JANJI JIWO

JANJI JIWO
Penyembuh Luka Nadi


__ADS_3

Jiwo kembali menatap ponsel digenggamnya. Kembali berharap pesannya pada Witri ternotifikasi sudah terbaca. Namun sampai detik terakhir ini, pesannya masih tercentang abu- abu.


"Kamu kenapa sih, Wit?" gumam Jiwo gelisah. Ini sudah tengah malam di Aceh. Dan nggak mungkin rasanya kalau dari pagi Witri nggak megang ponselnya.


Tadi Jiwo sudah mencoba menelpon Witri. Dia pas kan di jam Witri sudah istirahat. Namun dua kali panggilannya tak diangkat. Yang membuatnya menyesal adalah kenapa tadi nggak terus nyoba nelpon Mamak. Harusnya kan kalau nomer Witri nggak bisa dihubungi, dia bisa nelpon mamak untuk nanya.


"Bodohnya aku...!" gumam Jiwo sambil menepuk- nepuk keningnya dengan keras menyesali kelambatannya berpikir.


Dan tengah malam gini jelas nggak sopan banget kalau harus nelpon Mamak untuk menanyakan kabar Witri karena Jiwo yakin Mamak pasti mengabarinya kalau sesuatu terjadi pada mereka. Itu janji Mamak padanya saat dia datang ke Aceh dulu.


Dan beginilah akhirnya yang terjadi di sebuah apartemen di sebuah sudut kota Gumi. Seorang lelaki dewasa yang tengah gundah gulana melewati malamnya sendirian dan belum tahu sebuah hal besar tengah terjadi pada orang yang tengah dipikirkannya hingga lepas dinihari.


Gumi merupakan kota kecil di provinsi Gyeongsang Utara. Meski kota ini disebut kecil namun di wilayah ini terdapat pusat industri Korea Selatan, yaitu Gumi Industrial Complex. Kota ini terletak di tepi Sungai Nakdong.


Entah berapa lama Jiwo terlelap. Yang pasti matanya sangat berat saat harus terbuka karena mendengar suara adzan subuh dari ponselnya.


Dengan mata yang masih terasa sangat pedas dan kepala sedikit pusing, dia beranjak ke kamar mandi untuk mandi mini. Yang penting semua badan basah dan tersabuni rata. Dia menjalankan sholat subuhnya sendirian dengan pikiran yang kembali lari ke sebuah tempat di tanah air saat tangannya menengadah memanjatkan doa selepas sholatnya. Berdoa agar semua orang yang dicintainya di tanah air sana selalu dalam keadaan baik- baik saja.


Jiwo harus mwnyabarkan hatinya lagi setidaknya dua jam lagi untuk mencoba menghubungi Witri atau Mamak.


Perbedaan waktu dua jam lebih awal di tempatnya membuat Jiwo berpikir Mamak dan Witri masih tertidur di dini hari mereka.


Padahal yang terjadi ternyata tak seperti dugaan Jiwo.


Mamak tengah duduk berbincang dengan Nadi di kursi depan ruangan inap Witri. Nenek baru itu tak merasa mengantuk sama sekali sejak semalam. Apalagi saat melihat wajah tampan cucu lelakinya. Semua rasa penat terasa melayang begitu saja.


Pun Nadi. Lelaki itu masih sangat berbunga- bunga hatinya sejak dia menggendong Aksa untuk pertama kali dan mengadzani bayi milik sahabatnya itu.


Walau dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis haru, dia sukses memperdengarkan suara adzan dan iqomah terbaiknya untuk Aksa, dia niatkan mewakili ayah bayi itu yang harus lebih dulu kembali ke Rahmatullah.


Tak lama dia menggendong Aksa, namun sampai detik ini sebelah lengannya rasanya ditempeli bayi itu.


Wangi minyak telon rasanya masih menempel sempurna di baju bahkan dihidungnya. Membuat dia dihinggapi semacam rasa.... rindu.


Indah sekali perasaan yang tengah dirasakannya saat ini. Rasanya seperti...orang jatuh cinta.


