
Jiwo membanting punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dengan kesal setelah sebelumnya melempar ponselnya dengan emosi ke atas meja dengan asal.
Untung ponsel mahal itu tak bablas melewati lembaran kertas pekerjaannya, hingga tetap selamat teronggok di samping file holder dan tak terbanting di lantai seberang mejanya.
Rasanya ingin menghamburkan seisi meja kerja yang ada di hadapannya ini saking kesalnya.
Walau akhirnya nalarnya masih tetap mau bekerja dengan baik untuk bisa meredam dan mengalahkan emosi yang membakar hatinya.
"Astagfirullahaladzim..." gumamnya berulangkali sambil berulangkali mengusap wajah dan mengacak rambutnya.
Ditariknya kemudian dihembuskannya nafas panjang berulang kali untuk mengurai kekesalan yang memenuhi hatinya.
Jiwo menggeleng- gelengkan kepalanya berulangkali setelah sedikit tenang.
Harusnya dia tak boleh memikirkan mamsalah pribadinya di jam kerja sampai seserius ini.
Pekerjannya sendiri sedang lumayan padat dan butuh konsentrasi, malah di tambah dengan kerewelan Ifah yang dirasanya semakin menjadi- jadi akhir- akhir ini.
Seperti yang baru saja terjadi dan membuat darahnya sampai ke ubun- ubun.
Telepon Ifah yang hampir satu jam berdebat dengannya tadi berakhir dengan meninggalkan kekacauan dan kekesalan di benaknya.
Dari nada suara keduanya yang sama- sama santai, kemudian sedikit demi sedikit semakin naik intonasinya, dan semakin panas perdebatan hingga berakhir dengan teriakan dan telpon yang langsung dimatikan dengan emosi oleh Ifah.
"Nggak bisa nih kalau kayak gini." gumam Jiwo sambil menyembunyikan wajahnya di atas kedua lengannya yang terlipat dan bertumpu di bibir meja.
Matanya nanar menatap sepatu mengkilap yang membungkus kakinya. Dia ingat sepatu itu dia beli enam bulan lalu saat Ifah ke Jakarta untuk mengunjunginya sekalian menghadiri wisuda adiknya di Bandung.
"Jangan memutuskan sesuatu saat masih emosi gini, Wo." kata Ruslan di ujung telpon saat Jiwo sengaja menelpon Ruslan seusai jam kantor.
Walau mereka sudah terpisah jarak, namun hubungan persahabatan Jiwo dan Ruslan tak berkurang kualitasnya.
Keduanya tetap suka curhat satu sama lain tentang masalah mereka.
Dan kali ini Jiwo yang curhat soal masalahnya dengan Ifah.
Saat ini dia masih asik duduk santai sendirian di trotoar di area parkiran motor kantornya.
Lengan bajunya sudah dia tarik hingga ke atas sikunya. bawahan kemejanya sudah dia keluarkan dari balik celananya.
"Keterlaluan banget mulutnya. Aku nggak bisa ngebayangin ke belakangnya bakalan gimana kalau aku hidup sama dia." kata Jiwo setengah tersengal menahan amarah karena kembali teringat ucapan- ucapan kasar Ifah tentang perempuan paling mulia di hidupnya. Ibu.
"Mungkin dia juga tersulut emosi karena dia disini juga di desak sama keluarganya." kata Ruslan masih mencoba menenangkan Jiwo dan bersikap netral.
"Aku ngerti Rus. Aku juga nggak apatis setiap kali dia ngeluh ini itu soal tuntutan keluarganya. Aku selalu berusaha semaksimal mungkin melakukan yang bisa meringankan persoalannya." sambar Jiwo cepat.
Keduanya lalu diam beberapa saat.
"Aku nggak pernah nyangka dia bisa ngomong sekasar itu. Apalagi soal Ibu. Menyakitkan sekali." gumam Jiwo lebih seperti mengadu.
