
Witri membalas pelukan satu demi satu teman perempuannya di kantor sebelum dia pulang kerja sore ini. Hari ini hari terakhir dia ngantor karena mulai besok dia sudah memasuki masa cuti melahirkan yang dia ajukan.
HPL masih seminggu lagi memang, tapi berdasar saran dari teman- temannya yang sudah berpengalaman melahirkan, mereka menyarankan Witri mengambil cuti seminggu atau dua minggu sebelum HPL karena sering terjadi baby ingin segera keluar di hari- hari sebelum HPL.
Witri memilih mengajukan cuti seminggu sebelum HPL karena dia ingin memiliki waktu lebih banyak bersama bayinya nantinya setelah Aksa terlahir.
Keluar dari kantor ternyata Nadi sudah menunggunya.
"Kok jemput, Bang? Kita nggak ada janji kan?" tanya Witri sedikit keheranan begitu ada di depan Nadi.
"Nggak ada. Cuma mumpung nganggur aja, dan bingung mau ngapain. Ya udah jemput bumil aja. Siapa tahu mau di ajak JJS." kata Nadi sesantai mungkin. Witri tertawa.
Beberapa bulan bergaul, mereka sudah mulai bisa membaca karakter satu sama lain. Walau masih sangat menjaga jarak, namun keduanya merasa nyaman saja melalui hari demi hari.
Nadi berlaku sebagai kakak yang sangat baik bagi Witri. Dia juga jadi anak lelaki kesayangan Mamak pada akhirnya.
Bahkan Witri merasa Nadi bisa sangat kolokan pada Mamak, seperti pada ibu kandungnya saja.
"Pengen jalan kemana?" tanya Nadi begitu mereka ada di dalam mobil.
"Pulang aja dulu. Aku gerah banget pengen cepat mandi." kata Witri sambil membuka ponselnya.
Ada tiga pesan dari Jiwo yang belum dia buka. Dikirim sejak siang tadi rupanya.
Dia memutuskan untuk membalas nanti saja,saat sudah dalam suasana santai karena dia tahu selalu akan ada obrolan panjang bila dia mulai membalas pesan Jiwo.
"Kita ajak Mamak makan di tempat yang di kasih tahu temenku yuk." ajak Nadi sambil sekilas menatap Witri.
"Boleh. Nanti kita perginya habis magrib aja sekalian." sahut Witri ringan.
Mamak baru saja selesai menyapu halaman depan rumah saat dilihatnya mobil Nadi memasuki halaman dan melihat Witri ada di dalam mobil itu.
"Ketemu dimana?" tanya Mamak saat Witri dan Nadi sudah mendekat.
"Aku dijemput." jawab Witri sambil tersenyum.
"Makasih ya, Nad, udah jemput Witri." kata Mamak sambil tersenyum ke arah Nadi yang mengangguk senang.
"Ayo masuk dulu." ajak mamak mengajak Nadi karena Witri sudah ngeloyor masuk dan bisa dipastikan akan langsung mandi.
Nadi memilih duduk di teras agar pemandangannya lebih luas. Mamak masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minum Nadi.
Saat melintasi kamar mandi, Mamak mendengar suara Witri yang terdengar bersuara seperti keheranan di dalam kamar mandi.
"Wit, kenapa?" tanya Mamak sambil mendekat ke arah kamar mandi.
"Mak, kok aku nge flek ya...." kata Witri keheranan.
"Banyak nggak?" tanya Mamak dengan tenang walau hatinya deg- degan.
"Enggak sih. Tapi ini bahaya nggak, Mak?" tanya Witri mulai terdengar khawatir.
"InsyaaAllah nggak papa. Buruan aja mandinya,habis ini kita ke klinik aja biar lebih tenang." kata Mamak kemudian.
"Iya." jawab Witri kemudian terdengar suara gayung yang bertemu dengan air dengan suara keras, ciri khas Witri kalau mandi.
__ADS_1
Mamak bergegas ke depan sambil membawa minuman untuk Nadi.
"Habis ini kamu ada kerjaan nggak, Nad?" tanya Mamak setelah duduk di kursi seberang Nadi.
"Nggak ada, Mak. Kenapa? Mamak mau dianterin kemana?" tanya Nadi dengan antusias.
"Bisa minta tolong nganter ke klinik dr.Farida?" tanya Mamak kemudian.
"Bisa..." jawab Nadi cepat dengan tatapan bingung. Seingatnya hari ini belum jadwalnya Witri ke klinik. Harusnya tiga hari lagi kan kesananya?
"Witri nggak kenapa- napa kan, Mak?" tanya Nadi khawatir.
"Tadi katanya ada flek. Lebih baik kita periksakan saja." kata Mamak sambil tersenyum kecil. Nadi mengangguk saja walau dalam hatinya bertanya apakah flek itu berbahaya atau nggak.
"Maaaak!!!" seruan Witri dari dalam rumah membuat Mamak dan Nadi terlonjak.
Nadi bahkan langsung menerjang masuk mendahului Mamak menuju asal suara tangisan Witri.
Nadi terpaku di depan pintu kamar saat mendapati Witri berdiri sambil menatap ke arah kakinya dan menangis.
Pakaian bawah Witri sudah basah.
"I...itu..." tanya Nadi bingung sambil menunjuk bawah kaki Witri.
"Astagfirullahaladzim..." Mamak dengan bergegas menerjang Nadi yang masih terpaku di depan pintu mendekati Witri yang menangis kebingungan. Dilihatnya genangan di bawah kaki Witri dan Mamak meyakini itu adalah cairan ketuban yang sudah pecah.
"Aku nggak kerasa pipisnya." kata Witri seperti bocah yang takut dimarahi ibunya karena ketahuan ngompol.
