JANJI JIWO

JANJI JIWO
The Moment


__ADS_3

Witri meringis malu saat mengingat sebuah kejadian di siang berhias hujan deras, angin kencang, serta gemuruh dan kilatan petir.


Flashback On


**************


Witri baru selesai masak untuk makan siang dia dan Hari nanti.


Hari Minggu ini tadinya mereka berdua akan pergi keluar seusai Witri masak kemudian mandi.


Witri ingin membeli beberapa potong baju untuk dia dan Hari.


Namun saat dia melihat ke arah luar, langit yang memang sejak pagi tak secerah hari- hari biasanya nampak semakin kelabu hingga matahari sama sekali tak terlihat.


Dilihatnya Hari sudah mengangkat jemuran yang baru jam enam tadi dia jemur.


"Mau hujan gede ini kayaknya,Jeng. Acara kita gimana?" tanya Hari sambil mulai mengaitkan hanger berhias pakaian setengah kering ke jemuran besi yang dipalangkan di samping luar pintu dapur. Bila ditekankan disana baju tak akan kena tempias air hujan bila hujan tak disertai angin.


"Di taruh di dalem aja, Mas jemurannya. Langitnya gelap kayak gitu. Nanti kalau hujan gede sama angin tetap basah kalau dijemur disitu." kata Witri mencegah Hari semakin banyak mengaitkan baju belum keringnya di jemuran besi samping pintu.


"Kamu udah selesai masaknya?" tanya Hari kemudian.


"Udah. Tinggal mandi." jawab Witri.


Area kosong dapur yang tak seberapa akan jadi tempat jemuran pakaian darurat saat cuaca begini agar pakaian yang setengah kering tak kena tempias air hujan dan kembali basah kuyup lagi nantinya.


Hari kemudian memasukkan jemuran lipat berukuran sedang yang biasa dipakai menjemur diluar untuk dia tempatkan di area kosong dapur.


Kembali dia mengaitkan hanger - hanger di jemuran itu sementara Witri sudah terdengar memulai aktifitas mandinya.


Hari sudah duduk berselonjor di depan tv sambil mulutnya mengunyah bakwan jagung bikinan Witri tadi saat istrinya itu keluar kamar mandi dengan tampilan fresh.


Mengira Witri keluar kamar mandi memakai balutan handuk minim?


No...Witri selalu membawa pakaian bersih gantinya setiap mau mandi. Hingga begitu dia keluar kamar mandi, dia sudah berpakaian lengkap.


Diluar sudah terdengar suara hujan mulai turun dengan suara jatuhnya air yang terasa kencang.


"Bakal ujan gede kayaknya ini." kata Hari disela kunyahannya.


Witri nampak bergegas segera ke kamar.


Hari sedikit keheranan dengan langkah Witri yang nampak tergesa itu.


*Dia kenapa? Keburu- buru mau ngapain? Lupa pakai pembalut?


Ah nggak mungkin. Witri kan barusan datang bulan seminggu lalu.


Trus kenapa dia keliatan agak panik gitu*?


Tak lama Witri sudah keluar kamar dengan rambut yang rapi dikepang satu.


Wajahnya nampak sedikit tegang walau keliatan berusaha disembunyikan.


"Ngapain tadi buru- buru ke kamarnya?" tanya Hari setelah Witri duduk agak merapat di sampingnya.


Ini tumben juga berinisiatif merapat sendiri.


"Nyisir rambut." jawab Witri sambil meraih pisang goreng yang berbaris di piring lonjong disebelah piring bakwan jagung.


Witri mengunyah pelan dan tenang makanannya, seperti kebiasaannya makannya selama ini: pelan dan tak bersuara.


"Nggak jadi pergi kita nih. Malah ujan deras." kata Hari sambil ikut menyomot satu pisang goreng.


"Nanti sore juga nggak papa.Kamu nggak ada acara kan?" tanya Witri sambil menatap Hati.