"Hmmm... Aku cuma bisa menyarankan ke kalian berdua untuk jangan memutuskan apapun dulu kalau belum tenang. Sayang sama hubungan kalian selama ini. Dua tahun lebih lhoh, Wo. Selama ini baik- baik aja. Baru belakangan ini kan kalian suka ribut?" tanya Ruslan kemudian. Jiwo mengangguk walau sadar Ruslan tak bakalan tahu anggukannya itu.
Tepatnya sejak empat bulan belakangan ini. Sejak keluarga Ifah menuntut kejelasan soal akan dibawa kemana hubungan mereka berdua.
Tentu saja Jiwo bisa menjawab pertanyaannya itu dengan mantap. Bahwa dia ingin menikahi Ifah.
Dari situlah kemudian percikan- percikan perselisihan mulai timbul.
Keluarga Ifah menuntut Jiwo segera melamar Ifah dan tentu saja Jiwo bersedia.
Lalu muncullah yang menurut pikiran Jiwo adalah 'permintaan- permintaan aneh' dari keluarga Ifah.
Belum juga lamaran resmi dilaksanakan, sudah ada wacana- wacana dari orangtua Ifah yang membuat Jiwo harus mengulur urat sabarnya lebih panjang.
Permintaan pertama dari mereka adalah Ifah tak boleh ikut ke Jakarta saat mereka nanti menikah dengan alasan Ifah adalah anak bungsu dan satu- satunya anak perempuan mereka. Maka orangtuanya tidak ingin ditinggalkan oleh Ifah. Biar Jiwo saja nanti yang pulang ke Kalimantan saat libur.
Walaupun sesungguhnya kurang sreg dengan permintaan itu, Jiwo masih bisa mentolelir dan menerimanya dengan membuat alibi sebagai salah satu bentuk tanda baktinya pada mertua nantinya.
__ADS_1
Namun saat dia obrolkan soal permintaan itu dengan mbak Rini, kakaknya itu sedikit kurang setuju dengan pemikiran dan penerimaan itu.
"Anak perempuan, begitu dinikahi seorang laki- laki, dalam keyakinan yang kita anut, dia sudah bukan milik orangtuanya lagi. Wajib bagi dia taat pada suaminya. Dan yang berhak atas dirinya adalah suaminya, bukan lagi orangtuanya. Kamu pasti tahu soal itu, Wo. Kalau kamu mengiyakan, itu bukannya kamu sama saja mendukung orang berbuat salah?" tanya Mbak Rini yang membuat Jiwo semakin bimbang.
Di satu sisi dia membenarkan perkataan kakaknya itu. Namun di satu sisi dia juga mengerti bagaimana sayangnya orangtua Ifah pada anak bungsunya itu.
"Tapi aku nggak papa kok, Mbak. Aku bisa menerima dan mengerti." kilah Jiwo saat itu.
"Ya udah kalau kamu menerima. Terserah kamu saja." kata Mbak Rini kemudian walau Jiwo sangat mendengar nada kecewa di suara kakaknya.
"Terus kalau benar nanti akan seperti itu apa bedanya kamu nikahin dia sama cuma macarin dia? Cuma mau ngerubah status doang tapi nggak ngerubah situasi buat kalian berdua?" sambung Mbak Rini yang membuat Jiwo tercenung.
"Kita liat aja nanti, permintaan apa lagi yang akan diajukan keluarga calon istrimu." sambung Mbak Rini lagi sambil tertawa kecut.
Jiwo sedikit berdesir mendengar ucapan itu.
Apakah akan ada permintaan lainnya lagi?
Dan ternyata benar adanya.
Ada permintaan dari orangtua Ifah kalau Jiwo dan Ifah nanti menikah dan akan membeli aset, apapun itu, agar membeli di Kalimantan saja, tidak usah memiliki aset di Jawa.
Jiwo kembali melongo dengan permintaan itu.
Saat Ifah menyampaikan 'saran' orangtuanya itu, Jiwo hanya mampu tersenyum kecut.
.Apa- apaan sih ini? Kok jadi ngatur sampai kesitu segala sih?, batin Jiwo ketika itu.
