
Jiwo dan Ruslan pamit setelah seorang suster memberi tahu kalau Ifah telah siuman.
Jiwo tak hendak ikut menengok kondisi Ifah saat ini.Itu dia lakukan agar Ifah tak salah sangka atas keberadaannya kali ini.
Dia tak ingin gadis itu memiliki harapan lagi atasnya.
Toh memang niatnya tadi datang hanya untuk menggugurkan gelar Raja Tega yang akan disematkan Ruslan padanya.
"Tolong jangan bilang pada Ifah kalau Saya kesini ya, Bu..." pinta Jiwo saat berpamitan pada Ibu Ifah.
"Ke...kenapa? Bukankah itu akan baik agar dia bisa kembali bersemangat?" tanya Ibu Ifah tak mengerti.
"Akan sangat tidak baik untuk keadaan psikologisnya ke depan. Dia akan terus berharap pada Saya yang sudah tak bisa bersamanya lagi. Kalau dia patah hati lagi dan ingin mengulang perbuatannya yang seperti ini lagi gimana? Anda mau menanggung resikonya?" tanya Jiwo datar. Ibu Ifah menggeleng cepat.
"Ibu harus gimana buat menghibur dia nanti?" tanya Ibu Ifah mulai menangis.
"Kuatkan dia tanpa harus memberi harapan palsu. Kalau Ibu kesulitan, bisa minta bantuan ahli kejiwaan bagaimana baiknya." kata Jiwo lembut. Lama- lama dia nggak tega juga bersikap keras pada orangtua.
"Orang yang sudah pernah mencoba untuk bunuh diri, cenderung akan mencoba mengulangi perbuatannya lagi, Bu. Tolong perhatikan dengan serius dan bijaksana soal ini." imbuh Ruslan ikut menambahkan. Jiwo mengangguk membenarkan.
"Saya hanya bisa ikut mendoakan semoga lahir batin Ifah cepat pulih." sambung Jiwo lagi dengan tulus sebelum berlalu dari hadapan orangtua Ifah yang masih berdiri terpaku.
Ya, bagaimana pun juga Ifah pernah jadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Gadis itu juga pernah jadi salah satu tujuan dari sekian banyak impian masa depannya. Jiwo nggak mungkin tega begitu saja menyingkirkan nama Ifah dengan sangat tega dan tak berperasaan.
"Gimana perasaanmu?" tanya Ruslan saat mereka berdua tengah duduk di salah satu warung tenda sambil menikmati sarapan bubur ayam sekeluar mereka dari rumah sakit.
Jiwo mengangkat sebelah alisnya.
"Aku baik- baik saja." jawab Jiwo namun mendapat tatapan tak percaya dari mata Ruslan.
"Beneran! I'm OK." tegas Jiwo sambil tersenyum simpul. "Yaaaa...sedikit merasa bersalah pada Ifah. Tapi tidak menyesal berpisah dengannya." sambung Jiwo santai.
Ruslan mengembangkan senyumnya.
"Aku tadi sempat khawatir kamu luluh terus mau balikan lagi sama Ifah. Syukurlah kamu tetap dengan keputusan awal." kata Ruslan sambil tersenyum.
"Kenapa memangnya kalau aku balikan lagi sama Ifah?" tanya Jiwo sengaja menggoda.
"Bisa dipastikan kamu akan jadi tawanannya seumur hidupmu. Kamu akan terus kalah dengan ancaman bunuh dirinya yang selanjutnya nanti kalau kamu menyerah padanya kali ini. Banyak kejadian kan, seseorang mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri hanya agar seseorang tidak bunuh diri. Menurutku, itu pengorbanan yang konyol. Sangat konyol dan to lol." kata Ruslan sambil sesekali diselingi kunyahan dan suapan.
Jiwo juga berpikir demikian.
Kebahagiaan hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri.
Kita yang membuat hidup kita bahagia atau enggak. Karena sesungguhnya bahagia itu tidak perlu dicari di luar diri kita. Bahagia itu kita yang ciptakan.
Jadi kalau ada yang bilang tak bisa bahagia bila tanpa seseorang, itu sesuatu yang bullsh*t bagi Jiwo.
Kita bisa bahagia dengan atau tanpa seseorang walau mungkin dengan kadar rasa yang berbeda.
Tapi setidaknya kita masih tetap bisa bahagia bila kita mau.
Bahagia ada bukan hanya karena kita mampu, tapi karena kita mau.
"Jomblo lagi nih?" ledek Ruslan kemudian. Jiwo hanya terkekeh pelan.
"Nggak papa. Biar kamu duluan aja yang mencicipi gimana rasanya surga dunia." kata Jiwo kemudian.
"Dua bulan lagi. Masih lama ngerasain surga dunianya." kata Ruslan sambil tersenyum.
"Itu aja kalau nggak kehalang palang merah di hari H." kata Jiwo sambil terbahak.
