JANJI JIWO

JANJI JIWO
Hilang


__ADS_3

Witri tersenyum riang saat melihat indahnya tempat yang tengah dia nikmati bersama Hari.


"Bagus tempatnya ya, Mas? Adem." kata Witri sambil menatap senang pada Hari yang sedari tadi hanya tersenyum melihatnya bergerak kesana kemari bermain bersama angin.


"Kamu seneng nggak, Mas sama tempat ini?" tanya Witri kemudian.


"Seneng dong. Aku suka." kata Hari dengan mata tak kalah berbinar.


Mereka berdua kini duduk di atas hamparan rumput hijau yang terasa empuk di duduki. Sejauh mata memandang adalah hamparan rumput hijau dan pohon- pohon besar yang meneduhkan. Di samping mereka mengalir sungai kecil dengan air yang sangat bening hingga ikan- ikan kecil yang berkejaran di sela bebatuan bisa terlihat dengan jelas dari atas.


"Aku mau ke sungai itu." kata Witri kemudian bergegas berdiri dan berjalan cepat menuju pinggir sungai lalu tanpa ragu langsung masuk ke dalam sungai yang airnya hanya seatas mata kakinya itu.


"Hati- hati, Jeng. Awas kepeleset." kata Hari sambil mengikuti Witri dengan cepat.


"Nggak akan kepeleset. Tenang saja." kata Witri meyakinkan suaminya.


"Kamu harus hati- hati kalau mau ngapa- ngapain...Inget anak di perutmu. Hanya kamu yang bisa jagain dia " kata Hari sambil ikut turun ke sungai.


"Iya, Ayah baweeel." jawab Witri sambil memercikkan sedikit air sungai ke wajah Hari.


Beberapa saat keduanya asik bermain di aliran sungai itu sebelum kembali duduk dengan bersila berhadapan di samping sungai yang gemericik airnya terdengar sangat menenangkan.


"Aku akan tinggal disini." kata Hari sambil tersenyum menatap Witri.


"Tinggal disini gimana maksudnya? Kamu pindah tugas kesini?" tanya Witri dengan tatapan bingung. Hari hanya tersenyum kecil.


"Kamu tolong jagain Aksa ya...Kalian harus bahagia nantinya." kata Hari sambil mengelus lembut pipi Witri yang mulai terlihat bingung.


"Kami nggak kamu ajak pindah ke sini, Mas?" tanya Witri dengan nada protes.


"Nggak bisa ngajak kalian, Sayang. Aku dulu yang disini. Kalau kamu mau, nanti kita bisa ketemu lagi. InsyaaAllah."


"Aku mau! Aku ikut sekalian ya, Mas?" sahut Witri cepat.


"Nggak boleh,Jeng. Nanti ada waktunya kamu nyusul aku. Sabar ya." kata Hari kemudian mendekat dan memeluk Witri dengan erat.


"Jangan sedih ya. Aku akan baik- baik aja. Kamu dan Aksa juga akan baik- baik saja. Ada Mas Nadi dan juga Jiwo yang akan jagain kalian nanti." kata Hari lembut sambil berulangkali menciumi pucuk kepala Witri.


Witri mulai terisak.


Kenapa dia nggak boleh ikut pindah kesini? Apakah Hari dalam misi rahasia disini sampai dia harus tinggal sendiri di rumah dan nggak boleh ikut? Kalau nanti terjadi sesuatu pada Hari trus gimana?


"Kenapa aku nggak boleh ikut? Berapa lama kita pisahnya, Mas? Kamu pulang kan kalau aku mau lahiran?" tanya Witri sudah dengan tersedu dan mendongak menatap Hari yang tak menjawab. Hanya pelukan yang terasa semakin erat dan malah semakin membuat Witri kian tersedu.


Hari tak menjawab. Berarti Hari tak bisa berjanji kapan dia akan pulang. Begitu pikiran Witri.


"Nanti siapa yang akan mengadzani Aksa setelah dia lahir kalau bukan kamu, Mas? Kamu harus pulang saat Aksa lahir. Ya?" pinta Witri seperti rengekan hanya untuk mendapat sebuah jawaban pasti dari suaminya akan waktu kepulangannya kelak.


