
Witri menatap sebuah photo di genggamannya dengan hati yang masih carut- marut.
Tak lebih baik dari beberapa hari belakangan ini.
Bahkan hari ini adalah puncak rasanya dia hanya ingin meledak agar tak ada lagi rasa sesak dan sedih di hatinya.
Ini sudah berganti hari. Hampir jam dua pagi.
Dan nanti jam sepuluh pagi adalah acara akad nikahnya dengan Mas Hari.
Bukannya rasa senang dan bahagia yang meliputi hatinya, tapi malah rasa bersalah dan putus asa yang merajamnya.
Di elusnya lembut wajah di photo itu.
"Takdir kita kenapa setragis ini sih, Wo? Nasibku kenapa seperti ini?" gumam Witri dengan linangan airmata menyusuri pipinya.
Selalu dengan cepat dia menghapus airmatanya agar tak menjatuhi satu- satunya photo Jiwo yang dia miliki.
Photo itu pemberian Lukman yang dititipkan pada Astuti, pacarnya Lukman dulu.
"Kata Lukman photo itu lebih berharga buat kamu daripada buat dia simpan." begitu kata Astuti saat menyerahkan photo itu pada Witri yang kaget sekaligus bahagia.
Kata Astuti yang dapat cerita dari Lukman, Jiwo saja tak punya photonya itu. Jadi photo ini memang hanya satu dan untuk Witri.
Witri mendekap photo itu di dadanya.
"Aku harus ikhlas ya kan, Wo? Sekalipun takdir nggak seperti apa yang aku mau. Aku maunya kamu, bukan Mas Hari." gumam Witri lagi dengan airmata yang kembali berlinang.
Sesak.
Sangat sedih.
Bahkan pilu bukan lagi kata yang pas untuk jadi gambaran perasaaannya saat ini.
Tapi dia bisa apa?
Witri berharap waktu berhenti saja saat ini dan tak akan ada jam sepuluh nanti dan waktu- waktu seterusnya.
Agar tak ada kisah rumahtangga yang harus dijalaninya bersama Mas Hari mulai nanti hingga ujung akhir takdir mereka nanti.
Menjadi seorang istri namun bukan Jiwo yang jadi suaminya.
Ya Allah, apakah aku akan sanggup?
Kemarin siang Witri bahkan memberanikan diri curhat dengan mamaknya. Bilang kalau dia sangat ragu dengan pernikahan yang akan di jalaninya.
Dia tak mengharap belas kasihan mamaknya akan terbit lalu kemudian mamaknya akan membatalkan pernikahan yang sudah ada di depan mata.
Tidak.
Dia tak punya nyali sebesar itu untuk tega hati membiarkan mamak dan keluarga besarnya menanggung malu seumur hidup bila pernikahan itu mereka batalkan.
Walaupun kemudian kebahagiaan seumur hidupnya yang akan jadi taruhan sebagai gantinya.
Tak apa. Semua memang harus ada yang dijaga dan juga dikorbankan.
Witri memilh untuk menjaga nama baik dan kesehatan semua keluarga besarnya dan mengorbankan perasaannya seorang diri saja.
Bila harus susah,biar dia sendiri saja yang susah.
Mamak dan keluarga lainnya nggak perlu ikut susah.
Yang penting keluarga besarnya tidak harus malu.
"Keraguan adalah godaan orang mau nikah. Hampir semua orang mengalaminya. Nggak papa. Jangan terlalu dipikirkan. Yang ikhlas. Semoga semua urusan hidupmu dilancarkan mulai besok dan seterusnya" kata mamak menyemangati namun tak berefek apapun di hati Witri.
Witri tetap gelisah.
Tetap tak juga bisa menerima dengan ikhlas.
Aku harus bagaimana, Wo?
__ADS_1
Apa kamu tahu kalau aku akan menikah?
Apa kamu sudah tahu kalau aku nggak bisa lagi nunggu kamu?
🍁🍁🍁🍁🍁
Jiwo berjingkat turun dari ranjang susun agar seminim mungkin bersuara.
Dia tak ingin mengusik waktu tidur tiga teman di kamar itu kalau dia sampai membuat gaduh di tengah malam ini.
Kembali dengan sangat pelan dia membuka dan bergegas kembali menutup pintu kamar setelah dia berhasil keluar dari kamar.
Dia duduk bersandar di dinding luar kamar sambil menatap bulan sabit.
Banyak bintang malam ini, membuat suhu cukup dingin.
Beruntung dia memakai kaos dan celana tidur panjang.
Sejak kemarin malamnya tak tenang.
Baru beberapa menit terlelap dia tiba- tiba terbangun dengan hati gelisah dan cemas.
Ingatan tentang Witri yang beberapa waktu telah berhasil dia buat mati suri sejak kemarin menghantuinya lagi.
Bahkan terasa sangat kuat menggedor- gedor hatinya.
"Kamu kenapa sih, Wit?
Aku ini kenapa sih?
Witri sudah tak boleh ku pikirkan.
Dia milik lelaki lain.
Jiwo meremas kuat rambutnya.
Ya Allah... adakah cara agar aku bisa tahu keadaannya saat ini?
Aku hanya ingin tahu keadaannya saja.
Nggak papa kalau nanti hatiku harus sakit melihat kebahagiaan dia, asal aku tahu dia sudah bahagia.
