
Kepindahan Witri dari asrama dipenuhi dengan drama ala emak- emak yang mengharu biru. Banyak yang menitikkan airmata saat Witri berpamitan serta meminta maaf dengan memeluk satu demi satu ibu- ibu asrama.
Ada banyak buah tangan yang diterima Witri dari mereka. Membuat Witri terharu saat melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam pick up pengangkut barang terakhir.
Di belakang pick up ada Nadi yang membawa motor milik Hari, juga Teh Lilis dan Bu Ikhsan yang berboncengan karena ingin tahu lokasi rumah sewaan Witri.
Tak sampai setengah jam perjalanan, sampailah mereka di tempat tujuan.
Mamak menyambut mereka dengan senyum kecilnya.
Tadi Mamak dan Nadi ikut pick up saat pertama kali mengangkut barang. Ternyata harus dua kali angkut agar semua barangnya bisa pindah semuanya.
Diam- diam Witri bersyukur selama ini tinggal di rumah mungil hingga tak perlu memiliki banyak barang. Dan saat harus pindah begini tak harus mondar- mandir terlalu banyak untuk mengangkut semua barang.
"Lebih gede ini daripada asrama ya, Wit..." kata Teh Lilis begitu memasuki rumah yang masih belum tertata.
Semua barang memang sudah ada di tempat yang seharusnya barang itu berada, namun belum ditata saja.
Biarlah nanti pelan- pelan ditata, yang penting sudah ada di dalam rumah dan nggak takut kehujanan.
"Iya. Lumayan Teh, punya dua kamar sekarang." kata Witri sambil tersenyum.
Pekerjaan menata rumah yang dipikir Witri nanti akan dia kerjakan pelan- pelan berdua sama Mamak ternyata dikerjakan berlima.
Teh Lilis dan Bu Ikhsan ternyata memang berniat untuk bantu- bantu berbenah mengingat kondisi Witri yang sedang hamil muda. Jadi mereka melarang Witri melakukan terlalu banyak pekerjaaan.
Beruntung ada Nadi yang menurut saja di perintah mengangkat ini itu oleh para ibu- ibu.
"Maafkan kami ya Pak, dari tadi nggak sopan nyuruh ini itu." kata Teh Lilis saat semua sudah tertata dan mereka sudah bisa menikmati teh hangat dan cemilan di ruang tamu yang sudah dihidangkan oleh Witri.
"Nggak papa. Memangnya kenapa? Lagian disini yang lelaki saya sendiri. Wajar saja kan?" kata Nadi sambil tersenyum simpul.
"Tapi kan Anda komandan suami Saya..."
"Komandan kan kalau lagi kerja. Kalau lagi pakai seragam. Lha ini Saya pakai kaos oblong. Nggak ada tulisan komandannya." sergah Nadi sambil tertawa kecil. Teh Lilis ikut tertawa. Lega rasanya melihat tawa Pak Nadi.
Biasanya orang ini lebih sering terlihat berwajah datar saja.
Ternyata kalau di ajak ngobrol bisa senyum bahkan ketawa rupanya.
Kecanggungan mulai tercipta setelah Bu Ikhsan dan Teh Lilis pamit menjelang senja.
Otomatis yang ad hanya Mamak, Witri, dan Nadi.
Baru saja Mamak pamit akan mandi dulu. Dan untuk meninggalkan Nadi begitu saja juga jelas nggak sopan sama sekali. Apalagi dengan yang sudah dia lakukan sejauh ini. Sejak Hari masuk rumah sakit, kemudian mengurus semuanya sampai Hari bisa sampai di pembaringan terakhirnya di kampung halaman, bahkan sampai acara pindah rumah ini.
"Terimakasih banyak untuk semua bantuan Anda, Pak. Saya nggak bisa membalasnya dengan apapun. Semoga nanti Allah membalas berkali lipat semua kebaikan yang telah Anda lakukan untuk keluarga Saya." kata Witri dengan sangat sopan dan resmi.
Nadi menjadi sedikit jengah dengan situasi ini.
Memang benar, dia baru tahu dan mengenal Witri beberapa hari ini. Bahkan mungkin dia tidak akan mau 'mendekat' ke perempuan apalagi istri orang. Dia bisa kenal Witri juga karena situasi yang tidak mengenakkan yang menimpa Hari.
Tapi wasiat Hari padanya membuatnya memaksa dirinya sendiri untuk mendekat pada Witri. Dia harus menjaga Witri sampai Witri bertemu jodohnya lagi. Entah sampai kapan.
"Panggil aku Bang saja. Aku belum terlalu tua untuk selalu dipanggil Pak." kata Nadi mencoba mengurai kecanggungan.