"Iya nggak papa. Masih kuat jalan ke mobil?" tanya Mamak tenang. Witri mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Nad, Witri udah pecah ketuban, kita harus segera ke klinik." kata Mamak tenang.
"HA?!!" Witri dan Nadi langsung terlihat berwajah panik. Sementara Mamak bergegas membawa satu tas berisi perlengkapan seusai melahirkan yang sudah disiapkan oleh Witri sejak jauh hari.
"Tolong bawa ini ke mobil, dan siapkan mobilnya ya." kata Mamak sambil menyentuh lengan Nadi yang masih kebingungan.
"Ah..iya Mak." jawab Nadi kemudian beegegas keluar menuju mobilnya. Hatinya panik bukan kepalang begitu mendengar kata melahirkan.
"Ganti bawahanmu dulu ya, biar nggak basah di mobil." kata Mamak sambil mengulurkan baju ganti untuk Witri yang kembali berlinang airmata.
Dia mengganti bawahannya yang basah dengan terisak- isak.Matanya menatap sedih ke pigura gambar dirinya dan Hari saat mereka dulu menikah.
Aku akan segera melahirkan, Mas. Sendirian. Nggak ada kamu.
Aku takut.
"Ayo. Kita akan segera bertemu sama Aksa." kata Mamak sambil tersenyum memberi semangat.
Sebelum keluar dari kamar, Mamak mengambil jaket Hari yang sering dipakai Witri di gantungan belakang pintu kamar. Mamak pikir mungkin nanti akan berguna.
Witri melangkah dalam bimbingan lengan Mamak sambil masih tetap tersedu.
Dia tidak ingin menangis, tapi nggak bisa.
Rasa nelangsa yang selama kehamilannya dia tahan dan sembunyikan dari orang lain akhirnya pecah saat ini.
__ADS_1
Dia sedih dan memang nelangsa, menyadari sebentar lagi akan berjuang antara hidup dan mati untuk membawa buah cintanya keluar ke dunia ini tanpa didampingi sosok seorang suami.
Aku nanti sama siapa, Mas di ruang bersalin kalau kamu nggak ada? Aku maunya sama kamu, bukan sama Mamak.
Nadi yang melihat Witri keluar sambil menangis bergegas mendekat hendak membopong Witri. Dia mengira Witri menangis karena menahan kesakitan.
"Aku gendong ya?" tawar Nadi dengan wajah yang sudah sangat panik. Mendengar pertanyaan itu tangis Witri semakin menjadi.
Harusnya Mas Hari yang melakukannya, bukan kamu Bang.
Karena Witri tak menjawab dan malah semakin menangis, dengan sekali gerakan Nadi langsung membawa tubuh Witri ke gendongannya.
Tangis Witri pecah dipundak Nadi.
"Aku mau Mas Hari, Bang." kata Witri dengan tangisan pilu.
Hati Nadi rasanya diremas saking sedihnya mendengar ucapan sedih Witri itu.
"Iya. Hari pasti nemenin kamu. Kamu yang kuat ya. Harus semangat. Ada aku dan Mamak juga." kata Nadi yang nggak tahu harus ngomong apa untuk menghibur dan memberi semangat Witri.
Seumur hidupnya dia juga belum pernah berurusan dengan orang yang akan melahirkan. Apalagi sang calon ibu melow begini.
Ya ampun Ri....Aku nggak tega lihat istrimu sesedih ini...Aku harus gimana?
Mamak yang berjalan di samping Nadi juga mendengar ucapan sedih Witri, yang menginginkan keberadaan suaminya saat ini.
Ya, semua perempuan ingin didampingi suami yang dicintainya untuk melewati saat- saat menegangkan saat melahirkan. Tak salah Witri menginginkan hal itu juga.
Namun bila keinginan sudah berhadapan dengan kekuatan takdir ajal yang memisahkan mereka, apa yang bisa kita lakukan untuk menghiburnya?
Ya Allah ya Rabb, tolong kuatkan jiwa raga anak dan cucu hamba...Mudahkanlah dan lancarkanlah persalinannya...Tenangkan hatinya...
Perjalanan ke klinik di dalam mobil hanya berisi suara rintihan Witri yang lolos sesekali dari mulutnya. Pinggangnya sudah merasakan nyeri yang nggak karuan. Lalu sesekali perutnya terasa mulas tak tertahan rasanya.
"Bang cepetan!" hardik Witri disela kesakitannya yang merasa Nadi menjalankan mobil dengan sangat pelan. Dua hanya ingin segera bisa berbaring untuk mengurangi rasa pegal di pinggangnya.
Nadi memang sedari tadi sebenarnya bingung mau menjalankan mobil dengan cepat atau pelan. Kalau dia jalankan cepat dia takut goncangan mobil menambah kesakitan Witri. Tapi kalau dia jalankan pelan, jelas nggak sampai- sampai ke. klinik.
"Siap!" jawab Nadi spontan langsung melajukan mobil dengan kecepatan yang lebih kencang.
Tak ada lagi suara rintihan Witri. Nadi mencari tahu situasi belakang dengan melirik spion tengah.
Nampak Witri menutupi tubuh atasnya dengan jaket yang dia tahu itu milik Hari.
Kembali hatinya dibuat trenyuh melihat pemandangan itu.
Witri nampak memejamkan mata walau dia tahu perempuan itu tidak mungkin saat ini tertidur.
Mungkin saat ini Witri sedang mensugesti dirinya sendiri dengan memakai jaket Hari. Mungkin dengan begitu dia merasa seolah Hari sedang memeluknya.
Tanpa sadar setitik airmata menetes di pipi Nadi melihat kepiluan itu.
Tega kamu Ri nyuruh aku melihat semua kesedihan istrimu seperti ini...
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1