
Hari menepuk- nepuk lembut punggung Witri yang terlelap di pelukannya.
Dia sendiri sudah sempat terlelap sejenak lalu kembali terjaga karena wajah Witri mendusel ke dadanya.
Hanya seperti ini sejak malam ketiga mereka tinggal di asrama.
Belum ada sebulan pernikahan mereka, dan sudah ada peningkatan dalam kedekatan fisik mereka sebagai sepasang pengantin baru.
Witri sudah mau tidur di pelukannya.
Baru sebatas itu, namun Hari sudah senang sekali menerima kenyataan ini.
Ada gunanya juga dia dulu tak pernah menyentuh gadis manapun. Hasratnya jadi nggak dirongrong oleh rasa penasaran yang membabi-buta.
Jadi perkembangan kedekatan fisiknya dengan Witri yang meningkat pelan pun bisa dia terima. Soalnya tidak ada pembanding rasa.
Walau tentu saja dia penasaran dengan rasanya mencium bibir Witri, menikmati malam pertama dan tentu saja keinginan melewati malam- malamnya untuk, ehm, bercinta.
Selama ini dia hanya bisa tersenyum saja tiap kali diledek oleh teman- temannya karena status pengantin barunya.
Ya. Dia bisa membalas gimana untuk ledekan teman- temannya itu?
Nggak mungkin dong dia cerita kalau belum melakukan ritual malam pertama karena istrinya minta waktu untuk adaptasi dulu.
Adaptasi.
Hari tahu itu hanya alasan yang di buat- buat saja oleh Witri untuk mengulur waktu dan menjaga jarak saja darinya.
Tapi akan sampai kapan?
Mereka berdua akan berada dalam ikatan pernikahan ini selamanya. Seumur hidup mereka.
Setidaknya seperti itu keinginannya saat memantapkan hati meminang dan menikahi Witri.
Dia ingin terakhir menutup matanya di dunia ini sebagai suami Witri.
Mata Hari menerawang menatap plafon kamar yang masih putih bersih karena baru seminggu lalu dia cat ulang.
Kesabarannya menghadapi Witri masih panjang Masih jauh dari batasnya.
Dia masih tak apa- apa menunggu sampai Witri ikhlas menyerahkan diri dan hatinya dengan sukarela.
Toh dari awal dia tahu ada seseorang yang namanya telah tersimpan di hati Witri cukup lama. Lebih lama dari masa kedekatan dan kebersamaannya dengan Witri sebelum mereka menikah.
Witri pasti butuh waktu untuk menepikan nama itu dari hatinya dan pelan- pelan menggantinya dengan namanya. Suaminya.
Dan Hari percaya, Witri selalu berusaha setiap harinya untuk melakukan itu.
Witri yang malang. Sesungguhnya Hari iba pada istrinya itu.
Pasti nggak mudah menjalani hari- demi hari sendirian di rantau orang,dengan suami yang belum dicintai sepenuh hati dan harus berjuang sendiri setiap harinya untuk menumbuhkan rasa cinta dan kerelaan hati.
Namun Hari berharap Witri tak sedih menjalani pernikahan ini walau mungkin belum sepenuhnya menyukai menjalani pernikahan ini dengannya.
Karena itu Hari selalu berusaha membuat Witri tenang dan nyaman agar perempuan itu tak menyesal karena telah memutuskan menikah dengannya dan meninggalkan penantian cintanya.
"Aku akan sabar, Jeng. Aku sabar nunggu kamu benar- benar ikhlas menerimaku sebagai suami kamu." bisik Hari lembut sambil memeluk Witri lembut.
Dia tak ingin mengusik tidur Witri dengan pelukannya itu.
Dikecupnya lembut pucuk kepala Witri.
Witri yang tadi terlelap begitu saja terjaga saat merasa tubuhnya seperti diraih dan didekap.
__ADS_1
Kesadarannya cepat utuh dan dia memilih diam saja saat dia tahu tengah di peluk lembut oleh Hari.
Dan gumaman Hari di pucuk kepalanya bisa dia dengar dengan jelas walau pelan.
Witri merasa malu sendiri dengan caranya menjaga jarak dengan Hari, suaminya, hanya karena dia belum bisa menepikan laki- laki lain dari hatinya.