"Waaah, ya jangan palang merah dulu dong." sahut Ruslan dengan nada khawatir.
"Ya dipas- pasin tanggal nikahnya. Jangan di dekat- dekat hari palang merah." saran Jiwo.
__ADS_1
"Aku malah nggak kepikiran sampai sana lho! Aku tanya Adel deh nanti, dia dapet tamu bulanannya tiap tanggal berapa." kata Ruslan seperti baru saja mendapat pencerahan.
"Jangan bilang- bilang Adel kalau kamu yang menginspirasiku soal pertanyaan tamu bulanannya." kata Ruslan lagi penuh ancaman pada Jiwo yang kemudian terkikik.
"Baru juga terlintas di kepalaku mau ngomong sama Adel." kata Jiwo sengaja untuk meledek Ruslan saja.
Pada prakteknya mana mau dia chattingan masalah begituan sama cewek lain? Sama pacarnya sendiri aja dulu dia nggak mau membahas hal begituan. Buat apa? Toh dia nggak pernah melakukan hal- hal yang harus memperhatikan jadwal datang bulan kekasihnya.
Dia dulu tahu jadwal Ifah datang bulan juga hanya lewat kejadian kalau Ifah di ajak sholat nggak mau. Itu tandanya gadis itu sedang berhalangan wajib bulanan.
Akan beda urusannya kalau sudah suami istri kelak. Jadwal datang bulan istri adalah hal yang wajib diketahui oleh para suami untuk menjaga kestabilan emosi, wkwkwk...
"Jangan lupa bawa gandengan baru kalau datang ke nikahanku besok." kata Ruslan sambil menunjuk Jiwo dengan sedotan teh hangatnya.
"Gandengan baru sih gampang. Pasti aku bawa." jawab Jiwo dengan gaya jumawa.
"Siapa yang kamu incer? Temen kantor kamu?" tanya Ruslan langsung penasaran.
"Nggak ada! Kapan juga aku sempet lirik- lirik cewek lain. Aku type setia tiada tara." sergah Jiwo sambil mendengus. Ruslan tertawa melihat dengusan Jiwo karena mengerti kekesalan sahabatnya itu.
"Ternyata yang setia masih aja nggak guna." ledek Ruslan sebelum meledakkan tawa.
"Gundulmu!" umpat Jiwo kemudian menembak Ruslan dengan air es jeruk lewat sedotannya.
"An jrit!" umpat Ruslan karena kaos bagian depannya basah oleh tembakan Jiwo.
"Kapok!" balas Jiwo tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu sendiri yang janji ya, besok datang ke acaraku bawa gandengan. Kalau kamu nekad datang sendirian, kamu nggak boleh minta photo bareng pengantinnya." ancam Ruslan yang mendapat cibiran Jiwo.
"Siapa juga yang pengen photo sama kamu? Yang ada istrimu yang pengen photo sama aku nanti." ledek Jiwo yang membuat Ruslan meringis keki.
Di tarik ke belakang, Adelia adalah salah satu gadis yang juga menyukai Jiwo namun tak pernah Jiwo tanggapi perasaannya. dan pada akhirnya Ruslan tahu kalau Adelia pernah menaruh hati pada Jiwo.
Hal itu Ruslan tahu saat melihat Adelia menangis setelah Jiwo menegaskan perasaannya saat itu. Ruslan yang memang sudah lama menaruh hati pada Adel bisa memanfaatkan situasi di hari- hari setelahnya dengan baik hingga membuat Adel jatuh hati bahkan kini hampir dinikahinya.
"Dulu aku udah maki- maki lelaki yang bikin Adel patah hati. Nggak tahunya kamu. Asem." kekeh Ruslan sambil berusaha meninju lengan Jiwo namun meleset karena Jiwo berkelit.
"Nggak!" sahut Ruslan cepat sambil tertawa.
"Makasih ya udah nolak Adel." kata Ruslan kemudian sambil tersenyum riang.
"Sama- sama." jawab Jiwo kembali tertawa.
"Aku senang akhirnya Adel sama kamu. Dia gadis yang baik. Kalian pasti bisa saling membahagiakan nantinya." kata Jiwo dengan wajah serius walau tetap tersenyum.
"Aamiin. Doakan kami ya, Wo." balas Ruslan tak kalah serius.
"Pasti itu."
Jiwo masih menikmati udara Kalimantan seharian ini sebelum esoknya dia kembali menuju tempat kerjanya sekarang ini. Ibukota Jakarta.
Meninggalkan Kalimantan bersama kisah cintanya yang kandas.
Meninggalkan cita- cita dan mimpinya memiliki rumah tangga yang indah bersama Ifah.
Ah, sepertinya Kalimantan selalu membuatnya patah hati.
Semoga nanti aku akan menemukan cintaku di pulau Jawa.
