JANJI JIWO

JANJI JIWO
USG


__ADS_3

Dan kayaknya seorang kepala keluarga, sesampainya di klinik Nadi meminta Mamak dan Witri duduk saja sedang dia yang melakukan registrasi ulang berbekal tahu nama lengkap Witri.


"Setelah pasien yang barusan masuk, giliran kamu." kata Nadi sambil menatap Witri lalu duduk di samping Mamak..


"Alhamdulillah nggak antri lama. Makasih, Bang." kata Witri sambil melempar pandangannya ke arah Nadi. Nadi hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.


"Bisa pas gilirannya." kata Mamak sambil tersenyum senang.


"Iya." balas Nadi sambil menyamankan duduknya. Di sandarkannya punggung ke sandaran kursi tunggu dengan santai. Dia berencana duduk manis disitu sembari menunggu Witri yang sebentar lagi akan masuk ruangan bersama Mamak.


Saat suster memanggil nama Witri, Nadi anteng saja dengan duduknya karena memang tidak ada pikiran untuk ikut masuk.


Namun dia mendadak deg- degan dan bingung saat suster yang berdiri di depan pintu bertanya padanya.


"Bapak nggak ingin ikut masuk? Nggak pengen liat baby nya?"


Mamak yang masih berdiri di samping suster itu hanya tersenyum kecil melihat kebingungan Nadi yang menatapnya.


"Kalau pengen lihat nggak papa. Ayo masuk." kata Mamak akhirnya.


Dengan sedikit salah tingkah Nadi akhirnya berdiri dan menuju pintu. Dibalasnya tatapan heran suster itu dengan tatapan dingin, membuat suster itu ciut nyali dan langsung menunduk.


Witri nampak kaget dengan kedatangan Nadi yang berjalan di belakang Mamak.


Kenapa dia ikut masuk sih?


Nadi sengaja membuang pandangannya ke titik lain saat sedetik tadi dia melihat tatapan kaget dan nggak nyaman di mata Witri.


Gara- gara mulut suster sotoy itu nih...


"Sama ayahnya juga ternyata." kata dr.Farida sambil tersenyum saat melihat kedatangan Nadi di ruangan itu.


"Bukan!" jawab Witri dan Nadi berbarengan.


"Saya abangnya." sambung Nadi kemudian.


"Oh...Maafkan saya..." sahut dr.Farida dengan wajah nggak enak hati.


Witri dan Nadi mengangguk kaku.


"Kalau gituari kita lihat baby kita sudah sebesar apa sekarang." kata dr. Farida sambil beranjak berdiri diikuti Witri untuk berbaring di ranjang yang terletak di samping meja dokter.


Dengan sudut matanya Witri melirik kearah Nadi yang nampak dengan sadar diri langsung beringsut menjauh saat Witri mulai berbaring dan suster mulai membuka sedikit bajunya untuk mengoleskan gel di permukaan perutnya.


Jantung Nadi berdetak kencang. Bukan karena membayangkan Witri yang perutnya terekspose, Bukan.


Dia hanya merasa dejavu.


Dua hari sebelum istrinya meninggal, dia juga berada di ruangan periksa kehamilan seperti ini. Bersama istrinya tersenyum bahagia melihat bayi mereka di layar.


"Sehat sekali anaknya. Alhamdulillah..." suara dr. Farida memenggal layar kenangan Nadi dan menarik mata Nadi untuk menatap layar walau dari jarak agak jauh.


Tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum haru.Rasa haru yang sama yang dulu pernah dia rasakan saat bersama istrinya menatap calon anak mereka.


Ya Allah, aku disini demi menjalankan amanat sahabatku untuk selalu menjaga istri dan anaknya...Tapi bolehkah aku juga ikut bahagia untuk bayi itu mewakili ayahnya?

__ADS_1


"Agak dekat kesini juga boleh lho Pak ,. biar jelas liat ponakannya." kata dr. Farida yang sedari tadi melihat tingkah Nadi yang nampak serba salah. Seperti pengen tapi takut atau malu.


"Dari sini saja, Dok. Sudah cukup jelas keliatan. Terimakasih." jawab Nadi datar sambil berusaha mengeluarkan senyumnya.


Sudut matanya sedikit mencuri pandang ke arah wajah Witri yang baginya sangat terlihat sedang menahan rasa tak nyaman.


Nadi kembali menatap layar untuk melihat lagi visual Aksa.


"Belum kelihatan jenis kelaminnya, Dok?" tanya Nadi.


Dokter Farida menatap Witri yang nampak ragu untuk bertanya.


"Mamanya pengen tau nggak anaknya cewek atau cowok?" tanya dr. Farida.


"Sudah bisa di cari tahukah?" tanya Witri sambil menahan letupan bahagia dihatinya.


"Seharusnya sudah. Sudah hampir dua puluh minggu kan ini?" kata dr.Faridabyang disambut anggukan Witri.


"Baiklah! Mari kita intip apa gender nya!" seru dr.Farida dengan riang.


Ada desiran bahagia dan berdenyut kencang di dada Nadi karena tak sabar ingin tau juga Aksa akan jadi gadis cantik atau jadi cowok tampan seperti almarhum ayahnya.


Mata Nadi menatap layar dengan wajah antusias. Harus menunggu beberapa saat sebelum akhirnya bisa melihat gender sang janin.


"Calon jagoan nih! Tuh, jelas kan ya?" kata dr.Farida dengan antusias sambil menatap layar dimana posisi janin sangat jelas memperlihatkan area tengahnya.


Witri sudah berurai airmata tanpa sanggup berkata- kata selain mengangguk- angguk. Mamak mendekatkan tubuhnya hingga Witri bisa menyembunyikan tangisnya di perut Mamak.