Padahal dia sendiri kini nggak tahu bagaimana perasaan laki- laki yang masih dia nomor satukan dihatinya itu pada dirinya.
Apakah Jiwo masih mengingatnya?
Bodohnya!
Sementara jelas di depan matanya kenyataan pasti sudah terhampar.
Di depan matanya kini ada seorang lelaki baik dan tulus, dan yang pasti telah berhak penuh untuk mendapatkan yang terbaik darinya. Suaminya.
Lelaki yang telah menikahinya dan dia mau dinikahi lelaki itu.
Dia mau menerima pernikahan ini.
Dia mau mengiyakan ajakan menikah yang ditawarkan Hari.
Lalu kenapa dia bertingkah layaknya pengecut seperti ini? Yang tak mau menanggung 'resiko' dari kesediaannya menerima sebuah pernikahan?
Parahnya lagi bahkan dia menimpakan semua resiko kepengecutannya itu pada Hari. Meminta suaminya bersabar dan mengerti akan perasaan tak tentu ujungnya ini?
Ya Allah, ampunilah hamba- Mu ini...
Bahkan saat sebenarnya berhak meminta haknya sebagai suami, Hari masih bersabar menunggunya dengan rela untuk menyerahkannya.
Kejam sekali aku ini....
Masih dengan mata terpejam Witri teringat obrolan ibu- ibu penghuni asrama saat berbelanja di warung pagi tadi.
Flashback On
**************
Otomatis beberapa ibu- ibu pengamat rumah tangga tetangga langsung merapat ke dekat Bu Butet.
"Harusnya dari dulu Hasan tegas begitu. Istri kurang ajarnya nggak kira- kira gitu. Aku yang cuma tetangganya aja naik pitam liat Hasan di bentak- bentak di depan orang- orang gara- gara salah ngambilin jepit rambut Kayak punya salah ngebunuh orang aja maki- makinya." kata Bu Purnomo dengan wajah kesal.
"Kamu nggak tahu kan beberapa bulan lalu Hasan mergokin Rita ketemuan sama mantan pacarnya di rumah makan yang jauh dari sini. Lagi pegangan tangan sambil cekikikan pas di sapa Hasan. Mana waktu itu Hasan lagi sama suamiku. Bukannya malu dan minta maaf, Rita malah maki- maki si Hasan di depan mantannya itu. Ngatain mau ikut campur urusan pribadinya lah,mau bikin dia malulah. Ota*knya ditinggal dimana perempuan itu." sahut Bu Magda tak kalah seru.
"Mentang- mentang pangkat bapaknya lebih tinggi dari si Hasan, mau seenak jidatnya dia sama suaminya. Giliran mau dicerai nangis." sinis Bu Leimena tak kalah sengit mencibir.
Beberapa hari ini memang perempuan bernama Rita sedang jadi hot gossip di lingkungan mereka.
Berdasarkan dari hasil mengupingnya, Witri menyimpulkan kalau Rita dan Hasan menikah karena dijodohkan. Tepatnya Rita dia oleh Hasan. Dan kebetulan Hasan adalah anak buah bapaknya Rita.
Garis besarnya Hasan menikahi Rita karena campur tangan bapaknya Rita.
Entah atas pertimbangan apa, bapaknya Rita melepaskan anaknya untuk Hasan.
Karena merasa di atas angin dan merasa Hasan berada di bawah kekuasaan bapaknya, Rita menjadi kurang ajar pada suaminya.
Tak mau berlaku sebagai istri yang baik dan bahkan sering mempermalukan suaminya di depan umum dengan kelakuan minusnya.
Selama ini Hasan dikenal sangat sabar menghadapi kelakuan Rita yang kadang bikin naik darah tetangga yang berlaku sebagai penonton drama rumah tangganya.
Banyak yang menyarankan Hasan untuk menceraikan Rita saja, saking ibanya mereka pada Hasan.
Kelakuan Rita selama ini memang seperti sengaja untuk selalu memancing amarah Hasan.
__ADS_1
Dan bila kini Hasan sampai mau menceraikan Rita, pasti ada hal yang sudah sangat kelewatan yang dilakukan Rita dan membuat kesabaran Hasan habis.
