JANJI JIWO

JANJI JIWO
Kabar Untuk Jiwo


__ADS_3

Witri pulang dari makam dengan dibopong oleh Nadi dalam keadaan pingsan.


Lelaki sahabat Hari itu itu sudah tak bisa lagi merasakan hatinya sendiri yang carut marut.


Apa yang tengah dialami Witri pernah dia rasakan dulu.


Kehilangan istri sekaligus anak, diamuk bapak mertuanya karena membawa pulang anak kesayangannya dalam keadaan sudah tak bernyawa, juga pingsan begitu selesai mengebumikan mereka berdua.


Makanya sedari tadi Nadi hanya mampu mewaspadakan dirinya sendiri untuk hal- hal yang mungkin akan terjadi pada Witri. Dan puncaknya adalah pingsannya Witri di atas pusara suaminya.


Berdasarkan pengalamannya sebelumnya, ini adalah puncak emosi dari rasa kehilangan yang dirasakan Witri.


Semoga setelah sadar nanti Witri sudah bisa lebih berlapang dada mengikhlaskan kepergian suaminya.


...🍁🍁🍁...


Jiwo bergegas menyambar ponselnya yang sedari tadi berteriak- teriak di atas meja makan.


Setelah makan malam tadi dia meninggalkan begitu saja ponselnya untuk packing pakaian yang akan dibawanya ke Jepang untuk dua minggu ke depan.


Senyumnya langsung mengembang saat dilihatnya nama Lukman di ponselnya. Cukup lama juga dia nggak bertelpon ria dengan sahabatnya itu.


"Assalamualaikum, Man." sapa Jiwo begitu dia mengangkat telpon


""Wa'alaikumussalam, Wo..." jawab Lukman seperti menahan suaranya. Jiwo sedikit mengerutkan keningnya.


Ada apa ini?


"Wo..."


"Ya. Kenapa, Man? Ada apa?" tanya Jiwo mulai sedikit terpengaruh dengan ketegangan suara Lukman.


"Witri..."


"HAH? Witri kenapa?!" tanya Jiwo yang langsung merasa seluruh darahnya membeku saat mendengar nama Witri.


"Suaminya meninggal." jawab Lukman sedih.


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun...Yang bener kamu, Man!" sentak Jiwo tak percaya.


"Barusan istriku yang bilang. Dapat kabar dari group alumni SMK nya, ada yang ngasih kabar kalau suaminya Witri meninggal." kata Lukman menjelaskan.


"Valid nggak itu?! Jangan becanda sama kabar duka, cah." kata Jiwo masih tak mau langsung percaya.


"Ya ini aku masih nunggu hasil dari istriku buat nyari kebenarannya...Aku keburu aja ngabarin kamu. Siapa tahu kamu seneng dengernya." kata Lukman sambil meringis.


"Astagfirullahaladzim...Ya nggak gitu juga, Man! Masak aku harus seneng mendengar kabar duka. Suaminya Witri lagi yang nggak ada. Yang ada aku prihatin sama Witri kalau itu bener." kata Jiwo sedikit merengut.


Lukman meredupkan senyum jahilnya.


"Kirain kamu seneng karena bisa ngejar Witri lagi." kata Lukman sedikit menyesal.


Jiwo menggelengkan kepalanya lemah.


"Sedari awal aku sudah mengikhlaskan dia, Man. Dia juga menikah dengan lelaki yang aku percaya juga baik. Aku udah nggak ada pikiran buat mengganggu hidup Witri." kata Jiwo menjelaskan lagi.


"Tapi kalau berita ini bener, mungkin usahamu harus dimulai lagi, Wo. Kamu masih jomblo ini. Biar Witri udah janda juga nggak papa kan?" kata Lukman mencoba mengompori.


Jiwo terdiam. Matanya menatap ibu jarinya yang memainkan ujung kuku jari telunjuknya.


Pikirannya langsung blank seketika. Bahkan otaknya juga mungkin langsung nge hang untuk di ajak berpikir.

