
Witri memilih masuk kembali ke kamarnya setelah mamak berpamitan akan sholat isya'.
Direbahkannya tubuh lelahnya di tempat tidur baru yang sengaja dibeli mamak dengan ukuran lebih besar dari tempat tidur miliknya sebelumnya.
Apalagi alasannya selain karena sekarang tempat tidur di kamarnya akan dipakai oleh dua orang, yaitu dirinya dan Hari.
Padahal mereka hanya akan tidur semalam atau dua malam saja di ranjang ini.
Menurut rencana lusa mereka sudah harus meninggalkan kampung halaman untuk kembali ke tempat tugas Hari.
Witri merentangkan kaki dan tangannya hingga hampir memenuhi lebar tempat tidur.
Kalau ranjang selebar ini dipakai sendiri alangkah luasnya.
Matanya menatap barisan genteng yang tertata rapi menempel pada kayu reng.
Tadinya dia ingin meneruskan tangis dan kesedihannya saat beranjak memasuki kamar. Namun ternyata dia nggak bisa lagi melanjutkan tangisnya.
Entah mengapa airmata tak mau lagi menemani gundah dan kekesalan hatinya pada sikap mamak terhadap kisah cintanya dan Jiwo.
Apakah saking sedih dan terlukanya sampai dia nggak bisa lagi mengekspresikan perasaan kecewa dan terlukanya?
Atau karena tanpa sadar dia bisa mengerti dan menerima alasan mamak dan mau mulai mengikuti saran mamak untuk mulai ikhlas menerima takdir dalam hidupnya ini?
Takdir yang tak sesuai dengan mimpi dan harapannya.
Takdir yang ternyata tak mau menyatukannya dengan Jiwo.
Tapi apakah iya dia bisa secepat ini belajar menerima takdir?
Ya Allah, hamba akan mencoba menurut kali ini. Hamba akan menjalani takdir ini sebagai cara hamba mempercayai takdir- Mu adalah yang terbaik untuk hamba.
Namun hamba mohon ya Allah, bila hamba memang nggak bisa berjodoh dengan Jiwo, jangan pernah lagi pertemukan kami berdua selamanya. Karena bila sekali saja kami bertemu lagi, hamba nggak yakin bisa melepasnya lagi.
Berilah dia kebahagiaan dan jodoh yang baik. Bantulah dia mengikhlaskan takdir kami ini. Aamiin.
Klek!
Witri membuka matanya yang saat berdoa tadi terpejam, saat di dengarnya pintu kamarnya terbuka.
Hari masuk dengan senyumannya.
"Kirain mau ninggal aku tidur." kata Hari sambil melepas kemejanya dan menyisakan kaos singlet di tubuh padatnya.
Baru kali ini Witri bisa melihat tonjolan- tonjolan yang seperti pahatan di lengan atas Hari. Seksi dan keliatan laki banget kalau diliat sambil baring gini.
Eh!
Hari menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah Witri yang nampak takjub saat melihatnya membuka kemejanya.
"Mau liat yang lainnya lagi nggak?" tanya Hari sambil tersenyum- senyum.
"Liat apa? Siapa yang ngeliatin kamu? GR!" kata Witri kemudian menyembunyikan wajahnya di balik guling yang sedari tadi di dekapnya.
Asem....Apa wajahku keliatan banget kalau lagi merhatiin ya?
"Jangan ngintip dari balik guling. Liat aja, bebas." kata Hari sambil menarik paksa guling yang dijadikan tempat sembunyi Witri.
Hari melempar guling ke belakang tubuh Witri yang bergegas mencoba meraih lagi namun sudah keduluan dengan kesigapan Hari mengambil guling itu lagi.
__ADS_1
"Ini gulingku! Siniin!" pinta Witri sambil menarik sekuat tenaga guling yang kini sudah di dekap di dada Hari yang sudah duduk bersila di atas kasur.
"Sekarang jadi punyaku juga dong. Kan KAMU sama AKU udah jadi KITA. Apa yang jadi milikku jadi milikmu juga. Begitupun sebaliknya." kata Hari sambil menumpukan dagunya di atas guling yang masih di dekapnya.
"Kalau harta iya, tapi kalau guling nggak boleh! Ini gulingku!" kata Witri sambil berusaha menarik ujung guling yang tidak di dekap Hari.
"Kamu kan udah punya guling baru." kata Hari sambil memindah guling ke belakang tubuhnya. Semakin jauh dari jangkauan tangan Witri untuk meraihnya.
Kalau dia nekad merangsek ke depan, dia nanti bisa terpeleset jatuh ke pelukan Hari.
Nanti dikiranya dia genit, modus menggoda.
Ogah.
"Mana gulingnya? Mamak nggak beli guling baru. Cuma beli bantal baru buat mantunya." kata Witri dengan wajah cemberut.
Dia jadi ingat kalau usulannya pada mamak untuk beli guling baru di tolak mentah-mentah.
Menuh- menuhin tempat tidur katanya.
Padahal di pikiran Witri sudah ada rencana untuk menjadikan dua guling sebagai batas antara dia dan Hari.
Karena penolakan itu maka hancurlah cita- citanya.
"Ini guling baru. Fresh. Baru tadi jadinya." kata Hari sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Guling apaaan segede ini?" tanya Witri sambil memukul tubuh Hari dengan bantal sambil tertawa kesal.