Namun Jiwo belum terlalu memikirkan soal permintaan itu. Masih jauh untuk dipikirkan sekarang.
Belum juga selesai Jiwo dalam membujuk hatinya agar mengerti dengan ke absurd an pola pikir keluarga Ifah, barusan datang lagi ulah mereka.
Dan yang kali ini mampu membuat darah Jiwo menggelegak kesal dan marah.
Rahang Jiwo kembali mengetat mengingat ucapan Ifah yang terdengar sudah bercampur emosi tadi.
Dia merasa semakin tak mengenali kekasihnya.
Ada apa sebenarnya dengan Ifah?
Ifah yang dia kenal nggak pernah berkata kasar seperti itu.
Kekasihnya adalah gadis periang namun selalu bertutur sopan.
Kamu kenapa sih,Fah?
Jiwo sudah merasa sangat pesimis bisa meneruskan hubungannya dengan Ifah ke jenjang yang lebih serius kalau begini.
Keraguannya semakin menguasai hatinya setelah mendengar ucapan penuh emosi dan menekan dari Ifah tadi.
Tadinya mereka membicarakan masalah lamaran yang ingin segera dilaksanakan dan Jiwo menyanggupi kapanpun orangtua Ifah mau.
Dan telepon tadi adalah telepon yang menanyakan (lagi) siapa yang akan datang ke rumah Ifah untuk menemani Jiwo melakukan lamaran resmi.
"Aku akan datang sama satu Pakde. Beliau kakaknya Ibu yang masih ada. Juga satu Om. Beliau satu- satunya saudara bapakku. Juga aku ajak kakak sulung ku." jawab Jiwo dengan suara tegas. Mempertegas jawaban yang sudah dia berikan dua malam sebelumnya atas pertanyaan yang sama.
"Ibumu beneran nggak ikut?" tanya Ifah sudah mulai agak naik nadanya.
"Aku kan sudah bilang kondisi Ibu kalau sekarang ini nggak memungkinkan untuk pergi apalagi melakukan perjalanan jauh. Kamu kan tahu Ibu barusan operasi dan harus bedrest agak lama." jawab Jiwo kembali mengulang jawaban yang sama dengan yang dia ucapkan dua malam lalu.
"Tapi orangtuaku maunya Ibumu ikut datang melamar,Mas. Masak mau minta anak orang hanya perwakilan sih. Nggak mau datang sendiri." sergah Ifah seolah tak mendengar penjelasan Jiwo.
Hari Jiwo sudah mulai bertalu- talu bak memperdengarkan suara genderang perang namun Jiwo masih berusaha sekuat tenaga menahan ledakan emosinya.
"Bukannya Ibu nggak mau.Ibu juga pengen banget melamar langsung. Namun kenyataannya beda. Kondisi Ibu nggak memungkinkan untuk itu." kata Jiwo sambil menghembuskan nafas pelan- pelan agar suaranya tak terdengar ngegas.
Kepalanya berdenyut nyeri saking stressnya memikirkan kerewelan Ifah.
__ADS_1
"Tapi masalahnya orangtuaku maunya Ibumu harus datang langsung, Mas. Nggak perlu lainnya. Yang penting Ibumu yang datang ke sini." kata Ifah tetap membandel.
Astagfirullahaladzim Ifaaaaaahhhh.....
"Kalau maunya begitu, ya satu- satunya jalan kita tunda aja dulu acara melamarnya." kata Jiwo akhirnya dengan nada putus asa.
"Lhoh, kok gitu?!" seru Ifah nggak terima.
"Ya mau gimana lagi? Orangtuamu maunya Ibuku langsung yang melamar kamu. Padahal Ibuku masih sakit dan belum bisa kemana-mana. Otomatis kalau untuk bisa menuruti kehendak orangtua kamu, ya mau nggak mau kita harus nunggu Ibu sehat dulu kan?" kata Jiwo sambil menyabar- nyabarkan hari.
Masak harus menjelaskan sedetail ini sih.!?
