JANJI JIWO

JANJI JIWO
Hilang


__ADS_3

Menikmati percintaan kali ini setelah seminggu terpisah jarak di rasa Hari cukup berbeda sensasinya.


Entah memang karena desakan rasa rindu atau karena ada sesuatu yang mengganjal benaknya yang ingin dia lampiaskan, Hari sadar sesi percintaan kali ini sedikit rusuh dari biasanya. Dan yang membuatnya girang tak terkira adalah Witri tak memberi protes bahkan terkesan menuruti semua kehendaknya hingga mereka bisa sampai di tujuan akhir bersama.


"Bongkar celengannya seriusan..." kata Witri sambil melirik Hari seusai mereka saling membebaskan diri.


Hari sudah terbaring telentang berte lan jang dada, sedang tubuh bawahnya hanya tertutup oleh celana boxer yang bisa langsung diraihnya tadi.


Hari tersenyum sambil melirik sekilas ke arah Witri yang mulai sibuk memutar badannya ke kanan dan ke kiri untuk mencari pakaiannya.


Perbuatan rutin yang dia sukai tiap kali mereka selesai saling menyenangkan.


Dia yang melepasi pakaian, dan kemudian Witri yang bingung mencari kemana pakaian itu dia lempar.


"Rasanya gimana?" tanya Hari dengan hati penasaran.


"Hmmmm...ya kerasa kayak mau dihabisin saat itu juga. Nggak sadar?" tanya Witri sekilas meliriknya sambil merentangkan b*a warna salem di depan dadanya. Hari tertawa kecil.


"Enak nggak?" tanya Hari lagi sambil membenarkan tali b*a yang terpelintir di bagian punggung Witri.


"Ngapain make b*a sih..." gumam Hari seperti pada dirinya sendiri. Witri tak terlalu memperdulikan gumaman itu.


"Enak!" jawab Witri mengangguk sambil melirik malu pada Hari.


"Beneran?!" tanya Hari sambil beringsut mendekat lalu memeluk Witri.


"Beneran lah. Ngapain bohong sama suami soal begituan? Kalau nggak nyaman aja aku boleh protes sama kamu, kalau enak ya harus bilang enak. Itu namanya fair play." jawab Witri santai sambil menggerak- gerakkan kepalanya di pundak Hari.


Hari tersenyum makin lebar.


Berarti sorot mata Witri yang nampak sangat hangat,, lembut, dan sangat menerima waktu mereka ber cinta tadi memang timbul dari dalam hati, bukan sekedar untuk menyenangkan hatinya agar semakin membangkitkan hasratnya saja.


Oh senangnya....


"Tadi pas kita begituan kamu mikirin apa?" tanya Hari kemudian tanpa malu.


Jangan sampai kamu mikirin lelaki lain...


"Hah? Maksudnya gimana?" tanya Witri tak mengerti kemudian memakai kaosnya.


"Ya pas kamu ngerasa enak gitu kamu mikirin apa?" tanya Hari


"Nggak mikirin apa- apa. Nggak bisa mikir lainnya lah. Mikir kenapa bisa enak banget aja." jawab Witri sambil terkekeh malu.


"Aku pinter ya?" tanya Hari dengan tawa narsis.


"Eh...?!" Witri meresponnya dengan tatapan keheranan campur curiga.


"Jangan bilang kamu udah pengalaman ya..." kata Witri sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Hari.


"Ya enggaklah! Kamu yang pertama, satu- satunya dan yang terakhir juga pastinya." sergah Hari cepat.


"Dapat ilmu dari mana kok bisa kayak tadi? Belajar dari senior?" tanya Witri dengan tatapan kepo.


"Spontan ngikutin naluri aja. Ternyata kok enak ya?" kekeh Hari geli sendiri.

__ADS_1


Apakah benar adanya kalau salah satu obat gelisah adalah ber cinta?


Enak banget dong ya obat gelisahnya? wk..wk..wk...


Tapi kasian dong yang masih jomblo...


"Mau kemana?" tanya Hari saat Witri beringsut turun dari ranjang.


"Mandi...makan...laparrrr..." kata Witri sambil membelai- belai perutnya.


"Nanti malam masih boleh lagi kan, Jeng?" tanya Hari sambil menatap penuh harap pada. Witri yang sudah mencapai pintu kamar.


Witri menatap Hari sesaat kemudian tersenyum. Hari balas tersenyum makin lebar, merasa yakin Witri akan mengangguk walau mungkin dengan malu- malu.


"Liat nanti aja, aku ngantuk nggak." jawab Witri kemudian tertawa.


"Yaaaaahhhh...." keluh Hari sedih. Wajah penuh harapnya langsung keruh seketika.


Witri hanya menjulurkan lidahnya sebelum keluar kamar.


Hari belum beranjak dari ranjang. Masih termangu dengan pikirannya sendiri.


Hatinya sudah kembali tenang dan lega. Dan juga percaya bahwa Witri tak pernah lagi memasukkan Jiwo dalam ingatan di hari- harinya. Apalagi saat mereka sedang ber cinta.


Dia kembali memiliki keyakinan kalau sudah bisa meraih hati Witri. Menggeser posisi Jiwo di hati istrinya itu untuk jadi satu- satunya yang akan dicintai oleh Witri.


Senyum lebar terukir sempurna di wajah lega dan bahagia milik Hari.


Dia telah merasa kebahagiaannya sempurna.


"Nyeremin ih Mas senyum- senyum sendiri gitu." suara Witri di depan pintu kamar yang sudah terbuka mengagetkan Hari.


Hari kembali melebarkan senyumnya.


Entah kenapa rasanya senang sekali kalau mengingat Witri selalu bilang suka dengan permainannya.


Merasa keren banget aja.