Memulai lagi episode baru perjalanan cintanya entah dengan siapa nanti.
Semoga siapapun nanti yang disiapkan masa depan untuknya, Allah meridhoi dan memudahkan semuanya.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Hari meninggalkan parkiran kantornya dengan tersenyum- senyum sendiri di balik kaca helm yang sengaja dia tutupkan di depan wajahnya untuk menutupi senyumannya dari orang lain.
__ADS_1
Dia sedang berbunga- bunga dengan dugaannya sendiri sejak tadi.
Dari menjadi pendengar obrolan random teman- temannya soal masalah 'palang pintu' yang bikin pusing kepala hingga obrolan soal masa kehamilan istri masing- masing, Hari seperti mendapat pencerahan.
Saat pembicaraan menyinggung pem ba lut untuk perempuan usai melahirkan yang dibicarakan Kang Dedi tadi, Hari langsung teringat pagi tadi melihat dua bungkus ukuran besar pembalut Witri yang masih utuh.
Itu bisa diartikan dua bulan Witri nggak menggunakan pembalut itu.
Itu berarti Witri tidak datang bulan.
Yang artinya ada kemungkinan Witri hamil.
Hamil.
Satu kata yang selalu berputar di kepala Hari tanpa berani dia ucapkan di depan siapapun sejak tadi.
Benarkah dugaannya itu?
Kenapa Witri nggak bilang padanya kalau tengah mengandung?
Atau Witri belum menyadari kehamilannya?
Bisa saja begitu. Apalagi dua bulan belakangan ini Witri terlihat sangat lelah setiap pulang kerja.
Witri pernah bercerita kantornya tengah mengadakan pembaruan dan perapian dalam administrasi dan Witri tentu saja terlibat di dalamnya.
"Merapikan data udah kayak kerja membongkar gudang lama rasanya." keluh Witri beberapa hari lalu padanya.
Pemberesan dan pembersihan administrasi sengaja dilakukan karena baru saja ketahuan ada penyelewengan keuangan dengan cara memanipulasi data.
Untung saja Witri tak terlibat sama sekali dalam hal itu sebelumnya.
Penyelidikan intern perusahaan berjalan sangat senyap dan melelahkan bagi tim 'bersih-bersih' dimana Witri berada di dalamnya.
Kalau dihitung- hitung sekitar dua bulan ini memang bahan obrolan Witri masih seputar itu sih.
Hari menduga Witri terlalu fokus pada pekerjaan itu hingga lupa jadwal datang bulannya terlewat dua kali.
Harusnya lima hari lalu Witri datang bulan. Tapi sampai siang hari ini Witri masih sholat saat Hari menelponnya saat jam makan siang tadi.
Apotek.
Hari segera membelokkan motornya ke halaman sebuah apotek kecil yang berada persis di samping pertigaan yang cukup ramai.
Dengan sedikit malu Hari meminta diberi beberapa merk testpack yang ada di apotek itu.
Gadis penjaga apotek pun menggelar lima buah merk testpack yang segera di bayar Hari dengan hati penuh harap dan sukacita.
Lepas dari kasir dan hendak membuka pintu keluar apotek, panggilan dari Witri masuk ke ponselnya. Dengan tersenyum Hari menerima panggilan itu dengan berdiri di samping luar pintu apotek agar tak menghalangi pengunjung lainnya.
"Assalamualaikum, Jeng." sapa Hari dengan riang.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Udah otw ke kantorku kan?" tanya Witri dari seberang panggilan
"Iya, Sayang. Sepuluh menit lagi sampai. Aku mampir ke apotek sebentar." jawab Hari sambil tersenyum sendiri memandang plastik yang kemudian dia masukkan ke saku celana seragam lorengnya yang cukup besar.
Tanpa sadar ditepuknya lembut saku itu dengan tersenyum.
"Mas sakit? Beli obat apa?" tanya Witri dengan nada khawatir.
"Enggak sakit. Cuma beli obat merah aja. Di rumah kan habis." jawab Hari cepat sambil menundukkan wajah menyembunyikan senyum yang tak mau disembunyikan dari wajahnya sejak tadi.
Ah rasanya nggak sabar meminta Witri memakai testpack itu
Dia khawatir orang- orang yang melihatnya nanti mengiranya sedikit gesrek karena senyum-senyum sendiri.
Namun senyumannya memudar saat dengan tiba-tiba dia mendengar klakson yang begitu nyaring seperti semakin mendekat ke arahnya disertai banyak jeritan di sekitarnya dan saat belum menyadari sepenuhnya atas apa yang terjadi di sekitarnya, Hari hanya merasa sesuatu menghantamnya sangat keras dari arah depan dan membuat dadanya begitu sesak, kemudian detik berikutnya semuanya gelap baginya.
__ADS_1
...💧💧 b e r. s a m b u n g 💧💧...
Aku tegaaaaaangggg 😨😨😨😨😨