"Orangtuaku nggak mau ditunda- tunda lagi, Mas." sergah Ifah cepat.
"Ya udah. Kalau nggak mau ditunda lagi,aku datang dengan yang aku sebutkan tadi." sahut Jiwo cepat. Dia sudah mulai terbakar emosi.
"Ibumu rencana sembuhnya kapan sih?" tanya Ifah dengan nada ketus.
Deg!
"Sakit nggak pernah diminta apalagi di rencanakan. Begitupun sembuhnya. Kami sedang berupaya yang terbaik untuk kesembuhan ibu. Jadi kalau kamu nanya rencana sembuhnya kapan, kami nggak bisa jawab,Fah. Tapi kata dokter setidaknya dua bulan ke depan Ibu belum boleh beraktifitas berat apalagi perjalanan jauh." kata Jiwo sudah sambil mengepalkan tangannya menahan kekesalan.
"Kelamaan!" sungut Ifah yang membuat Jiwo semakin merasakan nyeri di hatinya.
"Jangan- jangan kami udah mau nunggu dua bulan lagi, nanti Ibumu bukannya sembuh malah tambah sakit. Nggak jadi lamaran lagi ntar, Mas." kata Ifah dengan santainya.
"Astagfirullahaladzim Ifah!" bentak Jiwo sudah tak bisa menahan kekesalannya.
"Kamu ngebentak aku,Mas?!" seru Ifah yang sampai berjengit mendengar bantakan Jiwo.
"Karena kamu ngomongnya udah keterlaluan!" balas Jiwo tak kalah seru.
"Keterlaluan dimananya? Aku kan mengemukakan sebuah kemungkinan yang masuk akal. Apalagi sakitnya parah. Orangtua kalau udah operasi besar kan mungkin banget nggak bisa pulih lagi kayak sebelumnya. Rencana hidup kita bisa kacau lho gegara Ibu kamu." kata Ifah dengan suara pelan namun seperti menyebar jutaan paku penuh karat di hati Jiwo.
Astagfirullahaladzim... Astagfirullahaladzim....
"Fah, yang kamu bicarain itu Ibuku. Perempuan yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk aku. Yang tak pernah putus menemani langkahku dengan doa- doanya hingga aku bisa sampai seperti ini. Dia calon mertuamu yang harusnya kamu perlakukan sama sopannya seperti kamu memperlakukan orangtua kandungmu." geram Jiwo dengan wajah merah padam.
"Kalau Ibumu benar sayang sama kamu, harusnya ibumu bisa datang kesini untuk melamar aku, bagaimanapun kondisinya." kata Ifah tetap dengan keegoisannya.
"Ibuku sedang sakit, Fah. Sakit beneran! Kenapa sih kamu setega dan seegois ini? Ini bukan masalah sangat besar kalau kalian punya sedikit saja rasa empati. Aku sudah ngasih opsi lain lhoh buat acara lamaran itu." kata Jiwo dengan sangat putus asa.
Remuk hatinya sudah.
"TERSERAH! AKU UDAH MALES NGOBROLIN INI!" tuuuut....dan sambungan telpon pun diputus seketika oleh Ifah.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
Assalamualaikum readers semua....
Kezel banget ya novel ini up nya acak adul? 😅
Tukang halu satu ini lagi nggak bisa mikir karena real life nya baru lumayan berantakan.
Jadi disini Saya hanya bisa memohon maaf kalau up dua novel yang sedang on going akan tersendat- sendat ke depannya.
Saya akan menulis saat hati bisa di ajak menulis. Dan hal itu entah akan sampai kapan 🙏
Yang pasti untuk novel JJ ini akan Saya tulis sampai tamat karena sudah terikat kontrak.
Sedang untuk novel SAYAP PELINDUNG HATI akan up sebisanya saja.
Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya ya....🙏🙏🙏
Terimakasih untuk yang masih berkenan memfavoritkan tulisan Saya ❤️❤️❤️
Sehat selalu dan bahagia selalu untuk readers semua....💚💚💚
__ADS_1
Wassalamu'alaikum wr.wb