"Guling multi fungsi. Bisa diapain aja." kata Hari sambil tertawa menutup tubuhnya dengan kedua tangannya agar tak tersentuh sambitan bantal.
"Beneran bisa diapain aja?" tanya Witri dengan wajah serius.
"He em." jawab Hari sambil mengangguk.
Kedua sikunya bertumpu di paha, dan telapak tangannya menyangga wajahnya.
"Bisa disuruh juga?" tanya Witri mulai dengan akal bulusnya.
"Bisa dong! Mau nyuruh aku ngapain? Ngelonin kamu? Siaaappp!" kata Hari sambil merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Witri.
"Bukaaaan!" seru Witri sambil kembali memukul Hari dengan bantal.
"Trus mau nyuruh apa?" tanya Hari dengan wajah manyun yang dibuat- buat.
"Nyuruh kamu tidurnya jaga jarak sama aku." kata Witri kemudian.
Witri agak kaget dengan kalimatnya yang barusan keluar dari mulutnya.
Tega banget nggak sih?
"Kenapa?" tanya Hari santai walau sekejap tadi Witri juga melihat sorot mata terkejut dan sedih di mata coklat Hari.
"Biar aku bisa tidur. Aku kan belum biasa tidur berdua. Jadi kita adaptasi pelan- pelan. Gimana?" tanya Witri mencoba menetralkan suasana.
"Sampai kapan?" tanya Hari kemudian.
"Sampai aku merasa nyaman."
"Berapa lama kira- kira?" tanya Hari lagi.
__ADS_1
"Nggak tahu." jawab Witri dengan wajah bimbang.
"Ya udah nggak papa. Lagian aku juga belum ada niat ngapa-ngapain kamu." kata Hari sambil beranjak berbaring kemudian miring ke kanan.
Kedua telapak tangannya tersimpan rapi dibawah pipi kanannya.
Witri yang melihat posisi tidur Hari jadi gemas sendiri.
Kalau dia miring ke kanan sama aja tidurnya menghadap ke wajahku. Apa aku bisa tidur nyenyak kalau mau tidur aja diliatin mulu?
"Mas nggak pindah ke sisi yang luar?" tanya Witri dengan tatapan penuh harap pada Hari.
Hari tersenyum menatapnya.
"Kamunya disitu...nanti dikira ngusir kalau nyuruh kamu bergerak dari situ." kata Hari semakin melebarkan senyum.
Witri bergegas menyingkir turun dari ranjang, kemudian Hari beringsut ke pinggir ranjang tanpa mengubah posisi awal tidurnya.
"Jangan marah kalau posisiku memunggungimu ya....Aku udah biasa awal tidurnya miring ke kanan." kata Hari sambil menatap Witri yang belum juga naik kembali ke ranjang.
"Iya nggak papa. Aku ngerti kok." jawab Witri kemudian beranjak naik ke ranjang dengan melompati kaki Hari.
"Kalau nanti pengen peluk, peluk aja. Aku nggak akan nolak." kata Hari tanpa menoleh. Membuat Witri nyengir malu sendiri.
"Tapi kamu nggak boleh peluk- peluk." kata Witri sambil merebahkan tubuhnya sendiri di belakang punggung Hari.
Dia ikut tidur miring, menghadap punggung Hari yang nampak lebar dan kokoh di balik singlet abu- abunya.
"Hmmm...kalau nggak lupa." jawab Hari sambil menahan senyum.
"Kalau kamu lupa, aku yang nggak lupa. Jangan marah kalau nanti kamu aku sepak sampai tidur di lantai." kata Witri masih ngobrol dengan punggung Hari.
"Beneran sepakanmu sekuat itu?" tanya Hari yang tiba- tiba membalik tubuhnya dan membuat Witri kaget karena wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal saja.
"mau coba?!" tantang Witri sambil memposisikan telapak kakinya di paha Hari yang terbungkus celana pendek sedengkul.
"Boleh." jawab Hari sambil tersenyum dan memasang kuda- kuda bertahan.
Witri yang ditantang dengan senang hati mendorong paha Hari sekuat tenaga dengan kakinya. Namun di luar dugaannya, Hari tak bergeser sedikitpun.
"Kamu masang kuda- kuda bertahan!" sungut Witri kesal.
"Namanya usaha mempertahankan diri tanpa menyakiti." kilah Hari sambil tertawa.
"Curang." sahut Witri sambil membalik badannya memunggungi Hari yang terkekeh.
"Nggak ada kecurangan sama sekali. Kan aku bertahan di posisiku yang seharusnya...
.Aku akan bertahan tetap di posisiku, di sampingmu. Aku nggak akan melawanmu dan membuat kamu terluka. Aku hanya akan bertahan saja, Jeng." kata Hari sambil mengelus pundak Witri lembut.
Entah mengapa Witri merasa Hari bukan sedang membahas aksi dorong barusan.
Witri merasa Hari sedang membahas masalah lain. Masalah hati.
Tapi mungkinkah Hari tahu?
Dia tahu dari mana?
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...
__ADS_1
Mohon maaf ya dua hari ngilang 😅 RL nya nggak bisa di ajak menghalu sama sekali 🙈