"Nggak ada. Hari libur aku usahakan buat kamu aja waktuku." kata Hari sambil tersenyum memulai rayuan gombalnya.


"Buat aku apanya? Orang kalau libur banyak buat tidur kok katanya buat aku." sergah Witri cepat


"Ya sementara ini aku buat tidur aja dulu. Nanti- nanti buat nidurin kamu." jawab Hari sambil mengerling kepada Witri yang nampak agak tersipu.


Sesungguhnya Witri sendiri tak enak hati pada suaminya itu.


Sampai sekarang mereka belum pernah melakukan kewajiban batiniah suami istri secara benar.


Walau Hari bisa membuat Witri kli maks dan Hari bisa melakukan pelepasan untuk menuntaskan hasratnya,namun mereka belum pernah melakukan ritual suami istri secara utuh dan sempurna.


Hari selalu menghentikan kemudian memilih mengurungkan serangannya tiap kali melihat Witri meringis kesakitan.


"Besok lagi aja ya,Jeng. Dikit- dikit dulu aja masuknya nggak papa biar nggak sakit." selalu begitu kata Hari tiap kali Witri menatap penuh tanya pada Hari yang menghentikan aksinya di tengah jalan.


Hasrat yang sudah membumbung tinggi langsung terjun bebas seketika.


"Katanya memang harus sedikit dipaksa,Mas kalau pertama." kata Witri berharap Hari meneruskan lagi aksinya.

__ADS_1


"Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Katanya bisa sakit banget." kata Hari dengan wajah resah.


Dia tentu saja ingin merasakan masuk ke dalam tubuh istrinya. Tapi wajah tegang dan nampak menahan kesakitan Witri selalu membuatnya iba dan hasratnya langsung terjun bebas.


Hari melirik Witri yang nampak semakin merapat padanya.


Tumben sekali istrinya ini. Jangan bilang kalau sedang dalam rangka memancingnya ya...Ini belum juga tengah hari.


Hujan diluar semakin deras saja terdengar. Bahkan sudah mulai terdengar suara gemuruh dari langit di kejauhan.


Dan Hari terlonjak kaget saat Witri tiba- tiba memekik bersamaan dengan suara petir yang baru saja terdengar.


Istrinya itu kini sudah memeluk erat tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di lengannya.


Pelukannya terasa semakin erat karena suara petir tak juga berhenti.


Hari merengkuh tubuh Witri segera saat dirasanya tubuh Witri sedikit gemetar. Dan tak disangka Witri malah masuk ke pangkuannya tanpa mau melepaskan pelukan eratnya.


"Kamu kenapa , Sayang?" tanya Hari lembut dengan hati keheranan.


"Takut hujan angin sama petir." kata Witri pelan, bersuara seperti hendak menangis.


Hari tak menyahut. Hanya membalas pelukan Witri dengan hangat.


"Ada Mas disini." kata Hari sambil mengusap kepala belakang Witri dengan lembut.


Setahunya memang ada orang- orang yang punya ketakutan pada petir, angin besar, atau bahkan suara sesuatu.


Tapi Witri takut suara petir dan hujan besar baru dia tahu sekarang. Setahunya istrinya itu sangat takut pada semua benda yang berkesan berbulu halus seperti boneka juga pada ulat.


"Ngumpet yuk, Mas." ajak Witri masih dengan mencengkeram bahu Hari.


Hari meringis geli.


"Ngumpet dimana?" tanya Hari memilih mengikuti permintaan Witri.


"Di kamar aja biar aman." jawab Witri dari balik bahunya.


"Ya udah ayo." kata Hari sambil bergerak mengajak Witri berdiri.


Namun suara hujan yang sangat deras dan petir yang kembali menggelegar membuat Witri melangkah ke kamar dengan merapatkan tubuhnya ke tubuh Hari.


