
Berdiri di depan pintu kamar hotel Witri, Jiwo merasa harus menghela napasnya berulangkali agar lebih rileks sebelum memencet bel untuk menjemput Witri.
Belum selesai nafasnya berhembus, ponselnya berbunyi.
Witri menelponnya.
Jiwo terkekeh geli - membayangkan wajah malu Witri kalau tahu dia sudah di depan pintu- sambil mengangkat panggilan itu.
"Udah berangkat jemput?" tanya Witri.
"Udah." jawab Jiwo sambil tersenyum sendiri. "Udah sampai depan pintu kamarmu bahkan." sambungnya kemudian.
Jiwo sedikit kaget saat pintu kamar langsung terbuka.
"Kenapa nggak manggil?" tanya Witri sambil menatap Jiwo dan masih dengan panggilan ponsel yang saling terhubung.
"Baru mau pencet bel, keduluan kamu nelpon." jawab Jiwo sambil mengakhiri panggilan telpon kemudian memaksimalkan tatapannya pada tampilan casual Witri. Sangat fresh dengan riasan wajah minimalis. Manis.
"Ngeliatnya biasa aja bisa kan?" tanya Witri galak walau dengan pipi sedikit merona.
"Memangnya aku ngeliatnya nggak biasa?" tanya Jiwo sambil terkekeh malu.
"Iya. Kayak yang nggak pernah liat perempuan." sahut Witri sambil memasukkan kunci ke dalam tasnya. "Nakutin." sambungnya sambil menatap Jiwo kesal.
"Ya maaf kalau bikin takut. Tapi aku nggak ada pikiran jelek yang gimana- gimana sama kamu. Serius!" kata Jiwo dengan wajah serius dan juga khawatir. Khawatir kalau Witri berprasangka buruk padanya.
Dia jelas saja nggak mau kalau Witri tiba- tiba nggak mau jalan sama dia. Atau bahkan berpikiran pulang hari ini juga karena nggak nyaman sama dia.
"Jangan takut." kata Jiwo lagi." Jangan marah juga." sambungnya karena Witri diam saja.
"Please..." rengeknya sambil menjajari langkah santai Witri.
"Astagfirullahaladzim rempongnyaaa....." sergah Witri sambil melirik geli pada Jiwo yang salah tingkah.
"Jangan takut sama aku ya?" pinta Jiwo dengan wajah memohon. Masih dengan mimik khawatir menatap Witri yang berdiri tenang di depan pintu lift.
"Iya Pak Jiwoooo...iyaaaa..." sahut Witri kemudian melangkah masuk ke dalam lift sambil menggeleng- gelengkan kepalanya kesal.
Memangnya harus merengek- rengek gitu ya biar dimaafin? Ilmu dari mana itu?
"Kali ini kamu pengen menikmati apa? Aku siap melayani." kata Jiwo sopan begitu pintu lift tertutup dan hanya berisi mereka berdua.
Ha? Siap melayani? Ck...Ck...Ck...
"Kamu anggap aku istri pejabat ya? Istri dubes gitu sampai harus dilayani?" kekeh Witri sambil tertawa dan menatap geli pada Jiwo. Dilihatnya jelas Jiwo bahkan sangat menjaga jarak dengannya.
Sikap canggung Jiwo saat ini sama persis seperti saat mereka ketemu di depan toilet di jaman SD dulu. Saat Jiwo memberinya permen karet.
Ah malah bernostalgia....
Jiwo meringis bingung sambil menatap malu- malu pada Witri.
Salah lagi...salah lagi...Bahkan omongannya sejak tadi nggak pernah bener...heran!
"Sudah yakin mau mentraktir aku?" tanya Witri sambil tersenyum jahil.
"Oh ya! Tentu saja!" sahut Jiwo senang.
"Mmmm..." Witri bergaya tengah berpikir keras dengan mengetuk- ngetukkan telunjuknya di tengah bibirnya berkali- kali.
Sampai mereka berjalan keluar lift, bahkan sudah mau sampai pintu keluar hotel, Witri masih bergaya seperti orang yang tengah berpikir keras.
"Wit..." panggil Jiwo sambil menahan lengan Witri yang satu kakinya sudah melewati pintu lobby hotel.
"Kenapa?" tanya Witri dengan wajah keheranan dan mata yang menatap cekalan tangan Jiwo di lengannya.
Jiwo mengikuti arah tatapan Witri dan bergegas melepaskan cekalan tangannya saat dia menyadari kelancangan tangannya yang seolah otomatis bergerak mencegah Witri meninggalkannya.