"Allahu Akbar!" Jiwo menoleh kaget ke arah suara teriakan Sodik yang nampak berwajah kaget melihatnya.
"Ngagetin aja kamu, Dik." gumam Jiwo dengan wajah cemberut karena saking kagetnya.
"Kamu yang ngagetin! Ini jam berapa masih bengong sendirian di luar." sergah Sodik sambil berlalu melewatinya menuju kamar mandi yang berjarak dua pintu dari kamar mereka.
Setelah menyelesaikan hajat buang air kecilnya Sodik kembali menghampiri Jiwo yang masih duduk di depan kamar mereka.
"Kamu kenapa to, Wo?" tanya Sodik sambil beranjak duduk di samping Jiwo.
"Nggak bisa tidur aja." jawab Jiwo pelan.
Sodik menggelegas.
"Keliatan banget bohongnya." kata Sodik sambil menolehkan kepalanya yang bersender di dinding.
"Bohong apa? Memang aku nggak bisa tidur." kilah Jiwo.
Sodik kembali tertawa lirih.
"Kamu lagi mikir berat. Aku tahu itu. Mikirin apa?" tanya Sodik to the point.
Jiwo tak bereaksi.
Sahabatnya ini memang sangat mudah membaca gelagat orang.
Nggak bakalan bisa bohong sama dia. Jadi percuma saja berkelit sama dia.
"Nggak tahu kenapa, dari kemarin aku gelisah banget. Kepikiran seseorang terus." kata Jiwo akhirnya.
"Pacarmu?" tanya Sodik kembali to the point.
__ADS_1
Iya.
"Mantan." jawab Jiwo pelan dengan berat hati.
Kita kan belum pernah ngomongin putus ya, Wit?
"Masih cinta ya kamu?" tanya Sodik penuh simpati.
Jiwo mengangguk pelan.
Dengan segenap hati dan jiwaku sampai saat ini.
"Kalau masih cinta, ya di kejar lagi. Kalau kamu yang salah, minta maaf sampai dia memaafkan. Kalau dia yang salah ikhlaskan memaafkan." kata Sodik bijaksana.
Jiwo menggeleng pelan.
Nggak semudah itu, Dik.
"Nggak mungkinlah aku ngejar cewek yang udah jadi istri orang, Dik." kata Jiwo pelan, putus asa.
"Dia udah nikah?!" tanya Sodik setengah terlonjak.
Wajahnya menghadap penuh ke wajah Jiwo dengan tatapan serius.
"Iya. Dia udah nikah." jawab Jiwo sedih.
Sodik ikut menghembuskan nafasnya sedih.
"Kalau gitu kenapa kamu masih mikirin dia?" tanya Sodik pelan.
"Aku nggak ada niat mikirin dia. Sejak mendengar dia mau nikah, aku udah menanggalkan semua harapan dan impianku. Aku terus berusaha mengikhlaskan semuanya. Aku nggak papa, yang penting dia bahagia." kata Jiwo pelan, nyaris seperti rintihan pilu.
Sodik tersentuh iba mendengarnya.
"Biasanya kalau kita tiba- tiba gelisah mikirin seseorang, dia juga sedang mikirin kita. Kalau kita tiba- tiba ingat dengan perasaan hati yang tiba-tiba sedih, dia juga sedang sedih." kata Sodik dengan wajah prihatin menatap Jiwo.
Deg!
Kamu sedih kenapa Wit?
Jiwo semakin nampak gelisah.
"Coba saja tanya kabarnya." kata Sodik memcoba memberi solusi.
"Nggak ada yang bisa kumintai kabar soal dia." kata Jiwo sedih.
"Masak? Keluarganya? Temannya?" tanya Sodik .
Jiwo kembali menggeleng.
"Aku nggak kenal teman- temannya sekolah. Keluarganya juga aku nggak punya jejak." kata Jiwo sedih.
Sodik menunduk prihatin.
"Kalau begitu bawa di doa saja. Tak ada jalan lain. Minta tolong sama Gusti Allah untuk membuat dia baik- baik saja kalau dia sedang tak baik- baik saja. Minta ketenangan hati." kata Sodik sambil tersenyum memberi semangat.
"Ayo ambil wudhu. Aku juga mau sholat." kata Sodik sambil beranjak berdiri.
Tak menunggu lama Jiwo menyusul Sodik mengambil wudhu.
Sepertinya memang tak ada jalan lain selain mengembalikan semuanya pada Sang Pemilik Takdir.
Dia tak punya daya untuk mencari tahu kabar Witri saat ini.
Lalu siapa lagi yang bisa menolongnya kalau. bukan Tuhannya?
Ya Allah, tolong jagalah selalu semua orang yang aku cintai. Bahagiakan mereka dimanapun mereka berada. Berilah ketentraman dan kelancaran dalam menjalani hidup ini.
Jiwo menundukkan wajahnya dalam- dalam. Seolah sedang mengumpulkan segenap kekuatan untuk bisa menembus ruang dan waktu agar bisa sampai di sisi Witri dan membisikkan kalimat.
Wit, dimanapun kamu berada, dengan siapapun kamu menjalani takdir saat ini, berbahagialah. Aku akan turut mendoakan kebahagiaanmu.
Selanjutnya mari kita jalani takdir kita masing- masing dengan sebuah doa semoga suatu saat nanti takdir lain bisa mempertemukan kita kembali dalam keadaan masing- masing kita berbahagia.
__ADS_1
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧💧💧...