
"Orang makmur berarti." sahut Hari sambil tersenyum lebar.
"Dia gajinya besar, Mak. Aku nggak akan mungkin sampai kelaparan kalau sama dia sekalipun dia harus menghidupi keluarganya."
Hari ingat omongan Witri itu pada Mamak waktu dia tak sengaja mendengar soal Jiwo untuk pertama kalinya dari hasilnya menguping pembicaraan Witri dan Mamak, di hari pertama dia menjadi suami Witri.
Berarti memang Jiwo yang ini...
"Aamiin...Ya bisalah buat sedikit menyenangkan orangtua, Mas." kata Jiwo merendah.
"Belum punya istri?" tanya Hari dengan tatapan serius.
Jangan- jangan dia belum move on dari Witri nih...gawat nih...
"Belum. Belum ketemu jodohnya." jawab Jiwo sambil terkekeh.
Jodoh yang kamu inginkan ternyata jadi jodohku. Maaf ya, Wo...
"Tapi sudah punya calon dong pastinya." pancing Hari kemudian.
__ADS_1
"Calon juga belum. Baru dekat saja beberapa bulan ini." jawab Jiwo jujur.
Syukurlah kalau dia sudah bisa move on.
"Aku doakan semoga berjodoh sama yang ini." kata Hari tulus.
"Aamiin...makasih Mas doanya." sahut Jiwo sambil tersenyum malu.
"Njenengan sudah lama nikahnya, Mas?" tanya Jiwo dengan wajah penasaran.
"Sekitar dua tahunan." jawab Hari sambil menatap Jiwo tenang.
Dia ingin melihat perubahan mimik muka Jiwo dengan jawabannya barusan.
Dan dia bisa menangkap selapis mendung tipis yang langsung menghiasi mata Jiwo.
Apakah dia tahu kalau Witri menikah dua tahun lalu dan dia tengah mengenangnya?
"Kenapa keliatan agak sedih gitu? Something happened to you two years ago?" tanya Hari sedikit meluruhkan suaranya.
Jiwo sedikit kaget dengan perkiraan Hari itu.
"Tidak juga. Hanya dua tahun lalu perempuan yang sangat ingin saya nikahi ternyata mau menikah sama orang lain. Remuk Mas rasanya." kata Jiwo sambil terkekeh sedih.
Hari terdiam bersimpati, juga merasa sedikit bersalah.
Ternyata aku memisahkan dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa dia memilih menikah sama orang lain? Dia sudah nggak cinta?" tanya Hari mencoba mencari tahu penyebab perpisahan versi Jiwo.
"Saya nggak tahu. Tapi saya juga salah nggak bergerak cepat selama ini. Saya terbiasa melakukan satu aksi lalu menunggu reaksi dia dulu, baru beraksi lagi. Aksi saya yang terakhir tak mendapat respon, jadi saya mengira dia memang tak mau lagi menunggu dan bersama saya." jelas Jiwo pelan.
Berarti luka hatinya belum sembuh benar.
Hari dan Jiwo sama- sama terpaku di tempatnya, dengan tatapan lurus ke depan, dan dengan satu wajah perempuan yang sama dalam benak mereka.
Padahal nggak seperti itu kenyataan Wo... kalau kamu tahu...
"Sudah pernah ketemu sama dia sejak dia menikah?" tanya Hari sambil menoleh menatap Jiwo yang masih menatap lurus ke depan.
"Belum. Dan Saya kira juga udah nggak perlu. Dia sudah jadi milik orang. Saya hanya perlu merelakan dan mendoakan kebahagiaan buat dia saja." jawab Jiwo sambil tersenyum perih.
"Masih mau mendoakan dia?" tanya Hari kembali menatap Jiwo.
"Secara personal sudah tidak." Jiwo menghela nafasnya sesaat. "Bukan tidak mau. Tapi ada yang lebih berhak dan berkewajiban mendoakan dan mengupayakan kesejahteraan lahir dan batinnya. Suaminya. Akan sangat lancang dan tak sopan kalau saya merebut hak dan kewajiban itu dari orang yang telah jadi pemilik sahnya."
Jiwo mengulas senyum tipis.
"Saya tetap mendoakan dia sebagai sesama muslim. Saya juga mendoakan njenengan sebagai sesama muslim." kata Jiwo sambil tersenyum pada Hari yang terpaku.
Laki- laki ini sungguh istimewa.