"Maaf...maaf Wit..." kata Jiwo dengan wajah kembali kelabakan.
Witri menghembuskan nafasnya keras dengan kelakuan Jiwo itu.
Kebanyakan minta maaf nih orang.
Witri memicingkan matanya dengan tatapan lurus ke mata Jiwo, membuat lelaki itu semakin salah tingkah dan kelabakan.
Kalau sampai ngambek beneran, mati akuuuu....resah batin Jiwo.
"Di sepanjang jalan ini banyak street food. Mau coba?" tawar Jiwo dengan tatapan ragu- ragu mencoba menghangatkan aura dingin diantara mereka.
__ADS_1
Dalam hati dia sedang menyiapkan mental kalau- kalau tiba- tiba Witri meledak.
"Kamu udah bisa bedakan mana jajanan yang boleh kita makan sama yang enggak?" tanya Witri dengan wajah serius.
Ya,Witri sudah sedikit tahu kalau nggak boleh jajan sembarangan disini karena kita nggak tahu pasti mana yang halal dan mana yang haram.
Karena Jiwo sudah lumayan lama di sini Witri pikir pasti Jiwo lebih tahu soal kehalalan jajanan di daerah sini.
Dan dugaannya memang benar seiring dengan jawaban mantap Jiwo.
"Udah! Tentu saja aku udah bisa bedakan." sahut Jiwo cepat. Gurat kelegaan jelas terlihat di raut wajahnya baru saja.
"OK!" seru Witri kemudian dengan bersemangat.
"Jadi kamu mau nyoba apa dulu?" tanya Jiwo dengan semangatnya.
Dia sudah menjajari langkah Witri yang sudah mulai mengedarkan pandangannya ke sepanjang pinggir jalan yang nampak banyak penjual makanan.
"Itu penjual apa?" tanya Witri sambil menunjuk ke arah gerobak yang paling dekat dengannya.
Gerobak itu nggak ada gambar makanannya. Hanya penuh dengan tulisan yang dia nggak ngerti gimana cara bacanya.
Beruntunglah rasanya saat 'buta huruf' gini ada yang menemani dan paham.
"Itu penjual chamchi kimbab." jawab Jiwo. "Itu enak. Mau coba?" tawar Jiwo kemudian.
Chamchi Kimbap adalah sushi Korea dengan isian tuna.
"Boleh." jawab Witri setelah mulai bisa melihat bentukan makanan itu.
Sumber : google
Seperti sushi ya?" tanya Witri dengan berbisik setelah Jiwo selesai memesan pada sang penjual yang masih muda itu. Tanpa sadar Witri merapatkan tubuhnya ke lengan Jiwo agar bisikannya hanya di dengar oleh Jiwo.
Untunglah, walaupun masih oppa- oppa-, cowok itu masih kalah cakep dengan Jiwo. Itu menurutnya sih ihihihi....
"Iya. Isinya tuna." jawab Jiwo sambil tersenyum. Hatinya berdebar saat menyadari satu lengannya ditempeli sebagian tubuh Witri. Pikiran nakalnya sebagai pria dewasa mulai berjalan...
Bagaimana kalau setelah dari sini tangan Witri di genggamnya sepanjang jalan?
Apakah Witri nggak keberatan kalau....
"Enak dong ya?" tanya Witri sudah kembali ke posisinya berdiri.
"Ha?! Eng...enggak!" jawab Jiwo spontan.
Witri tahu kalau aku suka dengan posisi barusan?
Atau dia bisa baca pikiran nakalku?
MATI AKU!
"Nggak enak?" tanya Witri dengan wajah kaget dan kecewa.
"Ap...apa?" tanya Jiwo dengan wajah kalut dan gusar.
"Chamchi itu enggak enak?" tanya Witri lagi dengan wajah keheranan dan curiga menatap kegugupan Jiwo.
Masak iya Jiwo mau jajanin dia makanan yang nggak enak?
"Enak! Ini di jamin enak." jawab Jiwo dengan wajah lega. Perlahan raut salah tingkahnya tadi menghilang.
"Alhamdulillah kalau enak." kata Witri dengan wajah sumringah, membuat Jiwo bernafas lega.
Ufffh...kirain dia bisa baca pikiranku....
"Lalu kenapa tadi kamu bilang 'enggak'?" tanya Witri tiba- tiba sambil menatap Jiwo penasaran.
"Ha?!" tanya Jiwo kaget.
Buset nih cewek, bikin sport jantung aja.Kirain nggak curiga...ternyata....
"Hahe hahe...." gumam Witri sambil melirik meledek.