__ADS_1


Yang ada di benaknya kini adalah bayangan sosok Hari yang hanya ditemuinya beberapa menit saat itu.


Sosok yang dirasanya sangat bisa mengayomi dan mencintai Witri dengan sangat baik.


Kalau sekarang takdir pria itu di dunia ini sudah berakhir, sungguh sangat disayangkan andai kita tak mengenal yang namanya takdir.


"Mas Hari meninggal karena apa?" tanya Jiwo akhirnya.


"HAH?"


"Suaminya Witri meninggal kenapa?" ulang Jiwo lagi.


"Belum ada keterangan. Yang pasti meninggalnya di RS terus dimakamkan di kampung halamannya malam ini." jawab Lukman.


Itu berarti Witri juga sedang ada di kampung halamannya...


Ah Jiwo tiba- tiba sangat ingin terbang saat ini juga untuk bertemu Witri.


Namun semangat itu langsung mengendur saat dia berpikir rasanya tak pantas dirinya yang bertahun- tahun tak ada kabar berita tiba- tiba muncul di depan Witri saat dia tengah sangat berduka.


Lagi pula besok pagi dia harus meninggalkan tanah air untuk tugas pekerjaannya ke Jepang.


Lagi- lagi semesta seolah tak memberinya kesempatan untuk sekedar bertemu dengan Witri.


"Wo..." panggil Lukman dengan nada terdengar ragu.


"Ya. Kenapa?" tanya Jiwo penasaran.


"Kamu nggak nyoba nelpon Witri aja?" tanya Lukman dengan nada ragu.


"Hah? Buat apa?" tanya Jiwo bingung.


"Ya ngucapin belasungkawa lah." jawab Lukman masih dengan nada tak yakin.


Apa nggak aneh dia tiba- tiba muncul di hidup Witri dan ujug- ujug mengucapkan turut berbelasungkawa?


Apa nanti Witri nggak berpikiran aneh- aneh dan keheranan lalu mengira dia diam- diam masih stalking soal hidup Witri selama ini?


Jiwo menggeleng membayangkan hal itu.


Malu.


"Aku kan nggak punya nomernya." kilah Jiwo akhirnya.


"Aku suruh istriku buat nanyain ke anggota WAG nya ya?" tawar Lukman dengan nada bersemangat.


"Jangan! Nggak usah, Man." cegah Jiwo cepat.


"Kenapa?" tanya Lukman tak bisa menutupi rasa kecewanya.


"Nggak aneh apa kalau ujug- ujug aku muncul di moment kematian suaminya lalu ngucapin turut berbelasungkawa? Trus kalau nanti dia nanya aku tahu nomernya dari siapa, aku harus jawab apa? Aku harus jujur kalau aku nyari nomernya dengan minta tolong istrimu buat nyariin di WAG sekolahnya? Jelek banget nggak sih kesannya?" tanya Jiwo datar.


Lukman mendengus kesal setengah menahan emosi.


Jiwo memang kebanyakan mikir dan kebanyakan pertimbangan kalau mau melakukan sesuatu. Kadang bisa bikin kesel kayak gini. Semua hal yang akan dia lakukan harus logis. Padahal cinta kan kadang nggak perlu logika.


"Jadi nggak ada gunanya aku ngasih kabar ini?" tanya Lukman setengah kecewa.


"Ya nggak gitu juga. Aku makasih juga kamu kasih tahu walau belum valid 100% kan? Semoga saja berita itu nggak bener. Kasihan Witri kalau harus kehilangan suaminya sekarang." kata Jiwo bijak.


"Kalau ternyata bener, gimana?" tanya Lukman penasaran. Jiwo terdiam.

__ADS_1


Menjadi janda di usia masih muda pasti nggak gampang menghadapinya Kasihan sekali Witri.


"Aku berharap itu nggak bener." kata Jiwo dengan nada pelan.


Pasti sedih sekali kalau Witri harus menjalani kenyataan seperti itu.