"Njenengan yakin dia sekarang bahagia sama suaminya? Kalau dia ternyata tidak cinta sama suaminya atau suaminya nggak baik gimana?" tanya Hari semakin dalam ingin mengetahui hati Jiwo.
"InsyaaAllah dia bahagia. Saya hanya bisa berharap seperti itu. Masalah dia cinta atau tidak sama suaminya, hanya dia yang tahu." jawab Jiwo sambil kembali tersenyum.
"Tapi dia pasti akan tetap berlaku sebagai istri yang baik untuk suaminya, karena dia sangat bertanggung jawab dengan apapun yang sudah dia pilih. Semoga suaminya juga seperti itu." sambung Jiwo lagi.
Hari kembali tercekat.
__ADS_1
"Njenengan nggak nyoba nyari kabar soal dia? Ya buat obat penasaran mungkin." tanya Hari lagi.
"Enggaklah, Mas. Buat apa? Kami sudah memiliki jalan sendiri- sendiri. Dia sudah memilih jalan duluan. Dan Saya yakin dia memilih jalan itu pasti ada alasan kuat. Saya pun harus mulai berjalan lagi biar nggak jauh- jauh amat ketinggalannya." kekeh Jiwo. Hari tersenyum menanggapinya.
"Har, ayo kita jalan." panggilan Menteng dari jarak lima meter dari tempat mereka berdua duduk memenggal obrolan mereka.
"Oke." jawab Hari sambil bergegas berdiri namun belum juga beranjak.
Dia nampak sedang berpikir keras sambil menatap Jiwo.
"Boleh tanya satu lagi?" tanya Hari kemudian.
"Boleh. Monggo mau tanya apa?" tanya Jiwo dengan wajah keheranan.
"Har, ayo." ajak Menteng lagi.
"Satu menit, please." pinta Hari pada Menteng.
"OK." jawab Menteng dengan wajah penasaran.
"Apakah yang kita bicarakan tadi namanya Jawitri?" tanya Hari setelah kembali menoleh pada Jiwo.
DUARRRRR !!!!!!
Jiwo nyaris tersedak salivanya sendiri mendengar pertanyaan yang sama sekali tak disangkanya itu.
Atap gedung rasanya runtuh menimpa kepalanya saat Jiwo mendengar pertanyaan itu..
"Panjenengan siapanya? Suaminya?" tanya Jiwo dengan wajah pias dan hati kalang kabut.
Gimana kalau nanti dia ngamuk sama Witri? Ya Allah...jangan....
Jiwo langsung ngeri dengan akibat obrolan tak terkendalinya tadi.
"Kalau jawabannya adalah Jawitri, iya, aku suaminya." jawab Hari sambil menatap lekat Jiwo dengan tatapan tenang, tanpa intimidasi sedikitpun. Sedikit membuat Jiwo tenang.
"Astagfirullahaladzim...Mas...ma..maaf...bukan maksud sa...ya..."
Nggak papa. Aku malah lega bisa ketemu kamu." potong Hari memangkas kepanikan Jiwo yang langsung terpaku " Witri akan baik- baik saja. Aku bisa pastikan dia akan bahagia sama aku. Dan aku nggak akan membuat dia kecewa karena memilih aku." sambung Hari dengan tatapan penuh keyakinan. Jiwo hanya mampu mengangguk.
"Ya. Saya percaya dia akan bahagia sama panjenengan." kata Jiwo dengan suara tercekat.
"Aku doakan kamu segera bertemu dengan jodohmu dan berbahagia." sambung Hari sambil menepuk lengan Jiwo pelan. Seulas senyum tulus mengiringi doa Hari itu.
"Aamiin. Terimakasih Mas Hari. Maturnuwun doanya." balas Jiwo dengan mata berkaca- kaca.
"Aku pergi dulu. Semoga kita bisa ketemu lagi di lain waktu." pamit Hari sambil mengulurkan tangannya dan menjabat erat dan hangat tangan Jiwo.
"Ya. Hati- hati, Mas. Tolong maafkan semua omongan saya tadi." kata Jiwo dengan tatapan memohon.
"Nggak ada yang salah dengan omonganmu tadi. Tenang saja, ini akan jadi rahasia kita." kata Hari sambil mengerling dan membuat Jiwo tersenyum lega.
"Aku pamit ya. Assalamualaikum." kata Hari sambil melambai dan bergegas setengah berlari mendekati Menteng yang sudah ngedumel sambil berjalan cepat.
Jiwo terduduk lemas setelah Hari tak lagi terlihat.
Ya Allah...Aku ketemu suaminya Witri...
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1