Jiwo menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil meringis malu.
"Kamu itu udah gede. Udah tua bahkan..."
__ADS_1
"Enak aja tua!" potong Jiwo nggak terima.
"Dewasa maksudku!" sergah Witri tak kalah cepat. "Tapi tingkah kamu masih aja kayak jaman SD dulu." kata Witri meneruskan.
"Tingkah yang mana yang kayak anak SD?" tanya Jiwo nggak percaya dengan ucapan Witri barusan.
"Lhah nggak kerasa dia!" ledek Witri sambil mencibir.
"Kamu itu masih suka salah tingkah. Kayak yang kadang pikirannya entah kemana, makanya kalau ditanya masih suka hah heh aja. Kayak yang nggak fokus sama yang di depan kamu." kata Witri sambil tersenyum- senyum meledek.
"Masak sih?" sanggah Jiwo.
"Serahhh kalau nggak percaya!" sungut Witri kesal. Wajahnya sedikit cemberut. Sangat menggemaskan sih sebenarnya buat Jiwo.
Tuh kan ngambek lagi. Salah lagi aku...
Jiwo meringis lagi.
"Aku percaya kok. Cuma selama ini nggak ada yang complain begitu sama aku." kata Jiwo mencoba berbaik- baik. Siapa tahu Witri nggak cemberut lagi.
"Atau...aku begitu cuma sama kamu aja ya?" tanya Jiwo sambil melirik menggoda Witri.
Witri mencibirkan bibirnya.
"Kenapa emangnya aku? Aku bikin kamu grogi?" tanya Witri sambil menahan senyum.
"Absolutely...yes..." jawab Jiwo sambil menunduk malu.
Witri terkekeh - kekeh sambil menerima uluran makanan dari sang oppa penjual chamchi.
"Kamsahamnida." ucap Witri sopan sambil sedikit membungkukkan badannya. Jiwo tersenyum dalam hati melihatnya.
Kamsahamnida \= terimakasih.
Kata ini biasanya digunakan untuk situasi formal seperti dalam acara rapat, di sekolahan, atau acara lainnya. Selain itu, ungkapan ini juga digunakan untuk orang yang lebih tua atau dihormati.
"Gomawoyo." kata Jiwo kepada oppa penjual itu sebelum mengajak Witri menuju sebuah bangku tak jauh dari situ.
Gomawoyo \= terimakasih
Ungkapan ini adalah ungkapan berterima kasih yang cukup sopan. BIsa digunakan kepada orang-orang yang dekat atau kepada yang sudah akrab.
"Mari kita makan..." kata Witri dengan wajah tak sabar begitu mereka sudah duduk berdampingan namun dipisahkan oleh chamchi yang diletakkannya di antara mereka berdua.
"Enak!" seru Witri tertahan begitu satu gigitan chamchi ada di alam mulutnya.
"Alhamdulillah kalau kamu suka." kata Jiwo sambil tersenyum senang.
"Aku suka." sahut Witri sambil mengangguk- angguk riang dan tangannya lincah bergerak menuju ke mulutnya.
Menyenangkan sekali melihat Witri makan.
"Setelah ini kayaknya kamu harus nyobain eomuk." kata Jiwo dengan semangatnya.
"Boleh...boleh...!" sahut Witri tanpa berpikir panjang
Makanan itu pasti juga enak. Si eomuk itu...
"Penjualnya ada di ujung jalan sana. Nanti kita kesana setelah kita sikat habis ini." kata Jiwo sambil tertawa kecil.
"Syappp!" kata Witri sambil menghormat.
sumber : google
Eomuk ini terbuat dari ikan yang dihaluskan lalu dicampur dengan tepung terigu dan bumbu-bumbu lainnya sehingga lebih kaya rasanya.
Lalu adonan ikan tersebut dibentuk dan direbus dalam kaldu sayuran yang juga sudah dibumbui dengan myeolchi (teri), mu (lobak putih), kelp (sejenis rumput laut kering), kecap asin, dan berbagai rempah khas korea lainnya.
Eomuk memiliki bentuk yang beragam, ada yang berbentuk lonjong seperti sosis, ada yang berbentuk bulat, dan ada juga yang berbentuk lembaran lalu dibentuk menjadi lipatan agar lebih banyak menyerap kuah kaldu.
...🍁 b e r s a m b u n g 🍁...
Nggak tau masih ada yang nungguin atau nggak JJ up 😅
Berbulan- bulan ngilang nggak pamit juga 🙈
Tak apalah, memang salah authornya 🙈
__ADS_1