
Mata Jiwo kembali terbuka saat didengarnya panggilan telpon dari ponsel yang tergeletak di sebelah telinganya.
"Astagfirullahaladzim...ketiduran disini." gumam Jiwo sambil beranjak bangkit dari atas sajadah.
Rasa kantuknya segera hllang saat dilihatnya ada nama Esti di panggilan telponnya. Pasti ibunya yang ingin VC dengannya.
Jiwo bergegas mengusap layar ponselnya sambil melangkah menuju balkon. Ibu senang kalau diperlihatkan pemandangan salju dari balkon apartemennya.
Ibu sengaja mengajak ngobrol soal Kyu yang ternyata sudah diceritakan Esti ke Ibu sebagai kekasihnya dan sebagai sahabat Jiwo di Korea.
Ibu masih nampak khawatir tentang keseriusan hubungan dua orang itu.
"Katanya Kyu sudah nanya kapan boleh datang kesini untuk melamar. Ibu bingung mau jawab apa." kata ibu yang membuat Jiwo hampir tersedak salivanya sendiri.
Wah kejauhan tuh anak jalannya...Masak aku nggak diajak ngobrol dulu soal itu...
Lagian baru berapa minggu mereka kenal, udah mau main lamar aja.
"Kenapa bingung? Ibu kan tinggal nanya Esti dia mau nggak dilamar sama Kyu..."
"Kalau anaknya sih udah ibu tanya dan pastilah dia mau. Ibu yang khawatir, Wo...Kalau mereka nikah Esti bakal ikut suaminya dong ya? Jauh banget, Wo...Kalau ada apa- apa kita nggak bisa cepat nolonginnya." kata Ibu penuh rasa khawatir.
"Ibu kok mikirnya yang serem- serem gitu. Nggak akan ada apa- apa, Bu. InsyaaAllah..." hibur Jiwo yang tak menndapat sahutan ibunya.
"Ibu Sebenarnya ikhlas enggak kalau Esti dinikahin Kyu?" tanya Jiwo kemudian.
"Ya ikhlas kalau memang Kyu anak yang baik dan bertanggung jawab. Cuma maunya ibu kan kamu dulu yang nikah, Wo...Masak kamu mau dilangkahi lagi sama adikmu. Dulu Lily, besok Esti." kata Ibu akhirnya jujur. Jiwo meringis malu.
"Jodoh kan nggak harus urut berdasarkan nomer lahir, Bu...Kalau Esti dan Lily nikahnya harus nunggu aku nikah dulu, mereka bisa jadi perawan tua. Ibu juga yang nanti pusing denger suara tetangga.Dikiranya anak gadisnya cantik- cantik kok nggak laku." kata Jiwo mencoba ngeles rasional.
"Jadi kamu nggak papa dilangkahi lagi?" tanya Ibu sedih walau kemudian nada suaranya terdengar sedikit lega.
"Ikhlas lillahi ta'ala, Bu. Aku malah ikut seneng. Setidaknya satu tugas ibu akan berkurang lagi. Tanggung jawab ibu menjaga Esti sudah mau diambil alih oleh Kyu." jawab Jiwo sambil tersenyum.
Pembicaraan mereka masih berlanjut hingga sepuluh menit kemudian sebelum akhirnya Ibu menutup telponnya karena melihat tukang sayur langganannya sudah datang.
Sebentar tercenung, Jiwo lalu ingat tadi sebelum mengangkat telpon, dia melihat ada notif pesan.
Dan senyumnya merekah sempurna saat melihat itu pesan dari Witri.
Dan dia terbelalak takjub dan haru saat melihat photo seorang bayi disana.
"MasyaaAllah... Alhamdulillah..." gumamnya haru.
Bergegas dia melakukan panggilan telpon. Rasanya tak sabar sekali menunggu panggilan telponnya di angkat. Namun hingga dering terakhir panggilan pertama, apa yang dia harap tak terwujud. Telponnya tak terangkat dari ujung sana.
Tak kehabisan akal, Jiwo menghubungi nomer Mamak dan di dering kelima panggilannya tersambung.
__ADS_1
Salam dari Mamak melegakan hati Jiwo.
"Witri udah lahiran, Mak?" tanya Jiwo dengan suara yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaan.
"Alhamdulillah udah semalem. Witri udah ngabarin kamu?" tanya Mamak balik.
"Udah tadi pagi. Tapi Saya ketiduran, jadi nggak tau pesannya masuk. Ini barusan Saya telpon nggak diangkat." kata Jiwo penuh sesal.
"HPnya kehabisan daya. Lagian ini juga baru di jalan mau pulang ke rumah." kata Mamak sambil melirik Nadi.
"Sama siapa, Mak?" tanya Jiwo mulai nggak enak hati.
"Sama Nadi. Dari semalem dia nemenin kami. Yang nganter ke klinik juga dia semalem." jelas Mamak dan itu seperti pisau kecil namun sangat tajam mengiris hati Jiwo.
Nadi adalah satu- satunya nama yang selalu ada di sela obrolannya bersama Witri dan Mamak. Nama itu nampaknya istimewa bagi mereka berdua selain Hari tentu saja.
Jiwo menghela nafas sedih.
Saat dia begitu bersemangat berjuang untuk meyakinkan Witri akan perasaannya, namun dia tidak bisa membuktikannya dengan selalu ada di samping perempuan itu, menjadi seseorang yang selalu ada untuknya, apakah perjuangannya ini akan terlihat artinya di mata Witri?
Sementara Nadi selalu ada untuk Witri walau mungkin lelaki itu tak pernah mengucapkan atau menginginkan apapun dari kebaikannya pada Witri. Tapi bukankah banyak terjadi, yang dekat akan lebih melekat daripada yang hanya bertekad?