"Mandi dulu sana. Masakanku udah rindu juga sama kamu." kata Witri yang malah kemudian mendekat dan sambil berdiri membawa kepala Hari ke dadanya.


Hari tentu saja senang sekali mendaratkan wajahnya disana. Bersandar di bagian itu nyamannya nggak ada lawan!


"Kamu cinta aku nggak?" tanya Hari tiba- tiba sambil mendongakkan kepalanya.


Witri yang sedang menunduk langsung bisa melihat mata Hari yang menatapnya dengan penuh asa.


"Kenapa nanya gitu?" tanya Witri mencoba berkelit.


"Kalau aku, aku cinta sama kamu. Kalau kamu juga cinta sama aku kan artinya kita saling mencintai." kata Hari.


"Kalau aku nggak cinta?" tanya Witri sambil tersenyum namun nampak kikuk.


"Kalau belum cinta yang penting kamu setia lahir batin." kata Hari


"Kalau yang itu bisa aku pastikan. Yes I do." sahut Witri tanpa ragu.

__ADS_1


"Kalau soal cinta?" tanya Hari lagi.


"Aku belum nyari tahu sih aku cinta atau nggak." kata Witri sambil terkekeh dan mengusap asal wajah Hari dengan ke empat jarinya.


"Kenapa harus nyari tahu dulu? Kamu nggak cinta ya?" tanya Hari dengan suara merajuk.


"Mandi!" perintah Witri sambil melepaskan diri dari pelukan Hari. Dia harus bisa keluar dari pembicaraan yang tidak membuatnya nyaman ini.


"Cinta nggak?" tanya Hari tak perduli.


"Mandi! Aku tadi minta kamu mandi ya, Mas.Bukan ngajakin kamu ngomongin cinta." kata Witri sambil mendorong tubuh Hari sekuat tenaganya agar bergerak ke pintu dan keluar dari kamar.


Witri termenung sesaat setelah Hari menutup pintu kamar sambil ngomel- ngomel berisi rajukan.


Cinta ya? Apakah rasa nyaman dan mulai terbiasa, mulai merasa kehilangan saat Hari tak di dekatnya, dan selalu menyukai keberadaan Hari di dekatnya bisa disebut sebuah cinta?


Apakah rasa hati yang tenang dan nyaman, merasa terlindungi dan dicintai sepenuh hati adalah salah satu tanda rasa cinta?


Perasaan syahdu dan hangat di dalam dada saat mengingat perlakuan manis Hari di kamar apakah juga wujud dari rasa mencintai?


Rasa itu jelas beda dengan yang dia rasakan ke Jiwo dulu.


Rasa yang dia miliki untuk Jiwo dulu adalah rasa rindu yang terasa sangat menusuk hati, membuatnya bisa menangis pilu dan nyeri seperti terhempas di dalam jurang yang tak berujung.


Kenangan bertahun lamanya akan ciuman Jiwo di pipinya kini dirasanya habis tak bersisa di ingatannya yang telah berganti dengan lembutnya perlakuan Hari di hari- harinya, juga di malam- malamnya.


Entah sejak kapan dia tak lagi menghadirkan Jiwo sebagai pembanding atas Hari.


Dia sudah kehilangan moment dimana dia selalu berpikir seandainya Jiwo yang begini atau seandainya Jiwo yang begitu, bukan Hari yang melakukan semua itu dengannya.


Tidak. Witri hampir tak percaya saat menyadari itu.


Jiwo telah menghilang dari hatinya?! Benarkah ini?


Apakah perasaan mendalamnya pad Jiwo sekian belas tahun sirna begitu saja dalam hitungan tahun karena kebersamaannya dengan Hari? Benarkah begitu?


Witri sedih menyadari dia telah kehilangan perasaan itu dari hatinya untuk Jiwo. Perasaan yang telah dia rawat dengan sebaik mungkin bertahun- tahun kemarin.


Apa kabarmu, Wo? Apakah kamu juga sudah bahagian dengan pasanganmu sekarang?


Aku bahagia sama Mas Hari, Wo. Aku harap kamu pun sebahagia aku sekarang. Atau bahkan lebih? Apakah kamu lebih bahagia dariku karena kamu sudah punya malaikat kecil yang memanggilmu 'ayah'? Begitu kan kamu ingin dipanggil oleh anak- anakmu? Anak- anak yang dulu ku harap terlahir dari rahimku.


Witri masih melamun sendiri saat pintu kamar kembali terbuka dan membuatnya terlonjak.


"Kirain udah nunggu aku buat makan. Ternyata masih disini aja. Mau makan apa mau ronde kedua nih?" tanya Hari sambil tersenyum nakal menatap Witri yang nampak sekali sedang berusaha menata keterkejutannya. Hari sedikit keheranan melihatnya.


"Ish...ronde kedua. Enak aja!" kata Witri sambil bergegas berdiri untuk keluar kamar diikuti Hari yang berjalan di belakangnya sambil mencolek- colek pinggangnya. Witri berjalan dengan terkikik geli sambil sedikit melompat- lompat karena gelitikan di pinggangnya itu.


"Minta ronde kedua malah dikasihnya makan." kata Hari dengan nada merajuk sambil menerima uluran piring yang telah diisi nasi oleh Witri.


"Ronde keduanya nanti malam dong. Barusan juga keramas. Rambut belum kering masak udah mau keramas lagi." sergah Witri sambil mencentong sayur.


"Ronde keduanya boleh dua sesi ya?" pinta Hari disela kunyahannya. Alis kirinya dia naik- naikkan sengaja menggoda Witri yang tengah menatapnya kesal.


"Makan! Diem!" kata Witri dengan wajah ketusnya.

__ADS_1


"Iyaaaa...Galaknya..." jawab Hari kemudian menunduk tenang dengan makanannya.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2