Ya. Tak apa kan jatuh cinta pada seorang bayi?


"Beneran Witri pulangnya nanti, Mak? Nggak dirawat dulu barang dua atau tiga hari disini?" tanya Nadi seusai menyeruput segelas kopi yang tadi dipesannya di kedai depan klinik. Mamak sendiri memilih menikmati teh panas.

__ADS_1


"Iya. Inilah enaknya kalau bisa lahiran normal. Langsung sembuh begitu bayinya keluar." kata Mamak sambil terkekeh.


"Langsung...sembuh?!" tanya Nadi tak percaya.


"Ya kalau dibanding orang yang melahirkan Caesar jelas lebih enak yang lahiran normal. Kalau lahiran normal kayak Witri, lukanya cuma sedikit. Cuma di jalan lahir aja. Sakitnya cuma sedikit dan hanya beberapa hari. Itupun dia sudah bisa berkegiatan. Istilahnya udah bisa langsung ngurus bayinya sendiri karena badannya sehat. Yang sakit cuma sedikit dari tubuh. Sakitnya pun baru terasa kalau dipakai buat pipis. " jelas Mamak santai. Nadi sebenarnya takjub mendengar penjelasan itu.


Kalau dibilang dia nggak tahu apa- apa soal masalah hamil dan melahirkan, itu memang benar adanya.


Selama ini, sebelum dititipin untuk menjaga Witri oleh Hari, dia selalu menghindari perbincangan mengenai segala hal yang berbau orang hamil dan melahirkan. Dia nggak sanggup mendengarnya karena pikirannya pasti akan teringat pada istri dan calon anaknya yang telah meninggal.


Dia nggak mau memperdulikan soal itu untuk menjaga kewarasannya sendiri.


Namun cara Allah menunjukkan hikmah dari setiap musibah kadang memang tak terduga.


Dia jelas tidak tahu sebelumnya kalau istri yang dititipkan Hari padanya bisa menyembuhkan trauma dan luka batin yang selama ini dia tanggung sendiri.


Nyaris selalu ikut andil menyertai dalam masa kehamilan Witri, bahkan kini sampai diijinkan menjadi orang pertama yang memperdengarkan suara adzan dan Iqamah untuk Aksa, ternyata mampu mengobati luka- luka batinnya yang sempat dikoyak kenyataan karena terenggutnya istri dan calon anaknya dihari yang sama karena kecelakaan.


Baru menikmati senangnya 'direpotkan' oleh kemanjaan akibat kehamilan istrinya, juga tengah melambungkan angan akan dimilikinya seorang anak yang lucu dan menggemaskan, tiba- tiba saja keduanya terenggut dari hidupnya tanpa aba- aba.


Mencoba segala cara agar tak menyalahkan takdir dan mencoba tetap waras agar selalu bisa mendoakan kedua hartanya, membuat Nadi kemudian jadi pribadi yang cenderung lebih pendiam dan dingin dari sebelumnya.


Dia hindari semua perbincangan yang menyangkut kebahagiaan sebuah keluarga, apalagi bila pembicaraan mengenai kehamilan istri atau membicarakan bayi. Nadi akan memilih pergi dari perbincangan itu agar hatinya tak merana kemudian merindu yang dia tahu tak akan bisa berujung temu.


Nadi melirik arlojinya. Setengah empat pagi dan dia tidak merasa mengantuk sama sekali.


"Nggak ngantuk, Mak." jawab Nadi."Mamak aja kalau ngantuk bisa masuk, tidur dulu di dalam." tawar Nadi karena tadi dia mendengar suster memberitahu Mamak kalau ada dipan kosong di sebelah dipan Witri yang sementara boleh digunakan Mamak kalau ingin sejenak terlelap.


"Mamak juga nggak ngantuk sama sekali." kata Mamak sambil tertawa kecil. Nampak jelas rona bahagia di wajah Mamak.


"Aksa boleh di gendong lagi nggak sih, Mak?" tanya Nadi iseng.


"Jam segini? Pasti nggak boleh kalau anaknya lagi tidur." jawab Mamak.