Witri mengangkat pandangannya yang sedari tadi tertunduk. Ada sorot tak enak hati disana.
"Ya sudah kalau nggak mau. Panggil Pak saja juga nggak papa." kata Nadi kemudian. Witri hanya kembali tertunduk.
__ADS_1
"Aku numpang duduk sebentar ya. Nunggu temenku menjemput. Kalau kamu mau ngapa- ngapain di belakang silakan aja, nggak perlu nemenin." lanjut Nadi lagi dengan wajah sesantai mungkin.
Situasi kaku bersama perempuan macam begini adalah situasi yang paling tidak dia sukai. Rasanya lebih baik berada di situasi mengokang senjata di medan tempur daripada harus berhadapan satu lawan satu dengan perempuan begini walau sekedar hanya untuk ngobrol.
"Baik. Saya ke belakang dulu." kata Witri langsung berdiri dengan wajah yang mulai mengendor kekakuannya.
"Mau saya buatkan kopi, Pak? Eh, Bang?" tanya Witri setelah dua langkah dia berlalu.
Nadi sedikit kaget dengan pertanyaan itu.
"Boleh kalau nggak merepotkan." jawab Nadi kemudian.
Rupanya bisa juga dia memanggilku Abang...
...🍁🍁🍁...
Jiwo membanting tubuhnya kesal ke atas kasur. Dia bahkan mengacak- acak ranjang yang masih rapi itu dengan menggerak- gerakkan kaki dan tangannya seperti sedang berenang.
"Lu ngapain, Wo?!" seru Martin kaget mendapati kelakuan Jiwo yang menurutnya aneh banget itu.
"Capek." jawab Jiwo sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Capek apa kesel lu?" tanya Martin sambil melirik Jiwo. Dia sendiri dengan tenang melepas dasi dan kemejanya hingga dada berbulu tipisnya terekspose.
"Sama aja artinya kalau orang Jawa yang ngomong itu." jawab Jiwo masih dari balik bantal. Martin mengerutkan keningnya nggak ngerti.
"Maksud lu apa sih? Nggak ngerti gue." kata Martin sambil menabok betis Jiwo.
"Kesel itu bahasa Jawanya capek." kata Jiwo sambil beranjak duduk.
Martin ber O ria dengan mulutnya yang nampak melongo.
"Sedikit." jawab Jiwo sambil meringis kemudian beranjak ke kamar mandi untukwnghindari interogasi Martin lebih dalam.
"Gue dulu woi yang mandi! Gue udah telanjang ini!" seru Martin sambil menimpuk Jiwo dengan kemeja kotornya namun nggak kena karena Jiwo sudah terlanjur sampai di pintu kamar mandi.
"Mandi aja disitu. Kan kamu telanjangnya disitu." ledek Jiwo dari balik pintu kamar mandi.
"An jrit emang lu!" seru Martin kemudian merebahkan diri di ranjangnya sambil mengulik ponselnya. Menunggu Jiwo mandi nggak akan mengesalkan karena temannya itu cepat kalau mandi.
ya
Jiwo mengguyur kepalanya dengan air dari shower yang dia alirkan dengan kederasan maksimal. Seakan dengan cara itu dia akan bisa menghilangkan kekesalan hatinya karena rencana kepulangan yang sampai menjelang sore tadi nggak ada perubahan - yang bisa dimajukan empat hari karena urusan bisa lebih cepat diselesaikan- tiba- tiba berubah saat mereka di perjalanan menuju apartemen perusahaan yang mereka tinggali selama ada di negara sakura itu.
Beruntung perusahaan memiliki dua apartemen dengan berbeda ukuran di gedung yang sama. Jadi Jiwo dan Martin nggak harus bercampur dengan Lusi. Sementara Jiwo dan Martin menempati apartemen yang lebih besar, Lusi menempati apartemen dengan ukuran yang lebih kecil walau dengan fasilitas yang sama, hanya beda lantai.
Jiwo menyabuni dan menggosok badannya dengan sekuat tenaga seperti sedang memandikan sapi saja. Dia gondok nggak ketulungan karena rencana yang telah dia susun seolah ikut hancur dengan kemunduran kepulangannya, menjadi seperti rencana awal, tepat dua minggu. Waktu empat hari terasa waktu yang sangat berharga untuk terbuang percuma. Seharusnya dia sudah pulang besok, bukannya empat hari lagi.
"Hiiiiiiih!!!" kesalnya dengan menghentak- hentakkan kakinya berulang kali ke lantai seperti bocah yang kesal karena keinginannya nggak keturutan.