"Aku tadi nanya, kalau itu bener trus gimana?" kejar Lukman nggak sabar.


"Ya innalilahi wainna ilaihi rajiun...Mau gimana lagi " jawab Jiwo lirih.


"Astagfirullahaladzim Wooooo! Masak gitu thok? Nggak ada krentek ( niat/ keinginan) lain gitu?" tanya Lukman dengan nada mulai meninggi.


"Krentek apa?" tanya Jiwo bingung.


"Ya rencana PDKT lagi lah sama Witri. Semesta sepertinya sedang akan berpihak kepadamu, Wo! Terlepas dari kabar duka ini, sebenarnya kamu masih cinta kan sama Witri?" tembak Lukman to the point.


Jiwo membisu.


Cinta pada Witri? Entahlah.


Jiwo sudah tak bisa mendefinisikan lagi perasaannya untuk perempuan itu.


Yang dia tahu dia masih selalu terkenang dan mengingat Witri selama ini dan selalu merasakan sebuah kebahagiaan di setiap sudut hatinya walau hanya sekedar mengingatnya saja.


Namun hasrat untuk memiliki Witri sudah tak ada di benaknya karena dia sadar Witri sudah ada yang memiliki dan sudah bahagia.


"Jangan sampai terlambat melangkah lagi, Wo. Kalau berita duka ini benar adanya, aku sarankan kamu segera pasang strategi untuk mendapatkan Witri lagi,Wo. Saatnya kamu bersiap untuk meluluskan diri dari status jomblowan yang sudah kelamaan." kata Lukman sambil terkikik.


"Lambemu ( bibirmu)..." sergah Jiwo sambil tersenyum kecut.


"Udah, pokoknya besok pagi aku usahakan dapat berita valid. Kalau berita itu bener, kamu harus segera terbang pulang buat takziah ke rumah Hari. Kamu kan kenal juga sama dia. Jadi logis dong kalau kamu takziah? Besok aku temenin deh biar kamu nggak mati gaya disana." putus Lukman dengan tegas. Jiwo hanya meringis keki dan mengacak rambutnya bingung.


"Aku akan ke Jepang dua minggu, Man." kata Jiwo pelan.


"Kapan?" tanya Lukman penasaran. Dia pikir Jiwo hanya akan nyari alasan saja.


"Besok pagi aku berangkat." jawab Jiwo pelan.


"Halaaaah!!! Kok bisa pas gini sih?! Nggak bisa dibatalin? Atau dimundurin kek barang sehari dua hari." sergah Lukman kesal.


Jiwo membuang nafasnya berat.


"Nggak bisalah. Udah rencana mateng. Tiket dan semuanya udah beres, tinggal tarik koper dan bawa diri." kata Jiwo lesu.


Harus dia akui, dia sedikit terprovokasi oleh ucapan- ucapan Lukman. Tapi ternyata semesta tidak memberinya kesempatan untuk segera bertemu dengan Witri.


Untuk nekad lari dari acara keberangkatan ke Jepang besok, dia tak berani. Sangat berisiko karena semua berhubungan dengan hajat hidup orang banyak.


Nggak bijaksana rasanya menomorsatukan urusan pribadinya saat ini.


"Ya udahlah. Mungkin semesta dan takdir masih ingin bercanda sama kamu lebih lama." pungkas Lukman sambil tertawa pelan.


Jiwo hanya menggelegas.


Mungkin benar, semesta dan takdir masih ingin bercanda dengan kisah cintanya.


Aku nggak tahu harus merasa bagaimana, Wit.


Kalau kabar itu benar, kamu pasti sedang sangat berduka saat ini. Dan aku menyesal tidak bisa ada di dekatmu sekedar untuk menghiburmu saja.


Namun aku masih berharap semoga kabar itu nggak benar. Mungkin suamimu memang sedang sakit, namun semoga bisa segera sembuh dan bersamamu lagi.

__ADS_1


...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...


__ADS_2