Hatinya senang anaknya baik- baik saja di dalam sana. Namun juga tak bisa dia ingkari kalau dia meras nelangsa saat ini.


Mas, maaf, aku kangen...


Airmatanya tak mau juga segera menyusut walau dia berusaha menguat- nguatkan hatinya agar segera reda kesedihannya. Dia juga nggak mau terlihat lemah di mata orang lain.


Mamak yang mengerti bagaimana perasaan terdalam Witri hanya mampu mengelus- elus pundak anaknya itu dengan menerbitkan senyum yang nampak getir.


"Sabar...istigfar..." bisik Mamak kemudian.


Beruntung Nadi asik sendiri dengan keterpanaannya menatap layar dengan hati yang tak henti mengucap syukur bahkan bangga entah karena apa.


Anakmu nanti cowok, Ri....Dia akan jadi jagoan yang akan bisa jagain mamanya, gantiin kamu nantinya...


"Nanti akan kita kasih photonya biar papanya bisa liat nanti." kata dr. Farida yang langsung membuat aura ketegangan sangat terasa di ruangan itu.


Nadi langsung menatap cemas pada Witri yang langsung tertunduk sambil tersenyum sedih. Mamak hanya menatap dr.Farida dengan senyum serba salah.


"Papanya sudah meninggal, Dok. Saat dia hampir dua bulan di dalam sini." kata Witri sambil menatap dr.Farida dengan sebulir airmata yang menemani senyum getirnya.


"Innalilahi wainna ilaihi rojiun..." dr.Farida membekap mulutnya sendiri dengan tatapan penuh sesal kepada Witri.


"Maaf...maafkan Saya karena nggak tahu..." kata dr.Farida sambil bergegas berdiri dari kursinya lalu mendekati Witri untuk memberi pelukan hangat. Dia sangat menyesal dan turut prihatin dengan kondisi Witri.


Pasti berat sekali melalui masa kehamilan sebagai seorang janda.


"Nggak apa, Dok..." balas Witri sambil membalas pelukan itu.

__ADS_1


Entah mengapa dia merasa seperti ada sesisi bongkahan kesedihan runtuh dari hati muramnya.


Pelukan hangat dr.Farida seperti memberinya tambahan kekuatan untuk meyakini bahwa semua akan baik- baik saja ke depannya.


Setelah suasana kembali normal, dr.Farida memberikan resep vitamin untuk diminum Witri selama sebulan ke depan, juga memberikan nomer pribadinya untuk Witri.


"Telpon Saya kapan saja kalau pengen ngobrol soal apapun, bukaan cuma soal kehamilan. Saya ingin menemani masa kehamilan kamu dan memastikan kamu selalu happy." kata dr.Farida sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak, Dok.. " jawab Witri dengan senang hati.


"Boleh panggil Kak saja kalau kamu mau." kata dr.Farida sambil tertawa kecil.


"Baiklah Kak..." sahut Witri ikut tertawa.


"Pak Nadi ini abangnya kamu atau abangnya almarhum suami?" tanya dr.Farida sedikit kepo.


Witri dan Nadi saling tatap bingung.


"Abangnya almarhum." jawab Nadi akhirnya.


"Witri anak tunggal, Dok." sambung Mamak kemudian.


"Oh...begitu...Maaf ya kalau Saya lancang nanya- nanya." kata dr.Farida sedikit salah tingkah karena baru saja sadar kalau lancang menanyakan masalah pribadi pasiennya.


"Nggak papa, Dok. Biar lebih leluasa saja saat harus membicarakan sesuatu nantinya." kata Mamak mengerti.


Keluar dari ruangan periksa, Mamak dan Witri langsung keluar dari klinik dan memesan bakso yang ada di sebelah tembok klinik untuk dibawa pulang. Sementara Nadi menunggu antrian di bagian farmasi seperti yang dia mau.


Sambil menunggu nama Witri dipanggil, Nadi tak henti- hentinya menatapi photo USG di tangannya. Dia tadi sengaja meminta dicetakkan dua photo agar dia juga bisa memilikinya dengan seijin Witri tentu saja.


Dia merasa senang sekali melihat photo itu. Seperti perasaannya saat dulu melihat photo USG anaknya.


Tanpa sadar dia keluarkan sebuah photo USG dari dalam dompetnya. Photo USG anaknya yang baru sekali itu dilakukan sebelum ikut mamanya kembali kepangkuan Yang Kuasa.


Disandingkannya dua photo itu. Jelas berbeda, namun tetap masing- masing membuat rasa haru di dadanya kian meraja.


Yang tenang ya Nak kamu disana sama mama. Bapak disini dulu jagain adek Aksa, batin Nadi sambil mengusap photo USG anaknya dengan senyum pilu.


"Ibu Jawitri..." panggilan dari loket farmasi membuatnya bergegas berdiri sambil menyelipkan dua photo itu ke dalam dompetnya.


Yang akur kalian disini...


...πŸ’§πŸ’§ b e r s a m b u n g πŸ’§πŸ’§...


Assalamualaikum readers....


Lama nggak menyapa Panjenengan semua di kolom komentar ya...πŸ˜… Mohon dimaafkan untuk itu...πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ


Terimakasih masih berkenan nengok bolak- balik novel yang authornya lagi angin- anginan gilak ini πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Semoga mulai bulan ini ada semangat lagi buat update tiap hari yeaaaa....☺️☺️☺️☺️


Jangan lupa tetap ditunggu tinggalan tanda cinta berupa πŸ‘, komen, juga hadiah, dan vote nya....


Matur nuwun sakderengipun....( Makasih sebelumnya....) πŸ™πŸΎπŸ™πŸΎπŸ™πŸΎ

__ADS_1


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...


__ADS_2