"Semoga Bapak bisa mengadzani Aksa nanti." kata Hari kemudian dengan suara membujuk.


"Kenapa harus eyangnya kalau ayahnya ada? Kamu nggak pengen adzan buat Aksa?" tanya Witri sudah sambil meremas dada berbalut kemeja putih yang dipakai Hari. Hatinya semakin tak karuan dengan diamnya Hari.


Sepertinya nanti dia memang harus melahirkan tanpa di dampingi Hari. Hari harus menjalankan tugas disini tanpa tahu kapan akan pulang.


"Kamu harus kuat ya...Istri prajurit nggak boleh cengeng dan suka nangis kayak gini. Nanti kalau Aksa ketularan cengeng gimana?" kata Hari setelah mereka cukup lama terdiam.


"Kamu nggak bisa mengusahakan ijin pulang sebentar untuk nungguin aku lahiran nanti, Mas? Sebentar aja. Setelah kamu ketemu Aksa dan adzan buat dia, kamu boleh balik lagi kesini. Aku nggak akan minta apa- apa lagi sama kamu. Aku janji." pinta Witri penuh harap pada Hari.


Hari hanya menatapnya dengan sendu walau bibirnya tersenyum mengerti.


"Maafkan aku ya, Jeng. Aku nggak bisa janji buat itu. Kamu jangan marah ya?" kata Hari dengan sesal dan penuh harap.


Tangis Witri semakin kencang setelah mendengar ucapan itu.


Pupus sudah harapan terakhirnya.


Impian melahirkan ditungguin oleh suami hancur sudah. Hari tak bisa berjanji untuk itu.


"Maafkan aku, Jeng. Please..." kata Hari dengan mata berkaca-kaca sambil menangkup wajah Witri yang sudah banjir airmata.


Semua bukan maunya Hari. Bila dia harus melahirkan Aksa seorang diri tanpa Hari, semua bukan kehendak mereka berdua.


Hari hanya prajurit yang harus taat pada perintah. Keluarga dan rasa sentimentil lainnya ada di urutan kesekian setelah tugas negara.


Dia bisa apa selain mengerti itu?


"Maafkan aku ya...?" bisik Hari lagi yang kemudian mendapat anggukan pelan Witri. Lagi pula apalagi yang bisa dia lakukan selain itu?


Bagaimanapun juga dia tak ingin membebani Hari dengan rengekan manjanya saat suaminya itu harus jauh darinya karena tugasnya sebagai punggawa negara.

__ADS_1


"Makasih..." kata Hari dengan suara yang jelas terdengar menahan rasa haru, membuat Witri semakin terisak- isak membayangkan bahwa sesungguhnya Hari pun berat meninggalkannya sendiri seperti ini. Hanya karena Hari lebih bisa menahan perasaan, jadi tak kian menambah suasana melow di antara mereka kali ini.


Genggaman tangan yang mengerat dan nyaris membuat jemari Witri sakit membuat Witri membuka matanya.


"Kamu kenapa nangis?" suara Hari menyadarkan Witri dari mimpi panjangnya.


"Astagfirullahaladzim... astagfirullahaladzim..." gumam Witri sambil menghapus airmatanya cepat.


"Kamu mimpi apa sampai nangis gitu?" tanya Hari sambil menatap khawatir kepada Witri.


Alhamdulillah ya Allah...Mas Hari masih ada di sampingku...


"Kamu pergi sendiri. Aku nggak di ajak." jawab Witri dengan wajah cemberut kesal. Hari tertawa melihatnya.


"Memangnya aku pergi kemana?" tanya Hari kemudian.


"Nggak tahu kemana. Tapi tempatnya bagus,Mas. Enak kalau punya rumah di sana. Sayangnya kamu sendiri yang di sana. Aku nggak di ajak. Sebel!" sungut Witri sambil menjejakkan sebelah kakinya pelan ke lantai.


"Jangan sebel. Kan cuma mimpi..." kata Hari sambil tersenyum dengan dengan tatapan sedih.


"Aku nggak mau di tinggal sama kamu. Aku ikut kalau kamu kemana- mana." rajuk Witri manja, membuat Hari terkekeh pelan.