Perjalanan ke kamar yang sebenarnya hanya beberapa langkah menjadi sedikit ribet bagi Hari karena posisi Witri memeluk tubuhnya dari samping dengan satu kaki Witri yang berada di depan kakinya. Jadi saat melangkah terhalang kaki Witri itu.


"Udah aman?" bisik Hari sambil menatap Witri yang sudah nampak agak lega. Dalam lindungan selembar selimut keduanya seperti bocah yang sedang sembunyi dari lawan agar tak terlihat.


"Hmmm..." jawab Witri sambil mengangguk pelan.


"Kenapa takut sama hujan angin dan petir?" tanya Hari lembut sambil membelai pipi Witri.


Tatapannya tak lepas dari wajah Witri, menenangkan.


Witri nampak sedikit berpikir.


"Aku takut semuanya terbang kebawa angin,aku nggak ada tempat berlindung. Aku takut kena petir, pasti sakit banget dan kalau sampai kena pasti mati gosong. Nggak mau aku." jawab Witri sambil menundukkan kepalanya ,membuat wangi rambutnya tersaji di depan hidung Hari yang dengan tarikan nafas sedalam mungkin memasukkan wangi shampo istrinya itu ke dalam Indra penciumannya. Dia suka wangi shampo ini. Shampo yang kini dia juga ikut memakainya.


Hari kini meraih punggung Witri. Mendekatkan tubuh mereka lebih rapat lagi.


Tanpa dia minta Witri malah semakin merapatkan tubuh kepadanya. Mendesakkan kepalanya ke dada Hari dan bergerak- gerak pelan sesaat disana, mungkin untuk mendapatkan posisi ternyaman.


"Dulu kalau lagi sendirian trus ada hujan angin dan petir kamu ngapain?" tanya Hari kemudian setelah Witri kembali diam tak bergerak.


"Ngumpet kayak gini aja sendirian. Yang penting nggak duduk. Baring, ngumpet dibawah selimut udah ngerasa aman." jawab Witri sambil terpejam.


Hari kemudian menarik nafasnya pelan.


Kasihan juga membayangkan Witri seperti itu. Pasti ketakutan. Tapi hebatnya Witri adalah dia selalu berusaha mengatasi ketakutannya sendiri dan berusaha tetap tenang.


Padahal dua hari lagi dia harus meninggalkan Witri setidaknya seminggu untuk mendampingi komandannya ke Bandung.


Ini sedang musim hujan deras dan petir. Pasti Witri akan sering takut seperti ini.


Tapi mau bagaimana lagi...Tugas adalah segalanya bagi seorang prajurit sepertinya. Dan dia yakin Witri pasti mengerti soal itu jauh sebelum memutuskan mau menjadi istrinya.


"Dua hari lagi Mas mau ke Bandung nemenin komandan. Paling tidak seminggu katanya." kata Hari dengan berat hati.


"Lama dong." kata Witri sambil mengangkat wajahnya dan kini dahinya telah menyentuh dagu Hari.


"Hmmm...lama ya?" gumam Hari kemudian mengecup dahi Witri lembut.


Witri mengangguk pelan.


"Kalau Mas nvgak ada di rumah, kalau ada angin gede dan petir,jangan takut ya. Ngumpet aja kayak gini sambil peluk guling." kata Hari lembut.


"Siap!" sahut Witri sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kenapa ketawa?" tanya Hari dengan nada curiga.


"Masak aku harus peluk guling juga?"


"Anggap aja guling itu Mas yang bisa temenin dan jagain kamu." kata Hari sambil merengkuh hangat tubuh Witri semakin merapat kepadanya.


Suara hujan lebat di luar terdengar tak mereda sedikitpun dari tadi.


Bahkan suara petir kini semakin sering terdengar seperti sengaja berbunyi di atas genteng rumah.


Witri semakin mengeratkan pelukan tangannya.


Bergerak sewaktu- waktu dan sering tak sengaja menyentuh burung kebanggan Hari. Membuatnya tumbuh perlahan tanpa dia sadari.