"Hmmm..." sahut Nadi kecewa.


"Pengen gendong lagi?" tanya Mamak keheranan. Dikiranya Nadi takut menggendong bayi merah.


"Kayaknya baru gendong sekali terus bakal bikin ketagihan anak itu. Aduuuh, besok- besok gimana ya?" gumam Nadi gemas. Mamak hanya tersenyum.

__ADS_1


Dalam hati mamak berulang kali terucap rasa terima kasihnya pada sahabat menantunya ini.


Entah bagaimana repotnya dia kalau tak ada Nadi yang menemaninya mendampingi masa kehamilan Witri bahkan sampai proses melahirkan yang jauh dari keluarga dan kampung halaman.


Beberapa bulan mengenal dan semakin tahu kepribadian Nadi, Mamak mudah saja menyayangi lelaki yang telah yatim piatu dan sebatang kara itu. Mereka seperti telah berubah jadi sebuah keluarga yang saling melengkapi. Nadi menjadi sosok anak lelaki yang jadi pelindung di keluarga itu.


"Terimakasih ya..." kata Mamak tiba- tiba meraih telapak tangan Nadi kemudian merangkumnya lembut. Mata Mamak sudah berkaca- kaca menatapnya.


"Mak..."


"Terimakasih sudah mau menjalankan amanah Hari untuk menjaga Witri, bahkan juga menjaga Aksa dan Mamak." kata Mamak dengan suara tercekat.


"Mamak doakan kamu dengan sungguh- sungguh, semoga Allah kembali kirim jodoh untukmu biar kamu punya keluarga yang bahagia, nggak sendirian terus seperti ini." kata Mamak dengan tatapan haru seorang ibu.


"Aamiin, Mak... Terimakasih doanya. Semoga Mamak bisa aku kasih mantu yang sholehah. Mamak mau kan kalau aku ajak melamar?" tanya Nadi sambil tersenyum haru.


"Tentu saja! Kamu harus ajak Mamak buat melamar. Siapa lagi Mamakmu kalau bukan perempuan tua ini?" tanya Mamak sambil memukul lembut lengan Nadi dan tersenyum.


"Kapan?" tanya Mamak kemudian.


"Apanya?" tanya Nadi bingung.


"Melamarnya..." sahut Mamak cepat.


"Hah?" tanya Nadi bingung lalu sekejap kemudian terkekeh malu.


"Ya besok kalau udah ada calonnya, Mak. Sekarang nyari aja belum." kata Nadi sambil meringis malu.


"Kirain tinggal berangkat..." kata Mamak sambil tertawa meledek. Keduanya terus saja ngobrol asik diluar kamar Witri yang mereka kira tidur. Padahal Witri sudah terbangun dari tidurnya dan tengah asik dengan ponselnya. Dia tahu Aksa tadi dibawa ke ruang bayi dan akan dibawa padanya lagi saat bayi itu bangun.


Begitu memegang ponsel, hal pertama yang dia lakukan adalah menatapi photo- photo Aksa yang tadi diambil dengan ponsel Nadi dan telah dikirimkan semuanya ke ponselnya.


Yang membuatnya takjub sedari tadi adalah dia merasa photo Aksa ada yang mirip dia tapi ada juga yang terlihat mirip Hari.


"Kok bisa ya?" gumam Witri berulangkali dengan kadar keheranan yang tak surut.


Setelah membuat kolase dua photo Aksa dimana satu dirasanya mirip dengannya dan yang satu mirip Hari, dia kirimkan gambar itu kepada bapak mertua dan ke mbak Tati serta sebuah video saat Aksa selesai sukses nen padanya untuk pertama kali yang tadi diabadikan oleh Mamak.


Langkah selanjutnya adalah membalas pesan dan panggilan tak terjawab Jiwo sejak kemarin dengan mengirimkan sebuah photo Aksa dan tulisan 'maaf, kemarin sedang sibuk berubah jadi ibu sejati.'

__ADS_1


Pesan itu belum terbaca karena sang pemilik ponsel ketiduran di atas sajadahnya.


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2