"Ya nggak bisa gitu juga, Jeng. Inget, aku siapa?" tanya Hari dengan tatapan lembut.


"Inget...Kamu prajurit." kata Witri pelan.


"Kamu istrinya prajurit kan?" tanya Hari kemudian. Witri mengangguk pelan.


"Harus mengerti dan menerima. Begitu kan?" tanya Hari seperti mengingatkan. Witri mengangguk pelan.


"Nggak boleh sedih gitu. Kalau mamanya sedih- sedih gitu, nanti Aksa jadi anak cengeng lho." kata Hari setengah meledek


"Nggak! Siapa bilang anakku cengeng." sergah Witri cepat.


"Anakku harus jadi anak yang ceria dan baik hati. Tolong didik dia seperti itu ya, Sayang." kata Hari kembali berwajah sendu.


"Kita berdua yang akan mendidiknya, Mas." sergah Witri cepat.


Hati Witri kembali gusar melihat tatapan Hari yang beda.


"Tapi kamu yang akan selalu mendampingi Aksa, karena kamu ibunya." kata Hari kemudian. Witri kembali mengangguk.


Witri menengok jam tangannya. Ternyata memang sudah waktunya sholat subuh. Kenapa dia nggak denger adzan sih tadi?


Setelah mengikuti instruksi Hari agar suaminya itu bisa menjalankan sholat hanya dengan berbaring dan berjalan dengan lancar, Witri diminta Hari untuk menjalankan sholat subuhnya di mushola kecil yang ada di luar ruang ICU.


"Jangan begitu wajahnya." kata Hari saat dilihatnya wajah Witri nampak enggan meninggalkan dia sendirian.


"Aku sholat sebentar aja. Mas baik- baik ya disini." kata Witri akhirnya. Bingung harus bicara bagaimana untuk mengungkapkan kekhawatirannya kalau nanti di tinggal Hari tiba- tiba.


"Iya. Aku akan tetap disini, Jeng." kata Hari sambil tersenyum.


Witri bergegas keluar ruangan setelah sebelumnya menitipkan Hari pada suster piket di depan ruangannya.


Di depan pintu mushola Witri bertemu dengan Nadi yang baru saja selesai sholat.


"Hari gimana kondisinya,Mbak?" tanya Nadi dengan sekilas menatap wajah Witri.


Manis walau nampak jelas sedang kelelahan.


"Stabil, Pak. Semoga nanti segera bisa dilakukan tindakan." jawab Witri dengan senyum penuh harap.


"Aamiin...Aku tungguin dia sebentar boleh? Sementara kamu sholat." tanya Nadi penuh harap."Nanti kalau kamu sudah selesai sholat, kirim pesan aja biar aku segera keluar." sambungnya saat dilihatnya seraut keberatan di wajah Witri. Mungkin Witri mengira Nadi akan mengganti posisinya menunggui Hari dalam waktu lama.


"Iya, Pak. Boleh. Titip Mas Hari sebentar." jawab Witri nampak lega.


Keduanya segera memisahkan diri untuk menjalankan niat masing- masing.


Sekuat tenaga Witri fokus pada sujud subuhnya walau bayangan mimpinya tadi terus saja berkelebat di benaknya.


Tempat teduh dan menenangkan tadi, yang akan di huni Hari, tanpa dia boleh ikut.


Samar- samar Witri mendengar panggilan untuk keluarga Bapak Hari dari ruang tunggu di depan ruang ICU yang ada di samping mushola kecil tempat dia sujud.


Pada panggilan ketiga dia baru jelas mendengar saat ada seorang pria di depan pintu mushola sedikit keras bersuara.


"Keluarga Pak Hari Prasetyo...Apa ada?"


"Saya! Saya istrinya!" seru Witri bergegas melepas mukena dan langsung menghambur ke arah suster yang masih menunggu di depan pintu ruang ICU.

__ADS_1


Hati Witri sudah tak karuan.


"Cepat Bu." ajak suster itu setengah berlari mendahului Witri.


Dengan badan yang gemetar seluruhnya dan langkah yang serasa tak lagi berpijak, Witri memburu ke arah ranjang Hari.


"Astagfirullahaladzim! Mas..." seru Witri saat dilihatnya dua orang dokter tengah sibuk melakukan entah apa di sekitar Hari.