Hari semakin gelisah dan Witri baru menyadarinya setelah dengan lembut Hari membawa bibirnya untuk mengadakan pertemuan dengan bibir halalnya.


Sentuhan yang tadinya tenang dan lembut lama- lama terasa semakin menekan dan menuntut.


Kepergian suaminya dua hari lagi entah mengapa membuat Witri merasa sedih dan kehilangan.


Bukan takut sendirian di rumah atau bagaimana. Dia sedih karena perpisahan kali ini adalah perpisahan mereka yang pertama sejak mereka menjadi suami istri.


Witri ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk bekal suaminya itu agar Hari senang dan tak melupakannya saat mereka berjauhan. Tapi apa yang bisa dia beri?


Jantungnya berdegup lebih kencang saat disadarinya Hari telah membuatnya kehilangan semua kain yang menutupi tubuhnya.


Lelaki itu kini tengah sibuk melepas celana pendeknya dengan gerakan secepat mungkin.


Ah ya! Witri tahu apa yang harus dia berikan sebagai bekal Hari.


Kali ini harus berhasil. Sesakit apapun harus dia tahan.


Semua teori erotis yang dia tahu dia coba ingat secepat mungkin di bawah serbuan hasrat yang dihadirkan oleh Hari.


Dia harus membuat semuanya tenang dan nyaman agar sakit yang mungkin akan terasa tak terlalu menakutkan Hari.


"Tahan ya, Mas." bisik Witri saat dia melihat Hari sudah merah padam menahan ledakan.


"Hmmm?" tanya Hari tak mengerti. Dia sedang tenggelam dalam kubangan hasrat yang nyaris meledak.


"Jangan di keluarin dulu. Kamu masukin aja ini." kata Witri setengah tersengal karena terbakar hasrat.


Tangannya menyentuh milik suaminya sesaat.


"Tapi..."


Ucapan Hari tak berlanjut karena Witri keburu membungkamnya dengan ciu man dalam dan terasa begitu erotis.


Begitu saja Hari semakin dalam terhanyut dan tak bisa lagi berpikir.


Semua gerakan adalah pemicu hasrat selanjutnya.


Witri sengaja sejenak menutup wajahnya dengan bantal saat Hari meminta ijin padanya untuk kembali mencoba masuk ke dalam dirinya.


Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali gagal masuk seperti yang sudah- sudah dan Hari akan menyerah saja.


Namun pelukan dan seranganWitri seakan tak mengijinkannya berhenti kali ini.


Sekali lagi dicoba, pikirnya kemudian.


Suara hujan dan gemuruh langit seakan bersahutan dengan suara erotis yang terlepas dari sela bibir Witri.


Sama- sama ramai dan menggelisahkan jiwa.


Saat tatapannya bertemu dengan tatapan penuh harap di mata Witri, dia seperti mendapatkan semangat baru.


Dia harus berhasil kali ini. Witri menginginkannya juga.


Ya Allah tolong mampukan...tolong mampukan...


"Tahan ya Sayang." bisik Hari sebelum kembali mengerahkan tenaganya untuk kembali mengetuk dan kembali mencoba memasuki pintu paling rahasia milik istrinya itu.


"Iya, Mas. Ayo lakukan." jawab Witri dengan suara yang terdengar begitu sek si karena tengah diamuk hasrat.


Suara yang seperti de sa han itu nyatanya bisa jadi booster yang begitu dahsyat hingga hasratnya begitu saja terbakar dan tak bisa lagi dihalangi oleh wajah menahan sakit yang menghiasi wajah Witri.


"Ayo, Mas .." kembali suara itu merayu dirinya.


Hari semakin terpacu untuk bisa kali ini. Dia harus bisa kali. Harus!


Dia tak ingin Witri kecewa padanya.


...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...


Huuuuuuhhh....🥵🥵🥵🥵🥵

__ADS_1


__ADS_2