"Wo! Pingsan lu?!" teriak Martin dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Nggak!" jawab Jiwo ikut teriak
"Buruan! Gue kebelet inih!" teriak Martin lagi.
"Iya! Bentar!" jawab Jiwo kemudian menghidupkan shower untuk membilas busa sabun di tubuhnya.
"Ngo cok lu?! Tumben lama." ledek Martin begitu Jiwo muncul dari kamar mandi.
__ADS_1
"Mulut nggak ada manner nya!" sahut Jiwo sambil meringis melewati Martin.
"Wah! Beneran lu begituan, Wo? Wah bakal ad bau sisa santen dong nih kamar mandi." oceh Martin dengan bergaya sok jijik.
"Punyaku bau gudeg, nggak bau santen." sahut Jiwo dengan wajah kesal.
Martin terbahak- bahak sambil menutup pintu kamar mandi.
"Gue mau ke klub sebentar, janjian ketemu sama mantan. Mau ikut nggak lu?" tanya Martin menghampiri Jiwo yang sedang berdiri di balkon sambil memotret suasana malam.
"Enggak." jawab Jiwo cepat.
"Kayak gadis pingitan lu. Nggak pernah mau di ajak clubbing. Takut diper ko sa lu?" ledek Martin sambil terkikik geli.
"Enggak. Aku cuma nggak biasa aja." jawab Jiwo sambil tersenyum.
"Ya udah. Kunci pintu. Di rumah sendirian lu. Hati- hati lu ntar kalau ada yang mau merampas keperjakaan lu, gue nggak bisa bantuin lu mempertahankannya." ledek Martin sambil ngeloyor menuju pintu.
"Ntar kalau gue nggak pulang, gue kabarin lu!" teriak Martin sambil memakai sepatunya.
Jiwo bergegas menghambur ke depan.
"Nggak pulang? Kamu mau nginep dimana?" tanya Jiwo penasaran.
"Ya kalau ada yang ngajak mengenang masa lalu, bisa gue pastikan bakal nginep di kamar hotel dia." kata Martin sambil mengerling genit.
Astagfirullahaladzim....
"Besok kita nggak boleh telat lho!" sergah Jiwo.
"I know. Nih, gue udah bawa semuanya buat besok. Baju, proposal, everything buat prepare kalau nanti gue pengen nginep sama dia." kata Martin sambil menepuk tas ransel di pundaknya.
Jiwo meringis sambil menggeleng.
"Kita bertemu di lokasi ya besok. Have a nice dream my little boy..." pamit Martin sambil berusaha meledek dengan membelai pipi Jiwo yang langsung dihindari Jiwo dengan wajah kesal.
"Gek lungo kono! ( buruan pergi sana!)" usir Jiwo dengan menendang- nendangkan kakinya ke arah Martin yang terkekeh- kekeh penuh kesombongan.
"Wong edan!" omel Jiwo sambil kembali menuju balkon. Kembali meneruskan kegiatannya menikmati malam sendirian. Seperti biasanya dimanapun dia berada. Sendirian menikmati malam.
Namun malam ini berbeda. Dengan menhan nafas, dia kembali msnggulir beberapa kali layar ponselnya dan kemudian menatap lekat beberapa photo yang dikirimkan Lukman saat melayat ke rumah Witri
Entah sudah berapa ratus kali dia menatapi satu demi satu photo itu sejak beberapa hari lalu.
Tentu saja ada yang membuatnya begitu sangat suka menatapi photo- photo itu.
Ada satu wajah yang selalu menarik fokus tatapannya.
Perempuan bergamis abu tua dan berkerudung hitam dengan senyuman manis namun dengan tatapan mata sedih yang begitu dalam.
Entah mengapa sejak pertama menatap wajah itu hati Jiwo merasa langsung hancur. Begitu sedih dan nelangsa. Bahkan dia nyaris tak bisa menahan laju airmatanya sekalipun sudah berkali- kali dia menatap wajah itu.
Yang kuat ya, Wit...Aku akan kembali mendoakan kamu dari jauh. Aku akan kembali mendoakanmu dan memintamu pada- Nya lagi.
Jemari Jiwo kini menggulir ponselnya menuju kontak yang dia beri nama ❤️ Hope❤️.
Ingin sekali dia memencet tombol bergambar gagang telpon agar bisa tersambung dengan Witri. Namun sekuat hati dia menahannya. Dia sudah bertekad akan datang langsung ke hadapan perempuan itu sepulang dia dari sini. Bonus liburan seusai tugas luarnya kali ini akan dia gunakan untuk hal yang akan sangat menentukan kesejahteraan hati dan jiwanya di masa depan.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1