Mata Witri bertemu dengan tatapan Hari yang seolah berkata ' tolong, aku sudah nggak kuat. Maafkan aku, Jeng.'


Nadi yang tadi ada di samping Hari bergegas menarik lembut lengan Witri agar mengganti posisinya berdiri.


"Tuntun dia, Mbak... ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH".kata Nadi menuntun Witri yang nampak kebingungan dengan ucapannya.


Dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Hari, Witri membisikkan kalimat syahadat itu dengan dada yang bergemuruh.


Pikirannya sudah tidak bisa memikirkan rasa sedih hatinya, juga rasa khawatirnya akan kehilangan Hari.


Melihat Hari yang sudah nampak sangat kepayahan bernafas seperti itu membuat Witri tak sanggup lagi mengedepankan egonya untuk tetap ingin bersama Hari.


Dia sudah sampai pada puncak batas rasa kasihnya. Dia sungguh tak tega dan ikut merasakan sesak nafas melihat Hari seperti itu.


Aku dan Aksa nggak papa Mas kamu tinggal asal kamu nggak tersiksa lagi seperti ini.


Aku ikhlas kalau kamu akan kesana dulu dan bahagia disana.


Jangan sakit lagi ya, Sayang.


Pulanglah dengan tenang, Mas...


"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH". walau lirih Witri jelas mendengar Hari mengucap itu dengan tenang.


Witri terus menuntun Hari mengucapkan kalimat syahadat itu dengan tetesan airmata namun juga kelegaaan di sisi lain hatinya.


Setidaknya dia bisa mengantar kepergian Hari dengan cara yang baik. Hingga di tarikan nafas terakhir suaminya itu mampu berucap


"Laa ilaaha illallah" sambil membawa tangan Witri ke dadanya dan bersedekap seperti saat dia menjalankan sholat.


Hingga Witri merasakan genggaman tangan Hari kian melemah dan tak lagi bertenaga.


Witri mengangkat wajahnya dan menatap wajah Hari yang sudah terpejam tenang dengan seulas senyum damai dan sedikit menoleh ke arahnya, ke arah kanan.


Hilang.


Belahan jiwanya telah pergi untuk selamanya dari sisinya.


Witri ingin meraung sekuat tenaga namun bibirnya seolah terkunci rapat.


Dia ingin menangis namun airmatanya seolah kering tiba- tiba.


"05.15."


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun..." hanya itu yang bisa dia dengar.


Setelahnya dia bagai raga tanpa nyawa.


Menatap dengan pandangan kosong saat team dokter melepas semua alat bantu dari tubuh Hari lalu menutup sekujur tubuh itu hingga wajah lelap suaminya tak nampak lagi dari pandangannya.


"Jangan di tutup. Nanti dia nggak bisa nafas." gumam Witri sambil mengulurkan tangannya lemah, hendak membuka kain yang menutupi wajah suaminya.


Namun cekalan lembut tangan kokoh yang menopang tubuhnya yang seperti melayang membuatnya tak sanggup menggapai kain di wajah Hari.


"Hari sudah sembuh. Nggak akan sesak lagi." kata Nadi dengan mata memerah penuh airmata.


Dalam hati dia 'menyesal' mengapa harus kembali melihat kepergian orang yang berarti di hidupnya.


"Ikut." suara Witri mengoyak lamunan sesaatnya dan melihat langkah lunglai Witri mengiringi ranjang berisi jenazah Hari yang mulai di bawa keluar ruangan.


Nadi kebingungan saat dia dihentikan oleh petugas administrasi sedang Witri tak mungkin dia biarkan sendirian.


Beruntung dilihatnya Pak Ikhsan muncul tergopoh- gopoh bersama istrinya yang langsung merangkul Witri dan menangis.


"Tolong dampingi Witri. Saya urus administrasinya dulu." kata Nadi pelan sambil membuang muka menyembunyikan tetesan airmatanya.


Tega kamu, Har ninggal aku, ninggal anak istrimu.


Katanya pengen di panggil Ayah sama anak- anakmu. Kenapa malah pergi sebelum anakmu bisa manggil kamu Ayah?


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...

__ADS_1


__ADS_2