"Apa yang bikin akhirnya Hasan sadar kalau Rita itu nggak baik?" tanya Bu Magda yang seperti mewakili pertanyaan di batin Witri.
"Ini rahasia ya..." bisik Bu Butet yang masih tetap terdengar di seantero warung.
Semua tanpa sadar mengangguk- angguk patuh.
"Rita hamil." kata Bu Butet setelah melihat semua orang mengangguk.
"Lhoh? Hamil kok malah mau di cerai? Gimana sih si Hasan?" seru Bu Purnomo spontan yang langsung disambut semua jari telunjuk yang lain pada nangkring di depan bibir masing- masing.
"Issshhh....dia hamilnya bukan sama Hasan." sergah Bu Butet cepat,masih dengan nada berbisik versi pakai toa.
"Waaaah...kok tahu itu bukan sama Hasan?" tanya Bu Solihin yang sedari tadi hanya bermodal tolah- toleh menatap siapa yang bicara di kanan kirinya.
"Kata bapaknya Butet, Hasan jarang sekali 'dikasih' sama Rita selama mereka menikah. Setelah malam pertama mereka hanya beberapa kali melakukan dan Badan ingat kapan- kapannya. Pokoknya jarang banget deh. Pokoknya kalau dihitung dari mereka berhubungan terakhir kali, itu jelas bukan anaknya Hasan." jelas Bu Butet yang mendapat anggukan mengerti dan wajah paham dari semuanya.
"Perempuan nggak tahu di untung. Kalau nggak mau sama Hasan kan harusnya nolak aja pas dilamar. Kalau memang bapaknya dulu maksa, dia bisa minggat. Aku yakin Rita bukan perempuan penakut kalau hanya untuk kabur dari perjodohan. Ini malah bikin malu keluarganya, bikin malu suaminya. Masih untung selama ini Hasan nggak pernah selingkuh dan sabar ngadepin kelakuan dia." kata Bu Solihin.
Semua mengangguk tanda setuju.
Dan Witri langsung menunduk, mengingat rumah tangganya sendiri.
Flashback off
**************
Gimana kalau Mas Hari nanti jadi selingkuh karena aku yang nggak bisa berlaku baik sama dia?
Gimana kalau dia sakit hati dan kehilangan kesabaran lalu aku langsung di pulangkan ke mamak? Pasti mamak malu. Aku juga pasti malu karena nggak bisa menjadi istri yang baik.
Pasti Mas Hari dimurkai sama ibunya. Pasti dia diolok- olok ibunya itu karena aku ternyata pilihan yang salah baginya.
Hati Witri berdenyut nyeri.
Ini nggak bisa dibiarkan berlarut- larut.
Dia nggak bisa memanjakan perasaannya sendiri dan lupa pada kenyataan yang terhampar di depan matanya.
Dia seorang istri dari Hari Parasetyo. Bukan lagi kekasih dari Jiwo Lelono yang entah ada dimana sekarang.
Dia seorang istri dan telah dicintai sepenuh hati oleh suaminya. Bukan lagi seorang kekasih dari sebuah hati yang masih saja dalam pengembaraan.
Maafkan aku Mas Hari.
Tangan Witri terulur memeluk leher Hari dengan mata yang masih terpejam.
Hatinya terisak walau kini bibirnya telah menyentuh bibir Hari.
Aku akan jalani takdirku sebagai istrimu, Mas. Sebagai istri yang baik mulai sekarang.
Maafkan aku, Wo. Aku harus menjalani suratanku tanpa kamu.
...💧💧💧 b e r s a m b u n g 💧 💧💧...
Ceritanya authornya lagi keasikan baca jadi lupa nulis 🙈
Untung belum lewat tiga hari langsung inget nulis lagi. Kalau sampai lewat tiga hari, karya ini bisa kehilangan jaminan level dari platform 😅
Happy reading semuanya...❤️💕
Semoga setelah hari raya nanti authornya udah nggak angin- anginan lagi up nya yea...😄😄😄
__ADS_1
Makasih udah mau sabar tetap nengok- nengok kesini...Baik deh kalian 😄😄
Menurut panjenengan semua,adakah yang melanggar aturan dan sopan santun di episode ini? 😅😅😅