"Wo, nanti kita sambung lagi. Ini udah mau sampai depan rumah." ucapan Mamak mengagetkan Jiwo. Dia bahkan belum jadi menyapa Witri dan menanyakan Aksa, tapi harus dia tutup dulu telponnya.
Selama Mamak menerima telpon dari Jiwo, lewat spion tengah, Nadi diam- diam melirik Witri yang ada di bangku belakang, ingin melihat ekspresi wajah Witri dengan keberadaan Jiwo di udara mereka saat ini. Dan Nadi tak menemukan ekspresi yang dia duga akan muncul di riak wajah Witri.
Sedikit membuatnya keheranan melihat kenyataan ini.
Apa benar Witri mencintai Jiwo? Tapi kok gitu ya...?
"Jiwo nanya kenapa kamu nggak bisa ditelpon, Wit." kata Mamak mencoba menarik perhatian Witri dari Aksa.
"Iya. Aku dengar Mamak tadi bilang kalau HPku habis baterai." jawab Witri santai.
Nadi masih mencoba menyimpan keheranannya karena dia harus bergegas membantu membukakan pintu mobil untuk Witri begitu mobil berhenti di halaman rumah kontrakan Witri.
Mungkin kapan- kapan akan dia tanyakan pada Mamak.
"Makasih, Bang." kata Witri saat Nadi membukakan pintu mobil buatnya.
Nadi hanya tersenyum kecil sambil melirik Aksa yang nampak mengerjapkan matanya di gendongan Witri.
Lucu sekali anak itu. Bibirnya mungil dan berwarna merah. Nampak menggemaskan saat berdecak- decak begitu.
"Nanti aku boleh gendong Aksa sebentar nggak, Wit?" tanya Nadi sambil mengekor Witri memasuki rumah. Ditangannya terjinjing satu tas berisi perlengkapan ibu dan bayi yang kemarin dibawa dari rumah.
Witri sampai menolehkan kepalanya karena heran dengan pertanyaan Nadi yang terdengar seperti sebuah permintaan itu.
__ADS_1
Memangnya dia bisa menggendong Aksa? batin Witri meragukan Nadi. Dia nggak melihat semalem luwesnya Nadi menggendong Aksa saat mengadzani Aksa.
"Boleh. Mau sepanjang hari juga boleh kalau nggak punya kerjaan." jawab Witri setengah meledek. Nadi hanya meringis malu.
"Aksa susu formulanya apa?" tanya Nadi sambil berdiri di depan pintu kamar Witri. Dia tak berani melewati ambang batas pintu kamar.
Mamak yang sudah menyiapkan kasur dengan dilapisi kain perlak menerima Aksa dari gendongan Witri dan dibaringkan dia tas perlak dimana ada satu bantal dan dua guling mungil di atasnya.
"Bang Nadi pengen gendong Aksa katanya, Mak." kata Witri saat melihat sorot kecewa mata Nadi yang melihat Aksa malah dibaringkan.
"Biar Aksa baring sebentar. Dibenerin dulu bedongannya sebentar ya." jawab Mamak sambil mulai membetulkan bedongan Aksa yang mulai nggak rapi.
"Mau dipanggil apa sama Aksa, Nad? Pakde atau Om?" tanya Mamak santai. Witri menatap Nadi yang kini menyandarkan satu bahunya ke gawang pintu kamar.
Penasaran juga dia.
"Pengennya sih di panggil Bapak." jawab Nadi lirih sambil cengar- cengir.
"Ya cari istri dulu baru bikin anak biar bisa dipanggil Bapak." sahut Mamak sambil terkekeh.
Berbeda dengan Witri yang sekilas sempat melihat raut sedih di wajah Nadi.
Witri kembali mengingat kondisinya sendiri. Sedih harus kehilangan suami disaat tengah berbadan dua. Sedih bila berpikir kelak harus menjelaskan pada Aksa tentang ayahnya.
Witri merasa cerita hidupnya dan cerita hidup Nadi seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Dia dan Aksa kehilangan sosok lelaki pelindung dalam kehidupan mereka. Sedang Nadi kehilangan sosok anak dan istri yang dilindunginya.
"Ya udah. Aksa juga nggak punya bapak ini. Kalau Bang Nadi pengen dipanggil Bapak sama Aksa, nggak papa." kata Witri kemudian yang membuat Mamak dan Nadi tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
Witri yang melihat keterkejutan keduanya malah jadi salah tingkah.
"Bukan maksud gimana- gimana...Kalau Bang Nadi nggak mau juga nggak papa." sambung Witri kemudian yang langsung disahut cepat oleh Nadi.
"Mau! Mau banget. Biar Aksa punya Bapak. Aku mau jadi bapaknya." kata Nadi sambil berkaca- kaca.
"Tapi..." Mamak tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya jadi bapaknya Aksa, Mak. Bukan jadi suami Witri." kata Nadi sambil tersenyum salah tingkah karena dia mengerti apa yang tengah dipikirkan Mamak. Mamak kemudian mengangguk sedikit malu hati.
Witri yang mendengar ucapan Nadi malah ganti kaget.
Dia nggak pernah sedikitpun berpikir lebih soal dia dan Nadi. Baginya, Nadi adalah lelaki asing yang tiba- tiba datang dalam hidupnya menjadi pelindung keluarganya.
Bila pun ada perasaan lebih, itu adalah perasaan seorang adik kepada abangnya. Karena sampai detik ini, hatinya masih milik Hari, Ayahnya Aksa. Bahkan Jiwo pun belum mampu kembali menelusup ke bilik hatinya.
...💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧...
__ADS_1